NovelToon NovelToon
Suami Om-Om, Tiap Malam Minta Peluk

Suami Om-Om, Tiap Malam Minta Peluk

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Aura Rizki

Demi Rp 288 juta untuk pengobatan adiknya, Senja menikah kontrak dengan Damar Adiwangsa, konglomerat dingin yang sepuluh tahun lebih tua dan memiliki seorang putri kecil. Mereka sepakat tidak melibatkan perasaan. Namun ketika Bintang mulai memanggil Senja Mama, rumah yang semula dingin berubah menjadi keluarga. Damar yang dahulu menganggap Senja matre perlahan menjadi suami posesif yang tak sanggup melepaskannya. Saat kontrak berakhir dan Senja bersiap pergi, Damar justru menagih satu hal yang tidak pernah tertulis dalam perjanjian: cintanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7

Bertemu Reza Lagi

Di meja makan, Damar mengakui bahwa jadwal kerja Senja diubah atas perintahnya.

"Uang bulanan tetap aku transfer," katanya.

Senja tersenyum lebar. "Terima kasih."

Ia spontan mengambilkan lauk dan meletakkannya di piring Damar. Lelaki itu memandang potongan ayam tersebut, lalu memindahkannya ke piring kecil untuk tulang.

Senyum Senja mengecil.

Bintang memperhatikan mereka. "Kenapa Papa sama Mama enggak pernah pelukan? Enggak pernah cium juga. Kalian enggak saling cinta?"

Senja tersedak air. Damar menyeka mulut dengan serbet.

"Anak kecil tidak perlu mengurus itu."

"Tapi Mama peluk Bintang."

"Makan."

Malam itu Senja tidur di kamar Bintang. Keesokan paginya, ia mengantar anak sekolah lalu tiba di rumah sakit tepat pukul sembilan. Beberapa perawat memandang jam dinding saat ia masuk.

"Enak banget, ya. Magang tapi jam kantor," bisik seseorang.

"Ada orang dalam?"

Senja berpura-pura tidak mendengar. Ia mengambil lembar observasi dan masuk ke kamar 18.

Ruangan itu penuh pria muda. Rayhan duduk di ranjang sambil tertawa, sedangkan Reza berdiri dekat jendela.

Tatapan mereka bertemu.

Lima tahun hubungan mereka berakhir karena satu pesan singkat, tetapi melihat Reza lagi tetap membuat dada Senja seperti ditekan.

Ia menunduk dan memeriksa infus.

"Senja?" Reza memanggil.

Rayhan mengangkat alis. "Kalian sudah putus, kan? Reza sudah punya pacar baru."

Teman-teman lain langsung ribut. Reza tampak kesal.

"Siapa bilang?"

"Kamu sendiri yang bilang cepat bosan," balas Rayhan.

Senja mencatat tekanan darah tanpa mengangkat kepala. Reza pernah berjanji menunggu sampai ia lulus. Rupanya menunggu baginya hanya berarti mencari pilihan yang lebih menguntungkan.

"Saya selesai," kata Senja kepada Rayhan. "Kalau infus habis, tekan bel."

Ia membawa nampan keluar. Reza mengejar sampai lorong.

"Senja, tunggu. Aku enggak selingkuh. Aku kenal dia setelah kita putus."

"Saya enggak tanya."

"Kamu pasti salah paham."

Senja berhenti. "Kalau memang enggak ada yang salah, kenapa kamu mengejar saya untuk menjelaskan?"

Reza meraih pergelangan tangannya. Senja langsung menarik diri.

"Jangan sentuh saya di tempat kerja."

Beberapa pengunjung di lorong mulai melihat. Reza menurunkan tangan dan mengatur suara.

"Kamu marah karena aku cepat punya pengganti?"

Pertanyaan itu melukai bagian yang berusaha Senja tutup. Bukan karena ia ingin kembali, melainkan karena lima tahun hidupnya diringkas menjadi perlombaan mencari pengganti.

"Saya menyesal pernah menganggap hubungan kita penting."

Wajah Reza menegang. "Jangan sok enggak peduli. Dulu kamu yang terus mengejar aku."

Senja menggenggam nampan agar tangan tidak gemetar. "Dulu saya belum tahu harga diri tidak bisa diminta dari orang lain."

Seorang petugas kebersihan berhenti di ujung lorong karena troli Reza menghalangi jalan. Senja bergeser lebih dulu dan meminta maaf, sedangkan Reza tetap berdiri di tengah. Perbedaan kecil itu membuat dua pengunjung yang sejak tadi memperhatikan mulai berbisik. Reza akhirnya menepi, kehilangan ruang untuk berpura-pura bahwa Senja yang mengejarnya.

Reza menghalangi lagi. Ia berkata Senja terlalu sibuk mengejar uang dan selalu mempermalukannya dengan pekerjaan kecil. Senja teringat bekal yang ia buat, ongkos yang ia bayarkan, serta malam-malam menunggu lelaki itu selesai berkumpul dengan teman.

"Saya bekerja karena saya harus hidup," katanya. "Kalau itu membuatmu malu, seharusnya kamu pergi sejak dulu, bukan diam-diam mencari perempuan yang lebih kaya."

Suara mereka menarik perhatian seorang perawat senior. Senja meminta maaf kepada rekan itu, lalu hendak kembali ke nurse station. Reza memanggil lagi, kali ini lebih pelan.

"Aku enggak pernah bilang kamu buruk."

"Tapi kamu membuat saya merasa begitu bertahun-tahun."

Ia menatap Reza untuk terakhir kali. Lelaki itu masih wajah yang sama, tetapi tidak lagi memiliki tempat aman dalam ingatannya. Hanya ada kebiasaan lama yang sedang putus satu per satu.

Di kamar 18, Rayhan mengirim pesan menanyakan apakah Senja baik-baik saja. Ia menjawab singkat bahwa ia sedang bekerja. Rayhan tidak memaksa, hanya mengirim foto tombol bel dan berjanji tidak akan menekannya tanpa alasan.

Senja hampir tersenyum. Lalu aroma parfum tajam mencapai lorong. Reza mendadak kaku, dan kepanikan di wajahnya memberi jawaban yang lebih jujur daripada semua pembelaan tadi.

Beberapa detik sebelum Vania muncul dari tikungan, Senja sempat melihat Reza merapikan kerah dan menjauh darinya. Gerakan kecil itu lebih menyakitkan daripada pengakuan. Lelaki itu takut dilihat pacar barunya, tetapi tidak takut membuat Senja tampak sebagai pengganggu.

Senja menarik napas, mengusap bekas genggaman di pergelangan, dan berdiri tegak. Ia tidak akan lari kali ini. Lorong rumah sakit terang, kamera terpasang di langit-langit, dan banyak saksi berlalu. Apa pun yang hendak dikatakan Vania, Senja akan mendengarnya tanpa menunduk.

Rayhan muncul di pintu kamar dengan tiang infus, penasaran oleh suara ribut. Senja memberi isyarat agar ia kembali masuk, tetapi pemuda itu melihat Reza lebih dulu.

"Jangan bikin masalah di bangsal," katanya.

Reza mendesis agar Rayhan tidak ikut campur. Senja menyadari tiga orang dari masa lalu dan masa kini kini berdiri dalam satu lorong. Suaminya tidak ada, tetapi bayangan kekuasaan keluarga Adiwangsa terasa di setiap pintu.

"Kembali ke kamar," kata Senja kepada Rayhan. "Infusmu bisa tertarik."

"Aku enggak akan diam kalau dia mengganggu Tante."

Panggilan Tante membuat Reza mengernyit. Ia belum sempat bertanya ketika langkah sepatu berhenti di belakangnya.

Senja menatap layar CCTV di langit-langit, lalu melonggarkan jari yang menggenggam nampan. Ia tak perlu berteriak atau membuktikan apa pun. Jika Reza dan perempuan itu ingin mempermalukannya, seluruh lorong akan melihat siapa yang memulai.

Rayhan berdiri di sisi pintu, jelas berpihak kepadanya. Sikap itu memberi Senja keberanian, tetapi juga menambah masalah baru. Ia dapat membayangkan bagaimana Damar akan menafsirkan pemandangan tersebut jika kebetulan lewat.

"Aku cuma mau menjelaskan," kata Reza sekali lagi.

"Kamu sudah menjelaskan lewat caramu menjauh ketika dia datang," jawab Senja.

Wajah Reza memerah. Sebelum ia menyusun alasan lain, tangan berujung kuku merah meraih lengannya dari belakang. Aroma parfum yang menyengat memenuhi lorong.

Senja mengangkat dagu. Perempuan yang muncul itu bukan orang asing, melainkan mantan teman sekamarnya sendiri.

Vania pernah meminjam uang makan darinya, memakai catatan kuliahnya, dan mendengarkan seluruh cerita tentang Reza. Ingatan itu membuat pengkhianatan terasa berlapis. Senja menekan luka tersebut jauh ke dalam dan memilih menunggu.

Rayhan menyadari siapa yang datang. Ia menghela napas dan berkata pelan, "Ini bakal ribut."

"Kalau begitu kembali ke kamar," ujar Senja.

"Enggak. Ada orang yang harus memastikan mereka enggak memutar cerita."

Para pengunjung melambat. Senja merasakan puluhan mata, tetapi tidak lagi menunduk. Apa pun yang terjadi, ia ingin Reza tahu dirinya bukan perempuan yang dapat disembunyikan lalu dipersalahkan.

Senja baru hendak menyuruh Reza menyingkir ketika suara perempuan yang tajam membelah lorong.

"Reza!"

Langkah sepatu hak berhenti tepat di belakangnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!