Bara Pratama hanyalah seorang pemulung yang dihina dan dibuang oleh kekasihnya demi pria kaya. Namun, nasibnya berbalik total saat darah dari luka pukulannya tanpa sengaja mengaktifkan sebuah tungku berkarat yang terhubung dengan Sistem Daur Ulang Multiverse. Melalui sistem ini, Bara bisa memproses rongsokan tidak berharga menjadi pil kultivasi, material langka, dan barang pusaka bernilai tinggi dari dimensi Sekte Harmoni. Berbekal kekuatan dan kekayaan baru yang terus mengalir dari tumpukan sampah, Bara siap menghancurkan kesombongan orang-orang yang dulu menginjaknya dan memulai hidup baru sebagai sosok yang tidak bisa diremehkan oleh siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
"Kopi harga seratus ribu rupiah per cangkir ternyata rasanya sama saja dengan kopi saset di warung," batin Bara sambil meletakkan cangkir keramiknya di atas meja kaca.
Dia mengusap mulutnya dengan tisu dan meninggalkan selembar uang seratus ribuan sebagai tip untuk pelayan cafe.
Langkah kakinya sangat santai saat berjalan keluar dari cafe menuju area parkir bawah tanah gedung tersebut.
Suasana di tempat parkir bawah tanah itu cukup sepi dan temaram karena ini masih jam sibuk orang bekerja di kantor.
Hanya terdengar suara langkah sepatu Bara yang menggema memantul di dinding beton tempat parkir yang luas itu.
Saat Bara hampir sampai di depan mobil sport hitamnya, pendengaran supernya menangkap suara sepatu yang mencurigakan.
Tap! Tap! Tap!
Lima orang pria bertubuh besar dengan jaket kulit tiba-tiba muncul dari balik pilar-pilar beton dan memblokir jalan keluarnya.
Mereka semua memakai masker hitam dan topi untuk menutupi wajah, tapi aura beringas mereka sangat terasa kental.
Salah satu dari mereka yang berdiri paling depan langsung mengeluarkan sepucuk pistol rakitan dari balik jaketnya.
"Jadi kau yang namanya Bara Pratama?" tanya pria yang memegang pistol itu dengan nada suara mengejek.
"Bos kami menyuruh kami untuk melubangi kedua tempurung lututmu hari ini sebelum menyeretmu ke hadapannya."
Bara sama sekali tidak terkejut atau panik melihat moncong senjata api hitam itu diarahkan tepat ke perutnya.
Bara justru menyandarkan punggungnya dengan sangat santai ke badan mobil sportnya sambil melipat kedua tangan di dada.
"Aris ternyata benar-benar pengecut miskin yang cuma bisa menyewa preman kelas bawah seperti kalian," jawab Bara dengan senyum meremehkan.
"Kalian butuh waktu sampai siang begini hanya untuk melacak pelat nomor mobilku? Kerja kalian sangat lambat."
Pemimpin preman itu mendengus kasar karena merasa sangat terhina oleh ketenangan mangsanya yang tidak wajar ini.
"Jangan banyak gaya kau gembel sialan, berlutut sekarang juga atau aku akan langsung menembak kepalamu!" ancam pria itu sambil mengokang pistolnya.
Klak!
Bara menggelengkan kepalanya pelan seolah sedang melihat sekumpulan anak kecil yang sedang bermain pistol air.
"Tembak saja kalau kau memang berani menekan pelatuknya, aku kebetulan sedang malas banyak bergerak hari ini," tantang Bara dengan suara sangat dingin.
Wajah pemimpin preman itu langsung memerah di balik maskernya karena amarahnya memuncak diremehkan seperti itu.
Dor!
Suara letusan senjata api bergema sangat keras dan memekakkan telinga di dalam area parkir bawah tanah yang tertutup itu.
Sebuah timah panas melesat dengan kecepatan tinggi tepat menembus jaket kulit bagian perut Bara.
Preman itu tersenyum sadis karena mengira targetnya akan langsung ambruk bersimbah darah ke atas lantai beton.
Tapi apa yang terjadi selanjutnya justru membuat kelima preman itu mematung dengan mata melotot lebar.
Bara masih berdiri tegak di posisinya tanpa bergeser satu sentimeter pun dari tempatnya bersandar tadi.
"Ugh, rasanya cuma seperti ditonjok oleh anak balita," keluh Bara sambil menunduk melihat lubang kecil di jaket kulit mahalnya.
Peluru tajam itu memang menembus jaketnya tapi langsung hancur berkeping-keping saat menabrak Kaos Dalam Sutra Ulat Es di baliknya.
Bara membersihkan serpihan peluru pipih yang jatuh menempel di bajunya itu dengan gerakan menyapu yang santai.
"Sistem memang tidak pernah berbohong soal kualitas barang dari dimensi lain," batin Bara merasa sangat puas.
"B-bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Apa kau memakai rompi pelat baja militer?!" teriak pemimpin preman itu mulai panik mundur selangkah.
Keempat anak buahnya juga mulai gemetar ketakutan melihat manusia yang tidak mempan ditembak dari jarak sedekat itu.
"Sekarang giliranku yang membalas serangan sapaan kalian," ucap Bara dengan sepasang mata yang berubah setajam elang pemangsa.
Wush!
Tubuh Bara tiba-tiba menghilang dari pandangan kelima preman itu dan hanya meninggalkan bayangan hitam yang berkedip sesaat.
"Di mana dia?! Cepat cari dia ke sekeliling!" teriak pemimpin preman itu sambil memutar tubuhnya ke segala arah dengan pistol gemetar.
"Aku ada di belakangmu, dasar pecundang lambat," bisik Bara tepat di telinga kanan pria bersenjata tersebut.
Krak!
Bara langsung menendang bagian belakang lutut pemimpin preman itu dengan sangat keras hingga tulang keringnya patah berkeping-keping.
"Arghhh! Kakiku hancur!" jeritan melengking pria itu langsung menggema memenuhi tempat parkir.
Pistol rakitan di tangannya terlempar ke udara dan langsung ditangkap oleh Bara dengan sangat mudah.
Keempat preman lainnya yang melihat bos mereka tumbang seketika langsung mencabut pisau belati dari saku mereka.
"Mati kau brengsek!" teriak salah satu preman sambil berlari menerjang Bara dengan belati terhunus ke depan.
Bara tidak repot-repot menggunakan pistol rampasannya, dia hanya menggunakan Teknik Langkah Bayangan untuk bergeser sedikit ke samping.
Bugh!
Satu pukulan tangan kosong dari Bara menghantam rusuk kiri preman itu hingga terdengar suara patahan tulang yang mengerikan.
Preman kedua dan ketiga mencoba menyerang secara bersamaan dari arah depan dan belakang untuk mengepung Bara.
Bara melompat ringan ke udara dan melayangkan tendangan putar yang sangat cepat menembus pertahanan rahang preman di depannya.
Brak!
Preman itu langsung terlempar menabrak pilar beton di dekatnya dan jatuh pingsan dengan mulut penuh darah segar.
Preman yang berada di belakang mencoba menusuk punggung Bara dengan kuat, tapi bilah pisaunya justru terpental mentah-mentah.
Ting!
"Pisau murahanmu itu tidak akan pernah bisa melukaiku," ucap Bara bahkan tanpa menoleh ke arah belakang.
Bara langsung menyikut wajah preman di belakangnya itu dengan tenaga supernya hingga tulang hidungnya hancur tak bersisa.
Kini hanya tersisa satu preman terakhir yang berdiri gemetar memegang pisaunya dengan wajah sepucat mayat.
Pria itu menjatuhkan pisaunya ke lantai berdebu dan langsung jatuh berlutut memohon ampun sambil menangis.
"Ampun Tuan! Tolong jangan bunuh saya, kami semua cuma disuruh oleh Tuan Aris dan dibayar murah!" ratap preman itu ketakutan setengah mati.
Bara berjalan perlahan melewati preman yang bersujud itu dan menghampiri pemimpin mereka yang masih merintih memegangi kakinya yang patah.
Bara berjongkok dan mencengkeram kerah jaket pemimpin preman itu lalu mengangkat wajahnya secara paksa.
"Dengar baik-baik, aku sengaja membiarkanmu hidup hari ini agar kau bisa membawa sebuah pesan untuk majikan anjingmu itu," desis Bara tepat di depan wajahnya.
"Katakan pada Aris, mengirim sampah jalanan seperti kalian hanya membuang-buang waktu berhargaku saja."
"Suruh pria brengsek itu bersiap-siap, karena mulai besok aku akan menghancurkan satu per satu bisnis keluarganya sampai dia sendiri yang merangkak mengemis di kakiku."
Pemimpin preman itu hanya bisa mengangguk dengan sangat cepat sambil menahan tangis dan rasa sakit yang menyiksa tulang kakinya.
Bara melepaskan cengkeramannya dan membuang pistol rakitan di tangannya ke sembarang arah hingga bergemerincing.
"Bawa teman-temanmu yang cacat ini pergi dari hadapanku sebelum aku berubah pikiran dan mematahkan leher kalian semua di sini," perintah Bara dengan nada mengusir.
Preman yang masih sehat tadi buru-buru memapah bosnya dan menyeret teman-temannya yang pingsan menjauh dari Bara.
Mereka masuk ke dalam sebuah mobil van butut yang terparkir agak jauh dan langsung melaju pergi dari tempat itu dengan kecepatan penuh.
Bara membersihkan kedua tangannya dengan santai dan kembali bersandar ke badan mobil sportnya.
"Baju pelindung dari sistem ini benar-benar tidak ada tandingannya, sayangnya jaket kulit mahalku harus berlubang satu," keluh Bara sambil meraba lubang bekas peluru di perutnya.
Tapi pengorbanan satu jaket sangat sepadan dengan hasil uji coba kekuatan pertahanan absolut yang dia dapatkan dengan gratis hari ini.
Kring! Kring!
Ponsel Bara kembali berbunyi dari dalam sakunya, kali ini ada panggilan masuk dari nomor telepon yang tidak dia kenal.
Bara mengangkat panggilan itu dengan alis berkerut.
"Halo, dengan siapa ini?" tanya Bara dengan nada formal.
"Halo Tuan Bara, saya adalah manajer dari perusahaan properti tempat Anda menyewa apartemen ini," suara seorang pria terdengar sangat sopan dari seberang telepon.
"Ada seorang wanita bernama Dela yang memaksa ingin bertemu dengan Anda sejak satu jam yang lalu di lobi bawah kami."
"Wanita itu terus membuat keributan dan mengatakan bahwa dia adalah mantan kekasih Anda yang sangat ingin minta maaf secara langsung."
Mendengar nama Dela disebut, senyum dingin dan sinis langsung mengembang lebar di wajah tampan Bara.
"Rupanya tikus kecil sombong itu sudah mulai menyesal dan berani datang mencariku ya," batin Bara merasa sangat geli.
"Biarkan saja dia menunggu dan menangis di lobi, jangan berikan akses naik ke lantai kamarku sama sekali sampai dia lelah sendiri," perintah Bara pada manajer tersebut.
"Baik Tuan Bara, kami pihak keamanan akan menahan wanita itu di lobi sesuai instruksi Anda."
Bara mematikan panggilan telepon itu dan langsung membuka pintu untuk masuk ke dalam mobil sportnya.
Menyiksa mental Dela dengan cara mengabaikannya saat dia sedang memohon membuang harga dirinya adalah hukuman tahap pertama yang sangat pantas.
Bara menyalakan mesin mobilnya yang meraung buas dan melaju meninggalkan area parkir bawah tanah itu untuk kembali ke apartemennya.
Hari ini dia sudah berhasil memukul mundur pasukan bersenjata Aris dengan sangat mudah.
Dan besok dia akan mulai menghancurkan kantong uang keluarga Aristha secara bertahap bersama dengan Nadhira.