Semua orang bilang Laras sial.
Dibesarkan belasan tahun sebagai putri keluarga perwira, ia dicampakkan dalam semalam begitu putri kandung yang sesungguhnya—**Tiara**—pulang lewat tes DNA. Dan ketika Tiara menolak menikahi "duda tua beranak tiga dari kampung" yang lamarannya sudah diterima, keluarga memaksa Laras menggantikannya demi nama baik.
Sebuah desa asing. Seorang lelaki dingin dan pendiam. Tiga anak yatim yang kurus, waspada, dan salah satu balita yang bahkan belum bisa bicara. Semua menyangka Laras "menikah turun derajat" dan pasrah pada nasib.
Tak ada yang tahu—rumah termewah satu-satunya di desa itu adalah miliknya. Bahwa lelaki pendiam bernama **Arya** itu adalah **mantan perwira Kopassus** yang disegani para jenderal, seorang **konglomerat yang menyamar** di balik peternakan sapi.
Dan tak ada yang menyangka: duda "tua" yang katanya dingin itu justru **memanjakan istrinya setiap hari**—diam-diam, dengan tindakan, sampai membuat seluruh desa iri.
Sedikit demi sedikit, Laras membalik keadaan. Ia besarkan tiga anak terlantar itu menjadi anak-anak jenius. Ia permalukan satu per satu orang yang pernah memandangnya rendah. Ia bangkit dari "ibu tiri kampungan" menjadi mahasiswa UI dengan nilai tertinggi.
Tapi keluarga yang membuangnya belum menyerah. Tiara masih menginginkan segalanya yang "seharusnya" jadi miliknya. Dan rahasia asal-usul ketiga anak itu—darah keluarga konglomerat **Adiwangsa**—bisa mengubah segalanya…
*"Kamu menikahiku karena terpaksa," katanya suatu malam. "Tapi aku akan mencintaimu sampai kamu lupa pernah terpaksa."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13: Mahar untuk Laras
Pak Reza tidak memberi pramuniaga itu kesempatan mengubah cerita.
Rekaman kamera toko diperiksa di hadapan kami. Ucapannya, kamar pas yang sengaja ditutup, dan caranya mencegah pegawai lain melayani terlihat jelas. Dia diminta menyerahkan kartu pegawai dan menunggu pemeriksaan resmi dari bagian sumber daya manusia.
Arya tidak meminta dia dipecat.
“Periksa sesuai aturan kalian,” katanya kepada Pak Reza. “Yang penting, jangan biarkan hal seperti ini terjadi kepada pelanggan lain.”
Kami akhirnya membeli pakaian di butik lain. Aku hanya memilih tiga set, sedangkan Arya diam-diam meminta pegawai menambahkan dua gaun dan sepasang sepatu ke tagihan.
“Mas Arya.”
“Untuk acara resmi.”
“Aku sudah punya kebaya.”
“Itu untuk akad.”
Dia membayar sebelum aku sempat mengambil salah satu kotak dari meja kasir.
Dalam perjalanan pulang, aku beberapa kali meliriknya. Sulit menyatukan lelaki yang terbiasa makan siang di kantor berbau jerami dengan pemilik jaringan pemasok yang membuat seorang pengelola mal berlari menyambut.
“Kenapa tidak pernah bilang usahamu sebesar itu?” tanyaku.
“Kamu tidak pernah bertanya.”
“Kalau kutanya, Mas Arya akan menjawab?”
Dia berpikir sejenak. “Iya.”
Jawaban itu sederhana, tetapi membuatku sadar bahwa dia tidak sedang menyembunyikan kekayaan untuk mengujiku. Dia hanya benar-benar tidak menganggapnya penting untuk dibicarakan.
Keesokan siangnya, ruang tamu rumah dipenuhi kertas, contoh kotak seserahan, dan suara beberapa orang sekaligus. Pak Kades datang bersama Pak RT untuk membicarakan tanggal akad serta resepsi. Bu Minah dan Sari menyusul dari Tegalsari. Tiga anak duduk di tangga, mengawasi pembicaraan orang dewasa dengan rasa ingin tahu.
Arya meletakkan daftar di tengah meja.
“Untuk mahar,” katanya, “emas dan uang tunai sesuai yang sudah dibicarakan dengan penghulu.”
Aku membaca angka di kertas, lalu menatapnya. “Ini terlalu besar.”
“Belum termasuk seserahan.”
Pak RT berdeham, mungkin menahan senyum. Pak Kades justru memasang kacamata dan membaca ulang.
Daftar berikutnya mencantumkan perhiasan emas lengkap, perlengkapan ibadah, pakaian, kebutuhan pribadi, bingkisan untuk keluarga, serta uang seserahan yang nilainya beberapa kali lipat dari lamaran sebelumnya. Arya juga ingin akad dan resepsi ditangani dengan lengkap, bukan sekadar mengganti nama calon pengantin dari Tiara menjadi namaku.
“Kita tidak perlu membuktikan apa-apa kepada orang lain,” kataku pelan.
“Aku bukan membuktikan.”
“Lalu apa?”
Dia menatapku di depan kedua orang tuaku, para aparat desa, dan anak-anak.
“Memperbaiki yang sejak awal salah.”
Ruangan menjadi sunyi.
“Lamaran dulu dibuat untuk Tiara,” lanjutnya. “Kamu datang menggantikan orang lain tanpa dipersiapkan, tanpa ditanya, dan tanpa diberi apa yang seharusnya menjadi hakmu. Aku tidak mau akad kita berdiri di atas nama orang lain.”
Dadaku menghangat sekaligus terasa sesak.
Seumur hidup, aku terbiasa menjadi orang yang diminta mengerti. Mengerti kesibukan Papa Bimo. Mengerti kekhawatiran Mama Ratna setelah menemukan putri kandungnya. Mengerti Tiara yang katanya kehilangan masa kecil. Mengerti keputusan keluarga saat mereka menyuruhku menggantikan pernikahan yang tidak kuinginkan.
Tak seorang pun pernah berhenti dan bertanya apa yang layak kuterima.
Arya mendorong daftar itu ke arah Pak Kades. “Buat proses baru atas nama Laras. Catat semuanya. Uang diserahkan dengan saksi dan bukti transfer yang jelas.”
Aku tahu bagian terakhir bukan kebetulan. Dia mengingat selisih uang di Tegalsari.
Pak Kades mengangguk. Dia memisahkan lembar mahar dari daftar seserahan, lalu menjelaskan bahwa nominal mahar harus disebut jelas saat ijab kabul. Berkas nikah juga akan diperiksa ulang bersama penghulu dan petugas KUA agar pergantian calon pengantin tidak meninggalkan kekeliruan administrasi.
“Nama di formulir, nama di buku nikah, dan nama pemilik rekening harus Laras Ayuningtyas,” katanya. “Tidak boleh ada lagi dokumen atas nama Tiara yang hanya dicoret dengan pena.”
Arya langsung meminta staf kantornya mengirim salinan KTP, kartu keluarga, dan bukti pembayaran terbaru. Semua pengeluaran besar dicatat dalam tabel baru. Salinan untukku, satu untuk Pak Sukri, dan satu lagi disimpan bersama berkas akad.
Melihat ketelitian itu, aku baru sadar bahwa kemewahan bukan bagian paling penting dari daftar di meja. Yang benar-benar diberikan Arya kepadaku adalah jejak yang tak mudah dihapus atau dialihkan orang lain.
Bu Minah menutup mulut dengan ujung kerudung. “Nak Arya, kami tidak bisa membalas sebanyak ini.”
“Ibu tidak perlu membalas.”
“Tapi orang akan bilang keluarga kami mengambil keuntungan.”
“Orang selalu bicara.” Tatapannya beralih kepadaku. “Yang penting Laras tahu dia dihargai.”
Bayu mengangkat tangan dari tangga seperti sedang di kelas. “Kalau Bunda dapat emas, boleh aku lihat?”
Raka mendesah. “Kamu tidak usah ikut campur.”
“Aku cuma lihat. Tidak minta.”
Sasa ikut mengangkat kedua tangan karena melihat Bayu, lalu tertawa tanpa suara. Ketegangan di ruang tamu pecah. Bu Minah mengusap matanya sambil tersenyum.
Raka turun dari tangga dan memandangi contoh kotak yang terbuka. “Kalau semua ini untuk Mbak Laras, orang lain tidak boleh mengambil, kan?”
Pertanyaannya terdengar terlalu serius untuk anak sepuluh tahun. Aku tahu dia sedang mengingat bagaimana hak mereka dulu keluar lewat pintu belakang.
“Tidak boleh,” jawab Arya. “Dan semua orang di ruangan ini akan menjadi saksi.”
Raka mengangguk puas, lalu menarik Bayu menjauh sebelum adiknya menyentuh pita emas.
Aku menunduk ke daftar sekali lagi. “Mas Arya, aku tidak mau diterima karena kasihan.”
“Bukan kasihan.”
“Dan bukan karena merasa bersalah tentang lamaran lama.”
“Bukan.”
“Lalu kenapa?”
Dia diam cukup lama hingga aku pikir dia tidak akan menjawab.
“Karena kamu bukan pengganti,” katanya akhirnya. “Pernikahan ini akan dibuat atas namamu, dengan cara yang membuat tak seorang pun berani meremehkanmu.”
Keesokan harinya, foto kotak seserahan yang sedang disiapkan sudah beredar di grup WA keluarga dan grup ibu-ibu dua desa. Ada yang menghitung berat emas, ada yang membandingkan jumlah kotak, dan ada yang mengingat betapa sederhananya lamaran saat calon pengantin masih Tiara.
Bu Sumi menunjukkan ponselnya kepadaku sambil tertawa. “Sekarang semua orang bilang anak yang dibuang justru akan menikah paling terhormat.”
“Jangan ikut menyebarkan angka, Bu.”
“Saya tidak menyebarkan. Saya hanya menerima dari lima grup berbeda.”
Aku tidak tahu harus tertawa atau pusing.
Berita itu bergerak lebih cepat daripada kendaraan mana pun. Dari Rejosari ke Tegalsari, dari kerabat jauh ke kenalan lama, lalu sampai ke sebuah rumah di Jakarta.
Tiara membaca pesan yang diteruskan Ratna dua kali.
Di layar tampak tiga set perhiasan emas, susunan uang seserahan, dan catatan bahwa seluruh akad akan diulang secara resmi atas nama Laras. Nilainya jauh melampaui apa yang dulu disiapkan ketika Tiara masih menjadi calon istri Arya.
“Mereka sengaja mempermalukanku,” katanya.
Ratna duduk di sampingnya dengan bibir mengeras. “Arya hanya sedang pamer karena Laras berhasil memengaruhinya.”
Tiara melempar ponsel ke atas meja.
Dulu dia menganggap pernikahan itu terlalu sederhana, lelakinya terlalu tua, dan desanya terlalu jauh. Dia bahkan tidak mau melihat daftar pemberian keluarga Arya.
Sekarang perempuan yang mereka buang ke desa justru akan menerima emas, uang, dan kehormatan berkali-kali lipat.
Satu pertanyaan membakar kepala Tiara sampai wajahnya memerah.
Kenapa Laras yang mendapatkan semuanya?