Di Benua Shenzhou yang dipenuhi oleh energi spiritual (Qi), hukum rimba berlaku: yang kuat dihormati, yang lemah diinjak-injak. Ye Chen, seorang pemuda dari Klan Ye, terlahir dengan meridian yang cacat sehingga ia tidak bisa menyerap Qi. Selama enam belas tahun, ia hidup sebagai lelucon dan bahan hinaan klannya.
Namun, takdirnya berubah drastis di suatu malam yang berdarah. Saat ia dipukuli dan dibuang ke dasar Jurang Kematian oleh sepupunya sendiri, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah liontin batu giok hitam peninggalan ibunya. Liontin itu ternyata menyimpan jiwa seorang Kaisar Naga Kuno yang telah tersegel selama puluhan ribu tahun. Dengan bimbingan sang Kaisar Naga, Ye Chen memulai jalan kultivasi yang menentang langit untuk membalas dendam dan mencari kebenaran di balik hilangnya kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kota Bintang Jatuh dan Paviliun Harta Surgawi
Dua minggu setelah pembantaian berdarah di dasar ngarai, sesosok pemuda berjubah abu-abu usang dengan caping bambu yang menutupi separuh wajahnya melangkah keluar dari batas kabut merah Lembah Darah Merah.
Di punggungnya, sebuah pedang raksasa terbungkus rapat oleh kain kain kanvas tebal, menyembunyikan identitas senjata tersebut. Pemuda itu adalah Ye Chen.
Selama dua minggu terakhir, ia bersembunyi di pinggiran lembah untuk menstabilkan kultivasinya di puncak Tahap Pengumpul Qi tingkat ketujuh, sembari mempelajari Langkah Teratai Api. Dengan tubuh fisiknya yang telah berevolusi memiliki Tulang Naga Api, ia mampu menguasai dasar teknik gerakan tingkat menengah itu hanya dalam waktu singkat.
Kini, langkahnya seringan bulu. Setiap pijakannya tidak meninggalkan jejak, seolah tubuhnya seringan daun kering.
"Kota Bintang Jatuh," gumam Ye Chen saat melihat tembok kota raksasa yang menjulang setinggi puluhan meter di kejauhan. Tembok itu terbuat dari baja hitam murni, memancarkan aura pertahanan yang luar biasa kokoh.
Kota Bintang Jatuh adalah pusat perdagangan terbesar di wilayah perbatasan barat daya Benua Shenzhou. Ukurannya puluhan kali lipat lebih besar dari Kota Puncak Hijau, dan merupakan titik temu berbagai faksi, sekte, dan saudagar kaya.
Ye Chen melangkah masuk melewati gerbang kota setelah membayar pajak masuk sebesar sepuluh koin emas. Begitu masuk, ia langsung disuguhkan oleh pemandangan yang membuat darahnya sedikit mendidih karena antusiasme.
Jalanan kota selebar puluhan meter dipenuhi oleh kultivator. Jika di Kota Puncak Hijau seorang kultivator tingkat kelima sudah dianggap elit, di sini, penjaga toko biasa pun berada di tingkat keempat! Ye Chen bahkan merasakan beberapa fluktuasi napas dari Tahap Pembentukan Fondasi berjalan santai di antara kerumunan.
"Jangan bertingkah seperti orang udik, Bocah," tegur Ao Tian. "Kota ini hanyalah kota kelas tiga di pandangan dunia yang lebih luas. Namun untuk membuang barang rongsokan dari cincin banditmu, tempat ini sudah lebih dari cukup."
Ye Chen mengangguk pelan. Tujuannya sangat jelas. Cincin Penyimpanannya kini penuh sesak dengan puluhan senjata baja milik Bandit Gagak Hitam, ratusan Inti Binatang dari Lembah Darah Merah, dan beberapa pil serta material milik Yan Ting yang tidak berguna baginya. Ia butuh mencairkan semua itu menjadi Batu Spiritual—mata uang kelas atas yang digunakan oleh kultivator sejati, yang jauh lebih berharga dari koin emas.
Setelah bertanya pada beberapa pejalan kaki, Ye Chen tiba di depan sebuah bangunan megah berlantai lima yang dihiasi oleh pilar-pilar batu giok putih. Di atas pintu masuknya, terpampang plakat emas bertuliskan: Paviliun Harta Surgawi.
Ini adalah rumah lelang dan pusat perdagangan terbesar di Kota Bintang Jatuh, konon didukung oleh faksi raksasa dari pusat benua.
Ye Chen melangkah masuk. Suasana di lantai satu sangat mewah, dihiasi lampu kristal dan rak-rak kaca yang memamerkan senjata serta tanaman herbal. Aroma dupa yang menenangkan menguar di udara.
Seorang pelayan wanita cantik berpakaian sutra merah mendekatinya. Meski melihat pakaian Ye Chen yang lusuh dan caping bambunya, pelayan itu tetap tersenyum profesional—sebuah tanda bahwa tempat ini memiliki standar yang sangat tinggi.
"Selamat datang di Paviliun Harta Surgawi, Tuan. Ada yang bisa saya bantu? Apakah Anda ingin membeli pil, atau melihat-lihat senjata?" tanya pelayan itu dengan sopan.
"Aku ingin menjual barang dalam jumlah besar," jawab Ye Chen, suaranya sengaja diberatkan hingga terdengar seperti pria dewasa yang paruh baya. "Panggilkan penilai (appraiser) terbaik kalian. Dan aku butuh ruangan pribadi."
Pelayan itu sedikit terkejut, namun segera mengangguk. "Tentu, Tuan. Silakan ikuti saya."
Ye Chen dibawa ke sebuah ruangan VIP di lantai dua yang tertutup rapat. Tak lama, seorang pria tua bertubuh kurus dengan kacamata berlensa kristal masuk. Pria tua ini memancarkan aura Tahap Pengumpul Qi tingkat kedelapan.
"Salam, saya Penilai Sun," ucap pria tua itu sambil duduk di seberang Ye Chen. Matanya yang tajam di balik kacamata mencoba membaca kultivasi Ye Chen, namun terhalang oleh aura dingin misterius (bantuan Ao Tian). Penilai Sun segera menunduk, menyadari pria bertopi bambu di depannya tidak bisa diremehkan. "Tuan ingin menjual barang? Silakan tunjukkan."
Ye Chen tidak banyak bicara. Ia mengangkat tangannya dan menyapu meja kayu panjang di depannya.
KLANG! KLOTAK! BRUK!
Dalam sekejap, ruangan itu dipenuhi oleh puluhan senjata baja, ratusan Inti Binatang dari tingkat tiga hingga tingkat lima, tumpukan gulungan perkamen tua, dan kotak-kotak kayu berisi herbal. Meja yang besar itu nyaris tidak muat menampung semuanya.
Mata Penilai Sun terbelalak lebar. Tangannya gemetar saat ia memegang salah satu tombak bergerigi yang sudah bengkok—itu adalah senjata milik Zuo Kuang!
"I-ini... senjata kelas menengah! Dan Inti Binatang ini... semuanya masih sangat segar, penuh dengan aura pembantaian dari Lembah Darah Merah!" Penilai Sun menelan ludah.
Ia memandang Ye Chen dengan rasa takut yang baru. Membunuh satu atau dua monster itu biasa. Tapi melihat jumlah senjata dan Inti Binatang sebanyak ini, jelas pria di depannya ini baru saja membantai seluruh markas kelompok bandit dan sarang monster sendirian!
"Hitung semuanya. Aku ingin dibayar dengan Batu Spiritual Tingkat Rendah, bukan koin emas fana," ucap Ye Chen dingin, menyandarkan tubuhnya ke kursi. Ia sangat berhati-hati untuk tidak mengeluarkan barang-barang khas Sekte Api Sejati agar identitasnya tidak terlacak.
"B-baik, Tuan! Mohon beri saya waktu setengah jam!"
Penilai Sun segera memanggil dua asistennya dan mulai menghitung dengan teliti. Tiga puluh menit kemudian, ia menyerahkan sebuah kantong kain kecil berwarna emas kepada Ye Chen dengan kedua tangannya.
"Tuan, total semuanya bernilai enam ratus ribu koin emas. Jika dikonversikan, itu setara dengan enam ratus Batu Spiritual Tingkat Rendah," lapor Penilai Sun dengan nada hormat yang kental. "Selain itu, karena Anda telah melakukan transaksi besar, ini adalah Kartu Emas Hitam VIP dari Paviliun kami."
Ye Chen mengambil kantong itu dan memeriksa isinya. Ratusan batu kristal sebening kaca seukuran ibu jari memancarkan energi Qi alam yang sangat murni. Inilah sumber daya kultivasi yang sesungguhnya! Enam ratus Batu Spiritual sudah cukup untuk membuat seorang ahli tingkat sembilan gila karena serakah.
"Kebetulan sekali, Tuan datang di waktu yang tepat," tambah Penilai Sun sambil tersenyum menjilat. "Malam ini, Paviliun Harta Surgawi akan mengadakan Lelang Akbar Tahunan. Dengan Kartu Emas Hitam itu, Anda bisa menempati ruang pribadi di lantai tiga. Kudengar, malam ini ada beberapa pusaka kuno dan Pil Terobosan Pembentukan Fondasi yang akan dilelang!"
Mendengar kata "Pil Terobosan Pembentukan Fondasi", Ye Chen tidak bereaksi banyak. Namun, suara Ao Tian tiba-tiba bergema di kepalanya.
"Bocah! Coba kau rasakan fluktuasi energi yang sangat tipis dari arah ruang bawah tanah bangunan ini. Apakah kau merasakannya?"
Ye Chen memejamkan mata di balik capingnya, memutar Qi dari Meridian Naganya. Benar saja. Samar-samar, ia merasakan hawa kuno yang sangat liar dan tiranik, yang membuat darah di dalam tubuhnya sedikit mendidih.
"Fluktuasi itu... itu adalah barang peninggalan dari Ras Naga!" seru Ao Tian, nada suaranya dipenuhi keterkejutan dan keserakahan. "Bocah, kau harus menghadiri lelang itu malam ini! Apa pun benda naga itu, kau harus mendapatkannya! Benda itu akan mempercepat kebangkitan Tulang Nagamu ke tahap selanjutnya!"
Ye Chen membuka matanya. Di balik bayangan caping bambu, bibirnya melengkung membentuk senyum tipis yang mematikan.
"Baiklah, Penilai Sun," ucap Ye Chen, bangkit berdiri dan memasukkan kantong Batu Spiritual ke dalam cincin penyimpanannya. "Siapkan ruang VIP untukku malam ini. Aku akan ikut bermain."