NovelToon NovelToon
Tuan Muda Dingin, Pembantu Manisnya

Tuan Muda Dingin, Pembantu Manisnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / CEO / Pengasuh / Ibu susu
Popularitas:172
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Lianna "Lia" Souw punya satu rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun.

Sejak kecil, tubuhnya mengeluarkan wangi manis setiap kali ia kenyang — warisan ramuan turun-temurun dari neneknya. Wangi yang membuatnya terlalu "mengundang", terlalu berbahaya. Maka Lia belajar satu hal: **menahan lapar, menyembunyikan wanginya, dan tidak menarik perhatian siapa pun.**

Kabur dari ayah yang nyaris menjualnya demi melunasi utang, Lia mendarat di rumah megah Keluarga Wijaya di PIK — jadi pembantu tinggal-dalam yang memasak masakan rumahan dan mengurus cucu kesayangan Popo. Rencananya sederhana: kerja diam-diam, kumpulkan uang, lalu pergi.

Sampai ia bertemu **Sebastian Wijaya.**

Tuan muda keluarga konglomerat itu dingin, menahan diri, tak tersentuh — seperti puncak salju yang tak pernah mencair. Semua wanita ia tolak. Sampai malam itu, saat wangi manis Lia menguar di udara… dan pertahanan diri yang selama ini jadi kebanggaannya **retak untuk pertama kalinya.**

"Mulai sekarang," bisiknya rendah, mengurung Lia di antara dirinya dan pintu, "kamu hanya boleh makan sampai kenyang… di depanku."

Lia pikir ia hanya perlu bertahan sampai cukup uang untuk pergi. Ia tidak pernah menyangka pria sedingin es itu akan menuliskan rumah dan seluruh hartanya atas namanya, melepas mahkota pewaris demi merangkak naik dari nol bersamanya, dan berkata pada seluruh dunia dengan mata paling lembut:

*"Istriku manja. Memang harus dimanja."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4: Terjebak di Gudang

Tangis Bryan menembus pintu gudang yang tebal.

“Sebentar, Bryan. Aho ambil popokmu dulu,” gumam Lia, meski bayi itu tak mungkin mendengarnya.

Hampir seminggu berlalu sejak Bobby mengganggunya di supermarket. Lia tidak menceritakan kejadian itu kepada siapa pun. Ia memilih menghafal wajah pria tersebut, menghindari keluar sendirian, dan memusatkan diri pada pekerjaan yang kini membuatnya dibutuhkan di rumah Wijaya.

Beberapa menit sebelumnya, Popo memergokinya hendak meninggalkan ruang makan dengan mangkuk sup yang masih setengah penuh.

“Duduk lagi,” perintah Popo.

Lia berhenti. “Saya sudah cukup, Popo.”

“Cukup dari mana? Ayamnya masih ada, kuahnya juga masih banyak.”

“Saya memang makan sedikit.”

Popo menatap pinggang dan pipinya, lalu mengetukkan sumpit ke meja. “Badanmu berisi bukan berarti kamu boleh kelaparan. Habiskan.”

Lia tak menemukan alasan yang sopan untuk menolak. Ia duduk kembali dan memaksa menelan sup sedikit demi sedikit. Di suapan terakhir, Sebastian masuk dari pintu samping sambil melepas jam tangannya. Pandangannya sempat jatuh pada mangkuk kosong di depan Lia.

Lia segera membawa peralatan makannya ke dapur.

Panas mulai naik ke tengkuk sebelum ia selesai mencuci mangkuk. Ia membasahi saputangan dan menempelkannya ke leher, tetapi wangi manis tetap lolos, tipis dan hangat. Di saat itulah Bryan menangis dari kamar, disusul suara Cornelia yang meminta popok baru.

Sore itu persediaan popok di kamar Bryan habis lebih cepat. Cornelia menunggu di luar sambil menggendong cucunya, sedangkan Lia masuk ke gudang untuk mengambil satu dus baru.

Lampu di dalam berkedip sebelum menyala redup. Rak besi memenuhi dua sisi ruangan, dijejali perlengkapan rumah tangga, koper lama, beberapa peti anggur, dan berkas keluarga yang disimpan dalam kotak plastik.

Dus popok ada di rak paling atas.

Lia menarik bangku lipat ke bawahnya. Ujung jarinya baru menyentuh kardus ketika suara pintu bergerak terdengar di belakang.

“Siapa di sana?”

Suara Sebastian.

Lia menoleh terlalu cepat. Kaki bangku bergeser di lantai licin.

Tubuhnya kehilangan tumpuan.

Ia sempat meraih udara sebelum sepasang tangan menangkap pinggang dan punggungnya. Dus popok jatuh ke lantai dengan suara berat. Lia sendiri tidak menyentuh lantai sama sekali.

Ia jatuh tepat ke dada Sebastian.

Napas mereka sama-sama terhenti.

“Ko Sebas...”

“Diam dulu.”

Lengan Sebastian mengencang untuk menstabilkannya. Telapak tangannya terasa panas menembus kain seragam rumah. Tubuh Lia yang lembut menempel di bagian depan kemejanya, dekat sekali sampai ia bisa merasakan tarikan napas perempuan itu.

“Kakimu sakit?”

Lia mencoba menggerakkan pergelangan kaki tanpa menjauh dari pegangannya. “Tidak. Saya hanya kaget.”

“Kalau aku terlambat menangkapmu?”

“Saya tidak akan naik bangku seperti ini lagi.”

Jawaban patuh itu seharusnya mengakhiri masalah. Aneh, Sebastian justru belum melepaskan tangannya.

Lia baru selesai makan semangkuk sup yang dipaksa Popo. Panas kenyang masih berputar di bawah kulitnya. Aroma manis yang tadi hanya berkumpul di tengkuk kini menguar di ruang gudang yang tertutup.

Tatapan Sebastian berubah.

Ini aroma yang sama dengan malam di ruang bilas. Bukan sabun. Bukan sekadar sisa bumbu dapur. Wangi buah matang itu berasal dari kulit Lia dan menguat ketika tubuh perempuan itu hangat.

Sebastian menunduk sedikit. Ujung hidungnya nyaris sejajar dengan rambut Lia.

“Tadi kamu makan?” tanyanya.

Pertanyaan itu membuat punggung Lia kaku.

“Saya...”

“Lia!” panggil Cornelia dari luar. “Popoknya ketemu? Bryan makin keras menangis.”

Seolah baru tersadar, Lia menekan dada Sebastian dan mundur. Namun bangku masih miring di belakang kakinya. Sebastian kembali menahan lengannya.

“Pelan.”

Nada suaranya lebih rendah daripada biasa.

Lia berdiri tegak, lalu buru-buru membungkuk untuk mengambil dus. Sebastian lebih cepat. Ia mengangkat kardus besar itu dengan satu tangan dan meletakkannya di dekat pintu.

“Terima kasih, Ko Sebas.”

“Kamu belum jawab.”

Jari Lia menggenggam sisi kardus. “Popo menyuruh saya makan sup.”

“Lalu wanginya muncul.”

Udara di paru-paru Lia seperti habis.

Ia memaksa tersenyum kecil. “Wangi sup juga bisa menempel, Ko Sebas.”

“Sup tidak berbau seperti buah.”

Tangis Bryan kembali terdengar. Lia menggunakan bunyi itu sebagai jalan keluar.

“Tante Cornelia menunggu.”

Ia membuka pintu dan mendorong dus keluar. Cahaya lorong yang terang membuat matanya menyipit. Cornelia berdiri beberapa langkah dari sana dengan Bryan yang meronta di lengan.

“Lama sekali. Kenapa?”

“Dusnya di rak atas, Tante.”

Lia mengambil Bryan sebelum Cornelia sempat menanyakan lebih jauh. Begitu pipi bayi menyentuh lehernya, tangis itu terpotong menjadi isakan kecil. Hidung Bryan bergerak, tubuhnya melunak, lalu matanya perlahan terpejam.

Cornelia mengembuskan napas lega. “Ajaib. Denganmu dia langsung diam.”

“Mungkin Bryan sudah mengantuk.”

“Bawa dia ke kamar. Saya suruh orang mengangkat dusnya nanti.”

“Iya, Tante.”

Lia berjalan menjauh sambil menepuk punggung Bryan. Ia tidak menoleh, tetapi bisa merasakan Sebastian masih memandanginya dari dalam gudang.

Setelah langkah Lia hilang di ujung lorong, Sebastian menutup pintu setengah. Ia sebenarnya datang untuk mengambil map proyek lama milik Wijaya Group. Map itu masih tergeletak di rak dan tak lagi menarik perhatiannya.

Ia menunduk pada lengan kemejanya.

Wangi manis Lia menempel di sana, tepat pada bagian yang tadi bersentuhan dengan tubuhnya.

Sebastian mengusap kain itu dengan ibu jari. Tatapannya turun, gelap dan penuh perhitungan.

Kali ini, ia tidak akan menerima jawaban tentang sabun, jamu, atau bumbu dapur lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!