Malam itu, dengan kaki telanjang menembus jalanan Jakarta, Sekar nekat menghentikan sebuah mobil mewah… dan takdirnya berubah selamanya.
**Bramantyo Adiwangsa.** Empat puluh tahun, konglomerat paling disegani di ibu kota. Pria yang dingin pada dunia—tapi memungut gadis malang itu, memberinya rumah, nama, dan perlindungan yang tak pernah ia punya. Bertahun-tahun Om Bram menjaganya seperti harta paling rapuh miliknya.
Sampai gadis kecil itu tumbuh menjadi wanita. Dan berani mengucap kalimat yang mengubah segalanya:
*"Om… aku mencintaimu."*
*"Ini salah,"* tolaknya dingin. *"Om dua puluh tahun lebih tua darimu."*
Tapi bagaimana kalau pria yang paling keras menolaknya… justru pria yang paling tak sanggup melepaskannya?
Di antara gunjingan tetangga, penghinaan karena ia "cuma gadis pungut", mantan yang kembali dari 'kematian' untuk membalas dendam, dan satu kecelakaan yang merenggut sesuatu dari tubuh Om Bram selamanya—cinta mereka harus melewati badai yang tak pernah mereka bayangkan.
Dulu, Om yang menyelamatkannya. Kini, giliran Sekar yang bersumpah menyembuhkan pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19
"Aku Pacar Om-mu"
Tiga hari setelah foto malam amal itu muncul, aku duduk di sebuah kafe dekat kampus dengan buku statistik terbuka di depan mata.
Aku sudah membaca paragraf yang sama lima kali. Angka-angka di halaman berubah menjadi bayangan wajah Om Bram dan perempuan bernama Nadia.
Ponselku tergeletak di samping cangkir kopi. Tidak ada pesan dari Om Bram. Hanya pemberitahuan transfer bulanan yang masuk otomatis pagi tadi, tanpa kalimat singkat yang dulu selalu menyertainya.
`Sudah diterima? Jangan lupa makan.`
Dulu aku menganggap pesan seperti itu terlalu biasa untuk dirindukan. Sekarang, bahkan dua kalimat kaku darinya terasa seperti kemewahan.
Aku menutup layar ponsel dan memaksa diri mencatat rumus.
"Sekar?"
Suara perempuan membuat ujung penaku berhenti.
Aku mendongak. Perempuan dari foto itu berdiri di samping meja. Hari ini rambutnya tergerai, kacamata hitam terselip di atas kepala, dan pakaian berwarna krem membuatnya tampak sederhana. Namun aku tetap mengenalinya dalam satu detik.
Nadia.
"Maaf, benar Sekar?" tanyanya lagi.
"Iya."
Dia tersenyum seolah kami sedang diperkenalkan oleh teman yang sama. "Aku Nadia. Boleh duduk sebentar?"
Tanganku otomatis menutup buku. "Silakan."
Dia menarik kursi di seberangku. Seorang pelayan datang dan Nadia memesan teh tanpa melihat menu. Setelah pelayan pergi, pandangannya jatuh pada buku-bukuku.
"Kamu kuliah di UI, ya?"
"Iya."
"Gunawan pernah cerita sedikit. Katanya anak angkat Bram pintar dan mandiri." Dia memiringkan kepala. "Aku sempat berpikir mungkin aku salah orang, tapi foto di profilmu sama."
Aku tidak pernah memasang foto wajah sebagai profil aplikasi pesan. Hanya akun media sosialku yang memuat foto, itu pun dikunci untuk teman. Pertanyaan kecil muncul di kepalaku, tetapi tenggelam oleh pertanyaan yang lebih besar.
"Mbak kenal Om Bram sejak lama?"
"Panggil Nadia saja. Kita tidak beda generasi sejauh itu." Dia tertawa kecil. "Dan iya, aku kenal Bram jauh sebelum kamu tinggal bersamanya."
Cara dia menyebut nama itu tanpa gelar membuat dadaku mengencang.
Tehnya datang. Nadia menunggu pelayan menjauh, lalu menatapku seolah baru menyadari sesuatu yang perlu ditangani dengan hati-hati.
"Aku lihat video di depan kampus," katanya.
Darahku seperti turun dari wajah.
"Video apa?"
"Kamu tahu video yang kumaksud." Nadanya tetap lembut. "Tenang saja. Aku tidak datang untuk mempermalukanmu. Perasaan saat masih muda memang kadang sulit dibedakan dari rasa aman atau rasa berutang budi."
Aku mencengkeram pena. "Saya sudah dua puluh tahun."
"Tentu. Maaf, aku tidak bermaksud menganggapmu anak kecil." Dia menyentuh pinggir cangkirnya. "Justru karena kamu sudah dewasa, kupikir kita bisa bicara sebagai dua perempuan."
Aku ingin bangkit dan pergi. Namun jika aku pergi sekarang, aku akan terus menebak-nebak apa yang hendak dia katakan. Jadi aku tetap duduk.
Nadia menarik napas pendek.
"Aku pacar Om Bram-mu, Dek. Sudah lama, cuma belum diumumkan saja."
Suara mesin kopi masih mendesis. Sendok beradu dengan piring dari meja sebelah. Seorang mahasiswa tertawa terlalu keras di dekat pintu. Semua suara terdengar jelas, seolah tubuhku sengaja mempertajam dunia agar aku tidak bisa menyangkal kalimat barusan.
"Pacar?" ulangku.
"Hubungan kami sempat terhenti karena aku tinggal di luar negeri. Sekarang aku kembali dan kami sedang mencoba melanjutkan apa yang dulu belum selesai." Nadia tersenyum tipis. "Bram sangat menjaga privasi. Kamu pasti tahu itu."
Aku tahu. Om Bram bahkan tidak suka wajahnya dipasang di situs perusahaan lebih lama daripada perlu.
Foto malam amal melintas lagi di kepalaku. Nadia berdiri di sampingnya seperti seseorang yang sudah pernah mengisi tempat itu. Lalu tiga minggu jarak yang dibuat Om Bram, kotak dasi yang dia tolak, pesan yang berhenti, dan transfer otomatis yang menggantikan perhatiannya tersusun menjadi jawaban yang kejam sekaligus masuk akal.
Mungkin dia tidak menjauh karena takut menyakitiku.
Mungkin dia menjauh karena sudah memilih orang lain.
"Kenapa memberi tahu saya?" tanyaku.
Nadia menatapku lama, seolah sedang memastikan aku cukup kuat menerima kebaikannya.
"Karena Bram merasa bersalah padamu. Dia takut perubahan hubungan kami membuatmu merasa ditinggalkan." Jarinya mengusap gagang cangkir. "Aku tidak mau menjadi perempuan jahat dalam hidupmu. Aku cuma ingin meminta satu hal."
Aku sudah tahu sebelum dia mengatakannya.
"Jangan terlalu dekat sama dia, ya, biar tidak ada yang salah paham. Bram sudah membesarkanmu. Kalau orang terus melihatmu mengejarnya seperti di video itu, nama kalian berdua yang akan rusak."
Aku melihat tanganku sendiri. Jemariku memeluk cangkir begitu erat sampai buku-bukunya memutih. Kopi di dalamnya sudah dingin, tetapi telapak tanganku berkeringat.
"Om Bram yang meminta Anda mengatakan ini?"
Untuk pertama kalinya, senyum Nadia berhenti sepersekian detik.
"Dia tidak akan tega. Itu sebabnya aku yang datang."
Jawaban itu licin, tetapi cocok dengan Om Bram yang kukenal. Dia sanggup membuat aturan, membayar kos, dan berdiri diam di balik pintu. Namun untuk mengatakan bahwa aku mengganggu hidup barunya, mungkin dia memang akan memilih diam.
Aku menelan sesuatu yang terasa tajam di tenggorokan.
"Terima kasih sudah kasih tahu."
Suaraku hanya bergetar sedikit. Aku bangga sekaligus membenci diri sendiri karena masih bisa menjaga sopan santun.
Nadia berdiri. "Kamu gadis baik, Sekar. Suatu hari nanti kamu akan mengerti bahwa Bram melakukan ini demi masa depanmu."
Dia meletakkan uang di bawah piring tehnya, lalu menepuk ringan sisi meja, bukan tanganku.
"Jaga kesehatan. Katanya kamu baru sakit."
Aku menatapnya.
Nadia sudah berbalik sebelum bisa kutanya dari mana dia tahu.
Dia berjalan keluar dari kafe tanpa menoleh. Aroma parfumnya tertinggal beberapa detik, lalu bercampur dengan bau kopi dan pendingin ruangan.
Aku tetap duduk.
Pena masih berada di tanganku. Di halaman buku, ujungnya meninggalkan satu titik tinta yang semakin besar karena terus kutekan tanpa sadar.
"Kar! Maaf, dosenku menahan kelas."
Dinda datang sambil terengah, tasnya menggantung di satu bahu. Dia baru hendak menarik kursi ketika melihat wajahku.
"Kamu kenapa?"
"Tidak apa-apa."
"Jangan bohong. Bibirmu pucat. Kamu demam lagi?"
Aku memasukkan buku ke tas. Tanganku bergerak terlalu rapi, seolah jika satu pulpen saja salah tempat, seluruh tubuhku akan pecah.
"Tadi siapa yang duduk di sini?" Dinda melihat cangkir teh yang belum dibawa pergi.
"Orang salah meja."
"Sekar."
Aku berdiri dan membawa kopiku ke tempat pembuangan. Isinya masih lebih dari setengah. Aku menuangkannya ke bak kecil sampai warna hitam itu menghilang bersama aliran air.
"Ayo pulang," kataku.
Sepanjang perjalanan menuju kos, Dinda bertanya dua kali. Aku menjawab bahwa aku hanya lelah. Dia tidak percaya, tetapi berhenti memaksa setelah melihat tanganku terus gemetar di atas pangkuan.
Begitu tiba, aku masuk ke kamar dan mengunci pintu.
"Kar, buka dulu. Kamu belum makan," panggil Dinda dari luar.
Aku tidak menjawab.
Tas terlepas dari bahuku. Aku bersandar pada pintu, lalu perlahan meluncur sampai duduk di lantai. Air mata jatuh tanpa suara. Aku menggigit bibir keras-keras agar Dinda tidak mendengar satu isakan pun.