Setiap malam, Arka terbangun di dunia yang penuh zombie.
Setiap pagi, ia kembali ke dunia nyata dengan emas dan kristal yang bisa dijual miliaran.
Mantan pacarnya membuangnya karena ia "gila dan miskin."
Sekarang? Ia memiliki 128 properti, tubuh sempurna, dan kekuatan yang membuat jenderal berlutut.
Tapi ini baru permulaan. Karena dunia di luar Bumi jauh lebih berbahaya — dan Arka baru saja menjadi target nomor satu seluruh alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Manusia.
Kata itu membuat Arka tidak langsung tidur malam itu.
Di lantai dua ruko, ia melihat Markas Masa Depan yang masih sangat kecil. Tiga puluh tujuh orang terdengar kecil. Di Jakarta, satu kelas kuliah bisa lebih ramai. Di Planet Biru, angka itu berarti tiga puluh tujuh mulut, tiga puluh tujuh rasa takut, dan tiga puluh tujuh masalah yang bisa meledak kapan saja.
Makanan harus dihitung.
Air harus dijaga.
Kristal harus dibagi tanpa membuat iri.
Dan yang paling sulit: harapan harus diberi ukuran. Terlalu sedikit, orang menyerah. Terlalu banyak, orang ceroboh.
Keesokan harinya, Arka mulai melatih mereka.
Latihannya praktis. Arka hanya mengajarkan aturan sederhana: jangan bergerak sendiri, jangan berebut hasil, dan selalu punya jalan pulang.
Merah memimpin latihan fisik. Caranya kasar, tetapi orang-orang mendengarkan karena ia ikut berkeringat bersama mereka.
"Kalau tanganmu gemetar, jangan sok maju!" teriak Merah pada seorang pemuda kurus. "Tugasmu bukan mati paling depan. Tugasmu pulang bawa kabar!"
Shadow melatih empat orang bergerak dari pintu ke pintu. Ia tidak banyak bicara. Setiap kali seseorang membuat suara terlalu keras, ia hanya menatap. Anehnya, tatapan itu lebih efektif daripada bentakan Jagal dulu.
Elang membuat jadwal jaga di papan kardus. Dalam satu pagi, ruko itu mulai terasa seperti tempat yang punya pemimpin.
Zahra membuka sudut perawatan.
Ia mengatur obat, air hangat, kain bersih, dan daftar orang yang perlu istirahat. Ketika seorang pria tua meminta kembali bekerja meski demam, Zahra berdiri di depannya dengan tangan di pinggang.
"Kalau Bapak pingsan di luar, dua orang harus menyeret Bapak pulang. Itu bukan kerja keras, itu menambah beban. Duduk."
Pria tua itu menurut.
Merah yang melihat dari jauh berbisik, "Galak juga."
Kirana, yang membantu mencatat pendatang baru, menjawab tanpa mengangkat kepala, "Orang lembut sering paling galak kalau sudah menyangkut nyawa."
Arka mendengar percakapan itu dan tidak ikut campur. Ia lebih tertarik pada daftar yang dibuat Kirana. Perempuan itu menulis nama, kemampuan, kondisi kesehatan, dan kecenderungan sikap. Di samping dua nama, ia memberi tanda kecil.
"Ini apa?" tanya Arka.
"Mereka belum tentu buruk," kata Kirana pelan. "Tapi niatnya tidak bersih. Terlalu sering melihat kotak Kristal."
"Bagus. Jangan tuduh dulu. Awasi."
Kirana menatapnya. "Kamu percaya penilaianku?"
"Aku percaya data yang berguna sampai terbukti salah."
Ia tersenyum sedikit. "Jawabanmu selalu seperti kontrak bisnis."
"Kontrak yang jelas menyelamatkan banyak orang."
Dalam tiga hari, Markas Masa Depan menjadi lebih stabil. Tempat itu masih jauh dari aman, namun aturan mulai berdiri. Beras menjadi pusatnya. Setiap sore, panci besar dimasak di tengah ruangan. Orang-orang mengantre. Porsi rahasia untuk pemimpin tidak ada. Arka makan terakhir agar semua orang melihat aturan berlaku sampai ke dirinya.
Kepercayaan tumbuh pelan.
Lebih pelan daripada rasa lapar.
Tetapi lebih kuat.
Ketika siklus dua belas jam menariknya kembali ke dunia nyata, Arka sudah memastikan tubuh Planet Biru-nya berada di ruang aman, dijaga oleh Shadow dan Elang. Ia tidak menjelaskan mengapa ia selalu butuh tidur panjang pada jam tertentu. Ia hanya berkata tubuhnya punya kondisi khusus setelah memakai Bilah Dimensi.
Elang menerima alasan itu tanpa banyak bertanya.
Shadow hanya berkata, "Kami jaga, Bang Arka."
Panggilan itu masih terdengar baru.
Tetapi tidak lagi terasa asing.
Arka membuka mata di Villa WD8.
Udara sejuk dari AC menyambutnya. Ruko dingin, panci beras besar, dan papan jadwal jaga lenyap, diganti kamar luas, selimut bersih, serta jendela besar yang memperlihatkan Jakarta pagi.
Dua dunia.
Di satu dunia, ia belajar memimpin dengan beras.
Di dunia lain, ia harus kembali menjadi mahasiswa.
Arka berdiri di depan cermin. Transformasi tubuhnya belum berhenti. Wajahnya semakin bersih dari lemak lama. Bahunya lebih tegas. Perutnya masih belum sempurna, tetapi pakaian lamanya sudah terlalu longgar.
Timbangan menunjukkan 80,6 kg.
Ia menatap angka itu dan menghela napas pendek.
Dari hampir seratus kilo ke delapan puluh.
Kalau Viona melihatnya sekarang, mungkin ia butuh beberapa detik untuk mengenali.
Arka tidak ingin memberi kesempatan itu terlalu cepat.
Ia tidak membawa Rolls-Royce ke kampus hari itu.
Ia memesan mobil biasa lewat aplikasi, turun dua ratus meter sebelum gerbang UNUSA, lalu berjalan masuk dengan kemeja putih sederhana, celana hitam, dan sepatu baru yang tidak mencolok. Rambutnya sudah dipotong rapi. Penampilannya sederhana, namun cukup membuat wajahnya terlihat berbeda.
Gerbang kampus ramai.
Mahasiswa datang dengan motor, mobil kecil, dan obrolan pagi. Beberapa orang menatap Arka sambil lewat. Satu mahasiswi menoleh dua kali, lalu berbisik pada temannya.
"Itu siapa?"
"Kayaknya anak lama."
Arka berjalan tanpa memperlambat langkah.
Di depan gedung fakultas, seseorang tiba-tiba berseru, "Arka?"
Dimas Nugroho berdiri dengan kopi plastik di tangan. Mulutnya terbuka seperti baru melihat dosen killer tersenyum.
"Bro... lo kemana aja?" Dimas mendekat, menatapnya dari atas ke bawah. "Dan... lo kok jadi kurus?!"
Arka mengambil kopi dari tangan Dimas, menyeruput sedikit, lalu mengembalikannya. "Pahit. Selera lo masih buruk."
"Jangan ngalihin!" Dimas hampir berputar mengelilinginya. "Serius, ini lo? Arka yang dulu sekamar sama gue? Yang kalau naik tangga lantai tiga napasnya kayak habis maraton?"
"Masih aku. Versi hemat beban."
Dimas memukul pelan lengannya. "Gila. Lo diet apa?"
"Tidur cukup."
"Semua orang kaya jawabannya begitu. Tunggu... lo pindah dari kost juga, kan? Anak-anak nanya. Gue kira lo pulang kampung atau depresi gara-gara Viona."
Nama itu melintas seperti pantulan masa lalu.
Arka tidak berhenti berjalan. "Aku baik-baik saja."
Dimas mengecilkan suara. "Dia sering sama Revano sekarang. Sengaja banget pamer. Lo yakin baik-baik aja?"
"Dimas," kata Arka, menatapnya sekilas. "Kalau seseorang memilih pergi, biarkan dia berjalan sejauh mungkin. Lebih mudah melihat punggung orang dari jarak jauh."
Dimas terdiam.
Lalu ia mengangguk pelan. "Lo berubah, bro. Bukan cuma kurus."
Mereka melewati koridor menuju kelas. Beberapa mahasiswa yang dulu mengenal Arka mulai berbisik. Ada yang ragu, ada yang yakin, ada yang langsung membuka ponsel untuk membandingkan foto lama di grup.
Di ujung taman kampus, Viona dan Revano berdiri bersama beberapa teman. Revano menyandarkan tubuh pada kap mobilnya, kunci Porsche berputar di jari. Viona tertawa pada sesuatu yang ia katakan.
Lalu Viona menoleh.
Matanya melewati Arka sekali, tanpa mengenali.
Kemudian kembali.
Keningnya berkerut.
Arka melihat itu dari sudut mata.
Ia tidak berhenti.
Tidak menyapa.
Tidak membuktikan apa pun.
Dimas ikut menoleh. "Itu Viona. Lo mau..."
"Tidak."
Satu kata cukup.
Arka berjalan masuk ke gedung kelas, meninggalkan Viona yang masih mencoba memastikan apakah pria yang baru lewat itu benar-benar orang yang pernah ia buang.
Hari ini, ia datang tanpa Phantom.
Hari ini, ia hanya memberi mereka pertanyaan.
Karena besok, mereka akan mendapatkan jawaban.
Ia tidak perlu menatap mereka.
Karena besok, mereka akan menatap dia.