Menumpahkan es kopi ke baju Kenzo—si cowok genius anak pemilik yayasan—di hari pertama sekolah adalah awal dari bencana bagi Callista. Apalagi setelah mereka dipaksa jadi ketua dan sekretaris kelas. Perang dingin pun pecah, namun percikan benci perlahan berubah jadi cinta.
Sayangnya, realitas menghantam keras. Kenzo adalah seorang Kristen taat, sementara Callista beragama Buddha. Mereka sadar, sekuat apa pun perasaan itu, ada tembok keyakinan yang mustahil diseberangi.
Di saat hubungan itu mulai retak, ada Sean. Sahabat masa kecil Callista yang diam-diam memendam rasa, yang selalu menemaninya ke Vihara, dan memegang kunci dari doa yang sama di altar yang sama.
Ketika melangkah maju hanya menabrak dinding, akankah Callista tetap bertahan pada Kenzo, atau berbalik arah pada sahabat yang selama ini selalu berjalan seiringan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pertama yang Zonk
"Sean! Tungguin gue, ih!"
Callista setengah berlari membelah koridor SMA Wijaya yang ramai oleh lautan anak baru. Seragam putih-abu-abunya masih terasa kaku, khas murid hari pertama. Rambutnya sengaja dicepol ke atas agar tidak gerah, tapi sialnya, cepolan itu bergoyang heboh mengikuti langkah kakinya yang panik.
Sean, cowok jangkung yang berjalan beberapa meter di depannya, menoleh. Alih-alih berhenti, dia malah menatap Callista dengan tatapan malas.
"Makanya, Cal, kalau tahu hari pertama masuk sekolah itu bakal macet, jangan pakai ritual meditasi dulu di depan altar. Telat, kan, kita!"
"Ya, kan, biar tenang menghadapi masa depan, Sean!" balas Callista ketus sambil akhirnya berhasil menyusul sahabatnya itu. Nafasnya terengah-engah.
Sean dan Callista sudah bersahabat sejak mereka masih kecil. Rumah mereka bersebelahan, dan karena sama-sama beragama Buddha, setiap minggu mereka selalu pergi ke Vihara yang sama. Sean adalah zona nyaman Callista, tipe sahabat yang siap sedia mengejek Callista setiap saat, tapi juga orang pertama yang bakal maju kalau Callista kenapa-napa.
"Eh, tapi lo tahu gak kita masuk kelas mana?" tanya Callista sambil membenarkan letak tali tasnya.
"Gue udah cek di mading depan tadi. Kita sekelas lagi. Kelas Sepuluh-Tiga," jawab Sean santai.
Callista langsung tersenyum lebar, matanya berbinar. "Yes! Bagus deh. Seenggaknya gue gak perlu canggung di kelas baru."
Mereka berdua berjalan menuju kelas Sepuluh-Tiga yang terletak di ujung koridor lantai dua. Namun, ekspektasi Callista tentang hari pertama SMA yang indah dan penuh senyuman langsung hancur berantakan dalam hitungan detik.
Tepat di depan pintu kelas, karena terlalu asyik mengobrol dengan Sean, Callista tidak melihat ada botol air mineral yang tergeletak di lantai. Kakinya menginjak botol itu.
Sreeet!
"Eh... eh... AAAAA!"
Callista kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terhuyung ke depan dengan kecepatan penuh. Tangan Callista bergerak refleks ke udara, mencoba meraih apa saja yang bisa menyelamatkannya dari lantai koridor yang keras.
BRUAAAK!
Callista tidak jatuh ke lantai. Tapi dia menabrak sesuatu—atau lebih tepatnya, seseorang yang baru saja mau keluar dari pintu kelas.
Sialnya lagi, di tangan kanan Callista kebetulan sedang memegang es kopi susu instan yang baru dia beli di kantin bawah. Saat tabrakan itu terjadi, tutup cup es kopinya lepas, dan cairan cokelat manis itu sukses menyiprat dengan estetik ke seluruh permukaan kemeja putih bersih milik cowok yang ditabraknya.
Koridor yang tadinya bising mendadak senyap.
Callista mengerjap-ngerjapkan matanya, perlahan mendongak. Di hadapannya berdiri seorang cowok tinggi berambut hitam acak-acakan yang sangat rapi. Wajah cowok itu... tampan, tapi ekspresinya saat ini dingin seperti es kutub utara. Dia menunduk, menatap kemeja putihnya yang kini punya motif abstrak berwarna cokelat.
"Bagus," suara cowok itu terdengar sangat tenang, tapi justru karena terlalu tenang, suaranya malah terdengar mengerikan. "Hari pertama sekolah, dan gue langsung dapet seragam motif baru."
Callista menelan ludah. Hawa dingin menjalar di tengkuknya. "Ma-maaf... gue gak sengaja. Tadi ada botol..."
Cowok itu menaikkan satu alisnya, menatap papan nama di seragam Callista. "Callista. Lo punya mata buat nyari jalan, atau cuma buat pajangan?"
Pedes banget mulutnya! batin Callista langsung meradang. Rasa bersalahnya mendadak menguap setengah karena mendengar sindiran tajam cowok itu.
"Eh, gue kan udah minta maaf! Lagian siapa suruh lo berdiri di depan pintu pas gue lagi kepeleset?" balas Callista, tidak mau kalah.
Sean yang berdiri di belakang Callista langsung menepuk jidatnya sendiri.
Bisa-bisanya ini anak malah ngajak berantem di hari pertama, pikir Sean cemas.
Cowok di depan Callista itu mendengus remeh. Dia merapikan kerah kemejanya yang basah, lalu menatap Callista dengan tatapan merendahkan yang bikin tensi darah Callista naik.
"Nama gue Kenzo. Dan buat informasi lo, jalanan umum itu di bawah, bukan di badan orang. Lain kali, kalau jalan pakai kaki, jangan pakai drama."
Tanpa menunggu balasan Callista, Kenzo berjalan melewati mereka begitu saja menuju toilet, meninggalkan aroma parfum maskulin yang bercampur bau kopi susu.
Callista mengepalkan tangannya di udara, wajahnya memerah karena kesal.
"Ih!!! Dasar cowok songong! Sok ganteng banget sih!"
Sean mendekati Callista, lalu berbisik dengan nada prihatin.
"Cal... lo tahu gak siapa cowok yang barusan lo tumpahin kopi?"
"Gak tahu dan gak peduli!"
"Itu Kenzo. Anak pemilik yayasan sekolah ini, dan denger-denger dia juara umum pas tes masuk kemarin. Plus, dia kristen taat yang kabarnya bakal jadi calon ketua OSIS." Sean menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Masa SMA lo... kayaknya bakal suram, Cal."
Callista membeku di tempat. Dia menatap arah perginya Kenzo dengan perasaan campur aduk antara kesal, malu, dan firasat buruk.