Seorang Hakim Ketua yang menjunjung tinggi keadilan harus memilih antara hukum, ayahnya, dan cinta kelamnya pada seorang buronan nomor satu yang pernah menghancurkan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yrp putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hantu Digital dan Serangan Balik Sang Ratu
Angin malam yang berembus dari Danau Wakatipu terasa lebih menggigit dari biasanya. Di teras rumah kayu itu, cangkir teh yang tadinya mengepulkan asap hangat kini telah terlupakan.
Arjuna memindahkan tablet transparan itu ke atas meja kayu, jari-jarinya yang besar dan kapalan karena memahat kayu kini menari di atas layar virtual dengan kecepatan yang menakutkan. Sisi gelapnya—insting mematikan seorang Baskara—kembali bangkit, namun kali ini bukan senjata api yang ia rakit, melainkan barisan kode enkripsi untuk melawan sistem buatannya sendiri.
"Bagaimana mereka bisa melacak kita, Juna?" tanya Aluna, suaranya tenang namun matanya memancarkan ketajaman analitis yang tak pernah luntur. "Kita memutus semua aliran dana. Rumah ini, tanah ini, semuanya dibeli menggunakan identitas bersih yang dienkripsi berlapis oleh ahli pencucian uang terbaikmu sebelum kita menghancurkan markas di Eropa."
Arjuna mengatupkan rahangnya, matanya menyipit menatap deretan log merah yang terus berjalan di layar.
"Bukan dari transaksi tanah ini, Na," jawab Arjuna dengan suara berat yang menahan amarah. "Tapi dari donasi anonim yang kita kirimkan ke panti asuhan tempat ayahmu mengambilmu dulu. *The Watchers* tidak melacak namaku atau namamu. AI keparat ini melacak anomali pergerakan dana yang polanya menyerupai 'sedekah' rutin mendiang ibuku. Mereka menggunakan algoritme psikologis."
Aluna tertegun. Kepedulian mereka terhadap anak-anak panti asuhan, sedikit kebaikan yang ingin mereka tabur di kehidupan baru ini, justru menjadi jejak darah yang diendus oleh para pemburu.
"Kalau begitu, kita tidak bisa hanya bersembunyi. Jika kita hanya memblokir IP ini, AI itu akan terus belajar dan mencari celah lain," Aluna mencondongkan tubuhnya, bahunya bersentuhan dengan lengan kokoh Arjuna. Sang "Palu Es" mulai menyusun strategi pembunuhan. "Kita harus membutakan mereka secara permanen."
"Aku bisa memasukkan virus *Trojan* ke dalam sinyal balik ini," gumam Arjuna, jemarinya terus mengetik. "Tapi aku butuh waktu tiga menit untuk menembus *firewall* militer mereka. Selama tiga menit itu, lokasi kordinat satelit kita akan terekspos sepenuhnya. Jika terlambat satu detik saja... markas intelijen *The Watchers* di Eropa akan mendapatkan koordinat persis Danau Wakatipu."
"Lakukan," putus Aluna tanpa ragu sedikit pun.
Arjuna menoleh, menatap istrinya dengan sorot khawatir. "Na, risikonya terlalu besar. Jika mereka tahu posisi kita—"
"Mereka tidak akan tahu," potong Aluna, menatap lurus ke dalam mata kelam suaminya dengan penuh keyakinan. "Karena aku tidak akan membiarkan mereka melihat Selandia Baru. Berikan aku akses ke terminal palsumu. Biar aku yang mengalihkan perhatian radar mereka, sementara kau menanam bomnya."
Melihat keteguhan di mata Aluna, Arjuna menyeringai tipis. Rasa bangga membengkak di dadanya. Istrinya bukanlah wanita rapuh yang harus disembunyikan di balik tameng; Aluna adalah rekannya, ratunya, dan ahli strategi terbaik yang pernah ia kenal.
Arjuna membelah layar tablet menjadi dua, memberikan satu sisi antarmuka kepada Aluna.
**"Mulai,"** perintah Arjuna pelan.
Jari-jari lentik Aluna mulai bergerak cepat. Berbekal pengetahuannya tentang taktik penipuan intelijen, Aluna menciptakan ribuan 'bayangan' digital. Ia menyebarkan jejak IP palsu yang memantul dari server di Makau, menyelinap ke jaringan perbankan di Rusia, dan berpura-pura membuka akses brankas rahasia di Kepulauan Cayman. Ia membuat seolah-olah hantu Baskara sedang bangkit dan mengamuk secara bersamaan di tiga benua berbeda.
Di markas bawah tanah *The Watchers* di suatu tempat di Eropa, alarm pasti sedang berbunyi memekakkan telinga. Radar mereka dipenuhi oleh anomali, membuat operator mereka kebingungan membedakan mana sinyal asli dan mana yang ilusi.
"Kordinat mereka kacau, Juna," bisik Aluna, matanya tak lepas dari layar. "Tembok pertahanan mereka sedang dialihkan ke Cayman. Waktumu sekarang!"
Arjuna tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diciptakan istrinya. Ia menyuntikkan *Logic Bomb*—sebuah kode perusak mutlak—ke dalam akar sistem 'Baskara Hunt'. Kode itu tidak hanya akan mematikan AI tersebut, tetapi juga akan menghapus seluruh profil biometrik, rekam jejak, dan sejarah pencarian tentang Arjuna dan Aluna di dalam *database* intelijen global secara permanen.
Layar berkedip merah terang. Hitung mundur di sudut layar menunjukkan angka krusial.
*Tiga detik.*
*Dua detik.*
*Satu detik.*
Arjuna meraih tangan Aluna. Bersama-sama, mereka menekan tombol **[EXECUTE]**.
Tablet itu membeku. Selama lima detik yang terasa seperti keabadian, tidak ada yang terjadi. Hanya desiran angin malam yang terdengar menyapu padang *lavender*.
Lalu, perlahan-lahan, warna merah darah di layar memudar. Deretan kode yang mengancam itu hancur menjadi piksel-piksel hijau yang berjatuhan, sebelum akhirnya layar menjadi hitam sepenuhnya.
*Connection Terminated. Target Erased.*
Arjuna menghembuskan napas yang sedari tadi ia tahan. Ia menjatuhkan tablet itu ke atas meja kayu, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Bahunya yang tegang perlahan rileks.
"Sudah berakhir?" tanya Aluna pelan, memastikan.
"Sudah," Arjuna menoleh dan tersenyum, menarik Aluna hingga wanita itu jatuh ke pangkuannya. "Bom digital itu baru saja menghapus eksistensi kita dari *database* mereka. Hantu itu sudah benar-benar mati sekarang."
Aluna menyandarkan kepalanya di dada Arjuna, mendengarkan detak jantung pria itu yang mulai kembali normal. Tangannya terulur, mengusap rahang suaminya yang ditumbuhi sedikit cambang tipis.
"Kurasa, kebebasan itu bukan sesuatu yang kita dapatkan begitu saja lalu kita tinggalkan, Juna," bisik Aluna sambil tersenyum sendu. "Kebebasan adalah sesuatu yang harus terus kita jaga dan kita bela setiap harinya."
Arjuna mengangguk setuju. Ia mengecup dahi Aluna dalam-dalam, melingkarkan lengannya dengan sangat protektif di tubuh istrinya.
"Selama kau ada di sampingku, Na," ucap Arjuna dengan keyakinan absolut, matanya menatap hamparan danau yang kembali tenang di bawah sinar rembulan. "Biarkan bayangan apa pun dari masa lalu mencoba datang. Kita akan menghancurkan mereka semua, satu per satu. Karena di tanah ini... kitalah aturan mainnya."
Malam itu, di tepi Danau Wakatipu, tidak ada lagi ketakutan. Sang Algojo dan Sang Hakim telah membuktikan bahwa meskipun mereka meninggalkan neraka, mereka tetaplah penguasa yang tak tersentuh. Mereka menutup hari itu bukan dengan kecemasan, melainkan dengan ciuman panjang yang menandai kemenangan mutlak mereka atas masa lalu.