NovelToon NovelToon
Mengasuh Anak Dari Maduku

Mengasuh Anak Dari Maduku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Pengkhianatan
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Bagi Kirana, kesetiaan dalam pernikahan adalah impian mutlak. Namun, kebahagiaan yang ia bangun bertahun-tahun runtuh seketika saat sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa suaminya, Rendra. Di saat yang sama, rahasia besar terungkap, Rendra meninggal bersama istri keduanya, meninggalkan seorang putri berusia dua tahun bernama Aura.
Melalui pesan terakhirnya, Rendra memohon agar Kirana sudi mengasuh Aura sebagai anak sendiri. Kirana hancur dan berada di persimpangan jalan yang menyiksa batin. Di satu sisi, ia sangat terluka oleh pengkhianatan suaminya. Di sisi lain, ia sudah memiliki seorang putri kandung berusia empat tahun yang harus ia jaga perasaannya dari kehadiran anak madunya tersebut.
Kini, di bawah satu atap, Kirana harus berjuang menekan rasa sakit hati demi membesarkan dua anak perempuan yang hanya terpaut usia dua tahun tersebut.
Mampukah Kirana berdamai dengan masa lalu dan bersikap adil, ataukah kehadiran Aura justru menjadi luka abadi yang terus mengingatkann

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep. 13- Pura-pura kuat

Ep. 13- Pura-pura kuat

Hari berganti hari, namun awan mendung yang menggelayut di atas kediaman Kirana tak kunjung terangkat. Suasana rumah yang dulunya hangat dan dipenuhi gelak tawa Rendra kini berubah menjadi dingin, kaku, dan mencekam.

Bunga-bunga papan duka cita yang berjejer di sepanjang pagar depan perlahan mulai layu, kelopaknya berguguran diterpa angin sore, seolah menjadi saksi bisu dari duka yang tak kunjung usai.

Kendati prosesi pemakaman Rendra dan Ayu telah berlalu beberapa hari, arus tamu yang datang mengucap bela sungkawa belum juga surut.

Sanak saudara jauh yang menempuh perjalanan antarkota, rekan bisnis almarhum Rendra dari luar daerah, hingga teman-teman lama yang baru mendengar kabar kecelakaan tragis itu, terus bergiliran mengetuk pintu rumah duka.

Kini, Kirana duduk di sofa ruang tamu dengan pakaian serba gelap. Wajahnya yang kian tirus tampak pucat pasi, lingkaran hitam di bawah matanya tercetak makin jelas akibat malam-malam panjang tanpa tidur.

Setiap kali bel rumah berbunyi, Kirana harus memaksa bibirnya membentuk senyuman kaku, menyambut genggaman tangan tamu, dan mendengarkan kalimat-kalimat penghiburan yang diulang ratusan kali dengan anggukan pasrah.

Namun, di tengah lalu lalang para pelayat yang membawa rasa prihatin, ada satu teka-teki yang terus mengusik kedamaian rumah itu, yaitu keberadaan Aura.

Gadis kecil berusia dua tahun itu kini tinggal di sana. Meski Mbok Darmi dan Tukiyem sudah berusaha sekuat tenaga untuk menjaganya di kamar belakang atau diajak bermain di halaman dalam, sesekali Aura terlepas dari pengawasan.

Dengan langkah kakinya yang masih agak sempoyongan dan kepolosannya yang tak mengerti situasi, Aura sering kali merangkak atau berjalan menembus koridor utama, mencari sosok orang dewasa untuk menemaninya.

"Turut berduka cita yang sangat mendalam ya, Bu Kirana..." ucap Pak Gunawan, salah satu mitra bisnis Rendra yang datang jauh-jaju dari Surabaya bersama istrinya.

Pria paruh baya itu menjabat tangan Kirana dengan raut wajah yang prihatin. "Kami benar-benar kaget saat mendengar kabar buruk ini. Pak Rendra itu orang yang sangat baik dan jujur dalam berbisnis."

"Terima kasih banyak, Pak Gunawan, Bu Gunawan," sahut Kirana dengan suara parau yang nyaris habis. "Terima kasih sudah berkenan menyempatkan waktu dan datang sejauh ini untuk mendoakan almarhum Mas Rendra."

"Iya, Jeng Kirana... Yang sabar ya. Jeng Kirana harus kuat demi Keisya," timpal istri Pak Gunawan seraya mengelus lembut jemari Kirana. "Oh ya, Keisya mana, Jeng? Waktu acara peresmian kantor dua tahun lalu, saya ingat Pak Rendra bangga sekali menceritakan putri tunggalnya yang cantik itu."

Belum sempat Kirana menjawab, suara langkah kaki kecil berpijak kencang di atas lantai porselen (Tuk... tuk... tuk...).

Sesosok balita perempuan bergaun merah kusam melompat dari balik penyekat ruang keluarga.

Aura memeluk sebuah boneka beruang lusuh yang bagian telinganya sudah robek. Matanya yang bulat berkilat saat melihat ada orang asing di ruang tamu.

Tanpa rasa takut, Aura melangkah mendekat ke arah sofa tempat Kirana dan para tamu duduk.

"Aula mau minum..." cicit anak kecil itu dengan suara cadelnya, sambil mengulurkan kedua tangan mungilnya ke arah Kirana.

Pak Gunawan dan istrinya seketika menghentikan pembicaraan. Pandangan mereka beralih penuh pada sosok balita tersebut.

Kening istri Pak Gunawan berkerut dalam, matanya menyapu wajah Aura dari ujung rambut hingga kaki, lalu menatap Kirana dengan raut wajah yang penuh tanda tanya.

"Lho... Jeng Kirana, ini anak siapa?" tanya istri Pak Gunawan terheran-heran. "Seingat saya, Pak Rendra dan Jeng Kirana cuma punya satu anak perempuan, Keisya yang usianya sudah empat atau lima tahunan, 'kan? Apakah ini keponakan Jeng Kirana yang ikut menginap di sini?"

DEG.

Dada Kirana mendadak sesak, bagai dihantam beban berat berton-ton. Darahnya terasa mendidih dan tubuhnya menegang. Setiap kali ada tamu yang menanyakan status Aura, luka pengkhianatan Rendra serasa disiram air garam hingga terasa pedih, menyengat, dan membakar sisa-sisa kesabarannya.

Jika ia jujur, reputasi almarhum Rendra akan hancur seketika, dan nama baik keluarga yang ia bina selama bertahun-tahun akan menjadi bahan gunjingan yang hina. Namun, jika ia berbohong, nuraninya menolak keras untuk terus-menerus menutupi dosa suaminya di depan publik.

Melihat tatapan menyelidik dari Pak Gunawan dan istrinya, Kirana membasahi bibirnya yang kering dengan seteguk air minum. Ia sengaja mengabaikan pertanyaan tentang siapa Aura, lalu dengan cepat mengubah topik pembicaraan.

"Ah, Pak Gunawan... soal proyek perluasan pabrik di Surabaya yang sempat almarhum Mas Rendra ceritakan bulan lalu," pangkas Kirana dengan cepat, memotong jalan pikiran para tamunya sebelum mereka sempat bertanya lebih jauh.

"Apakah dari pihak kantor Surabaya sudah menunjuk penanggung jawab baru untuk menggantikan almarhum? Saya khawatir ada berkas-berkas penting almarhum yang masih tertinggal di ruang kerja rumah dan harus segera saya serahkan pada perusahaan."

Pak Gunawan tersentak kaget. Perhatiannya yang tadinya terarah penuh pada Aura seketika teralih sepenuhnya oleh bahasan bisnis dan berkas penting perusahaan.

"Oh! Soal proyek Surabaya itu!" sahut Pak Gunawan panik, sambil membetulkan posisi duduknya. "Iya, betul, Jeng Kirana! Bagus sekali Jeng Kirana mengingatkannya. Kami memang sedang bingung mencari laporan audit terakhir yang dipegang Pak Rendra sebelum musibah ini terjadi..."

Di saat yang bersamaan, Kirana melemparkan tatapan mata yang sangat tajam dan tegas ke arah koridor belakang.

Mbok Darmi yang menyadari sinyal darurat dari mata sang majikan langsung berlari-lari kecil keluar dari balik tirai. Dengan wajah pucat dan rasa bersalah, Mbok Darmi membungkukkan badan seraya dengan sigap merengkuh tubuh Aura ke dalam gendongannya.

"Aura, ikut Mbok yuk... Di dapur ada kue enak," bisik Mbok Darmi setengah memaksa, sambil menarik Aura lembut namun cepat agar menjauh dari ruang tamu.

"Ndak mau! Aula mau sama disini...!" protes Aura sambil meronta-ronta pelan, namun Mbok Darmi dengan cepat membawa balita itu menghilang di balik dinding lorong dapur.

Istri Pak Gunawan sempat melirik ke belakang dengan lirikan penuh curiga, namun Kirana dengan sigap kembali mengambil kendali percakapan.

"Maaf atas ketidaknyamanannya, Bu Gunawan," potong Kirana dengan senyuman tipis yang sangat dipaksakan. "Mari diminum tehnya. Soal berkas perusahaan almarhum, nanti sore akan saya minta sekretaris Mas Rendra untuk memeriksa brankas di ruang kerja."

Percakapan pun kembali berlanjut membahas urusan pekerjaan dan masa depan perusahaan Rendra, sementara misteri mengenai identitas Aura kembali terkubur rapat di bawah pengalihan topik yang dilakukan Kirana.

Satu jam kemudian, setelah Pak Gunawan dan istrinya pamit pulang, giliran rombongan kerabat jauh Rendra dari luar kota yang tiba. Rumah duka kembali dipenuhi oleh suara tangis haru dan pertanyaan-pertanyaan seputar kronologi kecelakaan.

Dan lagi-lagi, skenario yang sama terulang. Aura kembali menyelinap keluar saat Tukiyem sedang lengah memotong buah di dapur. Kehadiran balita yang sangat mirip dengan garis wajah Rendra itu memancing bisik-bisik dan rasa penasaran di antara para sepupu dan bibi Rendra.

"Kirana... anak ini mirip sekali dengan almarhum Rendra sewaktu kecil," bisik salah seorang bibi Rendra sambil meneliti bentuk hidung dan mata Aura. "Ini anak siapa sebenarnya, Kirana? Kenapa kamu tidak pernah menceritakan kalau Rendra punya anak angkat atau kerabat kecil yang tinggal di sini?"

Dada Kirana serasa mau meledak. Rasa lelah yang menumpuk berhari-hari bercampur dengan emosi yang terus ia tekan, membuat kepalanya berdenyut-denyut sangat hebat.

Namun, demi menjaga martabatnya sendiri dan melindungi Keisya dari berita simpang siur yang bisa merusak mental anak itu, Kirana kembali mengepalkan jemarinya kuat-kuat dan memasang topeng keteguhan yang dingin.

"Bibi, kondisi saya sangat tidak stabil untuk membahas hal-hal di luar musibah ini," pangkas Kirana dengan nada dingin, hingga membuat bibinya seketika bungkam dan salah tingkah. "Jika Bibi ingin mendoakan Mas Rendra, mari kita sama-sama berdoa. Tapi saya mohon dengan sangat, jangan tanyakan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan kepergian Mas Rendra."

Ketegasan Kirana yang luar biasa berhasil membungkam seluruh kerabat yang hadir. Hingga, tidak ada lagi yang berani melontarkan pertanyaan sensitif, meskipun rasa penasaran dan prasangka liar membakar pikiran mereka masing-masing.

**

Malam hari akhirnya tiba. Suasana rumah duka perlahan-lahan kembali sepi. Para tamu terakhir telah pamit pulang, menyisakan keheningan malam yang menusuk tulang.

Kirana melangkah kaku menuju ruang keluarga yang telah berantakan oleh cangkir-cangkir teh bekas tamu. Ia mendudukkan tubuhnya yang lunglai di atas sofa dan memejamkan matanya rapat-rapat sambil menyandarkan kepala pada sandaran busa.

Seluruh persendian di tubuhnya serasa lolos, tak berdaya menahan beban kepura-puraan yang harus ia mainkan sepanjang hari.

Lalu, langkah kaki Mbok Darmi terdengar mendekat dari arah dapur. Wanita tua itu membawa segelas air hangat dan meletakkannya dengan perlahan di atas meja kaca di depan Kirana.

"Bu..." panggil Mbok Darmi dengan nada penuh penyesalan dan rasa iba. "Maafkan Mbok ya, Bu... Tadi Mbok lengah menjaga Aura sampai dia keluar lagi ke ruang tamu dan membuat Ibu repot di depan para pelayat."

Kirana membuka matanya dengan perlahan. Ia menatap gelas air hangat di depannya, lalu mendesah panjang, sebuah hembusan napas yang menyuarakan keputusasaan dan kelelahan jiwanya.

"Tidak apa-apa, Mbok... Ini bukan salah Mbok," bisik Kirana. "Anak kecil tidak bisa dikekang terus-menerus di dalam kamar..."

"Tapi Bu..." sela Mbok Darmi ragu-ragu, sambil menatap majikannya dengan mata yang berkaca-kaca. "Sampai kapan Ibu harus mengalihkan pembicaraan dan berbohong seperti ini pada setiap orang yang datang? Mbok kasihan melihat Ibu... Ibu harus menahan sakit hati sendirian di depan semua orang."

Kirana memejamkan matanya kembali. Air mata yang seharian ini ia tahan dengan sekuat tenaga akhirnya menetes membasahi pipinya yang pucat.

"Aku juga tidak tau, Mbok..." rintih Kirana lirih. "Aku membenci kenyataan bahwa anak itu ada di rumah ini... Tapi aku lebih takut jika Keisya tau bahwa papanya telah mengkhianati kami. Aku tidak tau sampai kapan aku sanggup bertahan berpura-pura seperti ini..."

Bersambung...

1
Lisa
Aura keras kepala juga y..hayo g bisa dibiarin tuh.
Lisa
Wah Aura mulai ngambek nih 😊
Lisa
Aura ingin juga disuapi sama Kirana...teruslah bersikap adil pada kedua putrimu Kirana..
Lisa
Wah sepertinya Aris ini bakal jadi teman deketnya Kirana..lucu banget 2 pengawal cilik itu 😊
Aurora: entahlah... othor belum kepikiran jodo buat Kirana 🤭
total 1 replies
Lisa
👍👍 ayo Kirana lawan si nenek itu..
Anonim
Kok gini sih
Enak banget si Hendra sama si ayu
Yg gk sala Karina nanggung sesak seumur hidup
Lisa
Benar Kak.
Lisa
Syukurlah Kirana sudah menyadari kesalahannya dan mau menyayangi Aura..
Lisa
Cpt sembuh Aura..Kirana kamu harus sadar jgn dendam terus pada Aura..
Lisa
Amin..kasihan banget Aura..moga Kirana mampu menyayangi Aura..
Lisa
Ceritanya bagus Kak
Aurora: terimakasih.../Rose/
total 1 replies
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: Suka banget Kak
total 2 replies
Banu Tyroni
... akhirnya Aura mendapatkan kasih sayang seorang ibu.
Banu Tyroni
Aura.... kasihan kamu 😭
Banu Tyroni
... siapin tisu yg banyak.
Banu Tyroni
... sedih banget lihat Aura, besok kedepannya bagaimana ya? 😭
Banu Tyroni
... menarik.
Aurora: terimakasih /Rose/
total 1 replies
Banu Tyroni
Baca di awal ini nampaknya cerita akan penuh konflik dan menguras air mata... siap² tisu 😄
Irmha febyollah
lanjut lagi kk.
Aurora
kaya tega banget ya Kirana 🤭
Tapi emang lukanya belum sembuh...🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!