Ini adalah cerita tentang seorang remaja yang dianggap sebagai generasi muda terkuat saat ini. Ia tidak hanya kuat, ia juga kaya. Semua ia dapatkan berkat campur tangan gurunya.
Takdir mempertemukannya pada seorang pendekar misterius. Pendekar itu sangatlah kuat, walaupun tingkahnya agak sembrono.
Di kemudian hari ia akan mengetahui identitas dari pria itu. Petualangan mereka berdua akan sangat seru dan penuh intrik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sehari Bersama Sha Nuo
Sha Nuo masih mempertahankan jabat tangannya beberapa saat sebelum akhirnya melepaskannya. Senyum tipis masih menghiasi wajah pria bertubuh tinggi besar itu.
Tatapannya kemudian beralih ke luar jendela. Keramaian jalanan Weiyang terlihat begitu hidup. Pedagang berlalu-lalang, kereta kuda hilir mudik, sementara suara para penjual memenuhi udara.
"Hmm..."
Sha Nuo tiba-tiba berdiri.
Gao Rui ikut mengangkat kepalanya.
"Senior?"
Sha Nuo menoleh sambil tersenyum.
"Gao Rui."
"Ya? Apa kau bisa menemaniku berjalan-jalan di tempat ini?"
Gao Rui sedikit terkejut.
"Menemani Senior?"
Sha Nuo mengangguk pelan.
"Sudah terlalu lama aku meninggalkan tempat ini."
Tatapannya kembali mengarah ke luar.
"Sekarang semuanya sudah berubah. Aku ingin melihat-lihat sebentar."
Gao Rui terdiam.
Ia menimbang permintaan itu di dalam hati. Sejak semalam hingga sekarang, ia terus mengamati Sha Nuo. Pria itu memang misterius. Muncul dari portal dimensi, memiliki kekuatan yang sulit ditebak, bahkan mengaku sebagai orang terkuat di Kekaisaran Zhou pada masanya.
Namun entah mengapa, Gao Rui sama sekali tidak merasakan niat buruk dari pria tersebut. Sebaliknya, ia justru merasakan sesuatu yang berbeda. Sebuah kesepian. Seolah-olah Sha Nuo hanyalah seseorang yang sedang pulang ke rumah setelah menghilang sangat lama.
Beberapa saat kemudian, Gao Rui menganggukkan kepalanya.
"Baik, Senior."
Mata Sha Nuo langsung berbinar.
"Hahaha! Itu baru namanya anak muda. Ayo kita pergi."
Tidak lama kemudian, keduanya keluar dari Penginapan Kayu Mawar.
Begitu menginjak jalan utama Ibukota Weiyang, Sha Nuo langsung memperlambat langkahnya. Tatapannya bergerak ke kanan dan kiri. Ia memperhatikan setiap bangunan, setiap jalan batu, bahkan pepohonan yang tumbuh di pinggir jalan.
Sesekali ia berhenti cukup lama. Kemudian tersenyum tipis.
"...benar-benar sudah berbeda, ya."
Nada suaranya terdengar pelan, seolah sedang berbicara kepada dirinya sendiri.
Gao Rui yang berjalan di sampingnya akhirnya bertanya,
"Senior."
"Hm?"
"Dulu tempat ini memang seperti apa?"
Sha Nuo menunjuk sebuah deretan bangunan megah di sisi jalan.
"Dulu... di sana hanyalah ladang."
"...?"
Alis Gao Rui langsung berkerut.
"Ladang?"
Sha Nuo mengangguk santai.
"Iya. Dulu orang-orang menanam gandum di sana."
Gao Rui kembali menatap deretan bangunan yang menjulang tinggi.
Tempat itu sekarang dipenuhi rumah-rumah mewah, rumah makan, hingga rumah dagang. Sulit membayangkan semuanya pernah menjadi ladang.
Tanpa sadar, Gao Rui kembali melirik wajah Sha Nuo. Pria itu tampak seperti seseorang yang baru berusia sekitar tiga puluh tahun. Wajahnya memang dewasa, tetapi jelas masih jauh dari kata tua.
Tentu saja Gao Rui tahu. Pendekar yang telah mencapai tingkat sangat tinggi mampu memperlambat penuaan, bahkan mempertahankan penampilan muda mereka selama puluhan atau ratusan tahun.
Namun, setua apa sebenarnya pria ini? Ia benar-benar tidak bisa menebaknya.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Sepanjang jalan, Sha Nuo beberapa kali tiba-tiba berhenti.
"Oh. Aku ingat tempat ini."
Namun bukannya masuk ke tempat yang ia kenal, Sha Nuo justru berjalan menuju seorang pedagang kaki lima.
"Satu tusuk daging panggang."
Pedagang itu segera menyerahkan pesanannya.
Sha Nuo mengambil dua tusuk sekaligus.
"Satu untukmu."
Ia menyodorkannya kepada Gao Rui. Gao Rui buru-buru menggeleng.
"Ah, tidak usah, Senior."
"Sudah, ambil saja."
"Aku masih kenyang."
Sha Nuo mendengus pelan.
"Kalau begitu anggap saja aku sedang senang mentraktirmu."
"Tapi..."
"Ambil."
Nada suaranya terdengar tegas, namun disertai senyum lebar. Gao Rui akhirnya menerima tusuk daging itu.
"...terima kasih, Senior."
"Hahaha!"
"Nah begitu."
Perjalanan kembali berlanjut. Di persimpangan berikutnya, Sha Nuo membeli manisan. Tidak lama kemudian ia membeli kue beras.
Beberapa saat setelah itu, ia membeli teh hangat. Anehnya, setiap kali membeli sesuatu, ia selalu membelikan satu untuk Gao Rui.
Awalnya Gao Rui terus menolak. Namun semakin lama, ia sadar bahwa menolak sama sekali tidak ada gunanya. Sha Nuo selalu berhasil memaksanya menerima.
"Hahaha..."
"Lihat. Kau masih muda. Harus makan yang banyak."
Gao Rui hanya bisa tersenyum kecut.
Mereka pun terus mengelilingi Kota Weiyang. Sepanjang perjalanan, Sha Nuo sesekali menceritakan berbagai kisah masa lalunya.
Tentang tempat-tempat yang dulu pernah berdiri megah. Tentang kejadian-kejadian lucu yang pernah dialaminya. Bahkan sesekali ia sengaja melebih-lebihkan ceritanya hingga Gao Rui tidak bisa menahan tawa.
"Hahaha!"
"Itu benar-benar terjadi, Senior?"
"Tentu saja."
"Hahaha!"
Gao Rui kembali tertawa.
Semakin lama berjalan bersama, semakin banyak hal yang ia sadari. Pria bernama Sha Nuo ini memang memiliki tubuh tinggi besar. Wajahnya juga terlihat garang sehingga orang yang baru melihatnya pasti akan merasa gentar.
Namun, sifatnya ternyata jauh berbeda dari penampilannya. Ia ramah, mudah tertawa, dan memiliki selera humor yang cukup aneh.
Tanpa disadari, rasa canggung yang sejak tadi memenuhi hati Gao Rui perlahan mulai menghilang. Kini, ia benar-benar merasa sedang berjalan-jalan bersama seorang senior yang telah lama dikenalnya.
...******...
Matahari perlahan mulai condong ke barat. Cahaya keemasan menyelimuti jalan-jalan Kota Weiyang, membuat bayangan bangunan memanjang di atas jalan batu.
Tanpa terasa, seharian penuh telah berlalu. Gao Rui dan Sha Nuo masih berjalan berdampingan. Tangan Gao Rui kini bahkan masih membawa beberapa bungkusan kecil berisi makanan ringan yang entah sejak kapan dibelikan oleh Sha Nuo.
Di wajah keduanya tampak senyum yang belum juga menghilang. Hari itu benar-benar terasa menyenangkan.
Sha Nuo berhasil mengunjungi banyak tempat. Sementara Gao Rui mendapatkan begitu banyak cerita yang belum pernah ia dengar sebelumnya.
Tak lama kemudian, gerbang Penginapan Kayu Mawar mulai terlihat dari kejauhan. Gao Rui tersenyum.
"Sepertinya kita sudah kembali."
Sha Nuo mengangguk kecil.
"Iya."
Begitu memasuki halaman penginapan, Gao Rui berhenti sejenak. Ia menangkupkan kedua tangannya dengan sopan.
"Terima kasih, Senior."
Sha Nuo memiringkan kepalanya.
"Untuk apa?"
Gao Rui tersenyum tulus.
“Karena telah mengajakku berjalan-jalan."
"Sudah lama sekali aku tidak menghabiskan waktu sesantai ini."
Mendengar itu, Sha Nuo justru tertawa lebar.
"Hahaha!"
"Seharusnya aku yang berterima kasih."
Gao Rui berkedip.
"Eh?"
Sha Nuo menepuk pelan bahu Gao Rui.
"Kau bersedia menemaniku berkeliling kota seharian."
"Kalau sendirian, mungkin aku hanya akan terus berdiri memandangi setiap tempat tanpa ada teman bicara."
Tatapannya terlihat hangat.
"Jadi... terima kasih, Gao Rui."
Gao Rui langsung menggeleng cepat.
"Ah... itu tidak seberapa."
Sha Nuo tiba-tiba mengangkat sebelah alisnya.
"Oh ya. Ada satu hal lagi."
Gao Rui menatapnya penasaran.
"Apa itu, Senior?"
Sha Nuo langsung mengerutkan wajah.
"Nah. Itu dia."
"Jangan terus memanggilku Senior."
"...?"
Gao Rui tampak sedikit bingung.
"Tapi... bukankah itu lebih pantas?"
Sha Nuo langsung melambaikan tangannya.
"Pantas apanya. Kita hanya berjalan-jalan bersama."
Ia tertawa kecil.
"Mulai sekarang, panggil saja aku Paman Nuo."
"...Paman Nuo?"
"Iya."
Sha Nuo mengangguk mantap.
"Lebih enak didengar."
Gao Rui langsung menggeleng canggung.
"Itu... rasanya kurang sopan."
Sha Nuo mendecakkan lidah.
"Aku yang meminta. Kalau kau masih memanggilku Senior, justru aku yang merasa tidak nyaman."
Gao Rui tampak serba salah.
"Tapi..."
"Tidak ada tapi."
Sha Nuo menunjuk wajahnya sendiri.
"Paman Nuo."
Ia mengulanginya sekali lagi sambil tertawa.
"Paman Nuo."
Gao Rui tahu perdebatan ini tidak akan ada habisnya.
Akhirnya ia mengembuskan napas pelan.
"...Baiklah."
Ia tersenyum kecil.
"Terima kasih... Paman Nuo."
Begitu mendengar panggilan itu, wajah Sha Nuo langsung berseri-seri.
"Hahaha! Nah, begitu lebih bagus."
Ia kemudian menepuk bahu Gao Rui sekali lagi.
"Kalau begitu... aku juga tidak akan memanggilmu Gao Rui lagi."
Gao Rui berkedip.
"Lalu?"
Sha Nuo tersenyum lebar.
"Mulai sekarang... aku akan memanggilmu Rui'er."
Gao Rui sedikit terdiam mendengar panggilan yang begitu akrab itu. Namun entah mengapa, ia tidak merasa terganggu. Bahkan terdengar cukup hangat.
"...Baik, Paman Nuo."
"Hahaha!"
"Itu baru Rui'er."
Mereka kembali melangkah memasuki aula utama penginapan. Saat berada di depan tangga menuju lantai atas, Sha Nuo akhirnya berhenti.
"Aku juga menginap di sini."
Gao Rui sedikit terkejut.
"Paman Nuo juga menginap di Penginapan Kayu Mawar?"
Sha Nuo mengangguk santai.
"Iya. Tempatnya nyaman."
"Lagipula, aku belum tahu akan tinggal di Weiyang sampai kapan."
Ia lalu mulai menaiki anak tangga. Namun baru dua langkah, Sha Nuo kembali menoleh.
"Oh ya, Rui'er."
"Besok. Temani aku makan siang."
Gao Rui langsung mengangguk.
"Tentu."
Sha Nuo menyeringai.
"Kalau begitu, bawa aku ke rumah makan paling enak di kota ini. Aku ingin mencoba masakan kota ini yang sekarang."
Gao Rui tersenyum.
"Baik, Paman Nuo. Besok aku akan mengajakmu ke tempat terbaik."
"Hahaha! Aku tunggu."
Sha Nuo melambaikan tangannya sebelum kembali berjalan menuju lantai atas. Perlahan sosok tubuh besarnya menghilang di balik lorong penginapan.
Gao Rui masih berdiri di tempat. Tatapannya mengikuti hingga bayangan Sha Nuo benar-benar lenyap dari pandangan. Tanpa sadar, senyum tipis kembali muncul di wajahnya.
"Orang yang aneh..." gumamnya pelan. "Tapi... cukup menyenangkan."
Baru saja ia hendak kembali ke kamarnya, sebuah suara tiba-tiba terdengar dari belakang.
"Tuan Muda..."
Gao Rui sedikit terkejut lalu menoleh.
Di belakangnya berdiri seseorang. Orang itu memandang ke arah tangga yang baru saja dilalui Sha Nuo, lalu kembali menatap Gao Rui dengan rasa penasaran.
"Tuan Muda... siapa pria itu?"