Namaku Jefri Andalas Sinaga. Orang rumah memanggilku Jepot, pelanggan yang marah memanggilku bodat, dan satu kota kecil di internet memanggilku Bang Jepot sambil tertawa. Semua bermula ketika aku berkata “aman, bah” di pesta pernikahan, lalu satu gedung gelap sebelum kalimatku selesai.
Setelah kehilangan pekerjaan, aku pulang ke bengkel Bapak yang nyaris tutup. Bersama Liza Cemberut, Deli Patah, Bibir Ember, Tia Cekrek, dan orang-orang yang lebih bising daripada mesin gerinda, aku membuka jasa Konslet Medan. Setiap kerusakan ternyata tersambung ke gengsi, utang, pertengkaran keluarga, konten viral, atau rahasia yang tak seharusnya kusentuh.
Ketika serangkaian korsleting mengarah pada sambungan ilegal yang dapat membakar satu kawasan, lelucon tidak lagi cukup untuk melindungi siapa pun. Aku harus memilih diam demi usaha atau membuka sistem yang juga menyeret dosa lama keluargaku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KUNCI YANG TIDAK BOLEH DICARI
Kepling menyuruh warga pulang dengan janji lampu akan hidup malam itu. Warga tidak benar-benar pulang. Mereka mundur beberapa meter, membentuk kelompok kecil, lalu menguping dengan lebih sopan.
Aku masih berdiri di depan kotak distribusi. Liza memeriksa foto di ponselnya. Binsar memegang tangga seperti tameng. Fadli duduk di motor yang knalpotnya sudah terikat kembali memakai kawat.
“Besok pagi kita buka bersama petugas,” kataku.
Kepling tertawa pendek. “Tidak ada yang perlu dibuka.”
“Kalau begitu, berikan kuncinya.”
“Bukan wewenangmu.”
“Jalur lampu masuk ke situ.”
“Jalur lama. Kau cukup ganti lampu.”
Aku menunjuk gembok. “Kotaknya baru.”
Salah satu laki-laki Kepling maju setengah langkah. “Bang Jepot, jangan buat masalah.”
Nama itu sengaja diucapkan dengan nada yang mengingatkan semua orang pada video pesta. Dulu aku akan langsung menyambut tantangan. Tanganku bahkan sudah ingin menggenggam kerahnya.
Liza berdiri di antara kami tanpa menyentuh siapa pun. “Kalau ada ancaman, saya rekam.”
Laki-laki itu menatap ponselnya dan mundur.
Kepling menghela napas. “Kelen ini anak muda, darah panas. Saya paham. Kita bicara baik-baik.”
Ia membuka map hijau yang dibawanya. Dari saku dalam, ia mengambil amplop putih dan menyerahkannya kepadaku.
“Apa ini?”
“Uang muka.”
Liza langsung berkata, “Tidak ada kontrak.”
“Anggap tanda kepercayaan.”
Aku membuka sedikit. Uangnya lebih banyak daripada angka uang muka yang kami minta siang tadi. Bahkan jika membeli lampu berkualitas baik, masih ada sisa cukup untuk membayar separuh tunggakan sewa.
“Kenapa jumlahnya berubah?” tanyaku.
“Karena pekerjaan malam.”
“Tidak ada angka di kertas.”
“Nanti.”
Liza merebut amplop dari tanganku, menghitung sekilas, lalu mengembalikannya kepada Kepling. “Ini dua kali lipat dari anggaran tenaga.”
“Tambahan darurat.”
“Untuk pekerjaan apa?”
Kepling menatapku, bukan Liza. “Ganti seluruh lampu. Tulis laporan bahwa penyebab padam adalah lampu lama dan kabel aus. Tidak perlu sebut kotak ini. Tidak perlu foto nomor meter.”
Aku bisa mendengar uang di dalam amplop meskipun tidak ada suara. Di kepala, angka-angka bergerak: sewa dua minggu, material yang harus dibayar, utang Rinso yang menunggu akhir tahun, obat tangan Bapak.
“Kalau jalurnya aman setelah lampu diganti?” tanyaku.
Liza menatapku tajam. “Jefri.”
“Aku cuma bertanya.”
Kepling tersenyum. “Nah. Itu baru teknisi yang mengerti keadaan.”
Liza menepuk amplop dengan satu jari. “Ini bukan bayaran. Ini harga supaya kami ikut diam.”
Kepling menurunkan suaranya. “Jangan besar-besarkan. Semua lingkungan punya cara kerja. Selama lampu hidup, warga senang.”
“Tagihan rumah mereka naik,” kata Liza.
“Katanya siapa?”
“Belum kami periksa.”
“Berarti belum fakta.”
Aku benci mengakui bahwa kalimat itu terdengar mirip sesuatu yang biasa dikatakan Liza kepadaku. Bedanya, di mulut Kepling, kehati-hatian terasa seperti alat untuk menunda.
Pak Tor muncul dari ujung gang. Tia berjalan di belakangnya membawa jaket. Rupanya Mak Mina menelepon karena kami tidak pulang.
Bapak melihat kotak, gembok, Kepling, dan amplop. Wajahnya berubah sedikit, nyaris tidak terlihat.
“Pulang,” katanya kepadaku.
“Pak, jalur ini aneh.”
“Pulang dulu.”
Kepling memasukkan amplop kembali. “Pak Tor lebih berpengalaman. Beliau tahu kapan pekerjaan cukup.”
Aku menatap Bapak. “Bapak tahu kotak ini?”
Pak Tor tidak menjawab langsung. Tangannya menekan saku celana, menyembunyikan getaran.
“Jangan buka tanpa izin,” katanya.
“Kenapa?”
“Karena kau tidak tahu isinya.”
“Itu justru alasan dibuka.”
“Bukan malam ini.”
Liza memandang Pak Tor cukup lama, tetapi tidak bertanya. Aku merasakan sesuatu yang lewat di antara mereka - kecurigaan, mungkin, atau pengenalan yang belum punya bentuk.
Kepling menepuk pundakku. “Besok kirim laporan sederhana. Saya bayar dua kali lipat. Kita sama-sama tenang.”
Aku menepis tangannya. “Kami tidak buat laporan palsu.”
“Bagus. Tulis yang kau kerjakan.”
Aku melihat warga yang menunggu dalam gelap. Anak kecil mulai mengantuk di pangkuan ibunya. Mak Sendok mengomel karena orang menginjak tanaman pot. Jika kami pergi begitu saja, gang tetap gelap dan semua tuduhan kembali kepada kami.
“Lampunya tetap kami ganti,” kataku.
Liza berbalik kepadaku. “Tanpa memeriksa sumber?”
“Kita rapikan sambungan yang terbuka dan hidupkan lampu. Kotak ini kita catat.”
“Itu berarti kau menerima batas yang dia buat.”
“Ini berarti warga tidak gelap.”
“Dan besok dia akan bilang laporanmu membuktikan masalah selesai.”
“Aku tidak akan menulis begitu.”
“Kau barusan sudah memilih setengah diam.”
Kalimatnya lebih menyakitkan karena tidak diucapkan keras.
Sebelum naik, aku memeriksa kembali ukuran kabel dan beban lampu. Liza memperhatikan tanpa komentar. Sikap diamnya lebih mengganggu daripada makian; itu membuatku sadar aku sedang mencoba membuktikan keputusan yang bahkan belum kuyakini sendiri.
Aku naik tangga. Binsar memegang sisi kiri, Fadli sisi kanan. Kami mengganti dua lampu putus, membuka gulungan kabel sepenuhnya, dan menutup sambungan terbuka dengan konektor yang benar. Liza mencatat material tanpa bicara kepadaku.
Ketika MCB dinaikkan, lampu gang menyala satu per satu. Warga bersorak kecil. Kepling mengangkat tangan seolah keberhasilan itu hasil pidatonya.
“Nah,” katanya, “selesai.”
“Belum,” jawab Liza.
Namun, bagi warga yang sudah bisa melihat jalan, masalah tampak selesai. Mereka pulang. Kepling pergi bersama dua orangnya. Kotak bergembok tetap di dinding, terang di bawah lampu baru.
Saat kami membereskan alat, seorang lelaki tua mendekati diam-diam. Namanya Pak Salim, penghuni rumah paling ujung. Ia tinggal sendiri dan selalu membayar kopi Mak Sendok dengan uang pas.
“Bang Jepot,” bisiknya.
“Ada apa, Pak?”
Ia melirik sekitar. “Sejak kotak itu dipasang, tagihan rumahku naik. Padahal pemakaian sama. Rumah sebelah juga.”
“Kapan dipasang?”
“Empat bulan lalu. Malam-malam. Orang Kepling datang.”
“Kenapa tidak lapor?”
“Sudah. Katanya meter tua.”
Liza mendekat dan meminta izin mencatat nomor meter rumahnya. Pak Salim setuju, tetapi memohon namanya jangan disebut dulu.
Dalam perjalanan pulang, tidak ada yang banyak bicara. Fadli biasanya mampu membuat lelucon dari lubang jalan, tetapi kali ini ia hanya mendorong motor pelan. Binsar beberapa kali menoleh ke belakang.
Di bengkel, Tia langsung menyalakan lampu. Mak Mina sudah menyisakan nasi, tetapi selera makanku hilang.
Liza meletakkan catatan di meja. “Besok aku bandingkan nomor meter dan tagihan.”
Aku mengangguk. “Kita kembali ke kotak itu.”
“Dengan izin dan saksi. Bukan nekat.”
Pak Tor duduk di kursi kerjanya. “Jangan.”
Aku menatapnya. “Bapak takut apa?”
“Orang yang bermain dengan listrik orang banyak bukan orang bodoh.”
“Jadi kita diam?”
“Aku bilang jangan bergerak tanpa bukti.”
“Bukti tidak datang sendiri.”
Pak Tor menunduk. Pembicaraan berhenti ketika suara kertas bergesek terdengar dari bawah pintu depan.
Binsar paling dekat. Ia mengambil selembar kertas putih yang baru diselipkan dari luar. Kami berlari membuka pintu, tetapi gang kosong. Hanya lampu baru yang menyala dan bayangan rumah-rumah di sepanjang jalan.
Tia membaca tulisan dengan spidol hitam. Hurufnya besar, ditekan kuat hingga kertas hampir robek.
JANGAN BANYAK TENGOK, BANG JEPOT.