NovelToon NovelToon
Penyihir Sampah Naik Level Jadi Archmage

Penyihir Sampah Naik Level Jadi Archmage

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Akademi Sihir
Popularitas:352
Nilai: 5
Nama Author: Benhard Ayub Simanjuntak

Aku dilahirkan tanpa mana. Dijuluki "Sampah Magic" dan dikeluarkan dari Akademi Sihir Kerajaan.

Saat hampir mati di hutan iblis, aku mendapatkan [Sistem Archmage].

Setiap mengalahkan monster = dapat skill sihir baru.
Api, Petir, Ruang, Waktu... semua sihir bisa kupelajari!

Sekarang, aku akan kembali ke akademi itu.
Dan membuat mereka semua berlutut di hadapanku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benhard Ayub Simanjuntak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 Hari Pertama di Guild Rank F

Debu beterbangan di jalanan batu menuju ibu kota Kerajaan Luminar.

Tiga sosok berjalan di bawah terik matahari.

Yang pertama, seorang goblin setinggi 2 meter. Bahunya lebar, tombaknya ditancapkan ke tanah setiap 3 langkah. Di punggungnya menggendong seorang anak laki-laki.

Yang kedua, seorang wanita berkerudung biru. Tongkat penyembuhnya sudah patah setengah, tapi tetap digenggam erat.

Yang ketiga, anak laki-laki yang digendong itu. Umur 10 tahun. Baju compang-camping. Wajahnya pucat.

"Turunkan aku Grom." Bisik anak itu. "Aku bisa jalan."

"Tuan masih luka." Jawab Grom pelan. "Grom kuat."

Nama anak itu Kael.

3 hari lalu dia tidak sengaja membakar 1 desa.

Sekarang dia tidak punya rumah. Tidak punya nama. Hanya punya 2 orang yang tidak meninggalkannya.

Luna menoleh. "Bertahan sedikit lagi. Guild Luminar sudah di depan."

*Gerbang Megah dan Bau Diskriminasi*

Gerbang guild setinggi 15 meter. Dari besi hitam dan dihiasi ukiran naga api.

Di kanan kiri gerbang ada patung 2 penyihir Rank S. Mengawasi semua orang yang masuk.

Antrian panjang.

Ada penyihir Rank B dengan jubah sutra. Ada ksatria Rank C dengan baju zirah mengkilap. Ada tim petualang yang tertawa keras.

Dan di pojok paling kotor, ada 1 meja kayu. Catnya mengelupas.

Tulisan di atasnya: `PENDAFTARAN RANK F - UNTUK PEMULA DAN SAMPAH`

Petugas di balik meja: bapak-bapak botak, perut buncit, keringatan.

"Berikutnya! Cepat!" Bentaknya.

Luna maju. "Kami mau daftar."

Petugas melirik mereka dari atas ke bawah. Matanya berhenti di Kael.

"Level berapa bocah ini?"

"Level 5." Jawab Luna.

"HA" Petugas tertawa keras. Sampai 3 orang di antrian ikut menoleh. "Rank F. Paling rendah. Bayar 10 koin tembaga."

Luna merogoh kantong. Itu koin terakhir mereka. 10 koin.

_CLINK_

Petugas mengambil koin itu, lalu dengan malas menempelkan lencana kayu di dada Kael.

Lencana itu tulisannya: `F - KAEL`

[Notifikasi Sistem]

[Selamat Datang di Guild Luminar]

[ID: Kael]

[Rank: F - Pemula]

[Quest Tersedia: 127]

Begitu lencana itu ditempel, beberapa orang langsung mencibir.

"Tch. Level 5. Mending jadi petani aja."

"Buang-buang slot guild."

Kael menunduk. Tangannya mengepal. Tapi dia diam.

*Aula Utama - Tempat Serigala*

Aula guild luas. Tinggi 10 meter.

Di tengah ada air mancur. Di sekelilingnya papan quest raksasa.

`RANK F: Bunuh 10 Slime Lumpur - 5 Koin`

`RANK E: Antar Paket ke Desa Sebelah - 10 Koin`

`RANK D: Basmi Goblin di Gua Barat - 50 Koin`

Kael lapar. Perutnya bunyi. Sudah 2 hari dia hanya minum air sungai.

Dia berjalan ke pojok mau duduk.

_BUK_

Bahunya ditabrak keras. Sampai dia jatuh terduduk.

"WOI LIAT JALAN DONG SAMPAH!"

3 orang berdiri di atasnya. Menggunakan jubah Rank D.

Yang di tengah rambut pirang, ada bekas luka di pipi. Namanya Varn. Terkenal tukang pungli di guild.

"Eh bocah baru ya?" Varn jongkok. "Serahin koinmu. Ini pajak keamanan."

Kael menggeleng. "Aku... aku tidak punya koin."

"BOHONG!" Varn menampar kepala Kael. "Kau pasti nyimpen!"

Luna langsung maju. "Lepaskan dia!"

Tapi Grom menahan tangan Luna. "Tunggu. Lihat."

Kael bangkit. Bibirnya berdarah.

"Jangan... panggil aku sampah..." Suaranya pelan tapi jelas.

Varn tertawa. "Memang sampah. Level 5 sok keras."

Tinju Varn melayang. Targetnya hidung Kael.

Waktu terasa lambat.

Kael tidak menghindar. Instingnya bergerak. Tangannya menangkap pergelangan Varn.

_KRAAAK_

Suara tulang patah yang jelas.

"AAAAAAAAK TANGAN GUE!!" Varn menjerit dan jatuh ke lantai.

Hening.

Seluruh aula 200 orang menoleh.

"BERANI BERTARUNG DI DALAM GUILD?!" Teriak petugas tadi. "PENJAGA! TANGKAP PENYIHIR LIAR ITU!"

20 penjaga dengan tombak dan perisai langsung mengepung Kael.

Dada Kael panas. Simbol di dadanya terasa terbakar.

"Jangan... jangan mendekat..." Bisiknya.

Api kecil mulai keluar dari ujung jarinya.

*Guild Master Serah*

Tepat saat 3 tombak mau menusuk tubuh Kael...

_BRAAAK_

Pintu utama guild yang terbuat dari besi hancur berkeping.

Debu berterbangan.

Langkah kaki terdengar. Pelan. Tapi setiap langkah membuat lantai bergetar.

Seorang wanita masuk.

Rambut perak sampai pinggang. Jubah putih bersih. Di dadanya lencana matahari emas. `RANK S`

"Berhenti." Satu kata.

Semua penjaga langsung membeku.

"Guild Master Serah..." Bisik orang. "Rank S terkuat di Luminar."

Serah berjalan. Melewati para penjaga seakan mereka tidak ada.

Dia berhenti tepat di depan Kael. Jarak 1 meter.

Mata emasnya menatap Kael dari atas ke bawah.

Lalu pandangannya berhenti di leher Kael. Di sana ada tali. Dan dari balik kerah baju, kelihatan sedikit simbol merah.

Tangan Serah bergerak cepat. Menarik kerah Kael.

Simbol itu terlihat jelas. Bentuk lingkaran dengan 9 titik.

Mata Serah membesar.

Dia mengangkat tangan. Jari telunjuknya menyentuh dahi Kael.

_FLASH_

Visi masuk ke kepala Serah.

_10 tahun lalu. Medan perang. Dia sekarat, perut tertusuk.

Seorang pemuda berambut hitam datang. Tangannya mengeluarkan cahaya putih.

"Maaf terlambat." Pemuda itu tersenyum. Lalu tubuhnya hancur jadi cahaya._

Visi selesai.

Serah menarik napas panjang.

"Jadi kau..." Bisiknya. Hanya Kael yang dengar.

Lalu dia berbalik. Suaranya menggema ke seluruh aula.

"Anak ini mulai hari ini adalah murid pribadiku. Siapa yang menyentuhnya, berarti menantangku."

Tidak ada yang berani bersuara. Varn yang masih kesakitan langsung pingsan.

*Latihan Neraka di Ruang Bawah Tanah*

Jam 8 malam. Ruang latihan pribadi Guild Master.

Luasnya seperti lapangan bola. Lantainya dari batu tahan api.

Di tengah ada lingkaran sihir. Di dalamnya api menyala 5 meter.

Kael berdiri di pinggir. Keringat bercucuran.

Serah duduk di kursi batu. "Aturan pertama: Jangan mati. Aturan kedua: Jangan menyerah."

"Guru..." Kael menelan ludah.

"Panggil aku Serah."

Serah menjentikkan jari. Api menutup membentuk kubah.

"1 jam di dalam. Kalau kau keluar, latihan gagal. Kalau kau mati, berarti kau memang sampah."

_WOOSH_

Kael didorong masuk.

30 detik: Kulitnya merah.

5 menit: Dia berlutut.

15 menit: Dia berteriak.

45 menit: Dia tidak bersuara lagi. Hanya merangkak.

_DING_

Api padam.

Kael tergeletak. Tubuhnya penuh luka bakar.

Serah melemparkan botol ramuan. "Minum."

Kael minum. Luka sembuh 70% dalam 10 detik.

[Notifikasi Sistem]

[Level: 5 -> 8]

[Rank Naik: F -> E]

[Skill Baru: Kontrol Api Dasar Lv.1]

[Segel Jiwa: 12% Terbuka]

[Tahan Panas: +50%]

Kael menatap telapak tangannya. Bola api kecil muncul. Stabil. Tidak meledak.

"Aku... aku bisa..."

"Belum." Serah berdiri. "Itu baru 5%. Besok kita ke pegunungan es. Di sana kau akan belajar mengontrol atau mati kedinginan."

*Serangan Dewan 12*

Jam 2 pagi. Kamar tamu guild.

Kael tidur. Mimpi buruk. Api. Jeritan. Menara hitam.

_PRAK_

Jendela pecah.

3 bayangan masuk. Jubah hitam. Topeng putih. Di dada mereka simbol: Mata dengan 12 garis.

Dewan 12 Penyihir. Organisasi terkuat di benua.

"Konfirmasi target: Anak. Perintah: Eliminasi."

Salah satu mengangkat belati. Mengarah ke leher Kael.

"KAEL!!"

Pintu didobrak. Luna dan Grom masuk.

Pertarungan 15 detik. Tapi musuhnya Rank B. Luna terluka di bahu.

Belati itu turun.

"JANGAN!!"

_BOOOOOOM_

Ledakan api hitam dari tubuh Kael.

Radius 5 meter. Semua furnitur jadi abu.

3 anggota Dewan 12 tidak sempat berteriak. Langsung jadi debu.

Kael terengah. Lututnya lemas. "Aku... aku membunuh..."

Luna langsung memeluknya. "Kau menyelamatkanku. Dengarkan aku. Itu bukan pembunuhan. Itu perlindungan."

Serah muncul dari jendela. Wajahnya dingin. "Mereka sudah melacakmu. Kita punya waktu 12 jam sebelum bala bantuan datang."

Kael mengepal. Air matanya jatuh. "Aku benci ini... Aku benci jadi beban..."

Serah meletakkan tangan di kepala Kael. "Maka jangan jadi beban. Jadi tembok. Tembok yang melindungi semua orang di belakangmu."

*Pagi - Langkah Baru*

Matahari terbit. Cahaya keemasan masuk dari jendela guild.

Di depan papan quest, Kael melepas lencana Rank F.

Lalu menempelkan lencana baru. `E - KAEL`

Orang-orang di sekitar berbisik. Ada yang takut, ada yang hormat.

Di belakang Kael: Luna, Grom, dan Serah.

"Target selanjutnya?" Tanya Kael. Suaranya sudah mantap.

Serah membentangkan peta besar di meja. Jarinya menunjuk ke utara.

"Kota Es, Valtor. 7 hari perjalanan. Cuaca -40 derajat."

"Di sana ada apa?" Tanya Kael.

"Dua hal." Jawab Serah. "Pecahan ke-8. Dan markas Jenderal Es dari Dewan 12."

Luna menggenggam tangan Kael. "Berbahaya."

Kael mengangguk. Matanya merah. Tapi bukan karena amarah.

Karena tekad.

"Kalau begitu..." Kael mengangkat kepalanya. "Berangkat sekarang."

Angin pagi bertiup. Lencana Rank E berkilau.

Perang sesungguhnya... baru dimulai.

[Notifikasi Sistem]

[Quest Selesai: Bertahan Hidup Hari 1]

[Reward: 100 Koin Emas + Naik Rank E]

[Quest Baru: Menuju Kota Es Valtor]

[Peringatan: Status Buronan Kelas S - Hadiah 100 Juta Koin]

[Catatan: 6 Anggota Dewan 12 sedang bergerak ke posisimu]

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!