Sìang itu pesawat Bomber Martin B-10 Belanda terbang rendah di langit RANCAGAOK
BOOOOM!!!
Cahaya putih menyilaukan membelah malam. Tanah terlempar ke udara. Atap rumah Pak Lurah terangkat lalu hancur berkeping-keping.
"Turun!" teriak Bayu.
Semua menjatuhkan diri ke tanah. Debu dan pecahan bambu menghujani punggung mereka. Bau mesiu dan kayu terbakar memenuhi udara.
*TAT... TAT... TAT...*
Suara tembakan dari udara menyisir tanah. Peluru menancap ke batang pisang dan pematang sawah. Bayu menarik Astri ke bawah parit.
Bayu, Karta, Ningsih, Astri bertekad untuk merebut kampung halaman mereka dari tangan belanda hanya bermodal tekad berjuang dan senjata seadanya.
Kisah perjuangan anak muda melawan penjajah, semoga jadi pengibar semangat anak muda Indonesia" MERDEKA"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 : PERANG PSIKOLOGI
Fajar menyingsing, namun suasana di antara pasukan Belanda sama sekali tidak membawa harapan baru. Langit masih kelabu, dan kabut tebal menyelimuti hutan, membuat jarak pandang terbatas. Mereka telah berjalan sepanjang malam, melewati jebakan demi jebakan, dan kini kelelahan fisik mulai berpadu dengan tekanan mental yang luar biasa.
Kapten De Vries duduk bersandar pada sebatang pohon besar, mencoba menenangkan diri. Wajahnya kotor oleh lumpur dan keringat, matanya merah dan bengkak karena kurang tidur. Ia menyalakan rokok, menghirup asapnya dalam-dalam, berharap dapat sedikit mengusir rasa penat di kepalanya.
"Kapten, bagaimana kita akan melanjutkan?" tanya Sersan Van der Velde, suaranya terdengar serak.
"Anak buahku sudah sangat lelah. Beberapa dari mereka bahkan mulai mengigau."
De Vries menghela napas panjang. "Kita harus terus maju, Piet. Cikadu sudah tidak terlalu jauh. Kita tidak bisa berhenti sekarang."
"Tapi... de geest van de mensen is gebroken, Kapitein. (Mental orang-orang sudah hancur, Kapten)" sambung Sersan Kooijman yang duduk di dekatnya.
"Sepanjang malam kita hanya dikejar bayangan. Suara-suara aneh, jebakan yang tidak ada habisnya. Ini membuat mereka takut."
Di antara para prajurit, terdengar gumaman dan keluhan.
"Mereka itu hantu, bukan manusia," bisik Kopral Jansen kepada temannya.
"Mereka bisa menghilang ke udara tipis dan muncul dari mana saja. Ini tidak normal."
"Diam, Jansen! Jangan bicara bodoh!" tegur Kopral Meijer, meski wajahnya juga menunjukkan ketakutan.
"Mereka hanya lebih ahli di hutan ini. Kita harus tetap fokus."
Tiba-tiba, dari kegelapan hutan di seberang sungai, terdengar suara yang sangat aneh. Bukan suara tembakan, bukan juga teriakan perang. Melainkan suara nyanyian. Nyanyian pelan, namun terdengar jelas, dan nadanya terdengar sangat menyedihkan.
"Apa itu?" bisik salah satu prajurit.
" Het is een lied. Een lied van de Inlandse mensen,
" (Itu adalah lagu. Lagu dari orang Inlander) jawab De Vries, mencoba mengidentifikasi suara itu.
Nyanyian itu terus berlanjut, bergema di antara pepohonan, seolah datang dari segala arah sekaligus. Beberapa prajurit mulai menunjukkan tanda-tanda ketakutan. Mereka merasa seperti sedang dikelilingi oleh ribuan roh penasaran.
"Kapten, ini tidak benar," kata Sersan Van der Velde, tangannya memegang erat senapan.
"Mereka mencoba mengacaukan pikiran kita. Mereka ingin kita takut."
"Aku tahu itu!" seru De Vries.
"Itu taktik mereka! Jangan dengarkan! Jangan biarkan diri kalian dikuasai ketakutan!"
Namun semakin ia berkata, semakin jelas terlihat bahwa nyanyian itu memiliki efek. Beberapa prajurit mulai melihat bayangan di antara pepohonan, atau mendengar bisikan-bisikan yang tidak ada sumbernya.
"Ada di sana! Aku melihat seseorang!" teriak seorang prajurit, menembakkan senapannya ke arah semak-semak.
DOR!
Peluru itu hanya menghantam pohon, membuat dedaunan berjatuhan, namun tidak ada tanda-tanda musuh.
"Berhenti menembak sembarangan!" teriak De Vries.
"Jangan buang-buang peluru!"
"Tapi Kapten, aku yakin aku melihat sesuatu!" jawab prajurit itu, wajahnya pucat pasi.
De Vries menghela napas. Ia tahu ini adalah perang saraf yang dimainkan oleh Bayu. Mereka tidak ingin melawan langsung, mereka ingin membuat pasukannya lelah secara mental, membiarkan ketakutan merayap masuk dan menguasai mereka.
Tiba-tiba, dari ransel Kapten De Vries, terdengar suara berisik dari telegraf radio lapangannya. Sinyal itu datang berulang-ulang, kode morse yang familiar, namun dengan nada yang terburu-buru dan agresif. Seorang operator radio segera menyetel frekuensi dan menyodorkan headphone ke arah De Vries.
De Vries meraih headphone itu dengan tangan gemetar, mendekatkannya ke telinga. Suara-suara dari hutan yang tadinya membuat ia jengkel kini tergantikan oleh suara "BEEP-BEEP-BEEP... BEEP... BEEP-BEEP..." yang tidak sabaran, membentuk pesan dari markas. Ia mendengarkan, wajahnya semakin mengeras, urat di lehernya menonjol.
" Godverdomme! " (Sialan!) umpat De Vries, melampiaskan kekesalan karena pesan itu. " Die hond van een Mayor! " (Anjing Mayor itu!)
Ia menyerahkan headphone itu kepada Sersan Van der Velde. Van der Velde mendengarkan sejenak, wajahnya langsung berubah pucat.
" Wat zei hij, Kapitein? " (Apa yang dia katakan, Kapten?) tanya Sersan Kooijman, cemas.
De Vries menatap tajam ke arah mereka. Ia mengulang pesan yang baru saja ia terima, suaranya tercekat oleh amarah dan frustrasi, mencoba meniru nada kasar Mayor Van Der Hock.
"Dia bilang: ' KAPITEIN DE VRIES! WAAR ZIJN DE RESULTATEN? WAAR IS DE KOP VAN DIE VERDOMDE INLANDER BAYU? IK HOOR ALLEEN LUIE KLACHTEN EN GEEN OVERWINNINGEN! BENT U VERGETEN HOE JE MOET VECHTEN? IK GEEF U ÉÉN UUR! ÉÉN UUR, DE VRIES! ZO NIET, DAN ZAL IK PERSOONLIJK KOMEN EN ALLE INLANDERS UITMOORDEN TOT DE LAATSTE ZIJN! DAN ZAL IK UW RANG AFPAKKEN EN U ALS EEN LAFAARD TERUGSTUREN! BEGRIJPT U?! '"
(KAPTEN DE VRIES! MANA HASILNYA? MANA KEPALA SI INLANDER TERKUTUK BAYU ITU? AKU HANYA MENDENGAR KELUHAN MALAS DAN BUKAN KEMENANGAN! APA KAU SUDAH LUPA CARA BERTARUNG? AKU BERI KAU SATU JAM! SATU JAM, DE VRIES! JIKA TIDAK, AKU AKAN DATANG SENDIRI DAN AKAN MEMBUNUH SEMUA INLANDER SAMPAI YANG TERAKHIR! LALU AKU AKAN MENCABUT PANGKATMU DAN MENGIRIMMU KEMBALI SEBAGAI PENGECUT! APA KAU PAHAM?!)
Kelelahan dan tekanan membuat De Vries melupakan posisinya sejenak, melampiaskan kekesalannya kepada sersannya.
" Hij begrijpt niet hoe dit terrein werkt. Hij wil alleen directe resultaten! " (Dia tidak mengerti bagaimana medan ini bekerja. Dia hanya ingin hasil instan!)
" Hij is boos. Hij dreigt ons te vervangen. " (Dia marah. Dia mengancam akan mengganti kita.) gumam Van der Velde.
" Natuurlijk is hij boos! " (Tentu saja dia marah!) jawab De Vries, nada suaranya penuh kekesalan. " Hij zit comfortabel op de basis met een kop koffie, terwijl wij hier vechten tegen geesten en vallen! " (Dia duduk nyaman di markas dengan secangkir kopi, sementara kita di sini mati-matian melawan hantu dan jebakan!)
" Wat moeten we doen, Kapitein? " (Apa yang harus kita lakukan, Kapten?) tanya Kooijman. " We kunnen zo niet verder. Mijn mannen hebben rust nodig. We hebben een duidelijker plan nodig. " (Kita tidak bisa terus seperti ini. Anak buahku butuh istirahat. Kita butuh rencana yang lebih jelas.)
De Vries menatap sekeliling. Ia melihat wajah-wajah prajuritnya yang letih, mata-mata yang mulai kehilangan semangat. Ia tahu, jika ia terus memaksakan diri, ia akan kehilangan lebih banyak lagi orang.
"Baiklah," ucap De Vries, mencoba menenangkan diri.
"Kita akan istirahat sebentar di sini. Kita akan bagi tugas. Sebagian berjaga, sebagian tidur bergantian. Dan kita akan mencoba mencari tahu di mana musuh sebenarnya berada."
" Maar, Kapitein, de Mayor... " (Tapi, Kapten, Mayor...)
"Jangan khawatirkan Mayor!" potong De Vries.
"Aku yang akan bertanggung jawab. Kita tidak bisa terus bergerak seperti orang buta. Kita harus cerdik. Mereka ingin kita membuat kesalahan, kita tidak akan memberikannya!"
Pasukan mulai mengatur posisi. Beberapa berjaga, yang lain mencoba mencari posisi untuk beristirahat. Namun nyanyian dari kejauhan masih terdengar, kadang merdu, kadang melengking, seolah mengolok-olok mereka.
" Die Inlandse muziek is vreselijk, " (Musik inlander itu mengerikan,) bisik Jansen. " Het klinkt als geesten. " (Ini seperti suara setan.)
"Mereka ingin kita percaya itu," jawab Meijer.
"Mereka ingin kita takut pada hal-hal yang tidak ada."
De Vries mengamati hutan di sekelilingnya. Hutan itu tampak begitu tenang, begitu damai, namun ia tahu bahwa di balik ketenangan itu, ada mata-mata yang mengawasinya. Ada musuh yang sedang menunggu momen yang tepat untuk menyerang.
Tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar suara tembakan. Bukan tembakan senapan Belanda, melainkan suara yang lebih kecil, seperti senapan tua atau panah beracun.
WHIZZ! KLANG!
Sebuah panah menghantam helm seorang prajurit yang sedang berjaga, membuat dia terhuyung dan terjatuh. Untungnya, panah itu hanya menyerempet dan tidak menusuk.
"APA ITU?!" teriak De Vries.
" Kapitein! Een pijl! Het is een pijl! " (Kapten! Panah! Itu panah!) teriak prajurit itu, memegang kepalanya.
Semua prajurit segera mengangkat senapan mereka, menembak ke arah mana saja.
DOR! DOR! DOR!
Namun lagi-lagi, mereka hanya menembak angin. Tidak ada musuh yang terlihat. Hanya suara dedaunan yang berjatuhan dan keheningan yang kembali setelah rentetan tembakan itu.
" Dit klopt niet, Kapitein, " (Ini tidak benar, Kapten,) kata Sersan Van der Velde, kini lebih serius. " Ze vallen ons niet direct aan. Ze willen ons alleen paniek laten voelen en uitputten. " (Mereka tidak menyerang kita secara langsung. Mereka hanya ingin membuat kita panik dan kelelahan.)
De Vries tahu itu. Ia juga merasakan dampak psikologisnya. Rasa marah bercampur frustrasi dan sedikit rasa takut mulai merayap masuk ke dalam hatinya. Musuh yang tidak terlihat, yang hanya menyerang dengan perang saraf, jauh lebih mengerikan daripada musuh yang menyerang secara langsung.
"Kita akan bertahan di sini sampai fajar tiba sepenuhnya," kata De Vries.
"Tidak ada yang boleh tidur nyenyak. Kita akan berjaga sepanjang malam."
Malam itu terasa sangat panjang. Nyanyian itu terus terdengar, kadang lebih dekat, kadang lebih jauh. Suara-suara aneh muncul dari setiap penjuru hutan. Dan setiap kali ada suara, para prajurit akan menembak membabi buta, membuat mereka semakin kelelahan dan semakin panik.
Saat matahari mulai naik perlahan, menyinari hutan dengan cahaya yang samar, Kapten De Vries merasakan ada yang salah.
" Wat ruik ik? " (Bau apa ini?) tanyanya, mengendus udara.
" Rooklucht, Kapitein, " (Bau asap, Kapten,) jawab Sersan Kooijman. " Alsof er iets brandt in de verte. " (Seperti ada yang membakar sesuatu dari kejauhan.)
De Vries segera mengeluarkan teropongnya dan mengarahkannya ke arah timur, ke arah Cikadu. Dari kejauhan, ia melihat gumpalan asap hitam tebal membumbung tinggi ke langit.
" Verdomme! " (Sialan!) umpatnya. " Ze hebben Cikadu in brand gestoken! " (Mereka membakar Cikadu!)
Semua prajurit yang melihat asap itu terkejut. Mereka tahu, jika Cikadu terbakar, berarti misi mereka untuk menemukan Bayu dan pengikutnya akan semakin sulit.
"Mayor akan marah besar," bisik Kopral Jansen.
De Vries mengepal tangannya. Ia tahu, ini bukan hanya tentang menangkap Bayu lagi. Ini tentang kehormatan dan harga diri mereka.
"Siapkan pasukan!" perintah De Vries dengan suara yang kembali penuh semangat.
"Kita akan bergerak sekarang! Tujuan kita adalah Cikadu! Kita akan selamatkan apa yang bisa diselamatkan, dan kita akan menangkap siapa saja yang bertanggung jawab atas ini!"
" Ja, Kapitein! " teriak para prajurit, mencoba mengembalikan semangat mereka.
Mereka mulai bergerak menuju Cikadu, langkah mereka lebih cepat dan lebih terburu-buru. Namun di dalam hati Kapten De Vries, ada rasa khawatir yang mendalam. Ia tahu, Bayu tidak akan membakar Cikadu tanpa alasan. Ini pasti bagian dari rencana mereka. Dan kali ini, ia merasa, mereka akan masuk ke dalam perangkap yang jauh lebih besar daripada sebelumnya.
Di kejauhan, Bayu, Karta, Embek, Jaka, dan Sukria mengamati pergerakan pasukan Belanda dari balik sebuah bukit yang tinggi. Mereka melihat asap tebal membumbung dari arah Cikadu, namun wajah mereka tidak menunjukkan kesedihan.
"Mereka sudah bergerak," kata Bayu.
"Rencana kita berhasil."
"Tapi Cikadu terbakar, Yu," ucap Karta.
"Bukankah itu tempat pengungsian kita?"
Bayu tersenyum tipis. "Cikadu yang terbakar itu bukan Kamp Cikadu kita, Ta. Itu hanya desa kecil yang sudah lama kosong. Aku sudah menyuruh beberapa pejuang kita untuk membakarnya malam ini. Agar mereka mengira kita sedang melarikan diri ke sana."
Embek Gombloh mengangguk puas. "Itu akan membuat mereka berpikir kita panik. Dan ketika mereka panik, mereka akan membuat kesalahan."
"Dan di sana, di Cikadu yang terbakar itu, kita sudah siapkan sambutan yang istimewa untuk mereka," tambah Jaka Kelitik sambil mengelus senapannya.
Bayu menatap ke arah pasukan Belanda yang bergerak cepat menuju asap tebal itu. Ia tahu, pertempuran yang sesungguhnya baru akan dimulai. Dan kali ini, mereka tidak akan membiarkan pasukan Belanda pulang dengan kemenangan.
PESAN PENULIS :
Untuk dialog indonesia yang di ucapkan kompeni sengaja di bikin belepotan.
Bagi yang fasih bahasa Kompeni, mohon koreksi jika ada yang keliru. Semua terjemahan ini murni dari Google Translate 🙏