Bima mengira ia bisa mengubur masa lalunya yang kelam di Desa . Mantan komandan regu pasukan khusus ini memilih hidup bersahaja sebagai petani jagung dan pemancing di tepi sungai demi melarikan diri dari trauma perang. Namun, kedamaian yang ia bangun susah payah runtuh setiap kali ia teringat pada Joni, sahabat sekaligus anak buahnya yang gugur dalam pelukan Bima akibat terjangan peluru senapan mesin musuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
diluar ekspektasi
Keesokan paginya, suasana di meja makan villa tepi danau terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Keadaan di sana benar-benar terasa sangat canggung dan menyiksa bagi Viona. Dia duduk dengan wajah cemberut, sesekali melirik sinis ke arah suaminya sembari menusuk-nusuk makanan di piringnya dengan kasar. Rasa dongkol akibat penolakan tidak langsung semalam masih membekas jelas, mengiris-iris harga dirinya. Bagaimana tidak? Sejak hari pertama pernikahan mereka, Bima bahkan belum pernah menyentuhnya sama sekali sebagai seorang istri. Kamar tidur mereka layaknya wilayah gencatan senjata yang dingin, tanpa kehangatan intim layaknya pengantin baru. Kenyataan pahit itu terus berputar-putar di dalam kepalanya, membuat selera makannya menguap entah ke mana.
Bima yang menyadari perubahan sikap istrinya tetap bersikap tenang. Sembari mengunyah makanannya perlahan, dia menatap wajah Viona yang tampak sedikit kusam dengan kantung mata yang menghitam akibat terjaga semalaman. "Kamu kenapa? Sepertinya kamu kurang istirahat ya..." ujar Bima dengan nada baritonnya yang terdengar sangat polos tanpa dosa. Pria itu menatapnya begitu lempeng, seolah tidak sadar telah mengabaikan umpan romantis yang Viona berikan dengan mengenakan gaun malam super tipis tadi malam. Sikap acuh tak acuh itu justru semakin menyulut api kemarahan di dalam dada Viona.
Mendengar pertanyaan itu, batin Viona langsung menjerit histeris. Pertanyaan perhatian dari Bima itu justru dianggap Viona sebagai sebuah ejekan telak bagi dirinya yang semalaman mati-matian menahan hasrat, gengsi, dan rasa penasaran di atas ranjang yang dingin. Viona memilih untuk tetap diam seribu bahasa, mengabaikan suaminya dan fokus menghabiskan sisa makanan di piringnya secepat mungkin. Dadanya sesak oleh rasa malu; dia merasa seperti wanita yang tidak punya daya tarik di mata suaminya sendiri. Oleh karena itu, dia sengaja menghentakkan kakinya ke lantai untuk menyalurkan rasa kesal.
Begitu Viona meletakkan sendoknya dengan dentangan keras, Bima kembali memperbaiki posisi duduknya. "Ingat janjimu," kata Bima kembali mengulang kalimat penagihan yang sama seperti kemarin malam.
Mendengar kata-kata itu lagi, emosi Viona yang sudah tertahan sejak subuh akhirnya benar-benar meledak.
"Bima, Bima... lya, aku ingat!
Sekarang cepat katakan kamu mau apa, Bim?!" sahut Viona dengan nada suara yang meninggi dan ketus, mengekpresikan kekesalannya yang sudah mencapai ubun-ubun. Air mata frustrasi rasanya sudah menggenang di sudut matanya, menuntut kejelasan dari sikap suaminya yang luar biasa kaku itu. Dia benar-benar sudah berada di ambang batas kesabarannya pagi ini.
Bima tidak terpancing emosi sedikit pun. Dia hanya mengulas sebuah senyuman tipis yang misterius, lalu menatap istrinya dengan pandangan lurus.
"Minggu depan kamu libur. Kita keluar,"
kata Bima singkat.
memberikan perintah mutlak yang menjadi isi dari satu permintaan taruhannya. Setelah mengucapkan kalimat itu, Bima langsung bangkit dari kursinya dan berjalan pergi meninggalkan ruang makan tanpa menoleh lagi ke belakang. Sementara itu, Viona hanya bisa mematung meratapi kepergian suaminya.
Viona tertegun di tempat duduknya, menatap punggung tegap suaminya yang perlahan menghilang di balik pintu dapur. Mulutnya sedikit terbuka, tak percaya dengan permintaan yang diajukan oleh pria itu.
'Bima... Bima... Aku kira kamu mau meminta hakmu yang sesungguhnya sebagai suami! Menuntut malam pertama yang tertunda di atas meja makan ini atau apa... Taunya cuma mengajak keluar biasa!' gerutu Viona dengan sangat dongkol di dalam hatinya, meratapi nasibnya yang lagi-lagi salah menebak jalan pikiran suaminya yang kelewat kaku. Namun di balik rasa kesalnya, ada sedikit rasa penasaran yang menggelitik batinnya tentang ke mana suaminya akan membawanya pergi minggu depan.