Di balik gemerlapnya Los Angeles, Lara Giger (24) terjebak dalam neraka pernikahan bersama suaminya yang posesif dan manipulatif, Billy Davidson (29). Setiap malam tubuhnya disiksa, namun Lara memilih pasrah.
Alih-alih melarikan diri, Lara memilih bertahan di bawah siksaan suaminya demi menghindari caci maki keluarga besarnya yang sejak lama melabelinya sebagai "Anak Sial" dan pembawa petaka jika ia bercerai.
Namun, rahasia masa lalu perlahan mengusik belenggu pernikahan itu.
Di universitas tempatnya belajar, Lara harus berhadapan dengan Darion Vale Knight (25), dosen hukum muda sekaligus pria masa lalu yang memegang komitmen dengannya.
Darion, yang menyadari luka-luka fisik dan batin Lara, bertekad menggunakan keadilan hukum untuk membebaskannya. Sementara itu, Lara terus berjuang mendorong Darion menjauh demi melindunginya dari "kesialan" dirinya.
Di antara jeratan obsesi kejam sang suami dan perlindungan tulus sang mantan kekasih, mampukah Lara merobek sangkar emas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#1
Bugh! Bugh!
Suara hantaman tumpul itu menggema di dalam kesunyian kamar tidur yang luas dan mewah.
Setiap pukulan mendarat dengan telak, mengirimkan rasa sakit yang menjalar hebat ke seluruh tubuh Lara Giger.
Gadis itu tersungkur di atas lantai marmer yang dingin, meringkuk seperti janin untuk melindungi bagian-bagian vitalnya.
Lara tampak pasrah.
Tidak ada jeritan histeris, tidak ada makian balasan. Ia sama sekali tidak mengeluarkan suaranya untuk menentang.
Sudut bibirnya sudah pecah, mengeluarkan setitik darah segar yang terasa asin di lidahnya.
Namun, air mata tidak bisa berdusta. Bulir-bulir bening itu mengalir deras membasahi pipinya yang mulai membiru, menyatu dengan debu lantai yang tak kasat mata.
Alih-alih menolak atau mendorong pria yang berdiri kokoh di atasnya, Lara hanya bisa berkata lirih dengan suara bergetar menahan perih.
"Ampun... a-aku benar hanya keluar untuk membeli pengaman yang kau suruh, Billy..."
Pria di hadapannya menghentikan gerakannya sejenak.
Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun dengan emosi yang masih meluap-luap.
Tatapan matanya yang tajam bak elang menghujam langsung ke manik mata Lara yang dipenuhi ketakutan.
"Sungguh?" tanya pria itu, suaranya rendah namun penuh dengan intimidasi yang mencekam. Ia berjongkok, mencengkeram rahang Lara dengan kuat hingga gadis itu meringis.
"Kau tidak menyapa satpam depan rumah kan? Kau tidak menyapa kasir pria di minimarket itu, Lara?"
Air mata Lara semakin deras mengalir. Rasa sakit di rahangnya berdenyut seiring dengan detak jantungnya yang berpacu liar.
Dengan sisa-sisa tenaga dan keberanian yang ia miliki, ia menggeleng cepat.
"Tidak, tidak... Aku bahkan memperlihatkan tanda merah hasil karyamu, suamiku," bisik Lara dengan nada memohon yang teramat sangat. Ia berharap penjelasan itu bisa meredakan badai cemburu buta yang sedang berkecamuk di dalam kepala suaminya.
Ya, pria yang tengah menyiksanya tanpa ampun malam ini adalah suaminya sendiri.
Pria berwajah tampan dengan rahang tegas dan tubuh proporsional yang selalu dipuji oleh banyak orang di luar sana.
Pria itu bernama Billy Davidson, seorang pengusaha sukses berusia 29 tahun. Di mata dunia, Billy adalah sosok pria sempurna—mapan, rupawan, dan berwibawa. Namun di balik dinding rumah megah ini, Billy adalah mimpi buruk yang nyata bagi Lara.
Billy Davidson adalah pria posesif yang tingkat kecemburuannya sudah berada di tahap tidak masuk akal.
Penyakit mental atau entah apa sebutannya, membuat pria itu selalu dihantui rasa curiga yang berlebihan.
Hanya karena disapa atau menyapa seorang sopir pribadi, satpam kompleks, ataupun kasir minimarket berjenis kelamin pria, Billy akan langsung meledak. Ia akan langsung menuduh Lara tengah berselingkuh, bermain api di belakangnya, atau mencoba menggoda pria lain menggunakan tubuhnya.
Billy selalu mengaitkan hal-hal sepele itu dengan masa lalu Lara, menuduh bahwa Lara merindukan mantan kekasihnya atau pria-pria lain yang mungkin pernah singgah di hidupnya sebelum mereka menikah.
Keheningan mendadak menyelimuti kamar itu.
Lara terdiam, tubuhnya masih gemetar di atas lantai. Ia menyadari bahwa ia sudah tidak mendapatkan pukulan fisik lagi untuk beberapa detik ini.
Suasana mencekam yang tadinya dipenuhi aura kemarahan tiba-tiba berubah drastis secara instan.
Secara tidak terduga, Billy langsung menjatuhkan lututnya ke lantai.
Detik berikutnya, ia menarik tubuh Lara ke dalam dekapannya.
Pria itu memeluk istrinya dengan teramat erat, seolah-olah Lara adalah permata paling berharga yang hampir saja hilang dari genggamannya.
Sikapnya berubah total, memancarkan perhatian dan kasih sayang yang luar biasa dalam sekejap mata.
"Honey... Maafkan aku. Maafkan aku, sayang," bisik Billy dengan suara yang tiba-tiba melunak, bahkan terdengar penuh penyesalan yang mendalam.
Ia mengecup pucuk kepala Lara berkali-kali, mengusap punggung istrinya dengan lembut.
"Mana yang sakit? Katakan padaku, mana yang terluka? Aku janji... aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Aku hanya terlalu mencintaimu, Lara. Aku takut kehilanganmu."
Lara sudah sangat menghafal perubahan sikap ini.
Ini adalah bagian dari siklus yang selalu berulang. Dengan tubuh yang masih lemas dan rasa sakit yang mendera di sekujur tubuh, Lara mencoba memberikan respons yang diinginkan suaminya agar badai itu tidak kembali bergejolak.
"Tidak Billy, aku... aku tidak apa-apa," jawab Lara terbata-bata. Tangannya yang gemetar terangkat untuk mengusap sudut bibirnya yang baru saja ditampar dengan keras malam ini. Darah di sana sudah mulai mengering, meninggalkan rasa kebas dan perih yang menyengat.
Jangan tanya bagaimana kondisi perutnya saat ini.
Pukulan bertubi-tubi yang diberikan Billy sebelumnya sebagian besar mendarat di area perut dan ulu hatinya.
Bogeman mentah yang dilemparkan Billy dengan kekuatan penuh tadi membuat bagian tengah tubuhnya terasa remuk, persis seperti sebuah samsak tinju yang dihantam tanpa ampun oleh seorang petinju profesional.
Rasa mual menjalar hingga ke tenggorokan, namun Lara menahannya sekuat tenaga. Ia tidak boleh menunjukkan kelemahannya secara berlebihan jika tidak ingin memicu kemarahan baru.
Billy melepaskan pelukannya sedikit, menatap wajah Lara dengan tatapan mata yang kini dipenuhi binar gairah yang aneh.
Jempol tangannya yang besar mengusap sisa air mata di pipi Lara, lalu turun menyusur ke leher istrinya.
Dan sesaat kemudian, nada suara Billy berubah lagi, kali ini dipenuhi oleh hasrat yang menuntut.
"Apa bagian itu masih sakit, honey? Aku begitu merindukanmu malam ini. Aku menginginkanmu."
Jantung Lara seakan berhenti berdetak mendengar penuturan itu.
Ketakutan baru langsung menyergap benaknya. Di tengah kondisi tubuhnya yang babak belur dan hancur seperti ini, Billy masih memikirkan tentang pemenuhan hasrat biologisnya.
Lara menelan ludahnya dengan susah payah, mencoba mencari alasan yang paling aman dan logis agar Billy bisa mengurungkan niatnya malam ini.
"Maafkan aku, Billy..." Lara menjawab dengan suara sekecil mungkin, hampir menyerupai bisikan yang penuh ketakutan. "Aku... aku benar-benar masih menstruasi."
Mendengar kata-kata itu, kilatan lembut di mata Billy langsung lenyap dalam sekejap, digantikan oleh kobaran emosi yang jauh lebih besar dan mengerikan dari sebelumnya.
Cengkeraman tangannya di bahu Lara mengeras hingga kuku-kukunya memutih.
"Tiga bulan? Dan kau masih menstruasi?!" bentak Billy, suaranya menggelegar memenuhi ruangan hingga membuat Lara tersentak kaget.
Wajah pria itu memerah padam karena murka yang memuncak. "Apa kau benar-benar ingin uangku hanya kugunakan untuk menyewa jalang murahan di luar sana? Hah?!"
BUGH!
Satu pukulan mentah kembali mendarat di perut Lara tanpa sempat gadis itu menghindar.
Pukulan itu begitu keras hingga membuat Lara terbatuk, tubuhnya melengkung menahan rasa sakit yang luar biasa hebat hingga ia kesulitan untuk menghirup oksigen.
Air matanya kembali tumpah seiring dengan rasa sesak yang menghimpit dadanya.
Billy berdiri, menatap rendah ke arah Lara yang mengerang kesakitan di atas lantai marmer.
Dengan tatapan penuh kehinaan dan rasa jijik yang dibuat-buat, ia menunjuk wajah istrinya dengan jari telunjuknya.
"Aku menikahimu karena untuk menyalurkan semua hasrat bercintaku, dasar murahan!" makian Billy terdengar begitu tajam, menusuk langsung ke dalam lubuk hati Lara yang paling dalam.
"Kau harus bersyukur karena aku... Hanya aku yang bisa dan sudi menikahi wanita yang sudah tidak suci seperti dirimu, sialan!"
Lara terdiam dalam posisinya. Ia memilih memejamkan mata erat-erat, membiarkan air mata mengalir membasahi lantai.
Kata-kata kasar dan hinaan tentang masa lalunya itu sudah seperti kaset rusak yang diputar berulang kali di telinganya.
Itulah suaminya. Itulah Billy Davidson. Seorang pria yang tidak akan pernah bisa ia lawan, sekeras apa pun ia mencoba.
Selama dua tahun pernikahan ini, kehidupan Lara telah berubah menjadi neraka jahanam yang berkedok rumah tangga.
Rutinitas mengerikan itu selalu sama dan berpola: Billy akan memberikan pukulan bertubi-tubi karena kecemburuan atau ketidakpuasan, lalu bersujud meminta maaf dengan penuh air mata buaya, kemudian dalam hitungan menit kembali marah karena penolakan, meminta maaf lagi, dan akhirnya memaksa untuk bercinta.
Siklus beracun itu terus berputar tanpa henti, mengikis kewarasan, harga diri, dan fisik Lara perlahan-lahan.
Rutinitas itu terasa sangat melelahkan, menguras seluruh jiwa dan raganya selama 24 bulan terakhir.
Di dalam hati yang paling dalam, Lara selalu bertanya-tanya, sampai kapan ia harus bertahan di dalam sangkar emas yang penuh dengan duri ini?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di luar jendela kaca besar kondominium mewah mereka yang terletak di kawasan elite Downtown Los Angeles, gemerlap lampu kota metropolis itu tampak seperti hamparan berlian yang tak berujung.
Los Angeles, kota yang dikenal sebagai tempat di mana mimpi-mimpi diwujudkan, justru menjadi kuburan bagi jiwa Lara Giger.
Angin malam yang dingin berembus dari arah Samudra Pasifik, menyusup melalui celah ventilasi, membawa aroma kebebasan jalanan LA yang kontras dengan aroma darah dan keputusasaan di dalam kamar ini.
Lara Giger. Usianya baru 24 tahun, usia di mana gadis-gadis lain di California sedang menikmati puncak masa muda mereka—mengejar karier di Hollywood, bersenang-senang di pantai Santa Monica, atau menikmati malam di kelab malam West Hollywood. Namun, bagi Lara, kebebasannya telah dirampas habis sejak dua tahun lalu.
Sejak kecil, Lara tidak pernah tahu rasanya disayang dengan tulus oleh keluarganya.
Di tengah keluarga besar Giger yang terpandang di Los Angeles, Lara adalah noda hitam. Ia dijuluki "Anak Sial" oleh seluruh anggota keluarganya.
Apa pun kemalangan yang menimpa keluarga—mulai dari bisnis properti ayahnya yang sempat merosot, hingga kecelakaan kecil yang menimpa saudaranya—semua kesalahan selalu ditimpakan ke pundak Lara.
Lontaran kalimat "Kau hanya membawa kutukan di keluarga ini" atau "Anak sial seperti kau seharusnya tidak pernah lahir" sudah menjadi makanan sehari-harinya sejak remaja.
Demi Tuhan, Lara bertahan di dalam neraka rumah tangganya bersama Billy selama dua tahun ini hanya karena satu alasan: ia tidak ingin kata "sial" itu kembali disematkan padanya jika ia menyerah dan meminta cerai.
Lara sudah sangat muak. Ia lebih memilih tubuhnya membiru, tulang-tulangnya retak, dan perutnya menjadi samsak tinju Billy setiap malam, daripada harus kembali ke rumah keluarganya dan menerima tatapan menghina serta caci maki dari orang tua dan saudara-saudaranya.
Ia tahu persis apa yang akan mereka katakan jika ia pulang dengan status janda: "Lihat? Sudah kami katakan, dia memang pembawa sial. Menikah pun dia gagal dan membawa aib bagi nama baik Giger."
Bagi Lara, rasa sakit fisik akibat pukulan Billy masih bisa ia tahan dengan air mata yang mengering keesokan harinya.
Namun, siksaan mental dari kalimat-kalimat beracun keluarganya adalah luka abadi yang merobek jiwanya hingga tak bersisa. Ia lebih baik mati di tangan suaminya sendiri daripada harus kembali merangkak ke pelukan keluarga yang menganggapnya sebagai kutukan.
Sambil menahan perih di perutnya, ingatan Lara melayang ke masa lalu. Masa di mana ia berpikir telah menemukan penyelamat dari keputusasaannya.
Billy Davidson. Pria itu adalah sosok yang ia temui di salah satu aplikasi kencan premium dua tahun lalu.
Di awal pertemuan mereka di sebuah kafe estetik di kawasan Beverly Hills, Billy adalah perwujudan dari semua impian Lara.
Pria itu sangat sopan, mapan, dan selalu memperlakukannya bagaikan seorang putri.
Billy rajin membawakan bunga, mengajaknya makan malam romantis dengan pemandangan lampu kota Los Angeles dari bukit Griffith Observatory, dan mendengarkan semua keluh kesah Lara dengan penuh perhatian.
Saat itu, Lara merasa tuhan akhirnya kasihan padanya. Ia mengira Billy adalah malaikat yang dikirim untuk menyelamatkannya dari julukan "Anak Sial" keluarganya.
Mereka berpacaran selama beberapa bulan, dipenuhi dengan momen-momen manis yang membuat Lara mabuk kepayang. Hingga akhirnya, lamaran mewah di sebuah kapal pesiar pribadi di Marina del Rey memantapkan langkah Lara untuk menerima pinangan Billy.
Namun, semua keindahan itu hanyalah topeng semata.
Tepat setelah malam pernikahan mereka usai dan tanda tangan di atas dokumen pernikahan sah secara hukum, wujud asli Billy yang mengerikan mulai terlihat.
Perlahan tapi pasti, senyum hangat pria itu berubah menjadi seringai dingin.
Sikap perhatiannya bermutasi menjadi obsesi yang ekstrem dan posesif yang tidak waras.
Billy mulai membatasi ruang gerak Lara, menyita ponselnya, memutus komunikasinya dengan dunia luar, dan menuduhnya berselingkuh setiap kali mata Lara tidak sengaja menatap pria lain—bahkan ketika pria itu hanyalah seorang kasir paruh waktu di sudut jalan Los Angeles.
Pernikahan yang ia kira akan menjadi gerbang kebebasan justru menjadi penjara bawah tanah yang paling gelap.
Kini, Lara masih terbaring lemah di atas dinginnya lantai kamar.
Billy telah melangkah pergi meninggalkan kamar mandi setelah melempar makian terakhirnya, mungkin pergi ke ruang kerja atau menenggak alkohol di bar pribadi mereka di lantai bawah untuk menenangkan emosinya yang tidak stabil.
Lara terdiam dalam keheningan malam Los Angeles yang mencekam.
Rasa pusing yang teramat sangat mulai mendera kepalanya. Pandangannya perlahan-lahan mengabur, berbayang karena hantaman fisik dan tekanan batin yang bertubi-tubi. Denyut di pelipisnya terasa begitu menyiksa, seakan-akan kepalanya siap pecah kapan saja.
Ia tersenyum getir di tengah rasa sakitnya. Jika ada penghargaan untuk wanita paling bodoh dan paling menyedihkan di dunia ini, maka jawabannya hanya satu: dia adalah Lara.
Dia bodoh karena mengira aplikasi kencan bisa memberinya kebahagiaan sejati.
Dia bodoh karena membiarkan dirinya ditipu oleh kata-kata manis seorang psikopat posesif.
Dan dia adalah wanita paling bodoh karena tetap memilih bertahan di bawah siksaan fisik demi menghindari ejekan dari keluarga yang bahkan tidak pernah menganggapnya ada.
"Aku memang bodoh... sangat bodoh," batin Lara meratapi nasibnya sendiri.
Rasa lelah yang luar biasa menjalar dari ujung kaki hingga ke kepalanya.
Kesadarannya perlahan-lahan mulai menipis. Lara akhirnya pasrah, perlahan-lahan menutup kedua matanya yang bengkak karena air mata. Ia membiarkan kegelapan malam menelan rasa sakit di tubuhnya.
Lara memilih untuk tidur, tenggelam dalam ketidaksadaran yang sunyi, mencoba membuang segala hal sial, rasa sakit, dan penderitaan yang telah menghancurkan dirinya malam ini.
jadi gemes nih baca nya thor
ada pebinis, pembalap, doesen muda🥰🥰🥰kalo ini ada di dunia nyata, pasti sempurna banget nih🤔😄