NovelToon NovelToon
Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Kapten / Romantis
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Kapten paling angkuh di Angkasa Nusantara.
Pengatur langit bersuara paling manis.
Semua mengira Laras yang beruntung menikahinya—
tak ada yang tahu, belasan tahun lalu, gadis itu sudah lebih dulu jatuh cinta diam‑diam.
Dan sang kapten dingin itu?
Di depan orang cuek, di depan istrinya… paling tak berdaya.
Sampai di udara, mesin mati,
dan cuma satu suara yang bisa membawanya pulang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34: "Silakan, Boleh Kok"

Laras melihat Arkan terus memandangi mangkuk yang sudah kosong.

"Kalau soal Mas Rey masih mengganggumu, aku bisa jelaskan lagi."

"Nggak perlu."

"Om Handoko dulu dekat dengan Mama setelah perceraian. Kalau beliau nggak meninggal, mungkin keluarga kami memang jadi satu, tapi..."

Arkan mengangkat satu tangan dan menutup pandangan Laras dengan telapak tangannya. Gerakannya lembut, tidak membuat Laras mundur.

"Aku bilang nggak perlu dijelaskan," katanya. "Aku nggak salah paham."

"Tapi wajahmu..."

"Aku cuma nggak suka panggilannya. Itu masalahku, bukan kesalahanmu."

Laras diam di balik telapak tangannya. "Kamu cemburu pada dua suku kata?"

"Mungkin."

Pengakuan itu begitu langsung hingga Laras tidak sempat menyiapkan senyum. Arkan menurunkan tangan, lalu menatapnya.

"Aku percaya kamu," lanjutnya. "Jadi berhenti menjelaskan seolah kamu melakukan sesuatu yang salah."

Hangat yang muncul di dada Laras jauh lebih kuat daripada rasa senang karena Arkan cemburu. Ia tidak dipaksa mengurangi hubungan keluarga lama demi menenangkan suami. Kepercayaan diberikan lebih dulu.

Malam itu, dua bantal pembatas tetap berada di lemari. Laras mengenakan cincin custom untuk pertama kalinya setelah Arkan menunjukkan perbedaan desain dan email dari konsultan toko.

Toko mengonfirmasi bahwa cincin yang kemungkinan dibeli Tiara berasal dari koleksi umum dengan nomor model berbeda. Batu dan garis luarnya mirip, tetapi desain pesanan Arkan memiliki struktur pertemuan garis khusus, ukiran akad, serta konstruksi rendah yang dibuat untuk Laras.

"Aku tetap mau yang ini," kata Laras.

Arkan menyelipkan cincin itu di atas band akad sederhana pada jari manisnya. Keduanya bisa dipakai bertumpuk tanpa saling menekan.

Ia lalu membuka kotak kedua dan mengganti band peraknya dengan band custom yang memiliki garis serupa di sisi dalam. Band akad lama tidak dibuang. Keduanya meletakkannya di ruang khusus dalam kotak bersama buku nikah, sebagai bagian dari hari ketika hubungan ini dimulai.

"Sekarang benar-benar pasangan," kata Laras sambil menyandingkan tangan mereka.

"Dari akad juga sudah pasangan."

"Maksudku cincinnya."

Arkan menggerakkan jarinya sampai sisi band mereka bersentuhan. "Yang ini dipilih setelah aku tahu kebiasaanmu. Lebih tepat."

Laras menatap dua garis yang bertemu di bawah batu. Selama sepuluh tahun, jalannya menuju Arkan hanya ada dalam hati dan buku harian. Kini Arkan sendiri memilih simbol dua jalur yang bertemu tanpa mengetahui betapa tepat maknanya.

Ia menyimpan keharuan itu di balik senyum. "Aku suka."

Kali ini Arkan menerima jawabannya tanpa keraguan.

"Kalau nanti terasa nggak nyaman saat kerja, bilang."

"Aku akan melepas yang batu waktu di posisi dan pakai band saja."

"Simpan di tempat aman."

"Siap, Kapten."

Mereka tidur tanpa garis pemisah untuk malam kedua. Jarak masih terjaga, tetapi rasa tegang Laras tidak sekuat malam sebelumnya.

Pagi hari, Laras terbangun lebih dulu. Arkan masih tidur telentang, wajahnya kehilangan ketegasan yang biasanya muncul saat sadar. Rambutnya jatuh sedikit ke dahi. Di bawah cahaya pagi, laki-laki itu tampak lebih muda daripada kapten yang suaranya membuat satu kokpit langsung diam.

Laras mengangkat tangan.

Ia hanya ingin menyingkirkan satu helai rambut. Mungkin juga menyentuh garis alisnya sebentar. Ujung jarinya belum mencapai kulit ketika pergelangannya ditangkap.

Mata Arkan terbuka.

"Mau apa?"

Laras membeku dengan tangan menggantung di udara. "Nggak ada."

"Tanganmu bilang lain."

"Ada rambut."

"Di wajahku?"

"Iya."

Arkan tidak melepaskan pergelangannya. "Ambil."

"Sekarang aku nggak mau."

"Kenapa?"

Wajah Laras memanas. Ia mencoba menarik tangan, tetapi pegangan Arkan tidak keras dan tidak pula lepas.

"Karena kamu sudah bangun."

"Jadi kamu cuma berani waktu aku tidur?"

"Habis kamu ganteng banget," gumam Laras sebelum keberaniannya hilang, "jadi pengin colek sedikit."

Keheningan jatuh selama satu detik.

Lalu Arkan membawa ujung jari Laras menyentuh pipinya sendiri.

"Silakan," katanya. "Boleh kok. Itu hak kamu, istriku."

Laras menarik napas tajam. Kulit Arkan hangat di ujung jarinya.

"Sudah," katanya cepat.

Arkan belum melepaskan. Tatapannya turun sebentar ke bibir Laras, lalu kembali ke mata.

"Mau lanjut?"

Laras langsung menarik tangan dan turun dari ranjang. "Aku harus mandi."

"Kamu libur?"

"Masuk siang."

"Masih tiga jam."

"Aku mandi lama."

Ia masuk kamar mandi dan menutup pintu, meninggalkan tawa pelan Arkan di kamar.

Sebelum mengantar Laras bekerja, mereka mampir ke Pacific Place sesuai janji temu dengan konsultan desain. Toko menawarkan dua pilihan: mengganti desain sepenuhnya atau mempertahankan cincin Laras dan membeli hak eksklusif atas detail garis pertemuan tersebut. Koleksi umum yang serupa akan dihentikan setelah stok ditarik, sedangkan desain pesanan Laras tidak boleh diproduksi ulang untuk pelanggan lain.

Konsultan menunjukkan perbandingan teknis tanpa membuka nama pembeli mana pun. Model koleksi memakai dua garis sejajar yang berhenti sebelum dudukan batu. Pesanan Laras memiliki garis yang benar-benar bertemu dan menyatu dengan struktur rendah. Dari depan bentuk ovalnya memang serupa, tetapi profil samping dan konstruksinya berbeda.

"Kami tidak pernah memberikan sketsa pesanan Bapak kepada pelanggan lain," kata konsultan. "Pembeli koleksi umum hanya memilih barang yang sudah ada di etalase."

Arkan menerima penjelasan itu. "Berarti tidak ada kebocoran data."

"Tidak ada. Namun, karena kemiripan bahasa desain menimbulkan masalah bagi pesanan khusus, kami bersedia menarik stok tersisa jika hak motif dibeli eksklusif. Produk yang sudah terjual tetap menjadi milik pembeli masing-masing."

Laras menghargai bahwa Arkan tidak memaksa toko melanggar privasi Tiara. Yang mereka beli adalah kepastian untuk masa depan, bukan data transaksi orang lain.

Arkan memilih pilihan kedua setelah Laras mengulang bahwa ia menyukai cincinnya.

Dokumen buyout mencantumkan sketsa, nomor desain, batas reproduksi, dan penarikan stok yang belum terjual. Cincin Tiara yang sudah dibeli tetap miliknya dan tidak dapat dihapus dari dunia, tetapi tidak pernah identik dengan pesanan Laras. Setelah hari itu, tidak ada orang lain yang bisa memesan desain pertemuan jalur yang sama.

"Berlebihan nggak?" tanya Laras setelah mereka keluar toko.

"Nggak."

"Harganya pasti..."

"Jangan tanya."

"Aku tetap akan tanya."

"Nanti. Kamu terlambat kalau kita berdebat sekarang."

Arkan mengantar Laras ke JATSC. Hari itu mereka kebetulan sama-sama memakai kemeja putih dan celana gelap. Ketika Laras turun, dua pegawai yang berjalan ke pintu menoleh kepada mereka, lalu saling berbisik.

"Kita seperti sengaja pakai baju pasangan," kata Laras.

"Biarkan."

"Katanya nggak mau pamer."

"Aku nggak pernah bilang begitu."

Setelah memastikan Laras masuk, Arkan melanjutkan ke basis Angkasa Nusantara untuk briefing. Di koridor, ia berpapasan dengan Tiara.

Perempuan itu melihat cincin Laras tidak ada di tangan Arkan, tentu saja, tetapi pandangannya berhenti pada tas dokumen toko yang dibawanya. Secara refleks, Tiara menyembunyikan tangan kiri di belakang tubuh.

Arkan berhenti.

"Nggak perlu disembunyikan," katanya. "Aku sudah tahu."

Tiara mengangkat dagu. "Tahu apa?"

"Kamu melihatku keluar dari toko, membeli model koleksi yang mirip, lalu membawanya ke kantor Laras untuk membuat klaim kabur."

Wajah Tiara menegang. "Aku beli cincin yang aku suka. Toko itu bukan milikmu."

"Benar. Cincinmu tetap milikmu. Dan bukan desain yang sama."

Arkan mengeluarkan map dokumen tanpa menyerahkannya. "Detail pesanan Laras sudah dibeli eksklusif. Stok koleksi yang mendekati ditarik, dan desain jalur itu nggak akan dijual lagi. Jadi jangan gunakan cincin berbeda untuk berpura-pura punya sesuatu yang berkaitan denganku."

"Kamu nggak bisa membuktikan aku sengaja membeli yang mirip."

"Aku nggak perlu membuktikan alasanmu membeli perhiasan." Arkan menatap tangan yang disembunyikannya. "Aku cuma menyatakan batas. Nomor modelmu adalah koleksi umum. Nomor desain Laras tercatat sebagai pesanan eksklusif. Keduanya beda."

"Lalu kenapa kamu repot-repot menarik koleksi itu?"

"Karena kamu menggunakannya untuk datang ke tempat kerja istri saya. Kalau hanya dipakai sebagai cincinmu sendiri, aku nggak akan peduli."

Tiara tidak bisa membantah tanpa mengakui kunjungannya. Untuk sekali ini, kalimat kabur yang biasa melindunginya justru membuatnya kehilangan pijakan.

"Kamu menghabiskan uang cuma karena aku punya cincin mirip?"

"Aku menghabiskan uang supaya hadiah untuk istriku nggak dipakai orang lain sebagai alat mengganggunya."

Tiara menurunkan suara. "Laras mengadu?"

"Dia mengatakan fakta."

"Kamu bahkan nggak tahu dia seperti apa dulu."

"Aku tahu bagaimana kamu memperlakukannya dulu. Dan aku tahu apa yang kamu lakukan sekarang."

Arkan melangkah mendekat satu langkah, cukup untuk membuat Tiara berhenti tersenyum.

"Jangan mencari jadwalku. Jangan datang ke kantornya. Jangan menempel terus seperti lintah. Kalau ada urusan profesional, gunakan jalur profesional. Selain itu, jauhi istri saya."

Ia pergi tanpa menunggu jawaban. Tiara tetap berdiri di koridor dengan tangan kiri tersembunyi dan tubuh gemetar menahan marah.

Pada jam istirahat, Laras duduk di kantin JATSC bersama beberapa rekan. Percakapan kembali menyentuh kabar bahwa kapten A330 termuda Angkasa Nusantara menikahi seorang controller.

"Siapa, ya, yang akhirnya bisa mendapatkan dia?" kata salah satu rekan.

"Katanya orang Approach juga."

"Dio cuma bilang controller," sahut Lina. "Approach, Tower, atau unit lain belum jelas."

"Kalau benar orang sini, kenapa disembunyikan?"

Rosa melirik Laras, lalu menjawab sebelum tekanan mengarah terlalu dekat. "Mungkin bukan disembunyikan. Mungkin pasangan itu cuma nggak merasa punya utang pengumuman ke grup gosip."

"Tapi seru kalau tahu," kata rekan lain. "Bayangkan, di udara suaminya kapten, di darat istrinya yang kasih instruksi."

"Yang penting instruksinya tetap berdasarkan traffic," ujar Laras.

"Tentu. Tapi romantis juga."

Laras hampir berkata bahwa romantis atau tidak, mereka tetap akan menggunakan callsign dan standard phraseology di frekuensi. Kalimat itu sudah berada di ujung lidah. Satu pengakuan sederhana cukup untuk menghentikan tebakan dan, mungkin, sebagian rumor Tiara.

Namun, ia sedang berada di meja istirahat sebelum kembali ke posisi. Ia tidak ingin mengubah satu percakapan santai menjadi kerumunan pertanyaan tepat sebelum bekerja. Laras memilih menyimpan pengumuman untuk waktu yang bisa ia kendalikan.

Laras menunduk ke tangan kirinya. Cincin custom disimpan aman sebelum masuk posisi, tetapi band akad masih melingkari jarinya. Ia mengusap permukaannya dengan ibu jari.

Jawaban itu sudah berada di meja mereka, hanya belum mengangkat suara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!