Karina terbangun sebagai ibu tiri kejam dalam novel yang baru ia baca. Nathan dan Lucas, dua anak kecil yang seharusnya ia lindungi, justru gemetar setiap kali melihatnya. Lebih gawat lagi, Sebastian Wijaya, suaminya yang dingin dan berkuasa, pulang dengan kecurigaan tajam.
Karina hanya punya satu pilihan: memperbaiki semuanya sebelum terlambat.
Namun ketika Nathan dan Lucas mulai memanggilnya Mama, rahasia keluarga Wijaya perlahan terbuka. Pernikahan tanpa cinta berubah menjadi perjuangan melawan masa lalu, fitnah, dan keluarga besar yang ingin memisahkan mereka.
Bisakah Karina menjadi Mama yang mereka butuhkan sebelum takdir menyeretnya pergi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 33: Video Viral di Gang Kecil
Menjelang pukul lima sore, Karina akhirnya menyelesaikan catatan tentang lingkungan ruko.
Ia sudah membandingkan harga bahan di dua pasar kecil, menghitung arus kendaraan saat jam pulang kerja, dan mencatat jenis makanan yang paling banyak dijual warung sekitar. Pergelangan kaki kanannya masih terasa ngilu, jadi ia memilih jalan yang lebih pendek menuju titik penjemputan kendaraan daring.
Jalan itu membawanya ke sebuah gang yang dipenuhi warung sederhana.
Belum jauh melangkah, Karina mendengar suara benda jatuh disusul bentakan laki-laki.
"Gue bilang ikut pulang!"
Di depan warung mi ayam, seorang perempuan muda berusaha melepaskan lengannya dari cengkeraman pria yang tampak mabuk. Rambut laki-laki itu berantakan, langkahnya oleng, dan bau alkohol bahkan tercium sampai ke pinggir kerumunan.
Beberapa orang mulai berkumpul. Namun tidak ada yang maju.
"Jangan ikut campur urusan orang," bisik seseorang.
"Katanya mantannya sendiri. Nanti kita yang kena masalah."
Perempuan itu menepis tangan si pemabuk. "Aku nggak mau. Lepasin!"
Laki-laki tersebut malah mendorong bahunya. Tubuh perempuan itu membentur meja plastik hingga mangkuk di atasnya jatuh dan pecah.
Karina merogoh ponsel. Dengan kaki yang sedang cedera, menerjang laki-laki mabuk di tengah gang bukan pilihan paling aman. Ia baru hendak menelepon polisi ketika pemilik warung di dekatnya berkata bahwa petugas sudah dihubungi.
Pada saat yang sama, seorang pemuda berkaus putih pudar keluar dari balik gerobak makanan.
Ia meletakkan lap yang sedang dipegang, lalu berdiri di antara perempuan itu dan si pemabuk.
"Woy, cewek nggak buat dipukulin," katanya tenang. "Kalau mau ribut, sama aku aja."
"Siapa lo? Minggir!"
Si pemabuk mengayunkan tangan. Pemuda itu menghindar, menangkap pergelangannya, lalu memutar lengan tersebut secukupnya sampai tubuh lawannya membungkuk. Ketika laki-laki itu mencoba menendang, ia menyapu pijakan tanpa menghantam kepala atau bagian berbahaya.
Gerakannya cepat dan bersih.
Si pemabuk jatuh berlutut. Pemuda itu menahan kedua tangannya di belakang punggung, tetapi tidak memukul meski lawannya terus memaki.
"Cukup diam sampai polisi datang," ujarnya.
Karina memperhatikan dari tepi kerumunan. Pemuda itu bukan sekadar berani. Ia tahu kapan harus menghentikan kekuatan. Sorot matanya tetap waspada, tetapi tidak ada kesenangan saat melihat orang lain kesakitan.
Di sisi lain gang, seorang perempuan berkacamata hitam dan bermasker berdiri dekat toko minuman. Topi menutupi sebagian rambutnya. Penampilannya sengaja dibuat biasa, tetapi tas serta cara ia menjaga wajah dari kamera membuat Karina menduga ia tidak ingin dikenali.
Perempuan itu juga menatap pemuda berkaus pudar tanpa berkedip.
Sirene pendek terdengar dari ujung jalan. Dua petugas datang setelah menerima laporan warga. Si pemabuk diserahkan tanpa perlawanan tambahan. Perempuan yang menjadi korban menjelaskan bahwa ia sudah berkali-kali menolak diajak pulang dan bersedia ikut petugas untuk membuat laporan.
Pemuda itu baru melepaskan pegangan setelah polisi mengambil alih.
"Kamu terluka?" tanyanya kepada korban.
Perempuan tersebut menggeleng meski masih gemetar. "Nggak. Terima kasih."
"Duduk dulu. Minum air."
Ia meminta pemilik warung mendampingi perempuan itu, lalu mengambil kembali lapnya seolah kejadian barusan tidak istimewa. Tidak ada usaha menyebut nama, tidak ada permintaan agar orang merekam wajahnya.
Padahal tiga ponsel telah terangkat sejak perkelahian dimulai.
Salah seorang perekam bahkan berbisik kepada temannya, "Ini kalau masuk TikTok pasti ramai."
Pemuda itu hendak kembali ke gerobak ketika perempuan bermasker tadi melangkah mendekat. Ia sempat melihat ponsel yang masih merekam, lalu menurunkan maskernya hanya sampai dagu.
Karina mengenali wajah itu.
Natasha Santoso, penyanyi yang ia temui di Dufan.
"Tadi kamu keren," kata Natasha. Nada suaranya tidak terdengar seperti basa-basi seorang selebritas. "Terima kasih sudah maju ketika semua orang cuma menonton."
Pemuda itu tampak heran. "Yang harus berterima kasih bukan kamu."
"Aku tetap mau bilang terima kasih."
Tatapan mereka bertemu. Natasha yang biasanya tampak tenang di depan kamera mendadak kehilangan kalimat berikutnya. Ada kekaguman jujur di wajahnya, sesuatu yang tidak berhasil ditutupi kacamata gelap.
"Nama kamu siapa?" tanyanya akhirnya.
Pemuda itu ragu sesaat. "Julian."
"Aku Natasha."
Julian melirik masker dan topinya. "Kayaknya aku pernah lihat kamu."
Natasha cepat-cepat menaikkan masker. "Wajahku pasaran."
Untuk pertama kalinya sejak kejadian tadi, Julian tersenyum kecil. Natasha ikut tertawa, lalu segera memandang ke arah lain seperti takut reaksinya terlalu jelas.
Karina tidak ikut mendekat. Ia hanya menyimpan nama Julian dalam ingatan. Dari percakapan orang-orang di dekatnya, ia mengetahui pemuda itu bekerja membantu di salah satu warung sekitar. Sikapnya yang berani tetapi tidak suka mencari perhatian meninggalkan kesan baik.
Kendaraan pesanan Karina tiba beberapa menit kemudian. Ia masuk dengan hati-hati agar tidak membebani kaki kanan, lalu meninggalkan gang ketika Natasha masih berbicara dengan Julian di dekat gerobak.
Tak lama setelah itu, salah satu rekaman diunggah ke TikTok. Keterangan videonya berbunyi, `Cowok baik hati lawan preman demi cewek asing.` Dalam waktu satu jam, jumlah penonton terus berlipat. Komentar dipenuhi pertanyaan tentang pemuda berkaus putih yang tetap tenang saat semua orang mundur.
Menjelang malam, potongan wajah Julian mulai tersebar ke platform lain. Akun gosip lokal mengunggah ulang rekaman dari sudut berbeda, sementara warganet berusaha mencari warung tempatnya bekerja. Sebelum tengah malam, jumlah tontonan video pertama akan menembus satu juta, jauh lebih cepat daripada dugaan orang yang merekamnya.
Karina belum mengetahui semua itu ketika tiba di Kediaman Wijaya. Setelah mandi dan mengganti perban elastis, ia turun ke ruang keluarga. Nathan dan Lucas sedang menyusun balok di atas karpet, sedangkan Sebastian membaca laporan di sofa.
Lucas pertama kali melihat langkahnya. "Mama jalannya pelan."
"Cuma sedikit terkilir. Sudah dikompres dan nggak parah."
Sebastian langsung menurunkan laporan. Tatapannya berpindah ke pergelangan kaki Karina, tetapi Karina lebih dahulu duduk agar ia tidak berdiri memeriksa di depan anak-anak.
"Aku tadi juga lihat kejadian seru," katanya, lalu menceritakan pertengkaran di gang dan cara Julian melindungi perempuan yang diserang.
Nathan berhenti menyusun balok. "Dia berani karena ada polisi?"
"Dia maju sebelum polisi datang, tapi dia nggak memukul sembarangan. Yang paling penting, orang dewasa sudah menelepon polisi lebih dulu. Kalian jangan pernah ikut berkelahi sendiri, ya."
Kedua anak itu mengangguk.
Karina bersandar sambil mengingat wajah Julian yang direkam banyak ponsel. "Kayaknya videonya bakal viral, deh. Abangnya ganteng juga."
Sebastian yang hendak mengambil laporan berhenti bergerak.
Karina mengucapkannya seperti orang yang bukan sekadar menebak. Nada itu terdengar ringan, tetapi keyakinannya terlalu utuh. Sebastian teringat pada perbedaan-perbedaan kecil yang selama ini ia kumpulkan, dari selera makanan sampai pengetahuan yang seharusnya tidak dimiliki Karina.
Ia menatap Karina dengan sorot penuh pertimbangan, tetapi tidak mengatakan apa pun.