Rian Prasetyo dapat sistem gila: rugi = uang pribadi.
Masalahnya, setiap kali dia mencoba bangkrut, bisnisnya malah meledak sukses. Gaji karyawan selangit? Mereka jadi super loyal. Jual murah-murah? Pelanggan membludak.
Bikin game asal? Jadi bestseller dunia. Semua orang yakin dia jenius. Padahal dia cuma mau rugi.
Dari sarjana pengangguran dengan Rp 15.000 di kantong, Rian terpaksa menjadi bos konglomerat terkaya se-Indonesia — dan dia BENCI setiap rupiahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 021: Penutupan
Pagi itu, kantor kecil di belakang Garuda Mart terasa lebih sempit dari biasanya.
Di luar, segel merah masih menempel di pintu utama. Pelanggan yang belum tahu keadaan beberapa kali datang, membaca tulisan penghentian operasional, lalu pergi dengan wajah kecewa. Beberapa ibu-ibu sempat berdiri lama di depan kaca, seperti berharap pintu itu tiba-tiba terbuka.
Di dalam, meja rapat dipenuhi map.
Surat penutupan dari dinas.
Sertifikat keselamatan kebakaran lama.
Daftar cabang yang disegel.
Daftar karyawan.
Estimasi biaya gaji jika toko berhenti beroperasi.
Rian Prasetyo duduk di kepala meja. Wajahnya tampak berat. Darmawan duduk di sisi kanan, bibirnya kering dan matanya merah. Bagas Wicaksono duduk di sisi kiri, sejak tadi tidak banyak bicara. Putri Larasati hadir dengan plester tipis di dekat bibirnya, memegang laptop untuk mencatat keputusan rapat. Hendro berdiri di dekat pintu, diam seperti bayangan.
Di layar laptop Rian, angka-angka berbaris.
Jika semua toko tetap tutup tetapi gaji berjalan, arus kas akan terbakar.
Jika kontrak sewa dihentikan lebih cepat, ada penalti.
Jika stok dijual cepat, ada potensi rugi besar.
Jika semua karyawan diberi pesangon N+3, angka yang muncul membuat napas akuntan mana pun tersendat.
Rian menatap angka itu.
Dalam hatinya, ada satu suara kecil yang hampir berteriak bahagia.
Ini dia.
Ini baru namanya rugi.
Selama ini ia membuka toko rusak, malah ramai. Membayar gaji tinggi, malah loyalitas meledak. Membuka restoran mahal, malah viral. Masuk Jakarta, malah disambut investor. Membeli saham jelek, malah dijuluki Dewa Saham.
Sekarang, akhirnya, ada alasan yang tidak bisa dibantah.
Kepala dinas menekan.
Toko disegel.
Operasional berhenti.
Karyawan harus diberi kompensasi besar.
Kerugian ratusan miliar rupiah bisa terjadi dengan wajah resmi, dengan stempel, dan dengan simpati publik.
Suharto...
Untuk pertama kalinya, Rian hampir ingin mengucapkan terima kasih.
Tentu saja wajahnya tidak boleh menunjukkan itu.
Ia mengangkat kepala. "Kita mulai."
Putri menegakkan punggung, jari siap di atas keyboard.
Rian melihat semua orang satu per satu.
"Kepala Dinas Suharto sudah menggunakan kewenangannya untuk menghentikan operasional kita di Kota Tanjung Emas. Secara hukum, kita bisa menggugat. Secara administratif, kita bisa mengajukan keberatan. Secara bukti, kita punya banyak bahan."
Darmawan langsung berkata, "Kalau begitu kita lawan, Pak Bos. Saya siap urus semua dokumen. Karyawan juga siap menunggu."
Rian mengangguk pelan.
"Saya tahu."
Ia berhenti sebentar, memasang ekspresi paling berat yang bisa ia kumpulkan.
"Tapi saya tidak mau ribuan orang menggantungkan hidup pada pintu toko yang setiap hari bisa disegel lagi. Saya tidak mau kalian datang bekerja dengan rasa takut ada petugas datang membawa surat baru."
Ruangan sunyi.
Bagas menatapnya. "Bos, maksud lu..."
Rian menarik napas.
"Saya memutuskan untuk menutup seluruh operasional ritel dan F&B Garuda Emas untuk sementara waktu."
Jari Putri berhenti di keyboard.
Darmawan seperti lupa cara bernapas.
"Pak Bos..." Suaranya parau. "Seluruh operasional?"
"Garuda Mart. Restoran Rasa Nusantara. Es Madu Kopi yang berada di bawah koordinasi kita. Semua cabang yang bisa terdampak tekanan izin di Kota Tanjung Emas akan ditutup."
"Termasuk Garuda Mart pertama?" tanya Darmawan.
Rian menatapnya.
"Termasuk Garuda Mart pertama."
Wajah Darmawan memucat.
Tempat itu punya arti lebih besar dari toko biasa. Garuda Mart pertama adalah tempat ia kembali merasa berguna setelah lama hidup sebagai manajer toko yang hanya diperintah memotong biaya. Di tempat itu, ia melihat karyawan makan siang tanpa takut dimarahi. Di tempat itu, orang-orang kecil merasa dilayani seperti manusia.
Bagas menunduk. Bahunya bergerak pelan.
Rian meliriknya dan terkejut.
Bagas menangis.
Bukan tangisan dramatis. Hanya air mata yang diam-diam jatuh ke pipi, lalu cepat-cepat diseka dengan punggung tangan.
"Gila," gumam Bagas. "Gue tahu ini mungkin keputusan bisnis, tapi... tempat itu banyak banget artinya, Bos."
Rian merasa dadanya sedikit sesak.
Ia ingin berkata, Maaf, Gas, justru karena tempat itu berarti, kerugiannya makin besar.
Tapi tentu saja ia tidak bisa.
"Karena tempat ini berarti," kata Rian dengan suara rendah, "kita tidak akan menutupnya dengan cara hina."
Darmawan mengangkat kepala.
Rian mendorong satu map ke tengah meja.
"Semua karyawan yang terdampak akan menerima pesangon N+3. Rumusnya: gaji bulanan dikali masa kerja dalam tahun, ditambah tiga bulan. Untuk yang masa kerjanya belum genap setahun, tetap dihitung minimal satu tahun. BPJS dan hak administratif diselesaikan penuh. Sisa cuti dibayar. Tidak ada orang yang pulang dengan tangan kosong."
Putri mengetik perlahan, tapi matanya mulai berkaca-kaca.
"Pak," katanya pelan, "itu jumlahnya sangat besar."
Dalam hati Rian bersorak.
Benar, Putri. Sangat besar. Ulangi lagi kalau perlu.
Di luar, wajahnya tetap muram.
"Uang bisa dicari lagi. Martabat orang tidak boleh dipermainkan."
Kalimat itu membuat Darmawan menutup wajahnya dengan satu tangan.
Ia tidak menangis keras. Tetapi semua orang tahu ia sedang menahan sesuatu.
"Pak Bos," katanya setelah beberapa detik, "kalau ini keputusan Bapak, saya akan jalankan. Tapi izinkan saya mengatakan satu hal."
"Silakan."
"Saya percaya suatu hari Garuda Mart akan buka lagi."
Rian hampir tersedak.
Jangan, Mas. Jangan percaya terlalu kuat.
Namun ia hanya mengangguk. "Kita lihat nanti."
Putri menyelesaikan notulen. Rian menandatangani dokumen penutupan operasional. Tanda tangannya bergerak pelan, penuh beban.
Padahal di dalam kepalanya, kembang api sedang meledak.
Dokumen itu kemudian dikirim ke seluruh manajer cabang melalui sistem internal.
Dalam waktu kurang dari tiga puluh menit, pesan itu sampai ke semua toko.
Di Restoran Rasa Nusantara, para koki berdiri diam di dapur yang masih harum bumbu. Salah satu dari mereka membuka loker, melihat seragam bersihnya, lalu menutupnya kembali. Putri yang kembali ke restoran untuk menyampaikan arahan hanya berkata, "Pak Bos memastikan semua hak kita dibayar." Setelah itu, beberapa pelayan langsung memeluk satu sama lain.
Di cabang Es Madu Kopi dekat kampus, barista-barista muda membaca pengumuman di layar kasir. Seorang pegawai yang baru dua bulan bekerja duduk di lantai belakang sambil menelepon ibunya.
"Bu, tokonya tutup. Tapi Bos bilang pesangon tetap ada. Iya, Bu. Banyak. Jangan khawatir dulu."
Di depan Garuda Mart, karyawan gudang berdiri di samping troli kosong. Tidak ada pelanggan, tidak ada bunyi kasir, tidak ada suara Darmawan memberi instruksi. Hanya ada angin yang menggerakkan plastik segel di pintu.
Seseorang mengambil foto.
Lalu foto itu masuk ke media sosial.
Awalnya hanya satu unggahan.
Garuda Mart ditutup. Katanya semua karyawan diberi pesangon besar. Ini toko yang dulu bantu warga waktu kebakaran Makmur Mart.
Lalu unggahan lain muncul.
Restoran Rasa Nusantara juga tutup. Mbak Putri yang pernah viral sampai nangis waktu baca pengumuman.
Lalu unggahan lain.
Es Madu Kopi dekat kampus tutup karena izin. Padahal selama ini tempat paling murah buat mahasiswa nongkrong.
Sementara itu, Rian menutup pintu kantornya.
Akhirnya ia sendirian.
Ia menghela napas panjang, lalu membuka sistem panel yang hanya bisa ia lihat.
Cahaya biru muncul di udara.
[Siklus 4 sedang berjalan.]
[Estimasi dampak keputusan operasional terbaru sedang dihitung...]
Angka-angka mulai bergerak.
Penutupan cabang.
Pesangon N+3.
Penalti sewa.
Diskon likuidasi stok.
Biaya administrasi dan hukum.
Total estimasi kerugian melonjak seperti lift yang talinya putus.
Puluhan miliar.
Ratusan miliar.
Angka itu terus naik sampai Rian hampir ingin berdiri dan memberi hormat kepada Suharto dari kejauhan.
"Kepala Dinas Suharto," bisik Rian, bibirnya perlahan melengkung, "terima kasih."
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia melihat masa depan yang cerah.
Masa depan yang gelap bagi laporan keuangan.
Indah sekali.
Ponselnya bergetar.
Rian masih tersenyum ketika mengambilnya.
Lalu senyum itu membeku.
Di layar, Bagas mengirim tautan berita disertai pesan pendek.
Bos, lu harus lihat ini sekarang.
Rian membuka tautan.
Di halaman utama media sosial, satu tagar naik dengan kecepatan mengerikan.
#SelamatkanGarudaEmas
Peringkat pertama.
Rian menatap layar, dan untuk sesaat, sistem panel biru di depannya terasa seperti sedang menertawakannya.