Ribuan tahun sebelum dunia belum mengenal sekte atau Aliran Putih. Era ini adalah Zaman Kekacauan Primordial, di mana dunia dikuasai oleh ras "Keturunan Dewa" tiran yang memperbudak manusia biasa.
Ye Cangtian, seorang budak rendahan yang terlahir dengan meridian cacat bawaan, secara tidak sengaja menemukan inti meteorit purba di tambang kematian. Alih-alih tunduk pada nasib, ia mematahkan aturan langit. Ia menciptakan sistem kultivasi dari nol untuk umat manusia, memimpin pemberontakan terbesar dalam sejarah, dan berperang untuk menyatukan benua.
Namun, perjalanannya tidak berujung pada kebahagiaan abadi. Ia harus menghadapi pengkhianatan sahabatnya sendiri yang kelak melahirkan kutukan "Bayangan Gerhana", serta menciptakan sebuah makam rahasia dan pusaka "Mahkota Kehampaan" sebagai jaminan bagi generasi ribuan tahun di masa depan. Ini adalah kisah tentang bagaimana manusia pertama menjadi Dewa, dan dewa itu mati demi manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 : Kebebasan Pertama
Kepala Xie Tu lepas dari genggaman Ye Cangtian. Menggelinding di atas tanah berdebu, meninggalkan jejak darah kebiruan, lalu berhenti tepat di depan tumpukan belenggu besi.
Sorak-sorai puluhan ribu budak masih menggetarkan dinding kawah. Kemenangan pertama manusia fana. Pembalasan atas darah dan air mata berabad-abad.
Tapi bagi Ye Cangtian, dunia tiba-tiba berputar.
Efek memaksakan terobosan ke Tingkat 2 di ambang kematian akhirnya menagih bayarannya. Uap panas yang tadi menyelimuti tubuhnya menguap seketika. Rasa sakit ribuan kali lebih menyengat meledak di seluruh sarafnya. Tulang rusuk yang remuk menusuk organ dalam tiap kali ia narik napas.
Kakinya kehilangan tenaga dan akhirnya Ia terhuyung ke depan.
Sebelum jatuh, sepasang tangan renta menangkap bahunya. Paman Lu. Diikuti Xing Yun yang menopang sisi kirinya.
"Kau gila," bisik Xing Yun, matanya di balik kacamata retak menatap dengan campuran kagum dan ngeri. "Gak ada manusia fana yang bisa menahan kerusakan kayak gitu dan masih bisa berdiri. Kau terbuat dari apa?"
Cangtian batuk dan memuntahkan darah hitam. Ia cuman tersenyum tipis.
"Cari kain bersih dan air! Rawat lukanya!" teriak Paman Lu panik.
Beberapa budak maju, tapi Xing Yun tiba-tiba melepas pegangannya, mengambil pedang perak dari tanah, lalu memukul mata pedang ke tameng baja dengan keras.
Trangg! Trangg!
Suara nyaring itu membelah sorak-sorai. Ribuan pasang mata menoleh.
"Diam kalian semua!" raung Xing Yun.
"Apa maksudmu?!" geram budak kekar. "Kita baru menang! Dewa-dewa itu sudah mati! Tambang ini milik kita!"
"Menang?" Xing Yun ketawa keras. Ia melompat naik ke gerobak batu yang terbalik. "Kalian pikir tambang kotor ini satu-satunya wilayah mereka? Kalian pikir Kerajaan Surga Tiran cuma punya lima puluh pengawal dan satu Kepala Pengawas?"
Keheningan mulai merayap. Beberapa budak mulai paham.
Xing Yun menunjuk mayat Xie Tu. "Perwira pangkat tinggi kayak dia punya Jimat Jiwa. Batu giok yang nyambung langsung ke detak jantungnya, disimpan di aula ibu kota. Pada saat kepalanya terputus tadi, jimat itu pasti hancur berkeping-keping di ibu kota."
Ia menyapu lautan manusia yang kini pucat.
"Mereka sudah tahu Xie Tu mati. Saat ini Pasukan dewa pasti lagi naik kereta perang terbang. Kurang dari satu jam, ribuan prajurit elite pasti bakal bombardir kawah ini dari langit sampai tidak ada debu yang tersisa."
Kepanikan meledak.
"Tidak mungkin..."
"Kita semua bakal mati!"
"Sembunyi di Lorong Hitam! Mereka gak bakal nemu kita di sana!" teriak beberapa orang, lari ke mulut terowongan.
"Jangan ke sana!" bentak Xing Yun. "Sembunyi di tambang sama aja menggali kuburan sendiri! Mereka tinggal meruntuhkan tebing kawah ini, kita pasti akan terkubur hidup-hidup!"
"Lalu harus gimana?!" teriak Paman Lu, air matanya kembali menggenang. "Tetap di sini kita mati! Sembunyi juga mati! Kita tidak bisa terbang!"
Xing Yun menunjuk Gerbang Kawah yang sudah hancur. Di baliknya hamparan gelap tak berujung.
"Cuma ada satu jalan. Kita harus keluar dari Gunung Darah dan masuk ke Gurun Kematian."
Dengar nama itu, banyak budak langsung lemas terduduk.
Gurun Kematian adalah hamparan beku di perbatasan utara yang tidak pernah kena matahari. Suhu bisa membekukan darah dalam hitungan menit. itu adalah wilayah monster purba. Tidak ada jalan, tidak ada makanan dan juga tidak ada harapan.
"Kau nyuruh kami masuk mulut monster..." isak seorang budak wanita. "Mending aku mati di sini daripada dicabik monster di sana."
Bisik-bisik setuju mulai terdengar. Puluhan ribu budak saat ini kehilangan arah. Mental mereka yang tertanam puluhan tahun bikin mereka lebih memilih untuk menunggu mati daripada cari jalan di alam liar.
Xing Yun menggeram frustrasi. Dia pintar, tapi dia tahu dia tidak punya wibawa untuk menggerakkan ribuan manusia yang putus asa ini.
Saat itu, tangan penuh darah kering mencengkeram pundaknya.
Ye Cangtian melangkah maju. Ia menggeser Xing Yun dengan lembut. Menggunakan sisa Qi terakhir di Dantiannya, ia tekan rasa sakit itu di dadanya.
Meski lemah karena luka parah, tekanan itu cukup untuk membungkam isak tangis.
"Dengarkan aku."
Suara Cangtian tidak keras, tapi bergema di tiap sudut kawah.
"Sejak hari pertama lahir di lubang kotor ini, mereka bilang kita babi. Anjing. Tugas kita cuma gali batu sampai tulang hancur, lalu dibuang ke tungku."
Ia menatap Paman Lu, lalu menyapu ribuan wajah kotor di depannya.
"Malam ini, dengan darah di tanganku, aku buktiin hukum itu omong kosong. Darah mereka biru, tapi tetap bisa tumpah. Mereka bisa berdarah. Mereka bisa dibunuh."
Cangtian mengangkat alat tambangnya yang patah.
"Aku menolak mati di tempat ini sebagai hewan ternak. Kalau takdir manusia memang harus punah malam ini... biarlah kita punah di alam bebas sebagai manusia yang bebas. Siapa yang masih punya harga diri, angkat senjata, dan ikut aku."
Kata-katanya tidak puitis, tapi menghantam langsung ke jiwa ribuan manusia, Bara yang hampir padam karena panik, kembali menyala.
Paman Lu mengusap air matanya, menggertakkan giginya dan memungut kapak batunya. "Aku ikut!"
"Aku juga!"
"Lebih baik mati di gurun daripada menjadi hewan ternak!"
Raungan kebebasan meledak lagi. Rasa putus asa berubah menjadi tekad bertahan hidup yang mengerikan.
Xing Yun menghela napas lega. Ia menatap punggung Cangtian dengan seringai puas. Otot dan karisma. Sempurna. Otakku butuh pisau yang tajam, dan pemuda ini adalah pisau paling tajam yang pernah diciptakan langit.
"Waktu kita tidak banyak! Tiga puluh menit!" teriak Xing Yun, langsung ambil alih komando.
"Kelompok pertama, serbu gudang senjata! Jarah semua zirah, tombak, pedang! Kelompok kedua, kosongkan gudang pangan! Ambil daging asap, air, obat-obatan! Sisanya, lepaskan rantai di kaki kalian! Jangan tinggalin satu pun barang berharga buat bajingan bersayap itu!"
Puluhan ribu budak bergerak dengan kecepatan luar biasa. Gudang perbekalan dan senjata dikosongkan dalam kurang dari lima belas menit. Rantai belenggu yang mengikat kaki mereka puluhan tahun berhasil dipatahkan pakai senjata perak rampasan.
Banyak yang kini pakai zirah perak milik pengawal dewa. Meski kebesaran, zirah itu pelindung berharga dari dinginnya Gurun Kematian. Cangtian menolak pakai zirah, beban berat cuma bakal memperparah luka rusuknya. Ia cuma pakai jubah kain tebal hasil jarahan, dan bawa dua pedang perak di pinggang, menggantikan alat tambang nya yang patah.
Tepat di menit ketiga puluh, gerbang kayu raksasa Gunung Darah terbuka lebar.
Di bawah langit malam tanpa bintang, diterangi cahaya bulan yang pucat dan dingin, barisan puluhan ribu manusia melangkah keluar dari kawah. Kebebasan massal pertama dalam sejarah dunia dimulai.
Satu jam kemudian.
Barisan terdepan yang dipimpin Cangtian dan Xing Yun sudah sekitar lima kilometer dari Gunung Darah, mulai masuk hamparan pasir beku Gurun Kematian. Udara anjlok seketika, napas membeku jadi embun putih.
Tiba-tiba, gemuruh hebat menggetarkan langit malam.
Seluruh barisan berhenti. Cangtian dan Xing Yun menoleh ke belakang, menatap siluet Gunung Darah di kejauhan.
Awan hitam di atas kawah menyala merah darah. Puluhan kapal raksasa melayang di udara, ditarik binatang terbang mirip naga, menutupi bulan. Dari atas kapal itu, ratusan pilar cahaya panas ditembakkan seperti hujan meteor langsung ke dasar kawah.
Bummm! Bummm!
Gunung Darah meledak. Seluruh fasilitas tambang, barak budak, dan tebing kawah diratakan dalam hitungan detik. Kekuatan destruktif Pasukan dewa melampaui imajinasi. Kalau barisan budak itu telat setengah jam saja, mereka semua sudah jadi abu.
Xing Yun meneguk ludahnya, keringat dingin membasahi punggungnya dan ia menoleh ke Cangtian.
Pemuda berjubah tebal itu menatap kehancuran Gunung Darah tanpa ekspresi. Angin dingin meniup rambut panjangnya. Dingin di matanya memberitahu Xing Yun satu hal: ini bukan akhir penderitaan. Ini cuma awal dari perang yang akan membakar seluruh dunia.
"Ayo jalan," perintah Cangtian serak, membalikkan badan menghadap kegelapan Gurun Kematian. "Perjalanan kita masih panjang."