Sinopsis:
Lima belas tahun setelah perpisahan yang dipenuhi salah paham, Helena kembali bertemu dengan Arthur Fernando, mantan suami yang tak pernah berhenti mencarinya. Di balik perceraian mereka, tersimpan konspirasi musuh yang ingin menghancurkan klan Fernando. Kini, saat kebenaran terungkap, Arthur bertekad merebut kembali Helena, meski harus menjadikannya tawanan cinta yang tak pernah padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Pertemuan yang Tak Terduga
Helena menarik napas panjang, menatap langit-langit kamar hotel berbintang lima yang megah. Lampu kristal di atasnya berkilau, memantulkan cahaya hangat yang seharusnya menenangkan. Tapi kenyataannya, dadanya justru terasa sesak. Jakarta. Kota yang selama lima belas tahun terakhir dia usahakan untuk dihindari.
Bukan karena kotanya yang buruk. Tapi karena kota ini menyimpan terlalu banyak ingatan. Tawa, air mata, dan sebuah nama yang mengunci hatinya rapat-rapat: Arthur Fernando.
"Hel, kamu yakin nggak mau ikut turun ke lobby dulu? Minum kopi dulu sebelum meeting?" suara Dinda, sahabat sekaligus rekan kerjanya, memecah lamunan.
Helena menoleh, tersenyum tipis. "Nggak usah, Din. Aku mau rapikan dokumen dulu. Kalian duluan aja."
"Oke, jangan telat ya. Bos besar perusahaan calon klien kita katanya tipe orang yang sangat disiplin waktu," sahut Rangga, manajer keuangan timnya.
Helena mengangguk. Dia dan tiga temannya—Dinda, Rangga, dan Andi—sedang berada di Jakarta untuk sebuah negosiasi besar. Perusahaan milik keluarganya di Bandung, yang bergerak di bidang properti, tengah berusaha menjalin kerja sama dengan salah satu pengembang raksasa di ibu kota. Ini adalah kesempatan emas, proyek yang sudah mereka perjuangkan selama enam bulan terakhir.
Helena kembali menatap layar laptopnya, tapi matanya tak benar-benar fokus pada angka-angka di laporan keuangan. Di kepalanya, hanya ada satu kekhawatiran besar.
Jakarta bukan hanya rumah masa lalunya. Jakarta adalah markas besar Fernando Group. Dan Arthur Fernando, mantan suaminya, adalah putra mahkota di perusahaan itu.
"Konspirasi. Musuh. Sialan..." Helena bergumam pelan, mengingat kembali masa lalu. Lima belas tahun lalu, perceraian mereka tidak terjadi begitu saja. Ada tangan-tangan kotor yang sengaja mengadu domba, memfitnahnya agar keluarga Fernando mengusirnya. Saat itu Helena hanyalah gadis biasa, tidak punya daya untuk melawan keluarga konglomerat tersebut. Dia memilih pergi, membawa luka dan rahasia yang sangat dalam.
Rahasia yang bahkan Arthur sendiri tidak tahu. Dan rahasia itulah yang paling dia takuti jika suatu hari nanti terungkap.
Pukul 10.00 pagi, tim Helena memasuki ruang meeting di lantai 27 gedung pencakar langit di kawasan SCBD. Ruangan itu luas, berbalut kayu jati dan kaca, memancarkan aura kemewahan yang mencekik. Helena mengenakan blazer krem yang dipadu dengan rok pensil hitam. Riasannya tipis tapi tegas. Profesionalisme adalah tameng terbaiknya hari ini.
Di ujung ruangan, kursi utama masih kosong. Tapi di sepanjang meja, sudah duduk beberapa eksekutif muda dari pihak lawan. Helana dan timnya duduk di sisi berseberangan. Andi dan Rangga mulai mengeluarkan proposal-proposal, sementara Dinda menyiapkan slide presentasi.
"Mohon tunggu sebentar, Pak Dirut akan segera datang," ujar sekretaris yang mengantar mereka masuk.
Helena mengangguk. Jari-jarinya sedikit gemetar di bawah meja, tapi dia berusaha keras memasang wajah tenang. Dia menyibukkan diri membuka buku catatan, menyusun poin-poin negosiasi.
Pintu ruangan terbuka.
Bunyi sepatu kulit pria menghantam lantai marmer dengan langkah kaki yang tegap. Helena mengangkat wajahnya, siap menyambut calon kliennya dengan senyuman paling ramah.
Senyuman itu langsung membeku di wajahnya.
Sosok yang melangkah masuk adalah pria dengan tinggi di atas rata-rata, jas hitam rapi yang membalut bahu lebar, dan rahang tegas yang belum berubah sedikit pun. Rambut hitamnya disisihkan rapi ke samping, masih menyisakan beberapa helai uban di pelipis yang membuatnya tampak semakin dewasa dan berwibawa. Matanya yang tajam—sepasang mata hitam pekat yang dulu sering menatapnya dengan penuh cinta—sekarang menatap lurus ke arahnya.
Arthur Fernando.
Dunia Helena serasa berhenti. Suara bising AC ruangan seolah lenyap. Yang dia dengar hanya degup jantungnya sendiri yang berdebar kencang, membentur tulang rusuknya seolah ingin keluar.
Arthur berhenti tepat di kursi kepalanya. Matanya menatap Helena, sesaat. Lalu dia tersenyum. Sebuah senyuman tipis yang sangat sulit dibaca. Bisa jadi itu senyuman profesional, atau mungkin senyuman penuh arti yang hanya mereka berdua yang paham.
"Selamat pagi, semuanya," suara baritonnya memecah keheningan, membuat seluruh ruangan kembali berdenyut. Arthur duduk, membuka map di depannya, dan menatap tim Helena. "Maaf saya terlambat beberapa menit, ada panggilan darurat dari cabang luar negeri."
Helena menelan ludah. Beruntungnya, Dinda menyodok lengannya dari bawah meja, mengingatkannya untuk tidak membeku. Helena mengambil napas panjang, lalu menguatkan hatinya.
"Selamat pagi, Pak Arthur. Saya Helena, mewakili tim dari Griya Lestari Group," ucap Helena, suaranya berhasil terdengar datar dan profesional, seolah dia baru pertama kali bertemu dengan pria di depannya. "Terima kasih atas waktu dan kesempatannya."
Arthur mengangguk, matanya masih tertuju padanya sejenak sebelum beralih ke layar proyektor. "Baik, silakan langsung masuk ke inti presentasi. Kami sudah membaca sekilas proposal tim Anda, cukup menarik. Saya ingin mendengar konsep green living yang Anda tawarkan."
Ruang meeting pun bergulir. Helena dan timnya memaparkan rencana pengembangan kawasan hunian ramah lingkungan. Helena berbicara lantang, menguasai data, dan sesekali memberi kode pada Andi untuk mengganti slide. Dia menjaga gestur tubuhnya tetap terbuka dan penuh percaya diri.
Namun, di setiap selanya, Helena bisa merasakan tatapan Arthur membidiknya. Bukan tatapan sinis, tapi tatapan seorang pria yang sedang mengamati dengan sangat, sangat serius.
Di sesi tanya jawab, Arthur beberapa kali melontarkan pertanyaan tajam. Helana menjawabnya dengan cerdas dan cepat, membuat Rangga di sebelahnya mengacungkan jempol kecil tanpa sepengetahuan Arthur.
Setelah satu setengah jam, pertemuan selesai. Pihak Arthur terlihat cukup puas. "Tim yang sangat kompeten, Ibu Helena. Kami akan mengkaji ulang angkanya dalam satu minggu ke depan," kata Arthur mengakhiri meeting.
Tim Helena mengemas barang, saling berjabat tangan dengan tim lawan. Helena pun berjabat tangan dengan beberapa staf eksekutif. Nafasnya lega—dia berhasil melewati badai pertama.
Sampai Arthur berjalan mendekatinya.
"Helena."
Hanya namanya. Dipanggil tanpa gelar, tanpa embel-embel Ibu, tanpa formalitas. Suara itu membuat bulu kuduknya merinding. Dia menengadah, menatap Arthur yang sudah berada tepat di depannya. Jarak mereka tidak lebih dari setengah meter.
"Saya pikir kita sudah selesai untuk hari ini, Pak Arthur," kata Helena, mencoba menjaga jarak dengan menjaga formalitas.
Arthur tidak peduli. Dia menunduk, nada suaranya rendah dan hanya terdengar oleh Helena. "Kamu masih secantik dulu, Hel. Cuma tatapan matamu yang sekarang jauh lebih tajam."
Helena mengepalkan tangannya di balik blazer. Dia menolak untuk terpengaruh. "Kita sama-sama sudah dewasa, Pak Arthur. Luka lama lebih baik dibiarkan mengering. Saya di sini hanya untuk pekerjaan."
"Pekerjaan?" Arthur tertawa kecil, dan tawa itu terasa menggelitik saraf Helena. "Baik. Untuk urusan pekerjaan, saya akui timmu hebat." Dia berhenti, matanya seolah menelanjangi Helena. "Tapi untuk urusan pribadi? Tunggu saja."
Helena membelalak. Sebelum dia sempat membalas, Arthur sudah melenggang pergi meninggalkan ruangan, meninggalkan aroma parfum mahal yang masih menguar di sekeliling Helena.
Helena akhirnya menghembuskan napas panjang saat pintu meeting tertutup. Dinda langsung menarik lengannya.
"Hel, ngomong-ngomong, pak Direktur itu... kenapa tatapannya kayak mau mencabut nyawa lo? Dan kenapa dia manggil lo 'Hel'?" bisik Dinda, matanya berbinar-binar penuh tanda tanya.
Helena tersenyum pahit. Dia menatap bayangannya sendiri di permukaan meja kaca yang mengkilap.
Kekhawatirannya yang paling besar kini mulai menjadi kenyataan. Arthur tahu dia ada di sini. Dan dari tatapan Arthur tadi, Helena tahu mantan suaminya itu tidak berniat membiarkannya pergi begitu saja.
Helena mengangkat wajah, berusaha menenangkan diri. "Nggak ada apa-apa, Din. Mungkin dia cuma mode bossy aja."
Tapi dalam hati, Helena berteriak. Dia takut. Bukan hanya karena hati kecilnya yang masih bergetar melihat wajah Arthur, tapi juga karena rahasia yang dia sembunyikan selama lima belas tahun—rahasia tentang alasan sebenarnya dia pergi—kini terancam terbongkar. Dan jika Arthur tahu, cinta lama itu bisa berubah menjadi kebencian yang menghancurkan.