Bima hanyalah satpam bergaji kecil di apartemen mewah Surabaya. Ia diremehkan preman, diinjak atasan, dan dipandang rendah penghuni kaya. Tak ada yang tahu, pria ini dulunya Sang Raja Serigala, pemimpin tentara bayaran legendaris, pewaris Aji Surya Candra, serta pemilik rahasia yang bisa mengguncang kota.
Kembali ke tanah air untuk menepati janji melindungi kerabat rekan seperjuangan yang gugur, Bima bersembunyi sebagai satpam dan menanggung segala hinaan. Musuhnya datang beruntun: korlap satpam, konglomerat pengirim pembunuh, hingga Padepokan Giri Wesi. Ia menumbangkan lawan di ring maut Sayembara Pedang Emas, membongkar konspirasi Kelab Arwah, dan mencapai puncak ilmu silat Manunggal.
Di sisinya berkumpul berbagai wanita: janda anggun, polisi cantik keturunan jenderal, direktur muda, dan pesilat wanita misterius. Cinta, dendam, kuasa dan rahasia saling bertaut.
Mereka memerintahnya berlutut. Bima membuat semua orang mendongak kepadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28: Utang Lama di Pagi Hari
Dua hari setelah duel, Bima sarapan di rumah Anindya.
Bahu kirinya masih menyisakan nyeri ringan, tetapi memar tidak memburuk. Ia datang dari kos dengan Toyota Corona yang pendingin udaranya mati lagi, membawa roti dan berniat hanya mampir sebentar sebelum bekerja.
Anindya justru menyiapkan nasi goreng, telur, dan teh hangat.
"Kamu terlalu banyak memasak," kata Bima.
"Kamu terlalu banyak hampir mati. Anggap impas."
Kehangatan itu membuat Bima tidak nyaman dengan cara yang tidak bisa diselesaikan lewat pukulan. Semalam ia memikirkan pelukan, kecupan di pipi, dan tatapan Anindya di arena. Ia takut berubah menjadi sandaran yang suatu hari kembali hilang dan meninggalkan luka baru untuk Anindya serta Sasa.
Karena itu ia duduk sedikit lebih jauh.
Anindya langsung menyadarinya. "Kenapa seperti tamu?"
"Supaya tidak diminta mencuci piring."
"Alasan buruk."
Sebelum percakapan menjadi lebih serius, bel pintu berbunyi panjang.
Sasa sudah berangkat sekolah dan akan dijemput pengasuh, sehingga Anindya tidak khawatir anaknya melihat pertengkaran. Namun ketika ia membuka pintu, wajahnya tetap menegang.
Bu Rukmini berdiri bersama Yulia.
Bu Rukmini adalah ibu Reno. Yulia, adik Reno, mengenakan blus terang dan membawa tas besar. Keduanya masuk tanpa menunggu undangan.
"Kamu enak sarapan," kata Bu Rukmini. "Reno berobat karena pergelangannya patah. Biayanya siapa yang bayar?"
"Reno datang membawa penagih utang dan mengancam saya," jawab Anindya. "Saya tidak punya kewajiban membayar akibat tindakannya sendiri."
Yulia melihat Bima. "Ini laki-laki yang memukuli Mas Reno?"
Bima menyalakan perekam di ponselnya dan meletakkannya di meja dengan layar terlihat. "Percakapan ini direkam. Kalau ada tuntutan biaya, kirimkan melalui kuasa hukum dengan bukti medis dan dasar tanggung jawab. Jangan datang mengancam di rumah."
"Kamu siapa ikut urusan keluarga kami?" bentak Bu Rukmini.
Bima berdiri di samping Anindya. "Saya suami sahnya."
Anindya menoleh begitu cepat sampai hampir tersedak napas. Ia tahu itu gertakan, tetapi warna merah tetap naik ke wajahnya.
Bu Rukmini juga terkejut. "Dia belum menikah lagi!"
"Berarti Ibu tahu status hukumnya dan tahu mantan suami tidak bisa menagih biaya kepada mantan istri seenaknya."
Yulia mendekat. "Jangan sok pintar. Kalau uangnya tidak dibayar, kami akan ceritakan kepada semua tetangga bahwa Anindya menyuruh selingkuhannya memukuli Reno."
"Ancaman itu juga terekam," kata Bima. "Fitnah dan gangguan berulang bisa dibalas somasi serta laporan."
Anindya mengangkat tangan. "Silakan pulang."
Yulia menamparnya.
Plak!
Kepala Anindya berpaling. Sebelum Yulia menarik tangan, kaki Bima bergerak rendah. Tendangan terukur mengenai sisi betis dan pinggul, memutus keseimbangan tanpa menghantam organ vital.
Yulia terjengkang ke dekat teras. Lengannya menggesek sisi pot dan meninggalkan lecet serta memar tipis.
Bu Rukmini menjerit lalu mencoba mencakar wajah Bima. Ia menepis dengan telapak terbuka. Tangan perempuan itu terlempar ke samping dan tubuhnya limbung dua langkah, tanpa jatuh.
"Keluar," kata Bima.
Tidak keras.
Justru itu yang membuat keduanya berhenti.
Yulia bangkit sambil memegangi lengan. "Kalian akan menyesal. Kami bawa ini ke jalur lain!"
"Silakan. Rekaman utuhnya akan ikut."
Bu Rukmini menarik Yulia pergi. Bima menyimpan rekaman ke penyimpanan awan dan mengirim salinannya kepada Anindya. Ia lalu memotret kemerahan di pipi Anindya dengan persetujuannya serta mencatat waktu kejadian.
"Suami sah?" tanya Anindya setelah pintu terkunci.
"Gertakan darurat."
"Nanti kita bahas harga gertakan itu."
Nada suaranya membuat Bima memilih berangkat kerja lebih cepat.
Dalam perjalanan, AC Toyota mati untuk ketiga kalinya. Bima membawa mobil itu kembali ke showroom dan membicarakan tukar tambah. Karena proses balik nama belum selesai dan seluruh rantai dokumen masih dipegang penjual, pembatalan serta pengalihan ke stok showroom dapat dibuat tanpa memalsukan kepemilikan.
Toyota dihargai Rp7,5 juta. Bima memilih Daihatsu Xenia bekas yang lebih muda, kabinnya cukup untuk tugas pengawalan, dan riwayat servisnya bisa diperiksa. Harga setelah negosiasi Rp65 juta. Ia membayar selisih Rp57,5 juta dari rekening bonus, ditambah biaya resmi balik nama dan pajak berjalan yang dicantumkan terpisah.
Ia tidak membeli hanya karena catnya lebih mengilap. Dalam uji jalan, Bima mencoba rem lurus di kecepatan rendah, putaran penuh kemudi, perpindahan gigi, suhu mesin, semua sabuk pengaman, serta bukaan pintu belakang. Ia mengangkat karpet untuk mencari bekas lumpur banjir dan melihat sambungan rangka untuk memastikan tidak ada las kasar akibat tabrakan berat. AC menyala tanpa harus dipukul.
Showroom juga menunjukkan hasil pemeriksaan bengkel rekanan. Bima tetap meminta klausul pengembalian singkat jika nomor mesin atau dokumen terbukti bermasalah saat verifikasi Samsat. Penjual menyetujuinya dalam kuitansi.
Nomor rangka, nomor mesin, BPKB, STNK, dan identitas pemilik cocok. Showroom memberi kuitansi bermeterai serta tanda terima proses balik nama Samsat.
Ketika Xenia itu masuk halaman Larissa, dua satpam bersiul.
Pak Hadi masih menghindari mengangkat bahu terlalu tinggi, tetapi sudah bertugas ringan. Doni kebetulan datang mengantar sisa surat pengalaman kerja Bima dari pengelola lama.
"Bang Bima!" serunya. "Baru pindah kerja, sudah punya mobil keluarga. Aku salah memilih tempat."
"Masuklah. Putar satu kali di halaman bersama Pak Hadi. Jangan keluar gerbang dan jangan menabrak stok kain."
Doni menerima kunci seolah menerima warisan. Pak Hadi duduk di sampingnya untuk mengawasi. Gelak para satpam mengikuti Xenia yang bergerak pelan mengelilingi halaman.
Bima naik ke ruang kerja Vanya dengan kartu akses biasa, bukan kartu BMW.
"Gita pulang ke Bandung pagi tadi bersama Kang Denny," kata Vanya. "Denny masih perlu kontrol leher, dan keluarganya ingin mendengar langsung apa yang terjadi."
Bima mengangguk. "Bu Vanya memanggil saya hanya untuk itu?"
"Om Hartono menelepon." Vanya meletakkan ponsel. "Dia mendengar rumor duel dan menyuruh saya menjaga jarak dari kamu. Katanya orang dengan masalah persilatan akan merusak nama perusahaan."
"Saran yang masuk akal."
"Saya tidak meminta penilaianmu." Tatapan Vanya tegas. "Saya memberitahu bahwa saya menolaknya. Larissa masih berdiri karena kamu menang. Saya tidak akan membuang orang hanya untuk menenangkan kerabat yang tidak punya hak mengatur perusahaan."
Modal jembatan Om Hartono telah lama dikembalikan. Namanya tidak tercatat sebagai pemegang saham, anggota direksi, maupun pihak yang berhak memberi perintah kerja. Vanya meminta semua tekanan berikutnya disampaikan tertulis melalui sekretariat perusahaan agar setiap kalimat memiliki jejak.
"Kalau dia ingin memberi nasihat sebagai keluarga, saya dengarkan," lanjut Vanya. "Kalau dia ingin mengatur Larissa, dia harus menunjukkan hak yang memang tidak dimilikinya."
Bima menatap wajah yang mengingatkannya pada Surya, lalu menundukkan kepala singkat. "Terima kasih, Bu Vanya."
Jauh dari Larissa, di sebuah ruang kerja mewah di Puri Wibawa, telepon genggam bergetar di atas meja kayu jati gelap.
Sebuah tangan terulur dan mengangkatnya.