NovelToon NovelToon
The Doctor’S Darkest Obsession

The Doctor’S Darkest Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Gangster / Dokter
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Satu malam tragis mengubah seluruh hidup Liana. Niat hati ingin menolong seorang pria yang tak berdaya tetapi lelaki itu menutup matanya dan mengambil kesucian liana sebagai satu-satunya jalan keluar. Trauma dan kalut, ia melarikan diri dan berharap takdir tidak akan pernah mempertemukan mereka lagi.
Namun, takdir punya rencana lain. Beberapa bulan kemudian, Liana melangkah ke rumah sakit dengan hati hancur untuk mengakhiri kehamilan yang tak diinginkannya. Di sana, Kenzo melihat wanita yang akan menolongnya malam itu.
Liana tidak tahu bahwa di balik jas putihnya, Kenzo adalah pemimpin geng motor yang disegani dan tak kenal ampun dan lelaki yang telah melakukannya dengannya. Mengetahui Liana mengandung darah dagingnya, Kenzo tidak akan membiarkan wanita itu pergi.
Perburuan pun dimulai—bukan hanya untuk mengklaim anaknya, tapi juga untuk memiliki Liana seutuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Jam dinding di ruang administrasi logistik sudah menunjuk ke angka sebelas malam lewat sedikit.

Liana mengembuskan napas panjang, menyandarkan punggungnya yang terasa kaku ke sandaran kursi plastik.

Bahunya merosot, lelah setelah berjam-jam lembur bagai kuda demi menyelesaikan tumpukan manifes pengiriman yang seolah tidak ada habisnya.

Netranya terasa perih, tetapi ada secercah rasa lega yang menyelusup di dada ketika ia berhasil menyusun map terakhir ke dalam rak. Selesai juga.

Liana bergegas membereskan barang-barangnya ke dalam tas kanvas lusuh miliknya.

Pikiran wanita berusia dua puluh dua tahun itu sudah melompat jauh ke depan: sebuah kasur tipis di kamar kost, keheningan, dan tidur nyenyak tanpa gangguan. Hanya itu yang ia inginkan saat ini.

Setelah berpamitan singkat pada satpam yang berjaga di gerbang depan, Liana menuntun sepeda motor matic-nya keluar.

Malam sudah terlalu larut, dan pilihan terbaiknya adalah lewat jalan pintas—sebuah jalur potong yang melintasi area pergudangan sepi dan temaram.

Jalanan itu memang minim lampu penerangan, tetapi jauh lebih cepat untuk sampai ke area rumah kostnya.

Angin malam berembus menusuk jaket tipis yang dikenakannya.

Jalanan begitu lengang, hanya menyisakan suara deru halus mesin motornya yang membelah keheningan.

Namun, kedamaian di jalan raya tidak bertahan lama.

Brak!!!

Suara benturan keras tiba-kira menggema, memecah kesunyian malam dengan brutal.

Liana spontan mengerem motornya mendadak. Jantungnya mencelos ke dada.

Belum sempat ia mencerna apa yang terjadi, keheningan malam langsung berganti dengan raungan mesin motor berkekuatan besar yang saling bersahutan.

Suaranya memekakkan telinga, berseliweran dari arah persimpangan di depannya. Itu adalah suara khas dari bentrokan geng motor yang sedang bertikai.

Ciaaat!

Klentang!

Suara besi beradu dan teriakan kemarahan terdengar samar dari kejauhan.

Liana mencengkeram stang motornya erat-erat, tubuhnya gemetar parah.

Ia ingin memutar balik, namun rasa takut justru membuatnya terpaku di tempat.

Tidak berselang lama, terdengar suara dentuman keras kedua akibat benturan hebat.

Tak lama kemudian, suara raungan motor-motor besar itu perlahan-lahan menjauh dan menghilang di kegelapan malam, meninggalkan keheningan mencekam yang kembali merayap.

Liana memberanikan diri melajukan motornya pelan, sangat pelan, berniat untuk segera lewat dan pergi dari sana.

Namun, tepat di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip suram beberapa puluh meter di depannya, langkahnya terhenti.

Di sana, sebuah motor sport hitam besar tergeletak dalam kondisi hancur parah.

Asap tipis mengepul dari mesinnya yang terkoyak. Dan yang membuat darah Liana berdesir hebat adalah sesosok tubuh pria yang terkapar tak berdaya di samping reruntuhan motor tersebut.

Pria itu tampak tidak bergerak, separuh tubuhnya tersembunyi di dalam bayang-bayang malam yang pekat.

Detak jantung Liana bergemuruh hebat, seirama dengan denyut ketakutan yang mendadak menguasai seluruh rongga dadanya.

Logikanya berteriak untuk segera memutar gas dan kabur sejauh mungkin.

Namun, melihat tubuh yang terkapar tak berdaya di bawah temaram lampu jalan yang berkedip suram itu, rasa kemanusiaan Liana justru menahan langkahnya.

Dengan tangan gemetar, ia menyandarkan motornya di tepi jalan.

Langkah kakinya terasa sangat berat saat mendekati rongsokan motor sport hitam yang masih mengepulkan asap tipis.

Bau hangus oli dan bensin yang bocor menyengat hidung, berbaur dengan aroma anyir darah yang langsung membuat Liana mual.

"Hal-halo? Anda bisa mendengar saya?" suara Liana bergetar, nyaris tertelan keheningan malam yang mencekam.

Liana berlutut di samping pria itu. Di bawah penerangan yang sangat minim, ia tidak bisa melihat wajah sang pria dengan jelas.

Wajah itu tertutup noda darah, debu jalanan, dan sebagian tertutup oleh rambut hitamnya yang berantakan.

Liana tidak akan pernah tahu bahwa sosok yang sedang sekarat di depannya ini adalah Kenzo, pemimpin geng motor kejam yang paling ditakuti di kota ini.

Liana mencoba memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan pria itu.

Namun, saat kulit mereka bersentuhan, Liana tersentak.

Suhu tubuh pria itu luar biasa panas, seolah ia sedang dibakar oleh demam yang abnormal.

Pria itu mulai mengerang—bukan hanya erangan kesakitan akibat luka hantam, melainkan erangan yang sarat akan frustrasi, napasnya terengah-engah, memburu dengan liar.

Pria ini tidak sekadar terluka. Tubuhnya sedang bereaksi hebat terhadap sesuatu—sebuah efek obat perangsang dosis tinggi yang dipaksakan masuk ke dalam sistem tubuhnya sebelum kecelakaan itu terjadi.

"N-napas Anda. Tunggu, saya akan ambil ponsel untuk panggil ambulans—"

Sebelum Liana sempat menarik tangannya, sebuah gerakan secepat kilat dan tak terduga terjadi.

Pria itu, dengan sisa tenaga yang luar biasa besar dan mencengkeram pergelangan tangan Liana hingga memar.

Sret!

Dengan satu gerakan brutal yang tak terbantahkan, Kenzo merenggut bandana kain hitam yang mengikat kepalanya.

Sebelum Liana sempat memekik, kain itu sudah melilit erat di wajahnya, mengikat indra penglihatannya ke dalam kegelapan total.

"Tolong aku..." bisik Kenzo dengan suaranya rendah, serak, dan berbahaya—terdengar seperti perintah mutlak alih-alih sebuah permohonan.

Napas panas pria itu berembus kasar di ceruk leher Liana, mengirimkan gelombang ngeri yang melumpuhkan akal sehatnya.

Suasana di sekitar mereka mendadak berubah menjadi sangat menakutkan.

Kegelapan yang dipaksakan itu membuat Liana kehilangan orientasi.

Suara gesekan daun, tetesan bensin yang bocor, dan deru napas memburu pria di atasnya terdengar sepuluh kali lebih keras dan mengancam.

Liana merasa seperti mangsa yang terkunci di dalam perangkap tak kasatmata.

"Jangan tutup mataku. Apa yang kamu lakukan?!" teriak Liana histeris.

Air mata kepanikan mulai meleleh di balik kain hitam yang menutup matanya.

Ia meronta, mencoba mendorong dada bidang pria itu, namun tubuh besar di atasnya terasa seperti batu karang yang mustahil digeser.

"Lepaskan! Tolong, jangan lakukan ini!"

Namun, kegelapan malam itu seolah menelan semua jeritannya, menyisakan Liana yang terperangkap dalam cengkeraman sang monster yang sedang kehilangan kendali.

Pria itu, menggunakan sisa tenaga liarnya yang didorong oleh zat sialan di dalam darahnya, bergerak brutal.

Ia menyeret tubuh Liana, mengabaikan motor matic wanita itu yang sempat ia tendang dan pinggirkan sedikit agar tidak menarik perhatian di tepi jalan.

Dengan satu sentakan kasar, ia membawa Liana paksa ke arah semak-semak yang gelap, lebat, dan tersembunyi dari pandangan dunia.

Liana menangis histeris. Air matanya merembes basah menembus kain bandana yang mengikat matanya.

Kegelapan total ini membuatnya seribu kali lebih rentan.

"Tolong jangan. Tolong, saya hanya ingin membantu Anda..."

Liana memohon dengan suara parau, seluruh tubuhnya bergetar hebat menghadapi ancaman yang tak kasatmata.

Namun, pria itu sudah kehilangan kewarasannya. Ia tidak peduli.

Dengan cepat, ia membekap mulut Liana dengan telapak tangannya yang besar dan hangat, meredam jeritan wanita itu hingga hanya tersisa lenguhan pasrah yang malang.

Aroma anyir darah dari luka sang pria dan wangi maskulin yang pekat kini mengepung indra penciuman Liana, mengunci oksigennya.

Di bawah kegelapan malam yang dingin, tanpa visual sama sekali, indra pendengaran dan peraba Liana menjadi aktif dengan cara yang menyiksa.

Ia bisa mendengar suara gesekan dedaunan kering yang terinjak, robekan kain yang kasar, dan deru napas berat yang memburu tepat di atas wajahnya.

Sentuhan demi sentuhan kasar yang menerpa kulitnya terasa seperti sayatan pisau yang menorehkan trauma mendalam.

Malam itu, di atas tanah yang lembap, Liana harus menerima kenyataan paling pahit dalam hidupnya.

Niat tulus kemanusiaannya dibalas dengan kebiadaban.

Kehormatan dan kesucian yang ia jaga setengah mati direnggut paksa oleh orang asing yang baru saja ingin ia tolong.

Setiap detiknya adalah neraka. Rasa sakit fisik tidak sebanding dengan hancurnya harga diri yang sehancur-hancurnya.

Beberapa waktu yang terasa seperti keabadian berlalu, Kenzo akhirnya bangkit dengan napas terengah-engah.

Tanpa sepatah kata pun, ia meninggalkan Liana begitu saja di semak-semak dalam kondisi kacau, pakaian yang koyak, dan jiwa yang hancur lebur.

Melalui pendengarannya yang peka, Liana samar-samar mendengar langkah kaki berat pria itu menjauh, disusul suara deru mesin motor lain yang tampaknya datang menjemputnya, lalu menghilang ditelan kegelapan malam.

Suasana kembali sunyi, menyisakan suara jangkrik dan embusan angin malam yang kini terasa mengejeknya.

Liana tidak lagi menjerit. Ia menangis dalam diam, air matanya terus mengalir tanpa suara.

Tubuhnya gemetar hebat, meringkuk defensif sambil memeluk dirinya sendiri di atas tanah yang dingin.

Dunia rasanya runtuh seketika. Liana meraba wajahnya, melepas ikatan bandana hitam yang menutup matanya dengan tangan yang terus gemetar.

"Kz..." gumam Liana saat menatap tulisan di bandana hitam milik lelaki itu.

Sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, Liana bersumpah dalam hati.

Ia akan mengubur malam ini sedalam mungkin. Ia akan pulang, membersihkan dirinya dari sisa-sisa kebejatan pria itu, dan berharap dengan sangat agar takdir tidak akan pernah mempertemukannya lagi dengan monster malam itu.

Sementara itu di tempat lain dimana Liana merayap dalam kehancuran di atas tanah yang dingin, di sudut lain kota yang gemerlap, sebuah skenario licik justru sedang menemui kegagalannya.

Di dalam salah satu kamar suite mewah di hotel berbintang lima, Kania berjalan mondar-mandir dengan gelisah.

Gaun satin merah sepinggang yang dikenakannya tampak kontras dengan raut wajahnya yang mulai diselimuti kecemasan.

Sesekali jemarinya yang dihiasi cat kuku mahal mengetuk-ngetuk layar ponsel, menunggu kabar yang tak kunjung datang.

Di atas meja nakas, dua buah gelas kristal berisi minuman yang telah dicampur dengan zat perangsang dosis tinggi—zat yang sama dengan yang mengalir di darah pria yang ia incar—kini sudah mendingin.

"Harusnya efek obat itu sudah bekerja sekarang," gumam Kania dengan napas memburu. Kedua tangannya mengepal erat.

"Aku sudah membayar mahal orang-orang geng motor saingan itu untuk menjebaknya dan memastikan dia meminumnya sebelum mereka bertikai. Kenzo tidak punya pilihan lain malam ini selain datang kepadaku!"

Kania tersenyum sinis membayangkan rencananya.

Jika ia berhasil menyeret Kenzo ke ranjangnya malam ini, tidak akan ada lagi yang bisa menghalanginya untuk menjadi ratu di samping pemimpin tertinggi Black Cobra.

Status, kekayaan, dan kekuasaan Kenzo akan berada di genggamannya.

"Aku harus berhasil mendapatkan Kenzo. Harus," bisik Kania penuh ambisi.

Namun, Kania tidak pernah tahu bahwa rencananya telah meleset jauh. Pria yang dinantinya bagai singa lapar itu tidak pernah menuju ke hotel tempatnya berada.

Brak!

Pintu penthouse apartemen mewah di lantai paling atas menembuk dinding saat ditendang kasar dari luar.

Kenzo melangkah masuk dengan napas yang masih memburu hebat.

Keringat dingin bercampur darah kering membasahi kemeja hitamnya yang sudah robek di beberapa bagian.

Efek obat perangsang sialan itu perlahan mulai menyurut dari darahnya, meninggalkan rasa lelah yang luar biasa dan sisa-sisa gairah pekat yang perlahan mendingin.

Akal sehatnya perlahan-lahan kembali pulih.

Ia melemparkan jaket kulitnya ke lantai dengan kasar, lalu berjalan menuju cermin besar di ruang tengah.

Kenzo menatap pantulan dirinya sendiri. Wajahnya yang tegas dan rahangnya yang kokoh tampak berantakan, dihiasi memar kebiruan akibat kecelakaan dan perkelahian beberapa jam lalu.

Namun, bukan luka-luka itu yang mengusik pikirannya.

Pria itu menunduk, menatap telapak tangannya sendiri yang masih bergetar.

Kilasan peristiwa di semak-semak pergudangan tadi mendadak berputar di kepalanya bagai kaset rusak.

Suara tangisan histeris yang malang, tubuh mungil yang gemetar hebat di bawah cengkeramannya, dan aroma tubuh yang murni—bukan wangi parfum murahan wanita malam yang biasa ia temui, melainkan aroma manis yang polos.

Wanita asing yang sebenarnya berniat menolongnya.

Kenzo mendengus, meraba kantong celananya. Alisnya langsung bertaut rapat saat menyadari sesuatu yang hilang.

"Bandana-ku..." gumam Kenzo, suaranya terdengar rendah dan berbahaya di dalam keheningan apartemennya.

Bandana hitam berlogo bordir inisial "Kz" yang selalu terikat di kepalanya sebagai simbol kekuasaannya telah hilang.

Ia ingat betul, ia menggunakan kain itu untuk membutakan mata wanita tadi agar wajahnya tidak dikenali.

Kenzo mencengkeram pinggiran wastafel hingga buku-buku jarinya memutih.

Ada rasa asing yang anehnya mulai menggerogoti dadanya—sebuah obsesi gelap yang tiba-tiba meletup tanpa alasan.

Ia tidak tahu siapa wanita itu, bagaimana rupa wajah di balik kain hitam tadi, atau ke mana wanita itu pergi.

Satu hal yang pasti, takdir telah mengikat mereka dengan cara yang paling brutal. Dan bagi seorang Kenzo, apa yang sudah disentuhnya, selamanya akan menjadi miliknya.

1
Bunga Andthea
triple hp dungs kak
Bunga Andthea
yok yok bisa up lagi
seru ni
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍😍
Alex
sweet bgts
Bunga Andthea
seru
up lgi kkak
Bunga Andthea
double up dungs kak
my name is pho: ok kak
total 1 replies
Muft Smoker
jgn terpengaruh dg omongan ulat bulu tu liana ,, org yg terpojok biasa ny akan melakukan berbagai macam cara tuk menang ,, meski dg cara licik sekali pun 😒😒😒😒
Muft Smoker
aaaaaa meleleh adek bang ,,
Alex
oh sweet bgtsss
Muft Smoker
nah kan di marahin ma mak ,, makany jgn punya fikiran mcm2
Muft Smoker
jgn mcm2 kania ,, liana mungkin org biasa ,, tp anggora black cobra semua melindungi serta menghargai dirinya ,,
Muft Smoker
lanjuuut kaak ,,
Muft Smoker
lanjuut kaak ,, makiin seruuuu
Muft Smoker
ngeri juga yx ,, jd incaran ketua gangster ,, 😲😲😲😲😲
Muft Smoker
lanjuuut kak
Bunga Andthea
ayok kak up lagi
Bunga Andthea
up lgi yuk kak
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
baru Kali ini dapet cerita ketua geng motor profesi ny dokter kandungan ,,
biasa ny kn CEO perusahaan ,,

tp aq suka ma cerita ny kak ,,
dtggu kelanjutan ny yx kak
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!