NovelToon NovelToon
Bangkit Sistem Penghakiman, Semua Penjahat Berlutut!

Bangkit Sistem Penghakiman, Semua Penjahat Berlutut!

Status: sedang berlangsung
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Darma

"Raka Laksana — yatim piatu, detektif gagal, ditertawakan semua orang. Sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dalam dirinya: “Sistem Penghakiman”. Mata Dosa yang bisa membaca dosa siapa pun. Buku Penghakiman yang bisa menjatuhkan hukuman di hadapan seluruh negeri. Kekuatan yang tak dimiliki polisi, jaksa, atau hakim mana pun.

Menyamar sebagai konsultan biasa di Satreskrim Kota Elang Biru, Raka membongkar kasus demi kasus — pembunuhan, sindikat perdagangan manusia, konspirasi elite — sambil menyembunyikan identitas aslinya sebagai eksekutor bayangan. Sistem terus naik level, skill terus bertambah, dan setiap penjahat yang lolos dari hukum biasa... tidak akan lolos dari tangannya.

Tapi ada satu kasus yang tak pernah bisa ia lupakan: dua puluh tahun lalu, kedua orangtuanya difitnah dan dihancurkan oleh **Keluarga Halim** — konglomerat paling berkuasa di kota ini. Setiap kasus yang ia selesaikan membawanya selangkah lebih dekat pada kebenaran itu.

Dan pada hari penghakiman tiba, seluruh bangsa akan menyaksikan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 2: Jejak Pertama

ADan saya akan menemukan siapa yang mengambil Dewi.A

Kalimat itu keluar begitu tenang hingga Raka sendiri hampir tidak mengenali suaranya.

Di layar, wajah Ratih Sari tidak terlihat. Hanya chat yang gemetar dalam bentuk huruf-huruf pendek, seolah perempuan itu mengetik sambil menangis.

— Terima kasih, Bang.

— Saya tidak tahu harus minta tolong ke siapa lagi.

Komentar penonton langsung pecah lagi, tapi malam ini kata-kata mereka terasa kecil dibanding panel merah yang masih mengambang di sudut pandang Raka.

【Misi aktif: Kasus Pembunuhan Bayi Dewi】

【Batas waktu: 14 hari 23 jam 51 menit】

【Poin Penghakiman: 0】

Hitungan mundur itu bergerak.

Detik demi detik.

Kribo berdiri di sampingnya, wajahnya sudah tidak bercanda. ARaka, live-nya matiin dulu. Sekarang.A

Raka mengangguk. Ia menatap kamera. ALive malam ini selesai. Bu Ratih, saya akan hubungi Anda lewat pesan pribadi. Jangan hapus apa pun. Jangan beri tahu siapa pun dulu bahwa Anda menghubungi saya.A

— Lah, takut ketahuan settingan?

— Kabur!

— Detektif gagal panik.

Raka menekan tombol end.

Layar menjadi gelap. Suara kipas angin kembali terdengar, kasar dan pelan. Kamar kos itu masih sama sempitnya, tapi dunia Raka sudah retak.

Kribo menutup laptopnya. AOke. Sekarang jelaskan. Lo tiba-tiba pucat, layar live freeze, terus lo ngomong seolah habis dapat wahyu dari server neraka. Apa yang terjadi?A

Raka memijat pelipisnya. Rasa sakit tadi sudah berkurang, tetapi sisa denyutnya masih tertinggal seperti bekas pukulan.

AAku belum bisa jelaskan semuanya.A

AJawaban paling mencurigakan nomor satu.A Kribo menunjuknya. ACoba lagi.A

AAku punya firasat kuat Dewi tidak hilang.A Raka memilih kata-katanya dengan hati-hati. ADia dibunuh.A

Wajah Kribo mengeras. ADibunuh? Bayi delapan bulan? Lo dapat dari mana?A

Raka menatap layar laptop yang sudah mati. Ia tidak bisa bilang ada suara mekanis di kepalanya, buku hitam, indeks dosa, dan ancaman kehilangan seluruh ingatan kalau gagal. Bahkan bagi Kribo, itu terlalu gila.

ADari pola pesannya. Dari pilihan katanya. Dari fakta bahwa semua orang di rumah menyuruh Ratih diam.A Raka berhenti sebentar. ADan dari sesSatu yang belum bisa aku buktikan. Tapi aku akan buktikan.A

Kribo menatapnya lama.

Di luar kamar, motor lewat di gang sempit. Dunia berjalan seperti biasa, seolah tidak ada bayi bernama Dewi yang mungkin sudah tidak bernapas lagi.

Akhirnya Kribo menghela napas. AGue benci kalau lo pakai nada sok misterius begini. Biasanya setelah itu hidup kita jadi lebih miskin.A

AKita memang sudah miskin.A

ABenar juga.A Kribo duduk kembali, membuka laptop. AKirim kontak Ratih. Kalau lo mau lompat ke lubang, gue ikut. Tapi gue bawa laptop. Minimal kalau mati, ada data yang bisa bikin orang lain repot.A

Untuk pertama kalinya sejak sistem aktif, Raka hampir tersenyum.

Ia mengirim pesan pribadi kepada Ratih. Beberapa detik kemudian, video call tersambung.

Wajah Ratih muncul di layar. Ia terlihat belum tiga puluh. Rambutnya diikat asal, matanya bengkak, dan lampu kuning membuat wajahnya tampak semakin pucat.

ABang Raka?A suaranya nyaris tidak keluar.

AIya, Bu Ratih. Saya Raka. Di samping saya Kribo, teman saya. Dia membantu urusan data. Semua yang Anda katakan malam ini tidak akan kami sebarkan tanpa izin.A

Kribo mengangkat tangan sedikit. AMalam, Bu. Saya cuma tukang laptop. Abaikan muka saya.A

Ratih mencoba mengangguk, tapi dagunya gemetar.

Pada saat itulah pandangan Raka berubah.

Di sekitar wajah Ratih, muncul lingkaran cahaya tipis. Bukan cahaya kamera. Bukan pantulan lampu. Angka merah transparan bergerak di samping namanya.

【RATIH SARI】

【INDEKS DOSA: 12/100 — RENDAH】

【KETERKAITAN DENGAN KASUS AKTIF: KORBAN KELUARGA / BUKAN PELAKU】

Raka menahan napas.

Jadi benar.

Bukan halusinasi karena kurang tidur. Bukan efek stres. Sistem itu bisa membaca seseorang bahkan lewat video call.

Suara dingin Hakim berbisik di dalam kepalanya.

【Mata Dosa dapat membaca indeks dosa subjek dalam jarak pandang langsung, termasuk media visual real-time. Akurasi dipengaruhi kualitas gambar, kondisi cahaya, dan keterkaitan subjek dengan kasus aktif.】

Raka mengepalkan tangan di bawah meja.

Ratih bukan pelaku.

Untuk pertama kalinya, satu bagian kecil dari kegelapan itu punya bentuk.

ABu Ratih,A kata Raka, lebih lembut. ACeritakan dari awal. Kapan terakhir Dewi terlihat?A

Ratih menunduk. Bahunya bergetar.

ATiga hari lalu. Sore. Saya sedang mencuci di belakang. Dewi tidur di kamar. Mas Wisnu bilang dia mau keluar beli rokok. Bu Marlina, ibu mertua saya, ada di dapur. Waktu saya kembali... Dewi sudah tidak ada.A

APintu rumah?A

ATidak rusak. Tidak ada bekas dibuka paksa.A

Kribo langsung mengetik.

ASiapa yang pertama bilang Dewi mungkin dibawa ayah kandungnya?A tanya Raka.

Ratih terdiam terlalu lama.

AMas Wisnu. Dia bilang Bagus masih sering menanyakan Dewi. Dia bilang mungkin Bagus datang diam-diam. Tapi Bagus tinggal di Kota Jati. Jauh sekali. Dia memang pernah salah, Bang, tapi dia tidak akan menyakiti Dewi.A

Nama Bagus Saputra muncul di kepala Raka seperti titik baru di papan kasus.

APolisi memeriksa Bagus?A

AKatanya sudah dihubungi. Bagus bilang dia di tempat kerja. Ada orang yang melihat. Tapi setelah itu Pak RT dan polisi dari Polsek bilang kemungkinan lain... Dewi dibawa binatang liar.A

Kribo berhenti mengetik. ABayi hilang dari kamar, pintu tidak rusak, lalu kesimpulannya binatang liar? Ini desa atau kandang kebun binatang?A

Ratih menggigit bibir. ARumah kami dekat kebun kosong. Mereka bilang bisa saja ada anjing liar masuk dari belakang. Tapi saya tahu kamar Dewi. Jendelanya tinggi. Tidak mungkin, Bang.A

Suara perempuan itu pecah. Raka tidak memotongnya.

Di samping layar, panel lain terbuka.

【Tutorial Sistem — Lv1】

【Mata Dosa: Membaca indeks dosa subjek terkait kasus aktif.】

【Buku Penghakiman: Merekam dakwaan setelah bukti cukup.】

【Jalur Eksekusi: Pengadilan Rakyat / Penghakiman Diam-Diam.】

【Poin Penghakiman: Diperoleh setelah kasus selesai.】

Raka membaca cepat. Satu aturan langsung tertanam di kepalanya: bukti cukup. Sistem bukan alasan untuk asal menuduh.

ABu Ratih,A katanya, Aapakah ada orang lain di rumah selain Anda, Wisnu, dan Bu Marlina?A

"Ada Jono. Tetangga jauh. Dia sering disuruh bantu angkat barang. Anak itu... pikirannya seperti anak kecil. Dia baik. Kadang Bu Marlina menyuruhnya beli sesSatu. Tapi hari itu saya tidak ingat dia datang atau tidak."

Kribo mengetik nama Jono di catatan.

AAlamat lengkap?A tanya Raka.

Ratih menyebutkan lokasi di Desa Batu Giok, Kecamatan Makmur, sekitar empat jam perjalanan dari Kota Elang Biru dengan bus antarkota lalu ojek desa.

Kribo menatap Raka. Matanya sudah menghitung biaya sebelum mulutnya bicara.

Raka mengangguk kecil.

AKami berangkat pagi,A kata Raka.

Ratih terkejut. ABesok? Tapi Bang... saya tidak punya uang untuk bayar jasa Anda. Saya hanya—A

ASaya belum bicara soal uang. Simpan foto Dewi, rekaman suara, chat dengan Bagus, dan semua pesan dari Wisnu atau Bu Marlina. Jangan hapus apa pun. Kalau ada yang bertanya, bilang saja Anda masih menunggu kabar dari polisi.A

Ratih menutup mulut dengan tangan. Air matanya turun tanpa suara.

ATerima kasih,A bisiknya. ASaya cuma ingin tahu Dewi di mana. Kalau dia masih hidup... saya ingin dia pulang. Kalau dia sudah...A

Ia tidak sanggup menyelesaikan kalimat itu. Raka menatap angka 12/100 di samping wajahnya. Ratih bukan orang yang mengambil nyawa anaknya.

AKami akan datang,A kata Raka. ATunggu kami.A

Panggilan berakhir.

Kamar kos kembali sunyi.

Kribo memutar laptopnya ke arah Raka. AGue belum masuk sistem apa pun yang terlalu resmi. Cuma pencarian terbuka, berita lokal, jejak media sosial, dan beberapa database bocor lama. Wisnu Marpaung. Umur tiga puluh empat. Pernah dipanggil Polsek karena penganiayaan ringan di warung kopi. Tidak lanjut karena korban mencabut laporan. Ada jejak utang judi online. Namanya muncul di grup pinjaman ilegal juga.A

Raka mendekat. ANominal?A

ABelum jelas. Tapi cukup buat orang panik.A Kribo menunjuk layar. ADan ini menarik. Seminggu sebelum Dewi hilang, Wisnu jual motor. Murah banget. Seperti orang butuh uang cepat.A

Raka menatap foto profil Wisnu yang muncul di layar: laki-laki dengan senyum biasa, kemeja rapi, tangan merangkul Ratih. Di foto itu, ia tampak seperti suami yang ingin terlihat baik.

Mata Raka terasa panas.

AKita butuh uang bus,A katanya.

Kribo membuka laci, mengeluarkan dompet, koin, kartu e-money, dan satu amplop kusut bertuliskan BAYAR KOS.

AIni dana pemakaman masa depan kita,A katanya muram. ACukup buat dua tiket bus paling pagi, air mineral, dan mungkin satu gorengan kalau kita berbagi.A

APakai.A

Kribo menatapnya. ALo yakin?A

Raka menatap panel merah di sudut pandangnya.

【Batas waktu: 14 hari 22 jam 36 menit】

ATidak,A jawab Raka jujur. ATapi aku lebih tidak yakin bisa tidur kalau kita diam.A

Kribo menghela napas panjang. Lalu ia menyambar jaket lusuh dari gantungan.

ABaiklah. Kalau kita diusir, gue pilih tidur dekat colokan. Laptop harus tetap hidup.A

Pagi datang tanpa terasa.

Langit Kota Elang Biru masih abu-abu ketika Raka dan Kribo naik bus antarkota di terminal kecil Distrik Surya. Raka membawa tas ransel tipis. Kribo membawa laptop utamanya seperti orang membawa senjata.

Bus bergerak meninggalkan kota. Warung dan gedung rendah pelan-pelan berubah menjadi sawah basah dan kebun kosong.

Kribo duduk di sebelah jendela, jemarinya menari di keyboard meski sinyal naik-turun.

"Ada satu lagi," katanya pelan. "Marlina. Ibu Wisnu. Namanya pernah disebut di berita lama soal mediasi keluarga. Statusnya memang mediasi keluarga; tetangga pernah lapor karena ribut besar. Orangnya dominan. Suka ikut campur rumah tangga Wisnu."

AJadi rumah itu punya tiga tekanan,A kata Raka. AUtang Wisnu, Marlina yang mengontrol rumah, dan Dewi yang bukan anak kandung Wisnu.A

Kribo menoleh. ALo sudah punya tersangka.A

AAku punya arah. Belum bukti.A

AItu kalimat yang lebih sehat.A

Raka memandang keluar jendela. Dulu ia hanya membaca kasus dari layar. Sekarang kasus itu menunggunya di ujung jalan.

Suara Hakim muncul lagi, sangat pelan, seperti bisikan dari balik halaman buku.

【Peringatan.】

【Indeks dosa di lokasi tujuan sangat tinggi.】

【Tuan Rumah disarankan bersiap.】

Raka tidak berkedip.

Di luar jendela, papan jalan tua bertuliskan DESA BATU GIOK — 18 KM lewat begitu saja.

Kribo masih mengetik, tidak tahu bahwa udara di sekitar mereka baru saja menjadi lebih dingin.

Raka merapatkan tangan pada tali ranselnya.

ADewi,A bisiknya nyaris tanpa suara. ATunggu sebentar lagi.A

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!