NovelToon NovelToon
Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:61
Nilai: 5
Nama Author: Pelukis Mimpi

Arya Pratama dikeluarkan dari sekolah. Nilai jelek, masa depan hancur, semua orang bilang dia tidak berguna. Tapi hari itu, dia menyadari sesuatu yang mengubah segalanya — bukan dia yang bodoh... seluruh dunia yang bodoh.

Apoteker tidak bisa hitung tambah-kurang. Profesor universitas menulis rumus yang salah selama ratusan tahun tanpa ada yang sadar. Juara catur dunia bisa dikalahkan dalam sepuluh langkah. Di dunia ini, pengetahuan SMA biasa adalah kekuatan tertinggi — dan Arya adalah satu-satunya orang yang memilikinya.

Dari siswa yang dibuang, dia naik menjadi legenda yang tidak pernah menunjukkan wajah aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23: Dominasi Semua Bidang

Setelah soal tantangan gagal menjatuhkan Garuda Cendekia, semifinal berubah menjadi pertunjukan pembongkaran.

Lawan pertama mereka adalah SMA Pelita Raya, sekolah yang terkenal kuat di bidang bahasa dan sejarah. Kapten mereka, Nisa, berbicara lembut tetapi matanya tajam. Sebelum masuk panggung, ia berkata kepada Putri, "Kami tidak akan menantang Arya di matematika. Kami punya wilayah sendiri."

Putri tersenyum sopan. "Semoga wilayahnya punya pagar tinggi."

Nisa tidak mengerti maksudnya sampai babak dimulai.

Soal bahasa Indonesia pertama meminta analisis majas dalam kutipan pidato. Nisa menekan tombol cepat. Jawabannya benar. Soal kedua tentang struktur argumentasi. Nisa benar lagi. Penonton mulai melihat kemungkinan: mungkin Arya tidak bisa menguasai semua hal.

Soal ketiga muncul. Kutipan panjang dari esai lama. Presenter Rendy baru membaca setengah ketika Arya menekan tombol.

"Itu generalisasi tergesa-gesa yang disamarkan sebagai analogi. Pilihan B paling dekat, tetapi istilahnya tidak presisi. Jika juri memakai kunci lama, jawabannya B. Jika dinilai berdasarkan logika, pilihan yang benar seharusnya tidak tersedia."

Nisa menatap layar. Bu Mariska memeriksa kunci. Wajahnya lelah dengan cara yang baru. "Kunci menerima B, dan catatan Arya valid."

Soal sejarah berikutnya membahas pergerakan nasional. Arya menjawab tahun, tokoh, organisasi, dan menyebut bahwa satu nama dalam materi populer sering disederhanakan perannya. Nisa mencoba mengejar lewat soal sastra, tetapi Arya mengutip konteks sosial karya itu dan menjelaskan kenapa tafsir tunggal di buku sekolah terlalu miskin.

Rizky di bangku cadangan mulai menghitung dengan jari. "Matematika, fisika, biologi, sejarah, bahasa. Put, apakah dia punya tombol mati?"

Putri menjawab pelan, "Mungkin rasa sosialnya."

"Itu bukan tombol. Itu fitur yang belum diinstal."

Di babak ekonomi, Raka mengambil dua soal dengan benar. Melati menyelamatkan satu soal biologi ketika Arya sengaja memberi ruang. Dimas menjelaskan jawaban kebijakan fiskal dengan suara stabil. Garuda punya lebih dari Arya, dan itu membuat Pak Surya lebih lega. Jika semua poin datang dari satu anak, sekolah akan disebut sirkus. Dengan tim yang ikut bergerak, kemenangan mereka terlihat seperti sistem yang bangkit.

Namun setiap kali soal menjadi sulit, semua mata tetap kembali kepada Arya.

SMA Pelita Raya kalah dengan selisih besar. Nisa menyalami Arya setelah panggung. "Aku pikir kamu hanya kuat di angka."

"Angka hanya bahasa yang lebih jujur," jawab Arya.

Nisa tertawa pendek. "Aku tidak tahu itu pujian untuk angka atau hinaan untuk manusia."

"Keduanya bisa benar."

Final semakin dekat, tetapi panitia memberi babak demonstrasi lintas bidang karena siaran mendapat lonjakan penonton. Presenter Rendy tampak sangat bahagia; produser di belakang kamera pasti lebih bahagia lagi. Mereka meminta setiap sekolah yang tersisa mengirim satu wakil untuk menjawab pertanyaan acak dari penonton daring.

Pak Surya ingin menolak karena format itu tidak ada di panduan. Arya berkata, "Terima saja. Mereka memberi panggung gratis."

Pertanyaan pertama dari penonton tentang teka-teki logika. Arya menjawab sebelum Rendy selesai menyebut opsi. Pertanyaan kedua tentang penyebab inflasi. Arya memberi jawaban dua lapis: jawaban kurikulum dan jawaban yang lebih realistis. Pertanyaan ketiga tentang ekosistem mangrove. Arya menjelaskan hubungan akar, sedimen, dan perlindungan pesisir dengan kalimat yang membuat Bu Lestari di sekolah menonton sambil menutup mulut.

Pertanyaan keempat datang dari akun anonim: Jika kamu sepintar itu, kenapa dulu dianggap bodoh?

Studio hening.

Pak Surya menegang. Putri langsung menatap layar komentar. Rizky menggumam, "Oh, orang ini memilih mati sosial."

Rendy, yang lapar rating, membaca pertanyaan itu dengan senyum canggung. "Arya, pertanyaan dari penonton cukup pribadi. Boleh dijawab singkat."

Arya mengambil mikrofon. "Karena sistem yang buruk sering lebih percaya label lama daripada bukti baru. Saya tidak berubah menjadi pintar minggu ini. Orang lain baru mulai melihat."

Tidak ada teriakan besar. Tepuk tangan justru mulai dari pelan, lalu membesar. Di SMA Garuda Cendekia, beberapa guru yang menonton di ruang rapat menunduk. Bu Ratih mematikan ponselnya dan duduk diam.

Pertanyaan kelima mencoba menjebak dengan teka-teki viral yang jawabannya sering diperdebatkan. Arya menjelaskan bahwa pertanyaannya ambigu dan memberi dua jawaban bergantung definisi. Presenter Rendy tertawa. Kali ini tawanya sungguh-sungguh. "Sepertinya kita harus membuat kategori baru: jawaban yang membuat pertanyaan malu."

Fadlan menonton dari ruang tunggu final. Ia tidak lagi tersenyum. Pelatih Buana berdiri di belakangnya, berbisik bahwa final masih bisa dimenangkan lewat strategi tombol dan pembagian bidang. Fadlan mengangguk, tetapi matanya menunjukkan ia tidak percaya sepenuhnya.

Putri melihat semua itu dan menyadari satu hal: kemenangan Arya mengubah ukuran panggung. Sebelum Arya, peserta terbaik adalah siswa yang paling cepat memberi jawaban sesuai kunci. Setelah Arya, semua orang harus bertanya apakah kuncinya pantas dipercaya.

Itu membuatnya berbahaya.

Di luar studio, pria berjaket abu-abu menerima balasan dari kontak UNG: lanjutkan observasi sampai final. Jangan dekati sebelum puncak reaksi publik.

Di ruang tunggu, Dimas akhirnya mendekati Arya. Selama latihan ia sulit menerima bahwa siswa baru bisa mengambil posisi utama. Setelah semifinal, ia tidak lagi punya alasan untuk berpura-pura.

"Aku masih tidak suka caramu bicara," kata Dimas.

"Itu masalah selera."

"Tapi aku mengerti kenapa Pak Surya memilihmu." Dimas mengulurkan tangan. "Di final, kalau aku terlalu lambat menjelaskan, potong saja. Menang lebih penting daripada egoku."

Arya menjabat tangannya. "Kalau egomu sudah bisa disingkirkan, kamu naik satu level."

Dimas tertawa hambar. "Pujianmu terdengar seperti evaluasi rapor."

"Itu sudah versi ramah."

Percakapan pendek itu mengubah udara tim. Melati tidak lagi ragu meminta Arya memeriksa catatannya. Raka bertanya cara membaca jebakan soal. Bahkan Rizky, yang biasanya menjadikan semua hal bahan lelucon, mulai memperhatikan bagaimana Arya membagi peran. Garuda Cendekia bukan lagi tim yang kebetulan punya monster akademik. Mereka mulai bergerak seperti tim yang tahu monster itu berada di pihak mereka.

Putri melihat perubahan itu dan merasa anehnya lega. Arya memang membuat orang takut, tetapi ia juga membuat orang yang cukup jujur menjadi lebih baik. Itu alasan lain kenapa Bayangan mungkin membencinya.

Sebelum final, Bu Mariska mendatangi meja Garuda Cendekia. Ia tidak membawa kartu soal, hanya wajah seorang pendidik yang baru saja melihat ukuran lama pekerjaannya retak.

"Arya," katanya pelan, "setelah kompetisi selesai, saya ingin salinan beberapa catatanmu. Bukan untuk mengubah hasil. Untuk memperbaiki pelatihan soal."

Dimas dan Melati saling pandang. Biasanya peserta meminta materi kepada juri. Hari ini juri meminta catatan peserta.

Arya mengangguk. "Boleh. Tapi jangan hanya memperbaiki soal sulit. Perbaiki cara menilai jawaban. Murid akan belajar mengikuti bentuk hadiah yang diberikan sistem."

Bu Mariska terdiam, lalu mengangguk lebih dalam. "Saya akan mengingat itu."

Putri melihat punggung juri itu menjauh dan berbisik, "Kamu baru saja memberi pekerjaan rumah kepada dewan juri."

"Mereka memberi kita soal salah lebih dulu. Itu balasan proporsional."

Pria itu menatap layar panggung, tempat Arya duduk tenang seperti badai yang belum merasa perlu bergerak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!