Arka Wicaksono, 28 tahun, programmer lulusan bootcamp. Hidupnya habis di depan layar komputer — lembur tanpa akhir, gaji pas-pasan, dan mimpi yang sudah lama mati. Sampai suatu malam, jantungnya berhenti di tengah shift ketiga berturut-turut. Mati. Tamat.
Atau begitulah seharusnya.
Arka membuka mata di kamar kos-nya di Bandung. Tahun 2018. Usia 20 tahun. Mahasiswa ITB semester 5.
Dan di saku celananya — sebuah smartphone dari tahun 2026 dengan satu aplikasi yang tidak seharusnya ada: ChatGPT.
AI yang bisa menulis kode sempurna dalam hitungan detik. Merancang produk yang belum pernah dilihat dunia. Menganalisis pasar dengan ketepatan yang melampaui konsultan manapun.
Dengan ingatan masa depan di kepalanya dan AI tercanggih di tangannya, Arka memulai dari nol: menyelamatkan pabrik ayahnya yang hampir bangkrut, membangun platform teknologi yang mengguncang industri, dan diam-diam menyiapkan strategi yang akan membuat dunia berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 7: Si Pengganggu Kampus
Arka hampir lupa rasanya jadi mahasiswa.
Dua minggu terakhir hidupnya adalah Tokopedia, WhatsApp, dan ChatGPT—lingkaran tanpa henti yang mengisi setiap jam bangunnya. Tapi semester masih berjalan, dan kalau dia tidak muncul di kelas, dosen wali-nya akan mulai bertanya.
Jadi di sinilah dia, Rabu sore, duduk di kantin ITB Ganesha dengan semangkuk Indomie Goreng dan segelas es teh manis. Laptop dibuka tapi layarnya tidak menampilkan materi kuliah—Tokopedia Seller Dashboard bersembunyi di balik tab slide presentasi.
Kantin ramai. Mahasiswa teknik berkerumun di meja panjang, laptop dan buku berserakan. Bau nasi goreng dan mie ayam bercampur dengan keringat sore. AC tidak ada—hanya kipas angin besar yang menderu di langit-langit.
Arka menghirup Indomie-nya dengan tenang. Rasa yang sama. Rasa mahasiswa Indonesia yang universal.
"Wah, wah, wah. Lihat siapa yang akhirnya keluar dari gua-nya."
Suara itu datang dari belakang. Keras. Sengaja dibuat keras agar orang-orang di meja sekitar menoleh.
Arka tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu.
Rangga.
Dia duduk di kursi seberang tanpa diundang, meletakkan segelas Starbucks di atas meja dengan bunyi TAK yang berlebihan. Di belakangnya, dua temannya berdiri—pengikut setia yang selalu tertawa di timing yang tepat.
Rangga adalah tipe yang ada di setiap kampus di Indonesia. Anak pengusaha—ayahnya punya bisnis bahan bangunan di Malang, omzetnya mungkin 20 miliar setahun. Kekayaannya belum masuk skala nasional, cukup untuk membuat anaknya merasa berhak merendahkan semua orang.
Dia memakai kaos polo Ralph Lauren, jam tangan yang harganya mungkin setara dengan uang kos Arka setahun, dan rambut yang di-styling dengan gel impor. Di kampus teknik yang sebagian besar penghuninya bercelana training dan kaos oblong, dia mencolok seperti merak di kandang ayam.
"Lo kemana aja, Arka? Dua minggu nggak keliatan." Rangga menyeruput Starbucks-nya. "Gue kira lo udah DO. Atau mungkin diusir dari kos karena nggak bayar?"
Dua pengikutnya tertawa. Beberapa mahasiswa di meja sebelah melirik.
Arka memasukkan garpu ke Indomie-nya, mengaduk pelan. "Sibuk."
"Sibuk?" Rangga mendengus. "Sibuk apa? Main game di kamar? Atau masih mimpi jadi CEO dari kamar kos empat-kali-tiga?"
Arka mengangkat matanya dan menatap Rangga.
Di kehidupan sebelumnya, tatapan itu mungkin berisi rasa malu dan keinginan untuk menghilang. Arka yang dulu—yang asli, yang 20 tahun—memang takut pada orang seperti Rangga. Takut pada uang, pada status, pada suara keras yang penuh kepercayaan diri.
Tapi Arka yang sekarang sudah 28 tahun di dalam. Dia sudah melihat orang-orang seperti Rangga di dunia kerja—bos yang teriak di meeting, klien yang menghina desainnya, manajer yang mengambil kredit atas kerja timnya. Mereka semua punya satu kesamaan: mereka keras di luar karena kosong di dalam.
Rangga tidak layak mendapat reaksi.
"Iya," kata Arka, kembali ke Indomie-nya. "Sibuk."
Rangga tidak suka diabaikan. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, menurunkan suaranya menjadi desisan yang hanya bisa didengar oleh meja mereka.
"Gue dengar lo jualan sesuatu online. Boneka, katanya?" Bibirnya melengkung. "Anak kos makan Indomie tiap hari, masih bermimpi jadi pengusaha? Lo pikir cuma karena lo bisa upload foto di Tokopedia, lo udah jadi Hendrick Tanuwijaya?"
Dia mengetuk meja dengan telunjuknya. "Dengerin, Arka. Gue kasih lo nasihat gratis. Bisnis itu butuh modal, koneksi, dan pedigree. Lo nggak punya satu pun. Jadi berhenti main-main dan fokus kuliah biar lo bisa jadi karyawan yang berguna. Itu level lo."
Keheningan sejenak.
Arka mengunyah Indomie-nya. Menelan. Menyeka mulut dengan tisu.
"Terima kasih nasihatnya," katanya datar.
Lalu dia mengangkat mangkuk Indomie-nya, berdiri, dan berjalan ke meja lain tanpa menoleh.
Rangga terdiam. Wajahnya memerah oleh marah. Dia tidak mendapat reaksi yang dia inginkan. Tidak ada ketakutan. Tidak ada argumen. Hanya... ketidakpedulian.
"Arka!" panggilnya, suara naik satu oktaf. "Gue belum selesai bicara!"
Arka tidak berbalik.
"Jangan coba-coba macam-macam di kampus ini!" Rangga berdiri, suaranya cukup keras untuk seluruh kantin. "Lo nggak tahu siapa yang lo hadapi. Satu telepon dari bokap gue, lo bisa nggak lulus dari ITB!"
Beberapa mahasiswa yang tadinya pura-pura tidak dengar kini menatap Rangga dengan campuran rasa takut dan jijik. Ancaman seperti itu—menggunakan koneksi orang tua untuk menekan sesama mahasiswa—adalah hal yang semua orang tahu terjadi tapi tidak ada yang berani membicarakan.
Arka duduk di meja barunya, memunggungi Rangga. Dia menusukkan garpu ke Indomie.
Di dalam kepalanya, kemarahan tidak muncul. Rasa malu juga tidak. Keinginan balas dendam pun belum bangun.
Yang ada hanyalah satu pikiran tenang dan dingin:
*Kamu tidak tahu bahwa dalam dua bulan, kamu akan berdiri di kantin ini dengan mulut terbuka, melihat wajahku di berita nasional. Dan kamu akan menyesal pernah bicara tentang pedigree.*
*Tapi hari ini bukan harinya.*
*Hari ini, aku makan Indomie.*
Arka memasukkan garpu penuh mie ke mulutnya. Rasanya enak.