NovelToon NovelToon
Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Status: sedang berlangsung
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Putra

"Arka Pratama hanyalah dokter muda magang di Instalasi Kedokteran Forensik. Gajinya kecil, pangkatnya rendah, dan semua orang meremehkannya. Tapi di hari pertamanya, sebuah sistem misterius bernama ""Kebenaran Forensik"" terbangun dalam dirinya — memberinya kemampuan melihat Label Kematian yang tak kasat mata di atas setiap jenazah.
Kasus yang sudah divonis bunuh diri? Arka melihat label merah: PEMBUNUHAN.
Mulai detik itu, tidak ada kebenaran yang bisa disembunyikan darinya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 021: Interogasi Kedua

Pukul tiga tepat, Joko Prabowo dibawa masuk ke ruang pemeriksaan dua.

Tangan kanannya masih dibalut.

Wajahnya lebih pucat daripada dua hari lalu.

Kali ini ia tidak tertawa.

Adira duduk di depan meja dengan satu map tipis.

Bambang berdiri di samping pintu.

Arka berada di ruang observasi, di balik kaca satu arah. Di depannya ada monitor kecil yang menampilkan wajah Joko dari sudut samping.

Joko melihat map itu.

"Saya sudah mengaku soal Dewi," katanya cepat. "Saya sudah bilang semua."

Adira membuka map.

Tidak buru-buru.

"Saya tidak tanya Dewi."

Joko diam.

Adira meletakkan foto pertama.

Luminol di bawah meja potong.

Foto kedua.

Celah drainase.

Foto ketiga.

Laporan DNA.

"Saya tanya Putri Handayani."

Nama itu membuat kelopak mata Joko bergerak.

Kecil.

Tapi cukup.

Arka melihatnya dari monitor.

Bambang juga melihatnya.

Adira mengetuk laporan dengan ujung jari. "Darah Putri ditemukan di cold storage yang kamu sewa. Bukan satu titik. Tiga titik. Profil DNA cukup bersih untuk cocok dengan database orang hilang."

Joko menelan ludah. "Saya tidak kenal."

"Kamu tidak kenal perempuan yang darahnya ada di ruang sewamu?"

"Banyak orang keluar masuk."

"Ruang itu dikunci dengan gembok tambahanmu."

Joko menatap meja.

Adira mengeluarkan lembar berikutnya. "Kevin menemukan catatan kerja informal. Putri pernah membantu bongkar muat di gudang makanan dekat Rungkut. Ia hilang tiga bulan lalu. Keluarganya melapor. Laporan awal menulis kemungkinan pergi sukarela."

Joko tetap diam.

Adira menurunkan suara. "Tiga bulan, Joko. Tiga bulan keluarganya tidak tahu dia di mana. Sekarang darahnya ada di cold storage kamu. Kamu mau bilang itu kebetulan?"

"Saya tidak ingat."

Bambang bergerak sedikit. "Dewi kamu ingat. Cara buang kepalanya kamu ingat. Letak tong biru kamu ingat. Tapi Putri tidak ingat?"

Joko mengangkat kepala. "Saya sakit. Tangan saya sakit. Saya mau istirahat."

Adira menutup map.

"Baik. Kita istirahat setelah satu pertanyaan. Di mana tubuh Putri?"

Joko membeku.

Di ruang observasi, panel sistem muncul di sekitar wajahnya.

[Jumlah Korban: 2 Orang]

[Terkonfirmasi]

[Respons: penolakan defensif]

Arka merasakan dadanya menegang.

Sudah bukan indikasi.

Sudah dua.

Adira tidak melihat panel itu, tetapi ia melihat wajah Joko.

"Kamu dengar pertanyaan saya. Di mana tubuh Putri?"

"Saya tidak bunuh dia."

Adira membuka foto Luminol lagi. "Kalau begitu jelaskan darahnya."

"Dia pernah terluka."

"Di bawah meja potong? Di drainase? Di lipatan kontainer?"

Joko menggertakkan gigi.

Adira mendorong laporan DNA lebih dekat. "Kamu tidak sedang melawan cerita kosong. Kamu melawan hasil lab. Kamu mau diam, silakan. Tapi kalau kami menemukan tubuh Putri tanpa bantuanmu, pengakuan soal Dewi tidak akan terlihat seperti kerja sama. Itu hanya pengakuan setelah terjepit."

Joko menatapnya dengan mata merah. "Dia memeras saya."

Bambang langsung menunduk mencatat.

Adira tidak menunjukkan kepuasan.

"Apa yang dia tahu?"

"Dia lihat barang saya."

"Barang apa?"

Joko menutup mata. "Daging."

"Daging apa?"

Hening.

Adira menunggu.

Joko akhirnya berkata, "Babi sakit. Dari kandang luar kota. Saya potong. Saya jual murah ke warung yang tidak banyak tanya."

Bambang mengumpat pelan.

Adira tetap dingin. "Putri melihat?"

"Dia kerja bantu angkat kotak. Dia lihat satu karung. Dia bilang akan lapor. Lalu dia minta uang."

"Jadi kamu bunuh dia."

"Dia mau menghancurkan saya!"

Adira membanting telapak tangan ke meja.

Suaranya pelan.

Cukup untuk membuat Joko tersentak.

"Kamu menjual daging penyakit, lalu membunuh orang yang tahu. Jangan bicara seolah kamu korban."

Joko bernapas cepat.

Di balik kaca, Arka menatap tangannya sendiri.

Putri mungkin bukan malaikat.

Mungkin ia memeras.

Tapi pemerasan tidak membuat seseorang layak dipukul mati, dipotong, lalu dibuang ke sungai.

Adira kembali duduk. "Kapan?"

"Tiga bulan lalu. Malam. Saya bilang uangnya ada di cold storage."

"Alat?"

"Pipa besi."

"Setelah itu?"

Joko menunduk makin dalam. "Saya panik. Saya sudah pernah potong hewan. Saya pikir... kalau tidak ada tubuh, tidak ada kasus."

Bambang menatapnya seperti ingin bicara kasar, tetapi ia menahan diri.

Adira bertanya, "Tubuh Putri kamu apakan?"

"Saya potong. Tidak seperti Dewi. Waktu itu saya belum berani lama-lama. Saya masukkan ke karung anyaman, beberapa bagian. Saya beri batu. Saya buang ke Sungai Kalimas."

"Titiknya."

Joko diam lagi.

Adira mendorong foto Putri ke depannya.

"Dia sudah tiga bulan berada di luar laporan yang benar. Jangan tambah satu jam lagi."

Joko melihat foto itu.

Wajahnya berubah.

Rautnya menunjukkan takut.

Lebih mirip orang yang akhirnya sadar pintu belakangnya tertutup.

"Jembatan lama dekat gudang tepung," katanya lirih. "Airnya deras malam itu. Saya buang dari sisi timur."

"Berapa karung?"

"Tiga."

"Isi?"

"Tulang dan potongan. Saya tidak ingat semua."

Adira menggeser formulir BAP tambahan ke tengah meja. "Jelaskan urutannya. Karung pertama, kedua, ketiga. Jangan pakai 'tidak ingat' untuk semua. Kalau nanti tim menemukan lokasi yang berbeda dari ceritamu, kami tulis kamu menghalangi penyidikan."

Joko menatap formulir itu seperti melihat lubang yang makin dalam.

"Karung pertama paling berat," katanya. "Ada kepala. Saya ikat dua kali. Batu di bawah. Karung kedua bagian tubuh. Karung ketiga sisa tulang dan kain."

Bambang menulis tanpa mengangkat kepala.

Adira bertanya lagi, "Kepala?"

Joko menutup mata. "Masuk karung pertama."

Di ruang observasi, panel sistem berkedip.

[Jumlah Korban: 2 Orang]

[Terkonfirmasi]

[Misi diperbarui: temukan sisa jenazah Putri Handayani]

Arka mengambil napas panjang.

Adira memandang Joko lama sekali.

Ketika ia bicara lagi, suaranya lebih rendah.

"Kamu tahu, kalau laporan Putri tiga bulan lalu ditangani lebih serius, mungkin kita menemukan cold storage itu lebih awal."

Joko tertawa hambar. "Bukan salah saya kalau polisi lambat."

Bambang maju satu langkah.

Adira mengangkat tangan, menahannya.

"Tidak," kata Adira. "Kesalahan sistem tidak menghapus dosamu. Justru karena itu, mulai hari ini tidak ada satu bagian pun dari Putri yang akan kami biarkan hilang."

Ia berdiri.

"BAP tambahan. Tulis semua titik. Setelah itu siapkan tim ke Sungai Kalimas."

Bambang mengangguk. "Siap."

Adira keluar dari ruang pemeriksaan dan masuk ke ruang observasi.

Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri di samping Arka.

"Kamu benar," katanya.

"Saya lebih suka salah."

"Saya juga."

Di luar kaca, Joko menunduk di meja, tangan kanannya yang dibalut gemetar.

Arka menatap foto Putri di map.

"Bu Iptu."

"Ya."

"Sungai membawa banyak hal. Kalau sudah tiga bulan, kita jangan hanya cari karung utuh. Cari tulang kecil, ikatan tali, batu pemberat, serat karung. Semua bisa memberi identitas."

Adira mengangguk pelan.

Lalu ia mengangkat HT.

"Siapkan tim penyelam dan penyisiran Sungai Kalimas. Mulai dari jembatan lama dekat gudang tepung. Tidak ada yang pulang sebelum area prioritas disisir."

Ia berhenti sebentar.

Suaranya menjadi lebih dingin.

"Satu tulang pun jangan tertinggal."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!