Hanya sebuah kisah tentang seorang remaja laki-laki bernama Jasver Alistair yang akhirnya merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta untuk pertama kali setelah enam belas tahun hidup di dunia. Di sekolah, Jasver dikenal sebagai playboy kelas kakap. Bukan karena ia gemar mengejar perempuan, melainkan karena setiap gadis yang menyatakan perasaan kepadanya selalu ia terima tanpa banyak berpikir. Hidupnya berjalan baik-baik saja hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang gadis dari sekolah yang sama. Gadis itu menatap Jasver seolah sedang melihat sesuatu yang sangat menjijikkan. Sejak pertemuan yang tidak disengaja itu, takdir seakan terus mempertemukan mereka. Dan tanpa Jasver sadari, gadis yang selalu memasang wajah dingin itu perlahan menjadi alasan mengapa seorang playboy kelas kakap akhirnya mengenal arti cinta untuk pertama kalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 01
Suara mesin bus bergemuruh pelan, berpadu dengan derit roda yang sesekali beradu dengan jalan berlubang. Kendaraan itu melaju membelah padatnya lalu lintas sore, berhenti di setiap halte untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Di dalamnya, udara terasa pengap. Aroma parfum, keringat, dan sisa makanan yang dibawa beberapa penumpang bercampur menjadi satu. Meski begitu, dua kursi di bagian tengah masih ditempati dengan santai oleh dua pemuda yang sama sekali tidak terlihat terganggu oleh keadaan sekitar.
Salah satunya duduk menyandarkan punggung sambil memainkan ponselnya. Rambut hitamnya sedikit berantakan tertiup angin dari jendela yang terbuka. Sesekali sudut bibirnya terangkat karena membaca sesuatu di layar, entah pesan dari teman atau komentar-komentar konyol di media sosial. "Bro, coba liat ini."
Ponselnya disodorkan pada laki-laki di sampingnya. Tawa temannya langsung menyembur begitu melihat layar ponsel. "Parah, sih. Orang kayak gini masih aja ada," jawabnya masih diselingi tawa.
"Iya kan? Makanya gue bilang lucu."
Obrolan mereka mengalir begitu saja. Kadang membahas pertandingan sepak bola semalam, kadang saling mengejek tanpa alasan yang jelas. Tawa kecil beberapa kali terdengar dari bangku mereka, seolah hiruk pikuk di dalam bus bukan sesuatu yang perlu dipedulikan. Bus kembali berhenti, pintu otomatis terbuka perlahan.
Beberapa penumpang turun, tetapi jumlah yang naik justru lebih banyak. Dalam hitungan detik, lorong bus yang semula masih cukup lega berubah menjadi penuh sesak. Orang-orang saling bergeser, berusaha mencari ruang untuk berdiri tanpa saling bertabrakan. Seorang nenek dengan tas belanja kain menggenggam erat tiang besi di dekat pintu. Tak lama kemudian, seorang ibu hamil ikut masuk sambil melindungi perutnya dari desakan penumpang lain.
Bus kembali berjalan. Guncangan kecil membuat beberapa orang kehilangan keseimbangan. Ibu hamil itu refleks memegang tiang lebih kuat, sementara sang nenek harus mengatur napas agar tidak terjatuh. Terlihat jelas bahwa keduanya membutuhkan kursi saat ini. Tapi, tidak ada yang bergerak. Semua orang seakan sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang tetap menatap layar ponsel, ada yang berpura-pura tidur, dan ada pula yang sengaja mengalihkan pandangan ke luar jendela.
"Permisi."
Suara khas manusia bergender perempuan memecah riuh di dalam bus. Tidak keras, namun cukup jelas hingga beberapa kepala menoleh ke arahnya. Dua pemuda yang duduk di bangku tengah tetap asyik mengobrol, tidak teralihkan perhatiannya oleh suara perempuan itu. "Permisi," ucapnya lagi. Kali ini ia berdiri di hadapan dua pemuda yang asyik sendiri.
Kedua remaja laki-laki itu serempak mengangkat kepalanya. "Lo ngomong sama kita?" tanya salah satu remaja laki-laki itu.
"Kalian duduknya nyaman, ya?" gadis itu bertanya datar. Tatapannya bergantian mengarah pada mereka berdua, lalu pada seorang nenek dan seorang ibu hamil yang masih berdiri sambil berpegangan pada tiang bus. "Soalnya dari tadi ada nenek sama ibu hamil yang berdiri, tapi kalian kelihatannya ngga terganggu sama sekali."
"Masalah emangnya? Lagian, yang duduk di kursi itu bukan cuma kita. Banyak, tuh, remaja-remaja lain yang juga duduk di kursi, kenapa ngga ngomongnya sama mereka aja?" balas Jasver santai, sama sekali tidak merasa bersalah.
Gadis itu menghela napas pelan. "Jawaban lo itu cuma bikin gue makin yakin kalau lo emang ngga punya rasa malu."
Atmosfer di dalam bus mendadak sunyi. Beberapa penumpang tampak mencuri dengar perdebatan antara dua remaja yang sedang terjadi. Laki-laki bernama Jasver itu terdiam beberapa saat. Matanya beradu tatap dengan gadis di hadapannya.
"Gue sama Ren udah disini duluan sejak tadi. Kalo masalah mereka ngga kebagian tempat duduk, ya, bukan salah kami doang. Salah mereka juga yang ngga gercep," kilah Jasver, masih enggan mengakui kesalahannya.
Gadis itu mengangguk pelan. "Oke."
Jasver mengira perdebatan mereka akan selesai. Namun, di detik berikutnya, gadis itu kembali bersuara yang cukup menarik perharian penumpang. "Semoga nanti kalau orang tua lo ada di posisi mereka, orang lain juga mikirnya kayak gitu."
Tubuh Jasver membeku seketika. Kalimat gadis itu seolah menggantung di udara, membuat suasana di dalam bus semakin sunyi. Tatapannya perlahan bergeser ke arah seorang nenek yang masih berdiri sambil menggenggam erat tiang pegangan. Di sampingnya, seorang ibu hamil tampak mengusap pelan perutnya, berusaha menjaga keseimbangan setiap kali bus berguncang.
Untuk pertama kalinya sejak perdebatan itu dimulai, Jasver kehabisan kata-kata. Sementara Ren yang sedari tadi hanya menjadi penonton, kini mulai merasa tidak enak hati. Ia melirik Jasver sebentar, lalu kembali melihat ke arah nenek dan ibu hamil itu. "Ver..." bisiknya pelan. "Udah lah."
Rahang Jasver mengeras. Harga dirinya seperti sedang ditampar di depan puluhan pasang mata. Beberapa penumpang mulai melirik ke arahnya, bahkan ada yang mengangguk kecil seolah membenarkan ucapan gadis itu.
Sial. Kenapa jadi gue yang disalahin? batinnya dengan tangan yang masih terkepal.
"Silahkan duduk, nek," ucap Jasver singkat kepada nenek itu, berusaha terdengar biasa seolah keputusan itu datang dari dirinya sendiri.
Nenek tersebut tersenyum hangat. "Terima kasih ya, nak."
Ren ikut berdiri tanpa banyak bicara. "Ibu, silahkan duduk."
Ibu hamil itu membalas dengan senyum penuh rasa syukur sebelum perlahan menempati kursi yang baru saja dikosongkan. Bus kembali dipenuhi suara mesin dan percakapan pelan. Ketegangan perlahan menghilang. Jasver refleks menoleh ke arah gadis tadi. Ia berniat mengatakan sesuatu. Entah membalas atau menyindir.
Namun, gadis itu sudah lebih dulu memalingkan wajah. Baginya, urusan itu telah selesai. Ia kembali memasang earphone, lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela, sama sekali tidak tertarik melihat Jasver lagi. Remaja laki-laki itu mengernyit. Setelah ngomong setajam itu, gadis di hadapannya malah bertingkah seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Jasver mendecak pelan seraya menyandarkan tubuhnya di badan bus. Tatapannya masih sempat mencuri pandang ke arah gadis itu. "Cantik sih... Tapi sayangnya kelakuannya mines. Amit-amit dah kalo di sekolah ada cewek modelan dia," gumam Jasver masih sempat curi-curi pandang.
♧♧♧
Bel istirahat baru saja berbunyi.
Dalam hitungan detik, koridor SMA Astra Nova yang semula sepi berubah menjadi lautan siswa. Suara obrolan bercampur dengan langkah kaki yang saling bersahutan. Beberapa siswa berhamburan menuju kantin, sementara yang lain memilih tetap berada di depan kelas masing-masing.
Jasver berjalan santai menyusuri koridor bersama Ren. Satu tangannya masuk ke dalam saku celana, sedangkan tangan satunya sibuk memainkan tutup botol minuman yang baru saja dibelinya. "Uy, Ver."
"Hm?"
"Pacar lo mana?" tanya Ren iseng.
Jasver mendengus pelan. "Ayangnya gue? Katanya, sih, nunggu di depan perpustakaan."
"Itu pacar yang baru jadian minggu kemarin kah?"
"Yashh."
Ren hanya terkekeh kecil. "Buset, baru seminggu doang udah ayang-ayang."
Jasver mengangkat bahu santai. "Namanya juga pacaran."
Baru beberapa langkah berjalan, pandangan Jasver menangkap sosok seorang gadis yang berdiri membelakangi mereka. Rambutnya panjang sebahu. Tinggi badan yang tidak sampai 170 cm dan tas sekolah yang dikenakan pun tampak begitu familiar. "Nah, itu dia."
Tanpa menunggu lebih lama, ia mempercepat langkahnya. Ren yang masih berada beberapa meter di belakang hanya mengernyit bingung.
"Lah? Cepet amat."
Sementara itu, Jasver sudah berdiri tepat di belakang gadis tersebut. "Hai sayang!" Tanpa pikir panjang, lengannya langsung melingkar santai di bahu gadis itu. "Dari tadi gue cariin malah diem di sini aja. Ngambek, ya?" tanyanya santai.
Gadis yang dirangkul Jasver menolehkan kepalanya, membuat dirinya dan laki-laki disampingnya saling memandang. Waktu seolah berhenti. Jasver yang awalnya masih memasang senyum santai mendadak membeku. Sepasang mata dingin itu menatap lurus ke arahnya. Dan entah mengapa Jasver merasa tak asing.
Dengan hitungan detik, Jasver langsung menarik lengannya secepat mungkin seolah baru saja menyentuh benda panas. "Eh–"
Mulutnya terbuka, tetapi tidak ada kata yang keluar. Ren yang baru tiba di samping Jasver ikut membelalakkan mata. "Astaga, Ver..."
Jasver menelan ludah. "Sorry..." Suara percaya dirinya yang biasa terdengar lantang kini berubah canggung. "Gue kira... lo pacar gue."
Koridor yang semula ramai mendadak terasa sunyi bagi Jasver. Beberapa siswa yang melihat kejadian itu mulai melirik penasaran. Sementara gadis di hadapannya masih diam seribu bahasa. Ia hanya menatap Jasver tanpa ekspresi. Tatapan itu justru membuat Jasver merasa jauh lebih tidak nyaman.
"Hobi banget ya..." ucap gadis itu datar. Jasver mengernyit. "...asal nyentuh perempuan."
Deg.
Kalimat itu sukses membuat pipi Jasver memanas. Ia spontan mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah. "Eh, serius! Gue beneran salah orang tadi! Gue kira lo pacar gue."
Tatapan si cewek turun sebentar ke bahunya yang tadi dirangkul Jasver, lalu kembali menatap wajah laki-laki itu. "Kesalahan yang cukup sering dilakukan, atau baru pertama kali?"
Jasver langsung kehilangan kata-kata. Ren yang melihat sahabatnya dibungkam dua kali oleh orang yang sama hanya bisa menahan tawa. "Ver...," bisiknya pelan sambil menepuk bahu Jasver. "Kayaknya... karma lo dateng cepet, deh."
Si remaja laki-laki langsung memelototi sahabatnya. "Bangsat lo."
Ren semakin terkekeh. Sementara itu, gadis tersebut sudah berbalik dan melanjutkan langkahnya, seolah kejadian barusan bukan sesuatu yang pantas dipikirkan lebih lama. Jasver tanpa sadar mengikuti sosok itu dengan matanya hingga menghilang di balik belokan koridor.
Ia mengusap wajahnya kasar. "Kenapa lagi-lagi harus dia?" gumamnya.
Untuk kedua kalinya dalam dua hari berturut-turut, harga diri Jasver berhasil dijatuhkan oleh gadis yang sama. Dan yang lebih menyebalkan... ia bahkan belum mengetahui nama gadis itu.