Semuanya bermula dari sebuah kejadian yang sama sekali tidak pernah ia rencanakan.
Tinggal di panti asuhan membuat gadis itu terbiasa menjalani hidup sederhana,Jauh dari kata kemewahan,Namun satu hal yang selalu berhasil membuatnya tersenyum adalah kelinci kesayangannya.
Hingga suatu hari,Kelinci itu tiba-tiba kabur.
Tanpa berpikir panjang,Ayla berlari mengejarnya hingga keluar ke jalan raya,Karena terlalu fokus mengejar,ayla tak menyadari sebuah motor melaju ke arahnya.
Brak!
Dalam hitungan detik,Hidupnya seolah berubah.
Beruntung,Seseorang datang menolongnya sebelum keadaan menjadi lebih buruk,Pertemuan yang awalnya hanya sebuah ketidaksengajaan itu ternyata menjadi awal dari kisah yang jauh lebih besar.
Siapa sebenarnya lelaki yang menolongnya?
Dan apakah setelah pertemuan itu,Takdir seolah terus mempertemukan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira Maulidah salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Langit mulai redup dan udara perlahan berubah dingin.
Di depan rumah Bagas,Mobil Jeep hitam sudah terparkir rapi,Bagas berdiri di samping mobil,Tangan di saku.
Satu per satu mereka datang.
"GILA INI MOBILNYA?!"ucap dimas.
"Iya"ucap bagas singkat.
Dimas langsung muter-muter.
"Ini mah bukan liburan,Ini upgrade kehidupan,Gue sih siap liburan part-part selanjutnya."
"Lebay"ucap bagas singkat.
Raka geleng kepala.
"Padahal baru mulai."
Rina ketawa kecil.
Salsa datang sambil membawa tas dan kamera dengan heboh.
"AKU TELAT NGGAK?!."
"Belum"jawab rina santai.
"Kita naik ini?."
"Iya"jawab rina.
Salsa langsung senyum lebar.
"AKU SIAP HIDUP MEWAH HARI INI."
"Aku siap dokumentasi dari awal sampai akhir!"lanjut salsa lagi.
Ayla datang terakhir,memakai jaket yang kemarin dibelikan bagas.
"Maaf yah aku datang telat."
"Iya gak papa"ucap rina.
Semua sudah lengkap.
Bagas buka bagasi.
"Masukin barang."
Beberapa menit kemudian.
Semua sudah di dalam mobil.
Dimas langsung rebahan di belakang.
"ENAK BANGET YA ALLAH."
Raka nyengir.
"Mobil jalan aja belum."
Mereka semua tertawa
Salsa sudah mulai rekam.
"Trip dimulai!."
Bagas nyalain mesin.
"Siap?."
"SIAP!."
Mobil mulai jalan.
Di perjalanan,Suasana langsung hidup.
Dimas nyanyi keras.
"LIBURAN TELAH TIBA."
Salsa ikut.
"LIBURAN TELAH TIBA."
Raka tepok jidat.
"Berisik."
Semua langsung tertawa.
Beberapa jam kemudian,Mobil mulai masuk area pegunungan,Udara mulai dingin,Pemandangan hijau di kanan kiri.
Ayla melihat keluar jendela.
"Indah banget."
Bagas melirik sekilas dan mengangguk
Mobil terus melaju menyusuri jalan berkelok di area pegunungan.
Lampu-lampu mulai jarang terlihat, digantikan dengan siluet pepohonan tinggi di kanan kiri jalan dan Kabut tipis mulai turun.
Di dalam mobil,Suasana perlahan berubah lebih tenang.
Salsa masih sesekali merekam.
"Guys ini estetik banget sumpah."
Rina ikut melihat keluar.
"Udah kayak di film."
Dimas yang tadi heboh sekarang malah merinding.
"Ini kalau tiba-tiba ada hantu lewat,Gue turun duluan ya."
Raka langsung nyengir.
"Turun?Jalan kaki di hutan?Silakan."
"Ya nggak juga sih"gumam dimas.
Semua langsung tertawa.
Ayla masih fokus ke luar jendela.
Lampu depan mobil menerangi jalan sempit di depan.
Tiba-tiba gerbang besar muncul di depan mereka.
Bagas memperlambat mobil.
Gerbang itu terbuka perlahan.
"Wih"ucap salsa pelan sambil langsung mengarahkan kamera.
Mobil masuk ke area dalam,Jalanan berubah jadi paving rapi,Lampu taman menyala di sepanjang jalan.
Dan beberapa detik kemudian Bangunan besar terlihat di depan mereka,Villa itu berdiri megah,Lampu-lampunya hangat, halaman luas,Dengan taman yang tertata rapi.
Mobil berhenti tepat di depan dan mesin dimatikan.
Hening sebentar.
Dimas yang pertama buka pintu.
Dia turun lalu diam dan Menatap ke depan.
Beberapa detik.
"Gue salah ya?."
Semua keluar satu per satu.
Raka mengernyit.
"Salah apaan?."
Dimas menunjuk ke depan villa dengan wajah serius.
"Ini bukan villa."
Semua ikut melihat.
Bangunan itu terlalu besar dan terlalu mewah.
Dimas lanjut,suara pelan tapi penuh penekanan
"Ini mah."
Dia menoleh ke mereka.
"istana."
Salsa langsung teriak kecil.
"YA ALLAH BAGAS INI BENERAN?!."
Rina sampai ketawa nggak percaya.
"Ini villa apa resort sih?!."
Raka geleng kepala.
"Gue mulai curiga ini bukan liburan biasa."
Bagas turun dari sisi kemudi,santai seperti biasa.
"Biasa aja."
"BIASA KATAMU?!"dimas langsung heboh lagi.
Ayla berdiri agak dibelakang,Matanya menatap villa itu lalu pelan beralih ke bagas.
"Ini semua buat kita?"
Bagas menatap ayla sebentar,Lalu jawab singkat.
"Iya."
Ayla terdiam.
Salsa langsung lari ke depan pintu.
"GUE MAU ROOM TOUR SEKARANG!."
Raka langsung narik tas.
"Masuk dulu,baru heboh."
Rina ikut jalan sambil ketawa.
"Ini bakal jadi trip paling nggak normal sih."
Dimas masih berdiri di tempat,Ngelihat villa,Lalu ngelihat mobil dan Lalu ngelihat bagas.
"Gas."
"Iya?."
"Kalau ini mimpi,Tolong jangan bangunin gue."
Bagas cuma geleng kecil.
"masuk."
Pintu villa terbuka,Lampu dalam menyambut mereka dan tanpa mereka sadari liburan itu baru saja dimulai dengan cara yang nggak akan mereka lupakan.
Begitu mereka masuk semua langsung berhenti di tempat.
Interior villa itu jauh lebih gila dari luar,Langit-langit tinggi dengan lampu gantung besar,Sofa empuk tersusun rapi dan jendela kaca besar yang langsung menghadap ke pemandangan pegunungan.
Dimas pelan-pelan muter badan.
"Oke."
Sunyi dua detik.
"GUE PINDAH SINI AJA YA."
Raka langsung nyengir.
"Belum juga lima menit."
Salsa sudah muter-muter sambil rekam.
"INI RUANG TAMU APA LOBBY HOTEL?!."
Rina ikut masuk sambil geleng kepala.
"Serius ini terlalu berlebihan."
Ayla berdiri agak di tengah ruangan,Matanya pelan menyapu seluruh tempat itu,Masih nggak percaya.
Bagas masuk terakhir, santai seperti biasa.
"Taruh barang dulu."
Mereka berkumpul diruang tengah buat pembagian kamar.
"Seperti yang kalian lihat villa ini 3 lantai,lantai pertama ada dapur dan ruang keluarga,lantai kedua ada dua kamar,dan lantai ketiga rooftop."
"Jadi kamar pertama buat yang cewek dan kamar kedua buat yang cowok"lanjut bagas.
Dimas langsung bengong.
"hah?."
Raka langsung ketawa.
"Udah nasib lo."
Dimas langsung protes.
"LAH GUE NGAREP KAMAR SULTAN SENDIRI!."
"Lo dapet kamar cuma nggak sendiri" jawab raka santai.
Semua ketawa.
"Nanti kita langsung kumpul jam 9 dirooftop"lanjut raka.
Semua langsung mengangguk
Akhirnya pembagian selesai,Semua mulai bawa barang ke kamar masing-masing.
Mereka semua masuk ke kamar yang sudah ditentukan.
Kamar luas dengan tiga kasur besar, jendela kaca lebar,Dan balkon kecil.
Salsa langsung teriak.
"INI KAMAR APA HOTEL?!."
Rina ketawa.
"Udah,taruh barang dulu."
Ayla masuk pelan,Matanya berbinar.
"Bagus banget."
Sementara di kamar sebelah.
Dimas langsung jatuh ke kasur.
"YA ALLAH ENAK BANGET."
Raka geleng kepala.
"Baru masuk."
Bagas taruh tasnya.
"Jangan rusuh."
"GUE NGGAK PERNAH RUSUH"jawab dimas.
Raka langsung jawab cepat.
"Itu kebohongan terbesar malam ini."
Balik ke kamar cewek.
Mereka bertiga jalan ke arah balkon,Buka pintu,Udara dingin langsung masuk,Angin malam pelan menyentuh wajahnya.
Salsa masih sibuk rekam.
"Ini wajib masuk vlog sih."
Di luar Kabut makin turun,Lampu-lampu kota terlihat kecil di kejauhan.
Dan malam pertama di villa itu dimulai dengan tawa,Kehangatan,dan rasa nyaman yang perlahan makin mendekatkan mereka semua.
...••••••...
Angin malam terasa dingin, tapi suasana hangat,Lampu-lampu kecil menyala di sekitar,Langit gelap dihiasi bintang,Dan pemandangan kota terlihat jauh di bawah.
Mereka semua sudah berkumpul,Duduk melingkar.
Raka menepuk tangan sekali.
"Oke,sesuai rencana,Team BBQ,siapin alat."
Dimas langsung angkat tangan.
"EITS."
Semua menoleh.
Dimas nyengir lebar.
"Sebelum BBQ"
Dia melihat satu per satu.
"Kita main dulu."
Salsa langsung semangat.
"APA?!."
Dimas angkat botol minum di tengah mereka.
"Truth or dare."
Rina langsung ketawa kecil.
"Serius?."
Ayla tersenyum kecil.
"Boleh sih."
Semua akhirnya setuju.
Angin malam makin terasa dingin di rooftop.
Botol sudah diletakkan di tengah lingkaran.
Dimas menggosok tangan.
"Oke,kita mulai ya."
"Yang muter duluan siapa?"tanya rina.
"Gue lah"jawab dimas cepat.
"Pasti"gumam raka.
Dimas langsung memutar botol itu dengan semangat.
Botol berputar cepat.
Semua mata mengikuti arah putarannya.
Pelan,pelan Dan berhenti.
Botol mengarah Mengarah ke salsa.
Salsa langsung kaget.
"HAH GUE?!."
Dimas langsung ketawa.
"Iya lo,Truth or dare?."
Salsa mikir sebentar, lalu senyum pede.
"Truth."
"Wih aman juga"ucap raka.
Dimas mendekat sedikit,matanya menyipit jahil.
"Oke jujur ya."
Salsa langsung angkat tangan.
"Siap!."
Dimas langsung nanya cepat.
"Lo lagi suka sama siapa sekarang?."
"WOY!"Rina langsung ketawa.
Raka siulan pelan.
"Pertanyaan standar tapi mematikan."
Salsa diem sebentar.
Semua nunggu.
Salsa narik napas,lalu jawab santai tapi agak malu.
"aku suka sama wakil OSIS."
SUNYI.
Dua detik.
Tiga detik.
Dimas yang tadi santai Langsung berubah,Alisnya sedikit turun.
"wakil OSIS?"ulangnya pelan.
Raka langsung noleh ke dimas.
"Kenapa lo?."
Rina juga mulai curiga.
"Tumben lo diem."
Salsa nggak sadar, masih lanjut ngomong.
"Iya dia baik,terus perhatian juga."
"Siapa?"potong dimas cepat.
Salsa langsung nengok.
"Hah?."
"Siapa orangnya?"ulang dimas,Kali ini lebih serius.
Salsa mengerjap.
"Reno."
Dimas langsung nyengir lagi tapi jelas dipaksakan.
"Oh."
Raka langsung bisik pelan.
"Cemburu lo?."
"Apaan sih"jawab dimas cepat,Tapi matanya nggak bohong.
Rina senyum tipis.
"Ketahuan."
Salsa mulai sadar ada yang aneh.
"Eh kenapa sih kalian?."
"NGGAK APA-APA!"jawab dimas terlalu cepat.
Semua langsung ketawa.
"JELAS ADA APA-APA"ucap raka.
Dimas langsung ambil botol.
"Udah lanjut aja!."
Suasana jadi sedikit berubah.
Masih seru.
Tapi sekarang ada yang mulai terasa beda.
"Sekarang giliran Salsa muter"ucap rina.
Salsa masih bingung,tapi akhirnya muter botol.
Botol berputar dan berhenti,Mengarah ke dimas.
"NAHHH!"Raka langsung ketawa.
Rina senyum lebar.
"Karma instan."
Salsa langsung nyengir.
"Truth or dare?."
Dimas bersandar santai,Berusaha kelihatan biasa.
"Dare."
"Berani banget sekarang"ucap raka.
Salsa mikir sebentar,Lalu senyum jahil muncul.
"Oke."
Dia menunjuk ke arah dimas.
"Sebutin nama orang yang lo suka."
SUNYI LAGI.
Dimas langsung diem.
Raka langsung tepok paha.
"WADUH."
Rina nutup mulut nahan tawa.
Ayla juga mulai penasaran.
Salsa nyengir.
"Berani ambil dare kan?."
Dimas menghela napas pelan,Matanya sempat ngelirik ke salsa,Sebentar,Lalu dia buang muka.
"Skip boleh?."
"NGGAK BOLEH!"semua langsung kompak.
Raka ketawa.
"Ini aturan game,bos."
Dimas mengacak rambutnya,Mulai salah tingkah.
Beberapa detik hening.
"Nanti aja"gumamnya pelan.
Salsa langsung angkat alis.
"Kenapa nanti?."
Dimas cuma nyengir tipis.
"Belum waktunya."
Raka langsung bersiul.
"Wih misterius."
Rina senyum-senyum.
"Atau takut ketahuan?."
Dimas cuma geleng kepala.
"Lanjut."
Dan malam itu bukan cuma soal permainan lagi,Tapi mulai membuka,Perasaan yang selama ini disembunyikan.
Raka akhirnya tepuk tangan dua kali.
"Oke,Cukup."
Nada suaranya santai,tapi tegas seperti biasa.
"Team BBQ,saatnya kerja."
Dimas langsung berdiri.
"SIAP."
Tapi langkahnya nggak langsung jalan.
Salsa melirik.
"Kenapa diem?."
"Lagi mikir"jawab dimas singkat.
Raka langsung nyeletuk.
"Jarang-jarang."
Semua ketawa.
Dimas langsung nyengir lagi,nutupin.
"Udah lah,ayo kerja."
Di sisi lain rooftop.
Bagas sudah lebih dulu nyiapin alat,Arang disusun rapi dan api mulai dinyalakan.
Raka bantu dari samping.
"Cepet juga lo."
"Biasa"jawab bagas singkat.
Dimas datang,langsung jongkok di depan grill.
"Ini gue pantau ya."
Raka ngelirik.
"Pantau atau nunggu makan duluan?."
"Pantau sambil nunggu"jawab dimas santai.
Di sisi lain.
Ayla,Rina dan salsa duduk agak dekat meja.
Bahan makanan sudah siap.
Rina mulai nyusun piring.
"Untung tadi udah siapin dari bawah."
Ayla mengangguk kecil sambil bantu.
"Iya."
Salsa agak diem,Biasanya paling heboh,Sekarang malah beberapa kali melirik ke arah dimas.
Ayla sadar,senyum tipis.
"Kenapa?."
Salsa langsung kaget.
"Hah?Apaan?."
Rina ikut senyum.
"Jarang lo diem."
Salsa langsung ngelak.
"Capek."
Ayla nyengir kecil.
"Iya capek atau kepikiran?."
Salsa langsung nyikut pelan.
"Udah ah."
Di dekat api.
Dimas masih duduk depan grill,Tapi kali ini dia nggak banyak ngomong,Matanya sesekali ke arah salsa.
Bagas yang dari tadi fokus,tiba-tiba ngomong.
"Cemburu?."
Dimas langsung nengok cepat.
"Apaan sih lo."
Bagas tetap santai.
"Kelihatan."
Raka langsung nyengir.
"Parah,kebaca sama orang paling nggak ekspresif."
Dimas langsung ambil penjepit daging.
"Udah masak aja!."
Beberapa menit kemudian.
Daging mulai matang,Aroma harum langsung menyebar.
Suasana pelan-pelan balik hangat lagi.
"Udah bisa?"tanya dimas.
"Belum"jawab bagas.
"Sekarang?."
"Belum."
"Sekarang?."
Raka langsung tepok jidat.
"Lo nanya tiap 10 detik."
Semua ketawa.
"Udah"ucap bagas.
Dimas langsung ambil paling depan.
"YES."
"WOI BAGI!"teriak raka.
Salsa ketawa lagi,akhirnya balik seperti biasa.
"Cepet banget sih."
Mereka mulai makan.
Duduk melingkar.
Angin malam masih dingin.
Tapi sekarang hangat.
Ayla pakai jaketnya,sedikit mendekat ke api.
Bagas melirik sekilas,Tanpa banyak kata dia geser posisi grill sedikit lebih dekat ke arah ayla.
Ayla sadar tapi cuma diam.
Rina memperhatikan,lalu senyum pelan.
Salsa juga lihat lalu bisik ke ayla.
"Diperhatiin banget lo."
Ayla langsung salah tingkah.
"Apaan sih."
Di sisi lain.
Dimas makan sambil ngomong.
"Ini ini serius enak banget."
Raka nyengir.
"Karena gratis."
"Bukan,ini rasa kebahagiaan"jawab dimas.
Salsa langsung nyeletuk.
"Padahal tadi masih mikirin orang."
Dimas langsung batuk.
"UHUK NGGAK!."
Semua langsung pecah lagi.
Tawa mereka masih terdengar di rooftop,Api BBQ mulai mengecil tapi suasana tetap hangat.
Dimas masih makan dengan santai.
"Serius ini enak banget gue bisa nikah sama yang masak ini."
Raka langsung nyeletuk.
"Itu daging beli di supermarket."
Semua ketawa lagi.
Di tengah suasana itu,Bagas yang dari tadi lebih banyak diam akhirnya angkat suara.
"Dekat villa ini ada pantai."
Salsa langsung berhenti makan.
"HAH SERIUS?!."
Dimas langsung tegak duduk.
"Pantai?Di sini?!."
Raka mengernyit.
"Pegunungan ada pantai?."
Bagas nyengir tipis.
"Turun sekitar satu jam,Aksesnya privat."
SUNYI SEDETIK.
Salsa langsung teriak.
"INI RESORT APA DUNIA LAIN SIH?!."
Rina ketawa nggak percaya.
"Gila lengkap banget."
Ayla menatap bagas.
"Besok kita ke sana?."
Bagas mengangguk kecil.
"Kalau mau subuh berangkat,Bisa lihat sunrise."
Salsa langsung berdiri heboh.
"Aku siap!!Aku bangun jam berapa pun!."
Rina langsung nyeletuk.
"Yang tadi bilang capek siapa?."
Salsa langsung jawab cepat.
"Itu masa lalu."
Semua ketawa.
Rina masih senyum.
"Tapi serius ini bakal seru sih."
Ayla pelan tersenyum,matanya masih ke arah bagas.
"Terima kasih ya."
Bagas cuma jawab singkat.
"Hmm."
Raka berdiri sambil tepuk tangan kecil.
"Oke fix,Besok subuh kita kumpul diruang tengah."
Dimas langsung angkat tangan.
"Pertanyaan penting."
"Apa lagi?"tanya rina.
"Di pantai ada makanan lagi nggak?."
Semua langsung melempar tisu ke arah dimas.
"RAKUS!."
Dan malam itu kembali dipenuhi tawa dengan rencana baru yang bikin semuanya makin nggak sabar menunggu pagi.
Malam makin larut.
Obrolan makin santai dan tawa makin lepas.
Tapi di balik semua itu ada yang berubah pelan,Dimas yang mulai sadar perasaannya,Salsa yang mulai nggak bisa bohong dan ayla yang mulai mengerti cara bagas peduli.
Api BBQ masih menyala.
Langit tetap gelap dan angin tetap dingin.
Tapi malam itu hangatnya bukan cuma dari api,Tapi dari kebersamaan.
Malam semakin larut.
Satu per satu lampu kamar mulai dimatikan.
Suara tawa yang tadi memenuhi villa perlahan hilang,Digantikan dengan sunyi yang tenang.
Di kamar cewek.
Rina sudah tertidur lebih dulu.
Salsa masih sempat main ponsel sebentar,Lalu akhirnya ikut terlelap.
Sementara ayla masih terjaga,Dia berbaring telentang,menatap langit-langit kamar,Matanya tidak bisa benar-benar terpejam,Entah karena udara dingin atau karena pikirannya.
Perlahan,Dia bangkit duduk,Melirik ke kanan dan kiri,Semua sudah tidur,lalu ayla mengambil ponselnya pelan,Lalu mengetik.
Ayla:
"Kamu udah tidur?."
Beberapa detik,Balasan langsung masuk.
Bagas:
"Belum."
Ayla menatap layar sebentar.
Ayla:
"Masih dirooftop?."
Balasan lagi.
Bagas:
"Iya."
Beberapa detik hening.
Lalu muncul lagi pesan.
Bagas:
"Mau kesini?."
Ayla menatap pesan itu lebih lama dari sebelumnya.
Hatinya berdebar pelan.
Ayla:
"Iya,Tunggu.."
Ayla berdiri pelan,mengambil jaketnya,Dia pakai tanpa suara,Lalu berjalan keluar kamar dengan hati-hati.
Tangga menuju rooftop,Langkahnya pelan.
Sunyi.
Hanya suara angin malam yang terdengar.
Begitu sampai di atas,Ayla berhenti.
Bagas duduk di dekat sisa api BBQ yang masih menyala kecil,Cahaya api memantulkan bayangan hangat di wajahnya.
Tenang.
Diam.
Seperti biasa.
Ayla mendekat pelan.
"Kamu belum tidur?."
Bagas menoleh sedikit.
"Belum."
Ayla duduk di sampingnya.
Jarak mereka dekat,Tapi tetap nyaman.
Angin malam berhembus.
Ayla sedikit merapatkan jaketnya.
Bagas melihat sekilas.
"Kedinginan?."
Ayla mengangguk kecil.
"Dikit."
Bagas tidak banyak bicara,Bagas langsung mengambil kayu kecil,lalu menambah api,Api menyala sedikit lebih besar dan hangatnya langsung terasa.
Hening,Tapi bukan hening yang canggung melainkan hening yang nyaman.
Bagas tiba-tiba bicara.
"Mau denger sesuatu?."
Ayla menoleh.
"Hah?."
Bagas tidak langsung jawab,Bagas mengambil gitar yang tergeletak di samping kursi(entah sejak kapan ada di situ).
Ayla sedikit kaget.
"Kamu bisa main?."
"Sedikit."
Tanpa banyak kata,Bagas mulai memetik gitar pelan,Nada sederhanaTapi hangat.
Ayla diam dan Mendengarkan.
Lalu bagas mulai bernyanyi,Suaranya tidak keras,Tidak juga terlalu halus,Tapi jujur dan cukup untuk sampai.
Ayla menunduk sedikit dan senyumnya muncul pelan,Matanya mulai terasa berat.
Angin malam.
Suara gitar.
Api kecil yang menyala.
Dan suara Bagas yang stabil.
Semuanya menyatu jadi satu suasana yang menenangkan.
Tanpa sadar ayla bersandar pelan ke bahu bagas.
Bagas sedikit berhenti,Melirik dan ayla sudah terpejam.
Hening.
Bagas tidak menjauh,Dia hanya diam beberapa detik,Lalu pelan dia meletakkan gitar ke samping,Dengan hati-hati tangannya bergerak perlahan Mengangkat ayla,Membopongnya ringan.
Langkahnya pelan saat masuk kembali ke dalam villa,Turun tangga dan melewati lorong yang sunyi.
Sampai di depan kamar cewek,Bagas membuka pintu perlahan.
Di dalam rina dan salsa masih tertidur lelap.
Bagas masuk pelan,Menaruh ayla di kasur dengan hati-hati dan menyelimutinya.
Ayla sedikit bergerak,Tapi tidak bangun.
Bagas berdiri sebentar di samping tempat tidur dan Menatap.
Beberapa detik.
Lalu dia berbalik keluar kamar dan menutup pintu pelan.
Malam kembali sunyi.
Dan tanpa disadari perasaan yang tadi hanya samar sekarang mulai terasa jelas dengan cara yang sederhana seperti biasa cara bagas.