"Raka Laksana — yatim piatu, detektif gagal, ditertawakan semua orang. Sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dalam dirinya: “Sistem Penghakiman”. Mata Dosa yang bisa membaca dosa siapa pun. Buku Penghakiman yang bisa menjatuhkan hukuman di hadapan seluruh negeri. Kekuatan yang tak dimiliki polisi, jaksa, atau hakim mana pun.
Menyamar sebagai konsultan biasa di Satreskrim Kota Elang Biru, Raka membongkar kasus demi kasus — pembunuhan, sindikat perdagangan manusia, konspirasi elite — sambil menyembunyikan identitas aslinya sebagai eksekutor bayangan. Sistem terus naik level, skill terus bertambah, dan setiap penjahat yang lolos dari hukum biasa... tidak akan lolos dari tangannya.
Tapi ada satu kasus yang tak pernah bisa ia lupakan: dua puluh tahun lalu, kedua orangtuanya difitnah dan dihancurkan oleh **Keluarga Halim** — konglomerat paling berkuasa di kota ini. Setiap kasus yang ia selesaikan membawanya selangkah lebih dekat pada kebenaran itu.
Dan pada hari penghakiman tiba, seluruh bangsa akan menyaksikan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31: Hari-Hari Tenang di Satreskrim
Lima hari tanpa misi besar ternyata lebih melelahkan daripada yang Raka kira.
Tidak ada panel merah. Tidak ada timer pembunuhan. Tidak ada mayat baru di gang. Satreskrim tetap sibuk, hanya dalam skala yang lebih manusiawi: pencurian motor, penipuan toko online, laporan pemerasan, pertengkaran keluarga yang hampir menjadi kekerasan, dan satu kasus tetangga mencuri ayam yang membuat Dimas menghela napas selama sepuluh menit.
"Ini juga polisi," kata Yudha ketika Raka terlihat terlalu gelisah. "Tidak semua hari berisi pembunuhan berantai. Syukuri itu."
Raka mengangguk.
Ia memang bersyukur.
Tapi setelah dua kasus berat, diamnya sistem terasa seperti ruangan yang lampunya mati. Ia terus menunggu sesSatu bergerak dari gelap.
Poinnya tetap 5.000. Tidak cukup banyak untuk ceroboh. Progress Lv2 masih 2/5. Di kepalanya, angka itu kadang muncul saat ia sedang menyusun laporan kecil.
Tiga penghakiman lagi.
Empat puluh lima ribu poin lagi.
Jalan masih panjang.
Dimas mungkin merasakan kegelisahan itu, karena pada hari ketiga ia melemparkan pelindung telinga ke meja Raka.
Sebelumnya, Raka menghabiskan dua hari menyelesaikan laporan kecil. Ia menemukan pola transfer penipuan yang membuat seorang ibu mendapat kembali sebagian uang tabungannya. Ia membantu Bayu menelusuri pencuri motor dari pantulan kaca toko. Tidak ada panel besar. Tidak ada reward megah. Tapi setiap kali korban kecil menghela napas lega, Raka merasa kota ini sedikit lebih mudah ditinggali.
Tetap saja, tangannya gatal setiap kali Buku Penghakiman diam.
Pada hari kedua, seorang bapak datang membawa helm rusak dan laporan yang ditulis dengan tangan gemetar. Motornya dicuri, tetapi yang paling ia takutkan bukan motor itu. Di bagasi ada obat anaknya. Raka, Dimas, dan Bayu mengecek tiga CCTV toko, lalu menemukan motor itu dipakai dua remaja untuk berputar-putar sebelum ditinggalkan di dekat bengkel.
Tidak ada adegan besar. Tidak ada pengejaran dramatis. Hanya satu bapak yang memeluk kantong obat sambil berkali-kali mengucapkan terima kasih.
Raka berdiri di belakang meja laporan dan merasa dadanya aneh. Keadilan kadang bukan cahaya merah dari sistem. Kadang hanya obat yang pulang tepat waktu ke rumah kecil di ujung gang.
"Ikut."
"Ke mana?"
"Lapangan tembak. Kau bagian tim lapangan sekarang. Minimal jangan memegang pistol seperti memegang sendok panas."
Raka hampir mengatakan ia sudah tahu.
Lalu menelan kalimat itu.
Lapangan tembak kepolisian berada di belakang kompleks pelatihan kecil Polres. Bau mesiu lama menempel di dinding. Beberapa anggota berlatih di garis tembak. Dimas memberi Raka pistol latihan, menunjukkan prosedur keselamatan dengan serius.
"Jari di luar pelatuk sampai siap tembak. Moncong selalu ke arah aman. Cek ruang peluru. Jangan sok jago."
"Siap, Bang Dimas."
Skill Ahli Senjata Api bergerak di dalam tubuh Raka seperti mesin halus yang baru dinyalakan. Berat pistol terasa akrab. Posisi kaki, napas, tarikan pelatuk, semuanya seperti pernah ia lakukan ribuan kali.
Masalahnya, ia harus terlihat seperti pemula berbakat, bukan orang yang semalam mendapat pengetahuan master dari sistem.
Tembakan pertama mengenai tengah target.
Refleks Raka hampir membuatnya memperbaiki posisi terlalu sempurna. Ia memaksa bahunya sedikit kaku, membuat napasnya tampak belum stabil, dan pura-pura memeriksa grip setelah tembakan. Berpura-pura tidak ahli ternyata lebih melelahkan daripada menjadi ahli.
Dimas diam.
Tembakan kedua sedikit ia geser sengaja. Masih bagus.
Tembakan ketiga sampai kesepuluh membentuk kelompok rapat yang terlalu indah untuk pemula.
Dimas menurunkan teropong. "Kau pernah latihan tembak sebelumnya?"
Raka menatap target, lalu berkata lemah, "Beginner's luck?"
Dimas memandangnya seperti ingin melempar pelindung telinga. "Keberuntunganmu sangat menjengkelkan."
Di sisi lain lapangan, Yudha yang ternyata menonton hanya mengangkat alis. Tidak berkata apa-apa. Itu lebih berbahaya daripada komentar.
Sementara itu, Kribo dan Andi menemukan persahabatan baru yang tidak diminta siapa pun.
Mereka membangun basis data kriminal lokal tambahan dari data publik, laporan lama yang sudah boleh diakses, peta titik rawan, pola CCTV, dan arsip kasus kecil. Andi menyebutnya indeks bantu. Kribo menyebutnya proyek rahasia anti-bodoh. Mereka bertengkar soal nama selama dua jam, lalu sepakat tidak memberi nama karena keduanya benci nama pilihan lawan.
"Kode kamu berantakan tapi cepat," kata Andi.
"Struktur foldermu rapi tapi jiwamu seperti lemari arsip," balas Kribo.
"Terima kasih."
"Itu bukan pujian."
"Bagiku iya."
Channel Detektif 100 Persen juga terus tumbuh. Raka merekam konten malam hari, tanpa wajah penuh, tanpa kasus aktif, tanpa detail sensitif. Ia membahas cara membaca berita kriminal dengan sehat, mengapa bukti lebih penting daripada rumor, dan kenapa korban tidak boleh dipakai sebagai hiburan.
Komentar mulai berubah lagi.
— Bang Detektif pasti orang kepolisian.
— Suaranya kayak pernah dengar di konferensi pers.
— Ini Raka Laksana bukan sih?
Kribo langsung memperketat editing.
"Kita butuh pengubah suara. Dan sudut kamera baru. Dan mungkin kau berhenti memakai jaket yang sama dengan yang pernah kelihatan di berita."
"Itu jaket satu-satunya yang bagus."
"Maka beli jaket. Kita punya uang sistem. Gunakan untuk tidak tertangkap oleh netizen."
Di sela hari-hari itu, tim mulai menjadi lebih manusiawi satu sama lain.
Dimas bercerita istrinya hamil lima bulan. Wajahnya yang biasanya galak berubah aneh saat menunjukkan foto USG di ponsel.
"Kalau anakku laki-laki, aku tidak mau dia jadi polisi," katanya.
"Kalau perempuan?" tanya Raka.
"Juga tidak. Biar dia tidur cukup."
Andi menunjukkan koleksi drone mini yang ia modifikasi sendiri. Kribo terlihat seperti anak kecil di toko mainan.
Yudha, pada sSatu sore ketika kantor hampir kosong, memanggil Raka ke balkon belakang.
"Kau punya rahasia," kata Yudha tanpa pembukaan.
Raka menatap halaman parkir.
"Semua orang punya, Komandan."
"Punyamu lebih besar. Aku tidak tahu apa, dan aku tidak mendesakmu. Belum. Tapi sSatu hari, aku perlu tahu. Bukan karena aku ingin menjatuhkanmu. Karena kalau rahasia itu meledak di tengah kasus, aku harus tahu apakah aku berdiri di sampingmu atau menahanmu."
Raka merasa tenggorokannya kering.
"SSatu hari, Komandan."
Yudha mengangguk. "Pastikan hari itu datang sebelum terlambat."
Malamnya di kos, Buku Penghakiman terbuka.
【Akumulasi penyelesaian kasus kecil: +500 Poin Penghakiman】
【Saldo saat ini: 5.500 Poin Penghakiman】
Raka duduk lebih tegak.
"Kasus kecil juga memberi poin?"
【Kontribusi terhadap keadilan lokal terdeteksi. Nilai kecil. Konsisten.】
Panel berikutnya muncul.
【Syarat menuju Lv2: 5 Penghakiman dan 50.000 Poin Penghakiman】
【Progress Penghakiman: 2/5】
【Progress Poin: 5.500/50.000】
Kribo melihat dari samping. "Jadi kita masih jauh."
"Ya."
"Bagus. Kalau terlalu cepat naik level, biasanya bos terakhir muncul sebelum kita punya asuransi."
Raka tersenyum tipis.
Di luar, malam Distrik Surya terdengar biasa: motor lewat, orang tertawa, pedagang menutup gerobak.
Untuk beberapa hari, kota memberi mereka napas.
Raka belajar menikmatinya.
Meski tangannya tetap siap membuka Buku Penghakiman kapan saja.