NovelToon NovelToon
Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Status: sedang berlangsung
Popularitas:21
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Arga Bayu Pratama, mantan prajurit Kopassus, terbangun di kamar kosnya yang sempit.
Tanggal di ponselnya: 10 November 2040 — dua hari sebelum kiamat.
Di kehidupan sebelumnya, ia bertahan selama enam tahun di dunia yang hancur. Ia menyaksikan hujan api menghujani kota, zombie berkeliaran di jalanan, dan manusia saling membunuh demi segenggam beras. Ia mati sendirian, tanpa apa-apa, tanpa siapa-siapa.
Tapi sekarang ia kembali. Dengan seluruh ingatan masa depan di kepalanya. Dan satu kekuatan baru yang membuatnya bisa mendengar pikiran setiap orang di sekitarnya.
"Kali ini, aku tidak akan menjadi yang paling lemah."
Sambil membeli puluhan karung beras, air mineral, dan gas elpiji sebelum dunia runtuh, Arga mulai menyusun rencana: membangun tim terkuat, menguasai kota, dan mencari tahu siapa — atau apa — yang sebenarnya menyebabkan kiamat ini.
Karena kiamat bukan kebetulan. Seseorang sedang menonton dari atas sana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 020: Investasi Strategis

Arga baru tidur tiga jam ketika suara lutut menghantam lantai terdengar di koridor.

Bukan jatuh.

Bukan terpeleset.

Seseorang sengaja berlutut.

Kiara membuka mata lebih dulu.

Dara di luar pintu sudah mengangkat pisau.

Nadira muncul dari kamar tengah dengan buku stok di tangan, wajahnya langsung dingin.

Arga keluar dari suite utama.

Di koridor lantai dua puluh satu, seorang pemuda kurus berlutut di depan dua penjaga tim.

Usianya sekitar tujuh belas.

Bajunya robek.

Lengan kirinya penuh luka gores. Bibirnya pecah. Di punggungnya ada tas ojek online hijau yang sudah kotor oleh darah dan lumpur.

Ia menunduk sampai dahinya hampir menyentuh lantai.

"Tolong," katanya serak. "Siapa pun pemimpin di sini... tolong ibu saya."

Dara menahan salah satu penjaga agar tidak mendekat.

"Siapa kamu?"

"Galang." Pemuda itu mengangkat wajah. Matanya merah karena kurang tidur. "Galang Saputra. Saya tinggal di kamar dua satu satu tujuh. Ibu saya sakit. Dua hari tidak makan. Air habis. Demamnya tinggi. Saya sudah coba turun cari obat, tapi..."

Ia berhenti.

Tangannya gemetar.

Di dalam tas ojek online itu hanya ada dua botol kosong, sebungkus biskuit hancur, dan pisau dapur bengkok.

Arga menatapnya.

Telepati terbuka.

Pikiran Galang masuk seperti arus panas.

Ibu jangan mati.

Aku harus dapat air.

Aku tidak peduli mereka bunuh aku, asal Ibu hidup.

Jangan lihat perempuan-perempuan itu. Jangan minta makanan banyak. Cuma air. Cuma obat. Aku bisa kerja. Aku bisa bayar. Aku bisa keluar cari apa pun.

Telepati hanya menangkap putus asa yang bersih.

Lalu ingatan kehidupan sebelumnya menyala.

Galang.

Amukan.

Pisau paling tajam milik Surya.

Di Kota Harapan, pemuda ini pernah berdiri di garis depan selama tiga hari tiga malam, menahan gerombolan Zombie sampai kakinya patah. Galang tidak lahir sebagai yang paling pintar atau paling kuat, tapi sekali berutang nyawa, ia membayar sampai darah terakhir.

Di kehidupan sebelumnya, Galang berdiri di pihak Surya.

Bukan musuh.

Tetapi bukan milik Arga.

Kali ini, ia datang sendiri ke lantai dua puluh satu.

Terlalu awal.

Terlalu tepat.

Arga berjalan mendekat.

Penjaga memberi jalan.

Galang langsung menunduk lagi.

"Pak, saya mohon. Saya bisa kerja. Saya dulu kurir, ojek online juga jalan kalau aplikasi ramai. Saya hafal banyak gang di Semarang. Saya bisa turun ambil barang. Saya bisa jadi umpan juga tidak apa-apa. Tapi ibu saya..."

"Berdiri."

Galang membeku.

"Saya..."

"Berdiri dulu."

Pemuda itu mencoba berdiri, tetapi lututnya lemas. Dara menangkap lengannya dan menariknya naik.

Galang meringis, tetapi tidak mengeluh.

Arga bertanya, "Ibumu bisa jalan?"

"Tidak. Gula darahnya sering bermasalah sebelum kiamat. Sekarang demam. Napasnya berat. Saya tidak tahu harus apa."

Nadira menatap Arga.

"Diabetes. Dehidrasi. Infeksi mungkin."

"Bawa kami."

Mata Galang melebar.

"Sekarang?"

"Kamu minta tolong sekarang."

Galang hampir menangis, lalu menahan diri.

"Iya. Iya, Pak. Lewat sini."

Kamar 2117 berada di ujung koridor yang dulu jarang dipakai.

Pintu ditahan kursi dari dalam, tanda Galang masih punya akal untuk bertahan.

Ketika pintu terbuka, bau sakit langsung keluar.

Di atas ranjang, seorang wanita paruh baya terbaring dengan napas pendek. Wajahnya pucat kekuningan, bibir kering, rambut menempel di pelipis oleh keringat. Di meja kecil ada bungkus obat lama, botol air kosong, dan sepotong roti yang sudah keras.

Galang berlari ke samping ranjang.

"Bu. Bu, saya bawa orang."

Wanita itu membuka mata sedikit.

"Lang..."

Suaranya hampir tidak ada.

Galang menggenggam tangannya.

"Ibu tahan. Sebentar lagi ada air."

Arga mengeluarkan botol air otomatis.

Galang menatap benda itu seperti melihat keajaiban.

"Minumkan pelan," kata Arga.

Galang menerima dengan dua tangan.

Ia meneteskan air ke bibir ibunya sedikit demi sedikit.

Nadira memeriksa dahi, nadi, dan napas Bu Saputra dengan gerakan canggung tetapi teratur. Ia bukan dokter, tetapi dua minggu kiamat membuat semua orang belajar cepat.

"Dia sangat lemah," kata Nadira. "Kalau hanya air dan makanan, pemulihan lama. Kalau infeksi..."

"Aku tahu."

Arga mengambil dua Kristal Tingkat 1.

Kiara yang berdiri di pintu langsung memahami.

"Kamu mau pakai Kristal?"

"Ya."

Galang menoleh.

"Itu... untuk Evolver, kan? Saya dengar orang-orang bicara. Itu mahal. Saya tidak bisa bayar."

"Memang tidak."

Galang pucat.

Arga meletakkan dua Kristal itu di telapak tangan Bu Saputra.

"Pegang tangan ibumu. Suruh dia menelan sedikit air. Aku alirkan energinya perlahan."

"Pak, saya..."

"Diam dan lakukan."

Galang langsung patuh.

Arga menekan dua Kristal itu.

Energi di dalamnya tidak cukup untuk membuat orang menjadi Evolver. Tetapi untuk tubuh manusia yang belum rusak total, Kristal punya efek pemulihan dasar. Memperkuat vitalitas. Menekan demam. Membantu organ yang hampir menyerah bertahan.

Risikonya ada.

Jika tubuh terlalu rapuh, energinya bisa memicu pendarahan.

Arga memakai Telepati untuk membaca rasa sakit dan respons tubuh Bu Saputra dari kesadaran tipisnya.

Panas.

Haus.

Nyeri di dada.

Takut anakku sendirian.

Energi Kristal masuk perlahan.

Sepuluh menit.

Dua puluh menit.

Warna bibir Bu Saputra mulai kembali sedikit.

Napasnya tidak lagi berbunyi kasar.

Galang menggenggam tangan ibunya sambil menunduk. Air matanya jatuh ke seprai, tetapi ia tidak bersuara.

Akhirnya Bu Saputra membuka mata lebih jelas.

"Lang..."

"Iya, Bu. Saya di sini."

"Kamu... makan?"

Galang langsung hancur.

Ia menutup wajah dengan satu tangan, bahunya bergetar.

Arga mengeluarkan kotak makanan otomatis dan meletakkannya di meja.

Aroma nasi hangat, lauk sederhana, dan uap tipis memenuhi kamar.

Galang menatapnya.

"Ini untuk kalian. Kotak makanan otomatis. Botol air otomatis. Pakai hemat, jangan pamerkan ke penghuni lain."

Galang menatap Arga seperti tidak mengerti bahasa manusia.

"Untuk... kami?"

"Ya."

"Kenapa?"

Dara di pintu juga tampak ingin bertanya hal yang sama.

Nadira tidak bertanya.

Ia justru menatap Arga dengan mata yang seolah berkata: ini bagian dari masa depan yang Anda tahu, bukan?

Arga mengambil Belati Hi-Tech dari Gelang Dimensi.

Belati itu lebih pendek dari Pedang Hi-Tech, tetapi cukup untuk memotong tulang Zombie Tingkat 1 jika pemakainya berani mendekat.

Ia menyerahkannya kepada Galang.

"Kamu bisa pakai pisau?"

"Saya biasa bawa pisau kecil kalau antar malam. Bukan untuk gaya. Jalan kadang bahaya."

"Mulai sekarang, bahaya tidak kadang-kadang."

Galang menerima belati itu dengan tangan gemetar.

Begitu jari-jarinya menyentuh gagang, mata Arga melihat bayangan masa depan.

Galang yang lebih tinggi.

Galang yang berteriak dengan mata merah saat Amukan meledak di tubuhnya.

Galang yang berdiri di samping Surya, memegang garis Kota Harapan.

Galang yang seharusnya menjadi orang Surya.

Arga menepuk bahunya.

"Dengar baik-baik."

Galang langsung menegakkan badan.

"Di arah Banyumanik, ada sebuah sekolah menengah yang mulai dipakai sebagai titik kumpul. Cari pria bernama Surya. Pak Surya. Mantan perwira TNI. Dia keras, tapi tidak busuk."

Nadira mencatat lokasi tanpa diminta.

Galang ragu.

"Saya harus pergi dari sini?"

"Ya."

"Kenapa tidak... tinggal di sini? Saya bisa kerja untuk Anda."

Kiara melihat Arga.

Dara juga.

Pertanyaan itu wajar.

Galang kuat secara mental, punya rute jalan, punya ojek online background, punya ibu yang bisa jadi titik loyalitas. Orang seperti itu berguna di tim mana pun.

Tetapi Arga tidak butuh semua benih tumbuh di pot yang sama.

"Di sini kamu hanya akan menjadi satu orang di bawah bayanganku," kata Arga. "Di sana, kamu bisa naik lebih cepat."

Galang tidak paham sepenuhnya.

Tetapi ia mendengar keyakinan di suara Arga.

"Bilang pada Surya, kamu bisa bertarung, hafal gang, dan berani keluar. Jangan bilang aku mengirimmu kecuali dia bertanya siapa yang memberi barang."

"Kalau dia bertanya?"

"Bilang Arga Bayu Pratama."

Nama itu masuk ke kepala Galang seperti paku panas.

Arga Bayu Pratama.

Ia mengulang dalam hati.

Sekali.

Dua kali.

Seolah takut lupa.

"Bang Arga," Galang tiba-tiba berlutut lagi.

Arga mengerutkan dahi.

"Aku bilang berdiri."

"Saya tahu. Tapi ini terakhir." Galang menunduk dalam. "Anda menyelamatkan ibu saya. Saya tidak punya apa-apa untuk bayar. Tapi selama saya hidup, saya tidak akan lupa."

Arga melihat pikirannya.

Rumah itu polos, tanpa hiasan atau akting.

Hanya janji yang masih mentah, tetapi keras.

"Jangan bayar dengan lutut," kata Arga. "Bayar dengan hidup."

Galang mengangkat kepala.

"Saya akan hidup."

"Jaga ibumu. Bawa makanan dan air ini. Pergi sebelum siang. Jalan lewat tangga barat, keluar dari loading dock belakang, ambil gang kecil di samping laundry. Jangan pakai jalan utama. Ada kelompok pria di bus dekat jembatan kecil. Hindari."

Galang membeku.

"Anda tahu itu dari mana?"

Nadira hampir tersenyum.

Arga menjawab datar, "Aku baru lewat kemarin."

Itu benar.

Tidak lengkap, tetapi benar.

Galang mengangguk cepat.

Bu Saputra yang sudah lebih sadar berusaha bangun.

"Nak... terima kasih..."

"Tidak perlu bicara," kata Arga. "Hemat tenaga."

Wanita itu meneteskan air mata.

Galang membantu ibunya makan beberapa sendok nasi hangat. Setiap suap tampak seperti menariknya kembali dari tepi jurang.

Setengah jam kemudian, Galang sudah mengikat tas ojek online di punggung. Kotak makanan otomatis dan botol air otomatis dibungkus kain agar tidak terlihat. Belati Hi-Tech disembunyikan di pinggang dalam.

Dara memberi Galang jaket gelap.

"Pakai. Warna tasmu terlalu mencolok."

Galang menerima.

"Terima kasih, Kak."

"Jangan mati di jalan. Nanti aku merasa rugi sudah kasih jaket."

Galang mengangguk serius, terlalu serius sampai Dara memutar mata.

Kiara memberi satu nasihat.

"Kalau ada yang minta lihat isi tas, tusuk dulu, bicara nanti."

Galang menelan ludah.

"Iya, Kak."

Nadira menyerahkan kertas kecil berisi rute.

"Jangan simpan di tangan. Hafalkan, lalu buang."

Galang membaca cepat.

Arga memperhatikan.

Anak ini memang hafal jalan.

Sekali lihat, rute sudah masuk.

Beberapa menit kemudian, Galang memapah ibunya keluar dari kamar.

Di ujung koridor, ia berhenti dan menoleh.

Arga berdiri di depan pintu suite utama. Di belakangnya, lampu hotel yang redup membuat bayangannya panjang di lantai.

Galang menatap sosok itu.

Di dunia lama, ia pernah mengantar makanan untuk orang yang bahkan tidak mau melihat wajah kurir.

Di dunia baru, orang pertama yang benar-benar melihatnya justru pria yang bisa membunuh seluruh koridor jika mau.

Galang mengepalkan tangan.

Bang Arga.

Saya akan jadi kuat.

Suatu hari, saya akan berdiri di depan Anda bukan sebagai orang yang meminta tolong.

Sebagai orang yang berguna.

Ia berbalik dan pergi.

Telepati menangkap sumpah itu sampai langkahnya menghilang di tangga.

Nadira berdiri di samping Arga.

"Anda mengirim aset bagus ke orang lain."

"Aku menanam aset di tempat yang lebih jauh."

"Kota Harapan?"

Arga menoleh.

Nadira tidak pura-pura bodoh.

"Nama itu muncul di catatan Anda kemarin. Saya melihat sekilas ketika Anda bicara soal Surya."

"Kamu melihat terlalu banyak."

"Saya manajer. Itu pekerjaan saya."

Arga melihat tangga tempat Galang menghilang.

"Surya akan membangun sesuatu. Kita akan butuh hubungan dengannya."

"Dan Galang menjadi jembatan."

"Galang menjadi paku."

Nadira memahami perbedaannya.

Jembatan bisa dilalui dua arah.

Paku menancap.

"Anda yakin dia akan memilih Anda?"

Arga teringat Galang di kehidupan sebelumnya, tubuh berdarah tetapi tetap berdiri di depan gerbang Kota Harapan.

Orang seperti itu tidak bisa dibeli dengan makanan saja.

Tetapi bisa diikat dengan nyawa ibunya.

Bukan paksa.

Utang yang ia pilih sendiri.

"Aku sudah tahu jawabannya."

Nadira menatapnya sebentar.

Kalimat itu lagi.

Tahu.

Bukan menduga.

Ia tidak mengejar.

Belum.

Arga masuk kembali ke suite.

Di belakangnya, kota Semarang terus membusuk.

Di salah satu gang sempit, seorang pemuda dengan tas ojek online yang dibungkus jaket sedang memapah ibunya menuju masa depan yang belum ia pahami.

Ia tidak tahu bahwa ia baru saja menjadi bidak.

Ia juga tidak tahu bahwa bidak yang tepat, pada hari yang tepat, bisa menjadi pisau yang menentukan hidup mati sebuah kota.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!