Ketika Zilia mengetahui kekasihnya menikah dengan wanita lain, hidupnya seketika berubah.
Belum sempat menyembuhkan luka, ia justru dijodohkan dengan Rafael, pewaris keluarga Darmawan yang nyaris tidak dikenalnya. Namun, siapa sangka jika Vio datang kembali dan bersumpah akan merebutnya, sementara Rafael terang-terangan bahwa Zilia sebagai calon istrinya.
Di antara cinta lama, perjodohan, kecemburuan, dan rahasia keluarga, Zilia tidak pernah menyangka, bahwa pria yang awalnya hanya dianggap sebagai pengganti, justru akan menjadi lelaki yang mengubah seluruh hidupnya.
Akankah Zilia mendapatkan kebahagiaan? Atau justru ujian hidupnya semakin berat.
Penasaran? yuk ikuti jalan cerita mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 12
Sore harinya, saat Zilia masih termenung di balkon kamarnya, terdengar suara ketukan pelan.
Tok... tok...
"Nona, Tuan meminta Nona turun ke ruang tamu."
Zilia mengembuskan napas panjang.
"Iya, aku turun."
Beberapa menit kemudian, ia sudah berada di ruang keluarga.
Tuan Adrian yang sedang membaca berkas perusahaan langsung menutup map di tangannya.
"Duduk dulu."
Zilia menurut.
"Ada apa, Pa?"
"Malam ini Papa ada makan malam dengan rekan bisnis."
"Oh."
"Papa ingin kamu ikut."
Zilia mengernyit.
"Aku?"
"Iya."
"Untuk apa?"
"Anggap saja sekalian memperkenalkanmu kepada beberapa relasi Papa."
Zilia tampak berpikir.
Sejujurnya, ia sedang tidak ingin bertemu siapa pun.
Namun, mengingat pikirannya terus dipenuhi sosok Vio, mungkin keluar rumah bisa sedikit mengalihkan rasa sesaknya.
"Baiklah."
Tuan Adrian tersenyum tipis.
"Terima kasih."
Satu jam kemudian...
Mobil mewah milik keluarga Tuan Adrian berhenti di depan sebuah hotel bintang lima.
Pelayan langsung membukakan pintu.
"Silakan, Tuan."
Adrian berjalan lebih dulu, diikuti Zilia di sampingnya.
Mereka memasuki ruang VIP restoran.
Di dalam, seorang pria paruh baya langsung berdiri menyambut.
"Adrian!"
"Lama tidak bertemu."
Keduanya berjabat tangan hangat.
"Ini putriku, Zilia."
Pria itu tersenyum ramah.
"Jadi ini putri sulungmu."
Tak lama kemudian, suara langkah kaki kembali terdengar.
"Maaf, Yah. Tadi ada telepon dari kantor."
Zilia yang sejak tadi menundukkan kepala perlahan mendongak.
Begitu melihat sosok yang baru datang...
Matanya langsung membelalak.
"Kamu...?"
Rafael juga terdiam.
"Kamu?"
Ingatan mereka langsung kembali pada kejadian di danau. Saat Rafael memberikan napas buatan.
Refleks...
Zilia memegang bibirnya sendiri.
Di saat bersamaan, Rafael juga tanpa sadar menyentuh bibirnya.
Begitu menyadari gerakan masing-masing, keduanya langsung membuang muka dengan wajah memerah.
Melihat tingkah mereka, Tuan Adrian dan ayah Rafael saling berpandangan.
Lalu...
"Hahaha..."
Keduanya terkekeh pelan.
"Sepertinya kalian sudah saling kenal."
Rafael berdeham canggung.
"Sedikit."
Ayah Rafael tersenyum semakin lebar.
"Kalau begitu, Papa tidak perlu repot memperkenalkan lagi."
"Maksudnya?"
Pria itu menatap Zilia dengan penuh kebapakan.
"Kami memang sengaja mempertemukan kalian malam ini."
Zilia maupun Rafael mengernyit.
"Kenapa?"
Karena menurut kami..."
Ia melirik Tuan Adrian sekilas.
"...kalian adalah pasangan yang cocok."
Deg!
Jantung Zilia berdetak lebih cepat. Rafael pun tampak sama terkejutnya. Belum sempat mereka berbicara...
Ayah Rafael melanjutkan,
"Papa dan Tuan Adrian sudah sepakat menjodohkan kalian."
"Apa?!"
Seru Rafael dan Zilia hampir bersamaan.
"Pa!"
"Pa!"
Melihat ekspresi kedua anak itu, kedua orang tua justru tersenyum santai.
"Kalian tidak perlu langsung menikah."
"Kenalan dulu."
"Coba saling mengenal."
Ayah Rafael kemudian menepuk bahu putranya.
"Rafael."
"Iya, Pa."
"Ajak Zilia jalan-jalan sebentar."
"Biar kalian bisa ngobrol."
Rafael dan Zilia saling berpandangan.
Tatapan mereka sama-sama menunjukkan penolakan.
Namun, demi menghormati kedua orang tua, mereka akhirnya keluar dari ruang VIP.
Baru beberapa langkah berjalan di koridor hotel.
"Aku nggak setuju dijodohkan."
Zilia membuka pembicaraan.
"Tenang."
Rafael menjawab santai.
"Aku juga."
"Bagus."
"Jadi kita sepakat menolak dong."
"Kita cari cara buat nolak."
"Hm."
Belum sempat pembicaraan berlanjut...
Dari arah berlawanan muncul dua sosok yang sangat dikenal Zilia.
Vio.
Dan wanita yang beberapa hari lalu mengaku sebagai istrinya. Alena berjalan sambil menggandeng erat lengan Vio.
Pemandangan itu kembali mengoyak hati Zilia.
"Jadi benar... dia memang istrinya."
Sementara itu, Vio yang juga melihat Zilia langsung menghentikan langkahnya.
"Zil..."
Ia melepaskan genggaman Alena secara perlahan, lalu berjalan menghampiri.
"Zil, dengarkan aku dulu."
Zilia memalingkan wajah.
"Aku nggak mau dengar apa pun."
"Please."
Vio mencoba meraih tangan Zilia.
Namun...
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Vio.
Suara itu menggema di sepanjang koridor.
Semua orang langsung menoleh.
Vio terpaku.
Tangannya perlahan menyentuh pipinya yang memerah.
Sementara mata Zilia sudah dipenuhi air mata.
"Jangan pernah sentuh aku lagi."
Suaranya bergetar.
"Kamu pembohong."
"Kamu pengkhianat."
"Kamu sudah punya istri... tapi masih berani datang mencariku."
Koridor hotel mendadak sunyi.
Alena yang berdiri tak jauh dari sana mengepalkan tangannya. Sebelum suasana semakin memanas, Rafael segera melangkah ke depan.
Ia berdiri di samping Zilia.
"Maaf."
Rafael menatap Vio dengan tenang.
"Maaf atas tindakan calon istriku."
Ucapan itu membuat semua orang terdiam.
Zilia spontan menoleh.
"Apa?"
Rafael justru tersenyum tipis.
"Lagipula..."
Ia menatap Vio tanpa berkedip.
"Kami memang sudah bertunangan."
Tanpa diduga, Rafael meraih pelan tangan Zilia.
Bukan dengan kasar.
Melainkan seolah ingin melindunginya dari situasi yang semakin kacau.
Zilia sempat ingin melepaskan tangannya.
Namun, saat melihat wajah Vio yang berubah pucat, ia justru mengurungkan niatnya.
Ia membiarkan Rafael menggenggam tangannya.
Bahkan, ia melangkah lebih dekat hingga tampak benar-benar memiliki hubungan istimewa dengannya.
Tatapan Vio seketika kosong.
Dadanya terasa diremas.
Ia baru menyadari...
bahwa perempuan yang selama ini ia perjuangkan mungkin benar-benar akan menjadi milik pria lain.
Koridor hotel berubah sunyi.
Tak seorang pun berani bersuara.
Tatapan Vio terpaku pada tangan Rafael yang masih menggenggam tangan Zilia.
Dadanya sesak.
"Zil... ini bukan seperti yang kamu pikirkan."
Suara Vio terdengar parau.
Zilia tersenyum tipis.
Namun senyum itu bukan lagi senyum yang pernah Vio kenal.
Senyum itu dingin.
Penuh luka.
"Oh ya? Kamu masih ingin menjelaskan apa?"
"Aku bisa jelaskan semuanya, Zil."
"Tentang apa?"
"Tentang pernikahanku."
Zilia mengangkat sebelah alisnya.
"Memangnya ada yang perlu dijelaskan?"
Vio maju selangkah.
"Aku menikah karena dipaksa."
"Dipaksa?"
"Iya."
"Papa mengancam akan menghancurkan perusahaan kalau aku menolak. Jadi aku tidak punya pilihan."
Mendengar pengakuan itu, mata Zilia sempat bergetar.
Namun hanya sesaat.
Detik berikutnya, sorot matanya kembali membeku.
"Lalu?"
Vio terdiam.
"Lalu apa bedanya?"
"Kamu tetap menikah."
"Kamu tetap mengucapkan kalimat sakral. Kamu juga vtetap menjadi suami perempuan lain."
Kalimat demi kalimat keluar tanpa emosi.
Justru itulah yang membuat Vio semakin terpukul.
"Kamu tahu apa yang paling menyakitkan?"
Zilia menatap tepat ke mata Vio.
"Bukan karena kamu menikah. Tapi karena kamu tetap datang menemuiku. Kamu tetap memelukku. Kamu tetap menggenggam tanganku. Kamu tetap berkata akan melamarku."
Air mata akhirnya jatuh.
"Ternyata... aku hanya perempuan cadangan bagimu."
Deg!
Ucapan itu terasa seperti menghantam kepala Vio.
"Bukan begitu, Zil!"
"Hentikan!"
Suara Zilia meninggi.
Beberapa tamu hotel kembali menoleh.
"Kamu tidak berhak memanggil namaku seolah-olah kita masih memiliki hubungan."
Vio mengepalkan kedua tangannya.
"Aku mencintaimu."
"Cinta?"
Zilia tertawa pelan.
Tawa yang terdengar jauh lebih mengerikan daripada tangisan.
"Kalau itu cinta... kenapa kamu tidur di ranjang perempuan lain?"
Deg.
Wajah Vio langsung memucat.
"Aku tidak pernah tidur satu kamar dengannya. Percayalah padaku, Zil."
Alena yang berdiri di sampingnya perlahan menyunggingkan senyum tipis.
Ia tidak menyela sedikit pun.
Seolah menikmati kehancuran hubungan mereka.
"Aku..."
"Kamu tidak perlu menjawab lagi. Tidak perlu banyak alasan yang gak bakal aku percaya."
Zilia mengangkat telapak tangannya.
"Aku jijik mendengarnya."
Seketika wajah Vio berubah.
"Jijik?"
"Iya."
"Mulai hari ini... jangan pernah muncul lagi di hadapanku."
"Aku tidak mengenal laki-laki bernama Vio."
Kalimat itu membuat napas Vio tercekat.
Ia ingin mendekat.
Namun Rafael lebih dulu melangkah.
Tubuh tinggi Rafael berdiri tepat di depan Zilia.
"Maaf."
Suara Rafael tenang.
"Tapi saya rasa percakapan ini sudah selesai."
Vio menatap Rafael tajam.
"Ini urusan kami."
Rafael tidak bergeming.
"Mulai detik ini... urusan Zilia juga menjadi urusan saya."
Vio mendengus.
"Kamu siapa berani ikut campur?"
Rafael tersenyum tipis.
"Saya? Bukankah saya sudah mengatakannya tadi? Apa kamu tidak mendengar pengakuanku tadi?"
Ia melirik Zilia sebentar.
"Aku adalah laki-laki yang akan menjaganya."
Kalimat itu membuat rahang Vio mengeras.
Alena yang sedari tadi diam akhirnya meraih lengan Vio.
"Sayang, cukup. Sebaiknya kita pulang."
Namun Vio melepaskan genggamannya.
"Diam."
Nada suaranya dingin.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, Alena melihat Vio membentaknya. Tatapan Vio kembali tertuju pada Rafael.
"Kamu pikir aku tidak akan tinggal diam."
Rafael justru melangkah semakin dekat hingga jarak mereka hanya beberapa sentimeter.
Aura keduanya langsung berubah mencekam.
"Ancaman?"
"Terserah kamu mengartikannya."
Rafael tersenyum tipis.
"Lucu. Seorang suami... mengancam laki-laki lain karena perempuan yang bukan lagi menjadi haknya."
Ucapan itu menghantam harga diri Vio.
"Kamu!"
Baru saja Vio hendak mengangkat tangannya...
Rafael lebih dulu menangkap pergelangan tangan Vio.
Cengkeramannya kuat.
Sangat kuat.
"Kendalikan emosimu."
Nada suara Rafael tetap tenang.
Namun justru ketenangan itulah yang terasa mengintimidasi.
"Kalau tidak... aku yang akan mengajarimu bagaimana menghormati perempuan."
Tatapan keduanya saling beradu. Tak ada yang mau mengalah. Sementara di belakang Rafael...
Zilia hanya memandang Vio dengan tatapan asing.
Tak ada lagi cinta.
Tak ada lagi kerinduan.
Yang tersisa hanyalah luka yang perlahan berubah menjadi kebencian.
Dan saat itulah...
Untuk pertama kalinya Vio benar-benar menyadari bahwa ia mungkin telah kehilangan Zilia. Bukan karena perjodohan. Bukan karena Rafael. Melainkan karena kebohongan yang ia ciptakan sendiri.
awas y thor kalo gk update
suka ceritanya
awas ya thor kalo gak nyampe end
tak jewer kamu thor😄