NovelToon NovelToon
Dihina di Depan Umum, Bangkit Jadi Pengacara Terkuat

Dihina di Depan Umum, Bangkit Jadi Pengacara Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Galaxy

Alexander Wijaya hanyalah pengacara magang berpenghasilan pas-pasan, menanggung uang kos dan biaya kuliah adiknya sendirian — sampai malam ia dipermalukan habis-habisan oleh mantan kekasihnya, Priscilla Salim, di depan umum. Amarah dan keterhinaan itu justru membangunkan Sistem Pengacara Terkuat: panel status rahasia, kemampuan membaca pikiran, dan analisis bukti secepat kilat yang hanya bisa dilihat olehnya sendiri.

Sejak saat itu, setiap lawan yang meremehkannya berakhir mati sosial di ruang sidang. Namun di balik kebangkitannya, tersimpan luka lama: kematian ayahnya 27 tahun silam yang penuh kejanggalan, dan sebilah golok berdarah warisan keluarga yang menyimpan rahasia kelam.

Ketika seorang profesor dijatuhi vonis mati atas tuduhan yang tidak pernah ia lakukan, dan waktu eksekusi tinggal menghitung hari, Alexander harus membuktikan satu hal yang bisa mengubah segalanya — bahwa keadilan yang tak terlihat, lebih berharga untuk diperjuangkan daripada nyawanya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galaxy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 014: Gugatan Diajukan

Pagi itu, Pengadilan Negeri Kota Cahaya lebih ramai dari biasanya.

Di sisi gedung yang menjadi kepaniteraan Pengadilan Hubungan Industrial, tujuh pengemudi MakanYuk berdiri dengan jaket mereka dilipat di tangan. Tidak semua yang diwawancarai kemarin berani datang. Dari dua puluh lebih nama, sebagian mundur sebelum matahari naik.

Alexander tidak menyalahkan mereka.

Orang yang menggantungkan beras rumah pada satu akun aplikasi tidak bisa diminta berani hanya karena orang lain menyebut kata keadilan.

Gunawan datang membawa map tebal. Di sampingnya, Anwar Halim duduk di kursi roda, wajah pucat, rusuknya masih dibalut, tetapi matanya hidup. Yanti berdiri di belakang kursi itu dengan kedua tangan di pegangan.

"Pak Anwar tidak perlu memaksakan diri," kata Alexander.

Anwar tersenyum lemah. "Kalau nama saya dipakai untuk membela teman-teman saya, saya harus lihat sendiri hari pertamanya."

Kalimat itu membuat pengemudi lain menunduk. Mereka tahu orang yang paling sakit justru duduk paling depan.

Di meja pendaftaran, panitera menerima berkas pertama.

"Gugatan Class Action Ketenagakerjaan Anwar Halim dan kawan-kawan melawan PT MakanYuk Digital Indonesia," baca panitera.

Suara itu biasa saja. Datar. Administratif.

Namun bagi Alexander, kalimat itu seperti palu pertama yang diketukkan ke tembok besar.

Ia menyerahkan daftar penggugat, uraian kelompok, kronologi kecelakaan Anwar, bukti kontrak kemitraan, pola suspend, skema insentif, catatan biaya medis, dan lampiran permintaan dokumen yang tidak dijawab MakanYuk.

Ting! Penyusunan Dokumen Hukum memverifikasi struktur gugatan.

Identitas para pihak: lengkap.

Dasar hubungan kerja terselubung: terurai.

Kepentingan bersama kelompok: terhubung.

Permintaan perlindungan sementara: tercantum.

Panitera memberi tanda terima sementara. "Berkas akan diperiksa kelengkapan administrasinya. Nomor perkara menyusul setelah proses input selesai."

"Terima kasih," jawab Gunawan.

Mereka baru berbalik ketika lift di ujung lorong terbuka.

Empat pria berjas keluar lebih dulu. Di belakang mereka, seorang pria berusia empat puluhan melangkah pelan dengan folder kulit hitam di tangan. Rambutnya rapi, senyumnya dingin, dan cara orang-orang di sekitarnya memberi ruang menunjukkan bahwa ia terbiasa membuat orang lain menunggu.

Bagas Pratama ada di belakangnya.

"Pak Gunawan Kusuma," kata pria itu. "Lama tidak bertemu."

Gunawan tidak terkejut. "Robert Salim."

Lorong langsung berubah senyap.

Robert menoleh ke Alexander. "Ini anak muda yang membaca kontrak kami dengan sangat jernih?"

"Alexander Wijaya," jawab Alexander.

"Saya tahu." Robert tersenyum. "Beberapa hari ini nama Anda cukup rajin muncul di meja saya."

"Berarti meja Bapak bekerja."

Senyum Robert menipis sepersekian detik.

Ia melirik kursi roda Anwar, lalu para pengemudi yang berdiri tidak jauh. "Saya menghargai semangat warga. Tetapi semangat tidak otomatis menjadi dasar gugatan. Perjanjian kemitraan kami ditandatangani sukarela. Tidak ada paksaan. Tidak ada hubungan kerja. Dan class action tanpa kesamaan kerugian yang jelas bisa gugur sebelum masuk pokok perkara."

Beberapa pengemudi terlihat gelisah.

Robert tahu kalimat mana yang harus ditancapkan.

Alexander maju setengah langkah. "Maka kita uji di forum yang tepat."

"Forum yang tepat juga bisa memberi sanksi bila gugatan sembrono."

"Itu sebabnya kami membawa bukti, bukan poster."

Seorang wartawan dari media hukum lokal mengangkat perekam suara. Dua lainnya berdiri dengan kamera kecil dan notes. Liputan itu kecil dan tertib, cukup untuk membuat perusahaan besar merasa diperhatikan.

"Pak Alexander," tanya salah satu wartawan, "apa inti gugatan ini?"

Gunawan menoleh sedikit, memberi izin.

Alexander menghadapi perekam suara.

"Intinya sederhana. Perusahaan tidak bisa menyebut seseorang bebas di atas kertas, lalu mengendalikan jam, order, performa, atribut, insentif, dan risiko hidupnya melalui sistem. Kami meminta pengadilan melihat praktiknya dan tidak berhenti pada judul kontrak."

Robert tertawa pelan. "Pernyataan yang bagus untuk berita."

"Pernyataan yang lebih bagus untuk pembuktian," jawab Alexander.

Anwar mengangkat tangan gemetar. "Saya cuma mau kerja, Pak. Saya tidak cari ribut. Waktu saya jatuh, mereka datang tanpa tanggung jawab. Mereka bawa surat supaya istri saya diam."

Kamera wartawan mengarah kepadanya.

Robert langsung mengangkat tangan. "Pak Anwar, saya sarankan Bapak berhati-hati. Pernyataan publik bisa berdampak pada posisi hukum Bapak."

Yanti mencengkeram pegangan kursi roda.

Alexander berdiri di antara Robert dan Anwar.

"Pak Robert, klien saya berhak menceritakan pengalamannya. Kalau MakanYuk merasa dirugikan oleh fakta, silakan bantah dengan dokumen."

"Kami akan bantah di pengadilan."

"Kami menunggu."

Tatapan mereka bertemu.

Di mata Robert, Alexander melihat sesuatu yang lebih dingin daripada marah. Bukan orang yang kehilangan kendali. Orang seperti itu justru berbahaya karena ia sudah terbiasa menyuruh orang lain melakukan bagian kotor.

Panitera kembali dari meja.

"Berkas diterima untuk registrasi awal. Nomor perkara sementara: PHI/14/VIII/2026/PN.KC. Pemberitahuan lanjutan akan dikirim kepada para pihak."

Para pengemudi menahan napas.

Lalu salah satu dari mereka mengepalkan tangan kecil di samping paha. Tidak ada sorak. Tidak ada tepuk tangan besar. Hanya rasa bahwa pintu yang selama ini tertutup akhirnya punya nomor perkara.

Ting! Misi cabang selesai: daftarkan gugatan kolektif pertama melawan MakanYuk.

Ting! Reputasi profesi meningkat di kalangan media hukum lokal.

Ting! Level meningkat: Lv6 Advokat Pemula.

Alexander menatap panel itu singkat, lalu kembali ke wajah Anwar.

Anwar menangis tanpa suara. "Saya tidak pernah pikir nama saya bisa sampai ke pengadilan."

"Nama Bapak bukan beban," kata Alexander. "Hari ini nama Bapak menjadi pintu."

Robert menutup folder kulit hitamnya.

"Pak Alexander," katanya sebelum pergi, "pintu yang dibuka terlalu keras kadang menjepit orang di belakangnya."

"Kalau pintu itu dipakai untuk mengurung orang, memang harus dibuka keras."

Robert tidak menjawab. Ia hanya menatap Anwar satu detik lebih lama daripada perlu, lalu berbalik menuju lift.

Alexander melihat tatapan itu.

Dingin. Terukur. Ucapan itu diarahkan kepada orang yang masih duduk di kursi roda.

Ia segera menoleh ke Yanti.

"Setelah ini, Pak Anwar langsung kembali ke RS Kota. Jangan menerima obat, makanan, atau kunjungan siapa pun tanpa memastikan nama petugasnya. Catat semuanya."

Yanti pucat. "Ada apa, Alex?"

Alexander memandangi pintu lift yang sudah menutup.

"Perkara ini resmi dimulai," katanya. "Mulai hari ini, mereka tidak hanya akan melawan gugatan."

Ia menggenggam tanda terima perkara.

"Mereka akan mencoba melemahkan orang yang membuat gugatan ini punya wajah."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!