NovelToon NovelToon
Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Dosen / CEO
Popularitas:30
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Mabuk semalam di Singapura, Kirana menghabiskan malam terpanasnya dengan pria asing paling memukau yang pernah ia temui—lalu kabur subuh, meninggalkan selembar uang di nakas seolah pria itu cuma "bayaran satu malam".

Ia bersumpah takkan pernah bertemu lelaki itu lagi.

Sampai pagi harinya, pria itu berdiri di depan kelas sebagai **dosen pengganti** mata kuliah keuangannya. Prof. Arya Danuwangsa. Delapan tahun lebih tua, dingin, menyeringai seolah tahu persis apa yang mereka lakukan semalam.

*"Sepertinya malam itu kamu cukup puas, ya?"*

Astaga. Kirana baru saja tidur dengan dosennya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 28: Poster Viral

Pukul tujuh lewat tiga menit, ponsel Kirana tidak berhenti bergetar.

Poster Hujan Terakhir baru saja muncul di akun resmi festival, tetapi jumlah bagikannya sudah menembus ratusan. Foto Arya menangkap Kirana di tengah hujan memenuhi layar. Dari sudut kamera, bibir mereka terlihat bertemu tepat sebelum tubuh Kirana menyentuh tanah.

Winda masuk ke kamar sambil membawa dua ponsel. “Kita viral.”

“Pertunjukannya atau ciumannya?”

“Jangan tanya kalau kamu tahu jawabannya.”

Tagar #HujanTerakhir berada di urutan pertama percakapan kampus. Beberapa menit kemudian, #DosenVsMahasiswi menyusul. Akun base mahasiswa mengunggah ulang poster dengan keterangan, Dosen galak ternyata cocok main hujan-hujanan sama primadona kampus.

Komentar pertama penuh dukungan.

Mereka harus jadian setelah pentas.

Tatapan Prof Arya bukan akting, sumpah.

Tiket malam Sabtu masih ada? Aku rela berdiri.

Kirana ingin menertawakan kreativitas mereka sampai satu komentar lain muncul.

Pantas dapat pemeran utama. Dekat sama dosennya, sih.

Balasan serupa segera bertambah. Seseorang menuduhnya sengaja menggoda Arya demi nilai. Akun lain mempertanyakan kenapa mahasiswi yang “terlalu mudah disentuh” layak mewakili fakultas.

Senyum Kirana menghilang.

Winda duduk di sampingnya. “Jangan baca semuanya.”

“Kalau aku diam, mereka merasa benar.”

“Kalau kamu jawab semua, mereka dapat panggung.”

Mereka memilih tiga tuduhan yang menyangkut proses akademik. Melalui akun kecilnya, Kirana mengunggah rubrik audisi, nama panel penilai, serta penjelasan bahwa nilai mata kuliah dan pemilihan pemeran dipisahkan. Ia tidak menyebut akun mana pun.

Tidak semua omongan layak dibalas, tulisnya. Tetapi proses yang bisa diverifikasi tidak perlu dikalahkan oleh fitnah.

Winda menambahkan rekaman audisi yang telah disetujui para pemeran. Dalam video itu, keputusan Bima dan panel terdengar jelas sebelum Arya masuk ruangan.

“Sekarang tutup aplikasi,” kata Winda.

Kirana mengangguk, lalu membuka satu komentar terakhir dari akun Cindy.

Chemistry memang bisa dilatih. Kedekatan di luar panggung, siapa yang tahu?

Kalimatnya tampak netral, tetapi cukup untuk memancing puluhan tuduhan baru.

Di kampus, poster telah dicetak setinggi dua meter. Mahasiswa berhenti di lobi untuk berfoto. Ketika Kirana berjalan menuju kelas, dua mahasiswi menyebut namanya, lalu tertawa sambil melihat foto ciuman.

Kirana mengangkat dagu dan terus berjalan.

Ujian sesungguhnya datang saat makan siang. Begitu ia dan Winda memasuki kantin, percakapan di beberapa meja melemah. Seorang mahasiswa tingkat pertama memberanikan diri mendekat untuk meminta foto. Kirana melayani dengan ramah, tetapi temannya merekam dari jauh sambil berbisik bahwa ia ingin melihat “gaya pacar dosen”.

“Kalau mau merekam, minta izin,” kata Kirana tanpa meninggikan suara.

Mahasiswa itu tersentak dan menurunkan ponsel. “Cuma bercanda, Kak.”

“Lelucon berhenti lucu ketika orang yang dijadikan bahan tidak setuju.”

Beberapa kepala menoleh. Kirana tidak menunggu permintaan maaf. Ia memilih meja, membuka bekal, dan makan seperti biasa meski telapak tangannya dingin.

Winda menyodorkan sambal. “Pidato bagus.”

“Aku hampir menjatuhkan sendok.”

“Mereka tidak tahu itu.”

Dua mahasiswi dari tim kostum kemudian duduk bersama mereka. Mereka menceritakan bahwa sejak poster viral, penjualan merchandise meningkat dan mahasiswa dari kampus lain mulai memesan tiket. Salah satunya juga menunjukkan komentar panjang yang membela Kirana dengan menjelaskan standar intimacy choreography selama latihan.

“Banyak yang waras,” kata Winda. “Yang kejam biasanya cuma lebih berisik.”

Kirana menyimpan kalimat itu. Ia membagikan unggahan akun produksi mengenai prosedur audisi dan keselamatan pemeran, lalu menulis singkat bahwa kerja puluhan orang di balik pementasan tidak boleh dipersempit menjadi gosip tentang tubuh seorang perempuan.

Unggahannya mendapat dukungan dari organisasi mahasiswa perempuan dan komunitas teater. Cindy berhenti berkomentar secara terbuka, meski akun anonim masih bekerja.

Sebelum meninggalkan kantin, Kirana melihat bayangannya di kaca. Ia masih orang yang sama seperti kemarin. Sebuah poster tidak mengambil harga dirinya, dan omongan orang tidak berhak menentukan cara ia berjalan.

Di ruang dosen, Pak Yudi meletakkan salinan poster di depan Arya. “Promosi teater sekarang berani sekali, Prof.”

Arya tidak mengubah ekspresi. “Konsepnya sesuai naskah.”

“Kata mahasiswa, tatapan Anda terlalu nyata.”

“Penilaian seni bukan bidang saya.”

“Tapi pemeran perempuannya mahasiswa kelas Anda.”

Arya menutup laptop. “Nilai Kirana diperiksa dengan rubrik ganda dan dapat diaudit. Kalau ada keberatan resmi, ajukan melalui fakultas. Kalau hanya ingin bergosip, saya harus mengajar.”

Pak Yudi mengangkat kedua tangan dan mundur.

Saat kelas dimulai, Arya memperlakukan Kirana sama seperti mahasiswa lain. Ia bahkan mengoreksi jawaban Kirana tanpa senyum. Namun setelah kelas bubar, sebuah pesan masuk.

Jangan pulang sendiri hari ini.

Kirana membalas, Mas takut aku diculik penggemar CP?

Saya takut kamu membaca komentar sambil menyeberang jalan.

Di kantor kecil belakang panggung, Bima memantau penjualan tiket yang melonjak. Seluruh kursi pertunjukan utama habis, sedangkan pertunjukan tambahan hampir penuh.

“Secara pemasaran, poster ini berkah,” katanya.

“Secara mental, tidak semua komentar terasa seperti berkah,” jawab Winda.

Rian bergabung melalui panggilan video. Ia menunjukkan pola akun baru yang menyalin kalimat sama, termasuk alamat kelas Kirana dan jadwal pulangnya.

“Kritik dan candaan tidak disentuh,” katanya. “Tapi doxxing, ancaman, dan koordinasi akun palsu sudah saya dokumentasikan. Konten yang melanggar aturan platform kami laporkan. Keamanan kampus juga menerima daftar risiko.”

Kirana menyilangkan tangan. “Jangan hapus orang hanya karena tidak suka padaku.”

“Tidak akan,” kata Rian. “Pak Arya memberi instruksi yang sama.”

Ada rasa hangat yang sulit disangkal. Arya tidak membersihkan internet agar hanya berisi pujian. Ia menjaga batas ketika omongan berubah menjadi bahaya.

Sore hari, Kirana masuk ke apartemen 805 memakai kode 0719. Arya sedang bekerja di meja makan. Monitor besarnya menampilkan laporan pasar, tetapi layar ponsel di samping laptop memperlihatkan poster Hujan Terakhir.

“Mas menjadikannya wallpaper.”

Arya membalik ponsel terlalu lambat. “Untuk mengecek desain.”

“Seharian?”

“Desain harus diperiksa berkala.”

Kirana tertawa untuk pertama kali sejak pagi. “Prof Arya ternyata penggemar CP juga.”

Pria itu menarik kursi di sebelahnya. “Saya tidak tertarik pada CP.”

“Lalu?”

“Saya tertarik pada pemeran perempuannya.”

Jantung Kirana melompat. Biasanya ia akan menyangkal atau mengingatkan bahwa mereka belum punya hubungan. Kali ini ia hanya duduk dan menerima teh hangat yang disodorkan Arya.

Ponselnya kembali bergetar. Notifikasi tagar memenuhi layar, disusul satu pesan pribadi dari Fajar.

Setelah pertunjukan, boleh kita bicara langsung? Ada yang harus kuselesaikan.

Kirana membaca pesan itu dua kali. Di belakangnya, wallpaper Arya masih memperlihatkan mereka berciuman dalam hujan.

Untuk pertama kalinya, ia tidak ingin berkata kepada siapa pun bahwa gambar itu tidak berarti apa-apa.

Mungkin seluruh kampus belum tahu kebenarannya. Namun Kirana mulai berani mengakuinya di dalam hati sendiri malam itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!