NovelToon NovelToon
Putri Kesayangan Raja Iblis

Putri Kesayangan Raja Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Iblis / Fantasi Wanita / Menjadi bayi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Enzelynn

Semua orang menyebut Aelora anak kutukan. Ia dibuang, diburu, dan dibiarkan mati di hutan iblis. Tapi nasib berkata lain: Raja Iblis sendiri memungutnya dan menjadikannya putri kecil Nocthara. Kini Aelora harus menyembunyikan dua rahasia: ia pernah hidup di masa depan yang hancur, dan ia adalah anak malaikat yang dicari oleh Surga. Demi menyelamatkan ayah angkatnya dan mencegah perang tiga dunia, Aelora kecil harus mengubah takdir sebelum orang-orang yang ia cintai mati untuk kedua kalinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Aku Dibuang

Gerimis sudah turun sejak para prajurit membawa Aelora melewati batas kerajaan. Air merembes ke dalam gaunnya, masuk melalui kerah, lalu mengalir di sepanjang punggung. Ia tidak lagi memakai sepatu. Sepasang sepatu kulit yang tadi pagi masih terikat di kakinya tertinggal entah di mana, mungkin tenggelam di lumpur atau sengaja ditendang salah seorang prajurit agar ia tidak bisa berlari pulang.

Aelora tidak yakin mana yang lebih buruk.

Telapak kakinya terasa nyeri setiap kali menginjak batu. Ada luka terbuka di tumit kiri, tetapi udara terlalu dingin sehingga rasa sakitnya berubah menjadi kebas. Ia hanya tahu lukanya masih berdarah karena sesekali terlihat bekas merah di tanah, cepat larut bersama air hujan.

Di dadanya, ia memeluk boneka kelinci hitam yang sudah buruk rupa. Sebelah telinganya hampir putus, satu matanya hilang, dan jahitan di bagian perut terbuka cukup lebar untuk memperlihatkan kapas di dalamnya.

Seorang prajurit tadi menyuruhnya membuang boneka itu.

Aelora tidak menurut.

Boneka itu mungkin rusak, tetapi setidaknya tidak pernah memanggilnya anak kutukan.

“Berhenti.”

Suara di belakangnya membuat Aelora mengangkat kepala.

Rombongan kecil itu tiba di sebuah tanah lapang yang dikelilingi pohon-pohon hitam. Cabangnya saling bertaut di atas, membuat cahaya sore sulit masuk. Di tengah lapangan berdiri batu penanda setinggi dada orang dewasa. Permukaannya dipenuhi lumut, tetapi lambang matahari Asteria masih terlihat pada salah satu sisinya.

Aelora mengenal batu itu.

Ia juga mengenal pohon tua di sebelah kanan, yang batangnya terbelah seperti disambar petir. Akar besar di depannya membentuk lubang sempit, cukup luas bagi seorang anak untuk bersembunyi. Bahkan bau tanah basah dan daun busuk di tempat ini terasa sama.

Tangannya mulai gemetar.

Tidak mungkin.

Aelora menoleh ke belakang. Ada empat prajurit kerajaan dan dua penyihir Gereja Fajar. Jubah putih para penyihir kini bernoda lumpur, tetapi lambang matahari emas pada dada mereka tetap bersih. Salah seorang dari mereka, perempuan kurus dengan hidung tajam, sedang membuka gulungan perkamen.

Aelora mengingat wajahnya.

Pendeta Mareth.

Sepuluh tahun kemudian, perempuan itu akan mati di halaman gereja ketika langit terbelah dan hujan api turun di Asteria.

Namun sekarang Mareth tampak jauh lebih muda. Kerutan di sekitar matanya belum banyak, dan rambut kelabunya masih diselingi warna hitam.

Aelora menatap tangannya sendiri.

Jari-jarinya kecil. Kukunya pendek dan kotor. Pergelangan tangannya begitu kurus hingga gelang benang yang dipakainya tampak longgar.

Tubuhnya bukan tubuh gadis tujuh belas tahun yang ia ingat.

Tubuh ini milik seorang anak berusia tujuh tahun.

Mareth membaca sesuatu dari gulungan. Suaranya bercampur dengan bunyi hujan, tetapi Aelora tidak perlu mendengarkan untuk mengetahui isinya. Ia pernah mendengar keputusan yang sama. Setiap kalimatnya masih tersimpan di bagian ingatan yang tidak berhasil dihapus oleh kematian.

“Atas nama Gereja Fajar dan Kerajaan Asteria, anak bernama Aelora Arvand dinyatakan membawa tanda kutukan yang membahayakan masyarakat.”

Mareth berhenti sebentar, mungkin berharap Aelora menangis atau memohon.

Aelora tidak melakukan keduanya. Ia hanya menatap pergelangan tangan kirinya.

Di sana terdapat garis hitam yang menyerupai akar. Tadi pagi tanda itu masih samar. Sekarang warnanya semakin pekat karena udara Hutan Hitam. Sesekali ada cahaya tipis di bawah kulit, lalu lenyap sebelum orang lain melihatnya.

“Berdasarkan keputusan pengadilan,” lanjut Mareth, “anak tersebut diasingkan dari wilayah manusia. Ia dilarang kembali, menerima pertolongan, atau menggunakan nama keluarga Arvand.”

Salah seorang prajurit memalingkan wajah.

Aelora juga mengingatnya. Namanya Tomas. Pada kehidupan sebelumnya, ia satu-satunya orang yang diam-diam meninggalkan sepotong roti di dekat batu penanda setelah rombongan pergi.

Roti itu basah karena hujan, tetapi Aelora tetap memakannya.

Hari ini, kantong di pinggang Tomas tampak menggembung.

Mungkin roti itu masih ada di sana.

“Apa kau memahami keputusan ini?” tanya Mareth.

Aelora menatapnya.

Pada kehidupan sebelumnya, ia menangis sampai suaranya habis. Ia memeluk kaki Mareth dan berjanji akan menjadi anak baik. Ia bahkan menawarkan diri tidur di kandang kuda selama tidak dibuang ke hutan.

Tidak ada yang berubah.

Mereka tetap pergi.

Aelora melepaskan pelukannya pada boneka sebentar, lalu mengusap air hujan dari wajah. “Aku mengerti.”

Mareth terlihat sedikit kecewa.

“Kau tidak boleh mengikuti kami.”

“Aku tahu.”

“Hutan ini milik kaum iblis. Jika mereka menemukanmu, gereja tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi.”

Aelora hampir tertawa, tetapi tenggorokannya terasa terlalu kaku.

Gereja memang tidak pernah bertanggung jawab atas apa pun yang terjadi kepadanya.

Mareth menggulung kembali perkamen. “Selesai.”

Tidak ada doa. Tidak ada salam perpisahan.

Para prajurit berbalik.

Tomas menjadi orang terakhir yang meninggalkan lapangan. Sebelum pergi, ia menunduk seolah sedang membetulkan sepatu. Sebuah bungkusan kecil terjatuh dari balik mantelnya dan mendarat di dekat akar pohon.

Roti.

Sama seperti dahulu.

Tomas sempat melihat Aelora. Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada suara. Mungkin ia meminta maaf. Mungkin ia hanya menyuruh Aelora mengambil roti itu setelah rombongan pergi.

Aelora tidak sempat memastikan.

Pendeta Mareth memanggilnya, dan Tomas segera menyusul.

Suara langkah mereka perlahan hilang di balik pepohonan.

Aelora ditinggalkan sendirian.

Hutan tampak lebih gelap setelah manusia-manusia itu pergi. Tidak ada lagi cahaya dari tongkat penyihir atau suara zirah bergesekan. Hanya hujan yang menimpa dedaunan dan sesekali suara ranting patah dari kejauhan.

Aelora berdiri di dekat batu penanda, memeluk bonekanya lagi.

Ia mencoba mengingat apa yang terjadi setelah ini pada kehidupan pertama.

Malam akan datang kurang dari satu jam lagi. Suhu turun. Ia akan mengambil roti Tomas, lalu bersembunyi di bawah akar pohon. Menjelang tengah malam, kawanan serigala kabut mencium darah dari kakinya.

Ia selamat karena berlari ke arah sungai.

Setelah itu—

Aelora mengerutkan dahi.

Ada bagian yang hilang.

Ia mengingat air yang dingin, arus yang menyeret tubuh kecilnya, lalu demam selama beberapa hari. Namun ia tidak bisa mengingat siapa yang menemukan dan membawanya keluar dari hutan.

Ingatan berikutnya hanya memperlihatkan sebuah rumah reyot di pinggir desa, seorang perempuan tua yang takut menyentuhnya, dan tahun-tahun panjang ketika semua orang memanggilnya anak penyihir.

“Kenapa aku kembali ke sini?”

Suaranya terdengar kecil di tengah hutan.

Kenangan terakhir sebelum ia membuka mata di tubuh ini datang tanpa diminta.

Langit terbelah menjadi tiga warna. Menara-menara Nocthara terbakar. Gerbang raksasa terbuka di antara gunung, memuntahkan cahaya dan bayangan ke medan perang.

Kael berdiri di depannya dengan pedang menembus dada.

Darah hitam mengalir di bibirnya. Walau nyaris tidak sanggup bernapas, ia masih berusaha tersenyum.

Jangan buka gerbang, Aelora.

Lalu seseorang berbisik bahwa darah Raja Iblis dapat mengembalikan semua orang yang telah mati.

Aelora mempercayainya.

Setelah itu hanya ada cahaya.

Ia seharusnya mati bersama dunia yang dihancurkannya.

Aelora memeluk boneka kelinci lebih erat sampai telapak tangannya sakit. “Aku tidak akan mengulanginya.”

Kalimat itu terdengar sangat berani.

Sayangnya, tubuhnya tidak ikut merasa berani.

Perutnya kosong. Kakinya gemetar, dan gaun basah membuat giginya terus beradu. Ia mengambil bungkusan roti yang ditinggalkan Tomas, tetapi tidak langsung memakannya. Kebiasaan lama membuatnya menyimpan setengah untuk nanti, meski ia sendiri belum tahu apakah masih akan hidup sampai besok.

Dari balik semak terdengar geraman rendah.

Aelora membeku sambil memegang roti.

Bukan serigala kabut. Geraman itu terlalu berat. Tanah bahkan ikut bergetar setiap kali makhluk tersebut bernapas.

Ia memaksa dirinya mundur pelan-pelan.

Di kehidupan sebelumnya, makhluk ini tidak muncul secepat ini.

Sesuatu bergerak di antara pohon. Sepasang mata merah terbuka dalam gelap, lalu sepasang lagi menyusul di sampingnya.

Dua serigala bayangan keluar dari semak.

Tubuh mereka hampir setinggi dada orang dewasa. Bulu hitamnya tidak benar-benar padat; sebagian tampak seperti asap yang terus bergerak. Air hujan menguap sebelum menyentuh punggung mereka.

Salah satu serigala mengendus udara.

Tatapannya turun ke kaki Aelora yang terluka.

“Jangan mendekat,” kata Aelora.

Suaranya bergetar.

Serigala itu tentu saja tidak peduli.

Aelora meletakkan boneka dan roti di belakang batu. Ia mengangkat tangan kanan, mencoba mengingat mantra sederhana yang pernah dipelajarinya bertahun-tahun kemudian.

Api kecil seharusnya cukup untuk menakuti serigala.

Ia menggambar bentuk rune di udara menggunakan ujung jari.

“Fera… ignis.”

Tidak terjadi apa-apa.

Aelora mencoba lagi. Kali ini ujung jarinya mengeluarkan percikan merah yang langsung mati terkena hujan.

Ia baru ingat bahwa tubuh anak-anaknya belum pernah dilatih menggunakan sihir. Jalur mana di dalam tubuhnya masih tertutup. Pengetahuan yang dibawa dari masa depan tidak berguna jika tangannya terlalu lemah untuk menjalankannya.

Serigala pertama merendahkan tubuh, bersiap menerkam.

Aelora mengambil batu dari tanah.

Batu kecil itu tidak akan menolong.

Tetapi berdiri tanpa melakukan apa pun terasa lebih menakutkan.

Serigala tersebut melompat.

Sebelum mencapai Aelora, sebuah bayangan tipis melesat dari bawah akar pohon dan menghantam moncongnya. Serigala itu terpelanting ke samping, menabrak batang pohon sampai kulit kayunya pecah.

Aelora menoleh.

Bayangan kecil berbentuk kucing berdiri di atas batu penanda. Tubuhnya kabur, belum sepenuhnya terbentuk. Hanya mata ungu dan sepasang telinga yang terlihat jelas.

Makhluk itu menatap Aelora, lalu menoleh ke arah jalan sempit di sebelah utara.

“Kau menyuruhku ke sana?” tanya Aelora.

Kucing itu mengibaskan ekor.

Serigala kedua menyerang.

Makhluk kecil itu membuka mulut, mengeluarkan suara mendesis yang sama sekali tidak menakutkan. Namun tanah di bawah serigala mendadak berubah hitam dan menahan keempat kakinya.

Aelora mengambil boneka serta rotinya, lalu berlari ke jalan yang ditunjukkan.

Baru beberapa langkah, ia sadar ini bukan jalur yang ditempuhnya pada kehidupan pertama. Seharusnya ia berlari ke selatan, menuju sungai.

Jalan utara mengarah lebih dalam ke wilayah iblis.

“Ini jalan yang salah,” katanya sambil terus berlari.

Kucing bayangan muncul di sampingnya, lalu menghilang lagi.

Di belakang, serigala-serigala itu berhasil melepaskan diri.

Geraman mereka semakin dekat.

Aelora berlari secepat tubuh kecilnya sanggup. Napasnya terasa seperti pisau di tenggorokan. Ranting-ranting rendah mencakar wajah dan gaunnya. Beberapa kali ia hampir jatuh karena akar yang menonjol.

Ketika kakinya benar-benar tersangkut, ia tidak berhasil menjaga keseimbangan.

Tubuhnya jatuh ke tanah.

Lututnya membentur batu.

Boneka kelinci terlempar dari pelukan dan jatuh beberapa langkah di depan.

Aelora berusaha bangun, tetapi pergelangan kaki kanannya terasa sakit. Serigala bayangan sudah muncul di belakangnya. Mata merah mereka tampak semakin cerah di antara kabut.

Ia merangkak mengambil boneka.

“Jangan ambil dia,” gumamnya.

Aneh, karena benda itu hanya boneka. Namun pada kehidupan sebelumnya, boneka tersebut adalah satu-satunya benda dari masa kecil yang masih dimilikinya. Kael pernah menjahit telinganya yang putus dengan tangan sendiri, meskipun hasil jahitannya buruk dan benangnya salah warna.

Aelora baru berhasil menyentuh ujung telinga boneka ketika serigala pertama melompat.

Kabut mendadak terbelah.

Seekor kuda hitam keluar dari antara pepohonan tanpa mengeluarkan suara. Api ungu menyala di keempat kukunya. Penunggangnya mengenakan mantel panjang yang gelap, dengan sulaman perak di bagian bahu.

Ia hanya mengangkat satu tangan.

Serigala yang sedang melompat berhenti di udara.

Tubuhnya dihantam ke tanah begitu keras hingga lumpur memercik ke batang-batang pohon. Serigala kedua langsung merunduk. Telinganya tertekuk, ekornya masuk ke antara kaki.

Makhluk-makhluk hutan yang beberapa saat lalu hendak menerkam Aelora kini gemetar.

Lelaki di atas kuda memandang mereka dengan wajah bosan.

“Pergi.”

Satu kata.

Kedua serigala itu berbalik dan menghilang ke dalam hutan.

Aelora masih berlutut di tanah.

Ia tahu suara itu.

Bahkan sebelum lelaki tersebut turun dari kuda, ia sudah mengenal cara mantel hitamnya bergerak, rambut gelap yang jatuh ke dahinya, dan tatapan merah yang selalu membuat orang lain sulit bernapas.

Kael Vesperion.

Raja Iblis Nocthara.

Orang yang kelak memberinya rumah.

Orang yang kelak mati di pelukannya.

Aelora lupa bagaimana caranya bernapas.

Kael pada masa ini tampak lebih muda daripada dalam ingatannya. Tidak ada bekas luka panjang di rahang. Bahunya belum dipenuhi retakan cahaya akibat perang. Namun sorot matanya tetap sama—tajam, lelah, dan tidak sabar menghadapi dunia.

Ia berjalan mendekat, lalu berhenti beberapa langkah di depan Aelora.

Tatapannya turun ke gaun basah, kaki berdarah, roti yang jatuh di lumpur, dan boneka kelinci yang dipeluk erat.

“Anak manusia?” tanyanya.

Aelora ingin memanggilnya Ayah.

Kata itu sudah sampai di ujung lidah, tetapi ia menelannya. Kael belum mengenalnya. Bagi lelaki ini, Aelora hanyalah anak asing yang tersesat di wilayahnya.

Ia menundukkan kepala agar air matanya tidak terlihat.

“Aku dibuang.”

“Ke Hutan Hitam?”

Aelora mengangguk.

Kael menoleh ke arah jalan yang baru saja dilalui Aelora. Tatapannya berhenti pada lambang Asteria yang samar-samar terlihat di balik kabut.

“Manusia mulai kehabisan cara untuk menjadi bodoh.”

Nada suaranya datar, tetapi Aelora ingat bahwa itulah cara Kael berbicara ketika sangat marah.

Ia mengulurkan tangan.

Aelora refleks mundur.

Gerakan itu membuat pergelangan tangannya keluar dari lengan gaun. Tanda hitam di kulitnya terlihat jelas.

Kael berhenti.

Mata merahnya menyempit.

Untuk pertama kalinya sejak muncul dari kabut, wajahnya benar-benar berubah. Bukan marah atau jijik. Ia terlihat terkejut—perasaan yang sangat jarang berhasil muncul di wajah Raja Iblis.

Kael berjongkok agar sejajar dengan Aelora.

“Perlihatkan tanganmu.”

Aelora ragu, tetapi akhirnya mengulurkan pergelangan kirinya.

Kael tidak langsung menyentuhnya. Ia mengamati tanda hitam itu, kemudian melihat gelang benang perak yang tersembunyi di bawah lumpur.

Ketika ujung jarinya menyentuh gelang tersebut, tanda di kulit Aelora menyala.

Cahaya putih berbentuk sayap muncul sebentar, lalu padam.

Seluruh hutan mendadak sunyi.

Kael mengangkat wajah dan menatap Aelora lama sekali.

Kemudian ia berkata pelan, seolah berbicara kepada dirinya sendiri,

“Aneh.”

Tatapannya turun sekali lagi pada tanda di pergelangan Aelora.

“Kenapa anak malaikat dibuang ke wilayahku?”

1
Carina Yuda
Okee kak. Udah update yaaa
Septriani Margaret
lanjutannya kk
Carina Yuda: Okee kk. Sudah update yaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!