Bella Oceana adalah istri kedua dari Alan Elvis. Alan menikahi Bella karena Tevy sudah tidak bisa melaksanakan kewajibannya sebagai istri untuk melayani Alan. Tevy sudah lumpuh sejak tiga tahun terakhir karena kecelakaan. Karena alasan tersebut, Alan menikah lagi dengan wanita yang ia kenal dari sebuah restaurant. Karena pada saat itu Bella adalah Manager Restaurant tersebut. Pernikahan Alan dengan Bella tentunya tidak di ketahui oleh Tevy. Alan sangat menyayangi Tevy, ia tidak akan sampai hati jika harus mengatakan hal yang sejujurnya kepada istrinya. Namun Alan juga pria normal yang membutuhkan sentuhan wanita. Sudah satu minggu ini sikap Tevy begitu berbeda kepada Alan, menjadi sangat manja dan tidak ingin ditinggal terlalu lama. Tentu saja sikap Tevy membuat Alan serba salah karena ia juga harus bekerja dan tentunya menemui Bella, istri keduanya. Setiap Tevy mulai menyentuh tubuh Alan, yang terbayang dalam benaknya adalah wajah Bella, desahan Bella, dan juga erangannya diatas ranjang. Dan itu semua membuat Alan memiliki hasrat berlebih untuk bersama dengan Bella. "Sayang, aku pikir kamu udah gak bergairah, ternyata sentuhanku masih bisa membuat kamu seperti ini" ucap Tevy Seketika mata Alan terbuka, ia menyadari jika yang sedang menyentuh miliknya bukanlah Bella, melainkan Tevy istri sahnya sejak tujuh tahun ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayalifeupdate, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Bella sedang berbaring di kamarnya sambil memainkan ponselnya, dan sambil menunggu pesan balasan dari Alan.
Komunikasi Bella dan Alan memang sangat terbatas, meskipun Alan berada di kantor.
Ceklek!
Nanda yangtidak tahu kapan Bella pulang, seketika terkejut melihat Bella sudah berbaring di tempat tidur.
"Mau ambil se-"
BRAK!
Bahkan kalimat Bella belum selesai, tapi Nanda sudah menutup pintu tersebut dengan sangat keras, hingga memicu pertanyaan dari orangtuanya.
"Gak bisa tutup pintu pelan-pelan?" tanya Santi
"Ngapain dia disini?"
"Dia itu kakak kamu Bella"
"Iya, orang yang selalu Mama sanjung-sanjung kan"
"Kamu sebenarnya kenapa? Apa masalah kamu sama kakak kamu"
"Masalahnya mama sama Papa selalu membanggakan dia, aku muak dengernya" "Salahnya dimana? Kakak kamu memiliki punya prestasi dan pekerjaan yang bagus, kalau kamu mau kamu juga bisa melakukannya"
"Ada apa sih ini" ucap Edi yang baru saja turun dari tangga
"Nih Pa, anak kamu sama kakaknya sendiri seperti melihat musuhnya"
"Kenapa Nanda? Hormati kakak kamu, Papa sama Mama gak pernah mengajarkan kamu untuk bersikap gak sopan"
"Pa, aku capek. Apa-apa dia yang kalian banggain"
"Kakak kamu memang membanggakan, Papa dan Mama hanya memberi apresiasi"
"Iya sih memang cuma dia yang membanggakan. Lagian Papa dan Mama tahu apa, dia gak tinggal sama kita disini. Dia melakukan pekerjaan gak bener sekalipun kita gak akan tahu"
"Cukup Nanda!" Bentak Santi
"Kalau kamu iri kamu bisa bersaing, tapi jangan mengatakan hal-hal yang tidak pantas dirumah apalagi dia kakak kamu!"
"Iya Ma, bela aja dia. Sampai mama nanti menyesal!"
"Apa menurut kamu Mama dan Papa hanya peduli sama Kakak kamu, kamu lupa saat pacar kamu gak tanggung jawab siapa yg bersama kamu saat masa sulit kamu. Kami bahkan menutup rapat semua itu supaya kamu gak malu" ucap santi sambil berderai air mata
"Sedangkan orang lain, mereka bertanya tentang kakak kamu itu wajar, karena kakak kamu gak dirumah. Mereka hanya bertanya tentang pekerjaan, dan kami hanya menjawab sesuai yang kami tahu. Sedangkan kamu disini sama Mama dan Papa, semua orang sudah tau pekerjaan kamu"
Nanda yang sudah kesal, ia meninggalkan orangtuanya begitu saja dan masuk ke kamarnya. Di dalam kamarnya Nanda melempar tasnya ke tempat tidur. Perasaan kesal tersebut masih kuat Nanda rasakan.
Nanda memang tidak suka ketika seseorang lebih unggul darinya, itu yang membuat Nanda sangat membenci Bella.
Edi dan Santi hanya bisa menghela nafasnya melihat sikap putri bungsunya, mereka merasa tidak pernah pilih kasih dalam urusan membesarkan anak. Namun melihat sikap Nanda, tentu saja mereka hawatir jika itu akan membuat Bella semakin tidak betah dirumah.
"Ada apa sih sebenarnya sampai ribut-ribut" batin Bella
Bella yang mendengarkan pertikaian antara adik dan orangtuanya, sengaja tetap diam di dalam kamar dan tidak ingin meluruskan apapun. Dia membenarkan perkataan Nanda yang mengatakan tentang pekerjaannya.
"Lagian Nanda kenapa sih benci sama aku, aku gak pernah dirumah, aku gak merebut pacarnya, aku juga gak melakukan apapun sama dia" gerutu Bella
Ting! Ponsel Bella berdering
"Mending kamu cepet-cepet ergi deh dari sini, aku muak lihat kamu disini" - Nanda
"Ini juga rumah orangtuaku, kapan aku harus pergi itu bukan urusanmu" - Bella
Bella memang tidak pernah mau mengalah kepada Nanda, karena Bella merasa jika Nanda selalu ingin menang sendiri, namun Bella bukan tipe perempuan seperti Nanda yang mudah meledak emosinya. Hanya saja Bella juga tidak akan diam jika ia terlalu di intimidasi.
Nanda semakin dibuat kesal ketika membaca pesan Bella, sementara Bella di dalam kamar merasa biasa saja.
Karena tidak ada yang bisa Bella lakukan, dan Bella merasa bosansaat ini, ia sengaja membuka media sosialnya untuk stalking beberapa orang yang termasuk dengan asisten Tevy.
Dimulai dari Intan, Bella tidak berfikir jika Tevy tidak pernah pelit dengan asistennya. Karena Intan juga memiliki beberapa tas yang mewah meskipun itu adalah bekas pakai Tevy. Dan dari media sosial Intan, Bella berfikir jika Intan bukan hanya asisten, ia memiliki wawasan yang setidaknya lebih dari sekedar asisten.
"Sorry sayang, tadi masih meeting. Gimana dirumah, kamu baik-baik aja?" - Alan
"Aku baik sayang. Kamu segera pulang ya, mengurangi resiko hehe" - Bella
"Hahaha oke sayang. Miss you" - Alan
"Miss you too sayang" - Bella
Bella sangat tidak sabar menantikan beberapa postingan di media sosial Tevy ketika Alan sudah berada dirumah. Karena Tevy selalu memamerkan kemesraannya dengan Alan, bahkan beberapa followersnya sempat berkomentar jika mereka sangat iri dengan Tevy.
"Gimana perasaan kamu Tevy, ketika kamu melihat ada kissmark di leher suami kamu" batin Bella