Planet 3212—planet sampah paling melarat.
Tri, bocah tujuh tahun, bertahan dari rongsokan—tapi ia menyimpan ingatan insinyur mecha dewa dari kehidupan sebelumnya. Kesalahan pendaftaran melemparkannya ke jurusan tempur paling brutal. Semua meremehkan bocah sampah ini—sampai ia menghancurkan lawan, rancangan "jelek"nya mengguncang forum maestro, dan kekuatan 3S-Agung yang terpendam mulai terkuak.
Diburu Kabut Hitam, dilindungi rival terkuatnya, Tri harus pilih: tunduk—atau bangkit menelan takhta bintang. Dari tumpukan sampah menuju singgasana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6 — Tujuh Tahun Kemudian
Tujuh tahun kemudian.
Jarum solder menyala biru di antara dua jari Tri.
Di luar jendela pecah, matahari Planet 3212 turun miring, menumpahkan cahaya kuning kotor ke lantai beton. Debu beterbangan seperti serpihan logam halus. Bau ozon, minyak bekas, kulit hangus, dan Cairan Gizi murah bercampur menjadi bau yang sudah lebih akrab daripada aroma nasi di rumah Pak Ilyas.
Tri menahan napas.
Ujung solder menyentuh jalur tembaga setipis rambut.
Satu detik.
Dua detik.
Lampu indikator di badan senjata berkedip merah, lalu berubah hijau.
“Hidup,” gumamnya.
Dari Kom tua di pergelangan kirinya, suara Hendra Gunawan langsung menyambar, “Kalau meledak, rekaman ini gue jual ke Forum Kubus. Judulnya: Bocah miskin akhirnya kalah oleh barang rakitannya sendiri.”
Tri tidak mengangkat kepala. “Kalau meledak, lo tidak sempat jual. Kom gue juga ikut jadi debu.”
“Sial. Berarti aset dokumentasi gue harus dijauhkan dari lo.”
Tri meniup asap tipis dari papan pemicu, lalu memasang pelat penutup. Pelat itu tidak rata. Satu sudutnya berasal dari pintu kulkas industri, satu sudut lagi dari kulit luar mesin pemadat sampah. Warna abu-abu dan hijau tua bertemu tanpa niat menjadi indah.
Senjata itu pun tidak indah.
Panjangnya hampir sepanjang lengan Tri. Badannya terlalu tebal untuk pistol, terlalu pendek untuk senapan. Ada tabung kristal kecil di bawah laras, dibungkus kawat penahan panas dan tiga lapis lakban hitam. Di sisi kanan, Tri menulis angka kecil dengan ujung pisau:
Uji 37.
Hendra terdiam sebentar. “Lo benar-benar mau menembakkan benda itu di dalam gedung yang sudah miring?”
“Gedung ini sudah miring sejak gue tujuh tahun.”
“Itu bukan jawaban yang bikin orang tenang.”
“Gue bukan penenang.”
Tri menggeser kursi besi dengan tumit. Kursi itu berderit satu kali, lalu berhenti karena roda depannya sudah ia las mati. Di belakangnya, dinding ruangan dipenuhi rak buatan sendiri. Bukan rak yang rapi seperti toko alat. Rak itu adalah tulang rusuk dari barang sisa: rangka ranjang, rel lift barang, rangka Mecha latihan yang patah, dan pipa pembuangan yang pernah ia tarik dari bawah Sekolah 3212 saat dihukum membersihkan gudang.
Di rak paling atas tergantung tiga puluh tujuh pisau lempar dari baja campuran murahan.
Di bawahnya ada alat bidik setengah jadi, dua belas motor mikro, pengunci lutut Mecha latihan, lengan robot sebesar tabung oksigen kecil, dan sepasang sepatu latihan yang solnya dipenuhi pengait.
Di tengah ruangan, sebuah kerangka Mecha mini berdiri di atas meja.
Tingginya hanya sampai dada Tri. Dua kakinya kurus, dada terbuka, kepalanya belum dipasang pelindung. Kabel-kabelnya menjulur seperti urat. Mesin intinya memakai Kristal Kelabu bekas, kecil, penuh retak halus, tetapi denyut cahayanya stabil.
Tri mengetuk meja dua kali.
Kerangka itu mengangkat lengan kanan.
Pelan.
Kaku.
Tetapi ia bergerak.
Hendra bersiul rendah dari Kom. “Gue masih tidak percaya sekolah lo membiarkan murid B membawa pulang bangkai Mecha.”
“Tidak membawa pulang. Gue membeli rongsokan yang mereka anggap tidak bisa dipakai.”
“Dengan apa?”
“Utang.”
“Tentu saja.” Hendra terdengar seperti menepuk jidatnya sendiri. “Lo itu kalau miskin biasa masih bisa gue pahami. Tapi lo miskin yang produktif. Makin dilarang, makin banyak barang berbahaya lahir.”
Tri melepas sarung tangan kanan. Telapak tangannya lebih besar daripada dulu, penuh garis kapalan, bekas luka panas, dan parut tipis dari latihan pisau kayu Pak Ilyas. Tubuhnya memang sudah tidak sekurus rangka kecil di layar hinaan tujuh tahun lalu. Bahunya naik, lengan memadat, kaki lebih panjang.
Tetapi baju kerjanya tetap bekas.
Celananya dua kali ditambal.
Sepatu kirinya masih mengeluarkan bunyi kecil setiap kali ia menapak.
Ia menekan sambungan di sisi senjata. “Bagaimana Planet Wanagiri?”
“Bersih. Mahal. Orang-orangnya bicara seolah-olah sampah bisa mengotori garis keturunan.”
“Cocok untuk lo.”
“Gue anak bisnis sampah, Bodoh. Mereka melihat gue seperti melihat tumpukan kredit yang bau.” Hendra mendengus. “Tapi alat ukur mereka tidak bisa bohong. Tiga kali tes, hasilnya tetap Komandan 3S.”
Tri berhenti setengah detik.
Hanya setengah detik.
Lalu ia mengambil obeng kecil. “Selamat. Jadi akhirnya lo resmi mahal.”
“Mahal dari lahir.”
“Sekarang ada sertifikat.”
“Iri?”
“Gue iri pada biaya sekolah lo.”
Hendra tertawa keras sampai suara Kom pecah. “Tahun depan gue masuk akademi militer. Ayah gue mau dorong ke Akademi Kekaisaran, tapi gue sedang mempertimbangkan Damokles. Lebih murah dihina di sana.”
“Lo suka diskon hinaan?”
“Gue suka tempat yang tidak membuat gue kelihatan terlalu bersih.” Suara Hendra menurun sedikit. “Lo sendiri? Masih mau jadi Prajurit Mecha?”
Tri memasang sekrup terakhir.
Klik.
Senjata di tangannya terkunci.
“Gue mau pegang semua jenis Mecha.”
“Jawaban lo dari tujuh tahun lalu tidak berubah.”
“Karena masih benar.”
“Guru Ilyas bilang lo jarang masuk kelas teori.”
Tri melirik Kom. “Pak Ilyas melapor ke lo sekarang?”
“Dia bilang, kalau gue masih mau berteman dengan anak pungutnya yang tidak tahu diri, gue harus ikut menjaga supaya lo tidak mati karena terlalu yakin pada otak sendiri.”
Tri menahan senyum.
Kalimat itu terdengar seperti Pak Ilyas. Memaki dulu, menambal kemudian.
“Gue masuk kelas yang perlu,” katanya.
“Lo bolos kelas sejarah Federasi.”
“Mecha tidak bergerak karena sejarah.”
“Lo bolos etika militer.”
“Mecha juga tidak bergerak karena etika.”
“Lo bolos kelas tari formasi.”
“Itu bukan kelas.”
“Itu kelas Komandan lapangan. Namanya bukan tari.”
Tri mengangkat senjata ke bahu, mencoba bobotnya. Terlalu berat tiga ratus gram di depan. Ia mengambil potongan timah dari kotak baut, menyelipkannya ke bagian belakang gagang, lalu menimbang ulang.
Pas.
“Tri.”
Suara Hendra kali ini tidak bercanda.
Tri tidak menjawab.
“Gue tahu lo membuat mainan berbahaya sejak kecil. Gue juga tahu tangan lo tidak seperti anak biasa. Tapi ini bukan memperbaiki Kom, bukan menjual truk kecil, bukan membuat pisau latihan. Kalau senjata itu benar-benar bisa menembus pelat militer, orang-orang akan mencari sumbernya.”
Tri memandang laras kasar di tangannya.
Di atas meja, Mecha mini menunggu perintah berikutnya. Di bawah meja, kotak berisi Kristal Kelabu bekas tinggal empat. Di pojok ruangan, ada kantong kain tempat ia menyimpan uang hasil memperbaiki pemadat sampah warga selama tiga bulan.
Isinya hampir kosong.
Uji 37 memakan semuanya.
Tiga bulan kerja.
Empat belas komponen yang ia curi beli dari pasar rongsok.
Dua kali dimarahi Bu Wening karena pulang dengan luka bakar baru.
Satu minggu tidur di kursi agar suhu kristal stabil.
Kalau gagal, ia kembali ke pisau kayu, Mecha latihan sekolah yang sendinya berderit, dan impian menjadi Empu Mecha yang selalu tertahan oleh harga bahan.
Kalau berhasil...
Tri mengangkat laras sedikit.
Kalau berhasil, barang buangan di Planet 3212 tidak akan pernah terlihat sama lagi.
“Gue tidak perlu menembus pelat militer hari ini,” katanya.
“Lalu apa?”
“Gue cuma perlu tahu batasnya.”
Hendra menghela napas panjang. “Itu kalimat paling tidak menenangkan yang pernah gue dengar dari orang yang memegang senjata laser buatan sendiri.”
Tri berjalan ke sisi utara ruangan.
Target sudah berdiri di ujung seberang: tiga lapis pelat rongsok, satu balok beton, dan sepotong pintu gudang lama yang diambil dari pasar Gunawan dengan harga memalukan. Di belakang target ada dinding pemisah gedung. Di balik dinding itu, menurut peta lama, hanya ada ruang kosong yang runtuh setengah.
Tri sudah memeriksanya dua kali.
Ruang kosong.
Tidak ada orang.
Tidak ada alat mahal.
Tidak ada hal yang bisa membuatnya membayar ganti rugi.
Ia menurunkan kacamata pelindung.
“Jangan bilang lo menembak sekarang,” kata Hendra.
“Baik.”
“Bagus.”
“Gue tidak bilang.”
“Tri, bangsat, jangan main kata.”
Tri mengaitkan kaki kanan ke cincin besi di lantai. Sepatu pengaitnya terkunci. Bahu kiri mundur sedikit. Tangan kanan memegang gagang, tangan kiri menahan bawah laras. Jari telunjuk tidak langsung masuk pelatuk. Ia menunggu denyut kristal.
Hijau.
Redup.
Hijau.
Redup.
Pada denyut ketiga, ia menekan.
Tidak ada suara ledakan.
Hanya denging tipis.
Cahaya putih kebiruan melesat lurus, menembus tiga lapis pelat rongsok seperti menusuk daun basah.
Balok beton pecah.
Pintu gudang terbakar lubang sebesar koin.
Lalu cahaya itu terus maju.
Menembus dinding pemisah.
Tri membeku.
Di Kom, Hendra berhenti bernapas.
Satu detik kemudian, dari balik dinding, terdengar suara sesuatu yang besar bergeser di atas lantai retak.
Bukan batu.
Bukan mesin.
Napas berat menggerus udara, rendah dan basah.
Debu jatuh dari langit-langit.
Dalam lubang kecil yang baru terbakar, kegelapan bergerak.
Sepasang mata merah terbuka di balik dinding.
Tangan Tri masih menggenggam senjata, tetapi untuk pertama kalinya sejak uji dimulai, laras itu terasa terlalu ringan.