Bara Adikara, tumbuh dengan kebencian setelah perselingkuhan ayahnya. Ibunya meninggal dan hidupnya hancur. Ia akan terus disiksa jika tak mau menurut pada peraturan sang ayah. Begitu dewasa, Bara pun menjelma menjadi sosok yang keras dan dingin. Ia berpura-pura menjadi pecundang bodoh yang tak peduli pada semuanya. Tanpa seorangpun tahu kalau sebenarnya Bara sedang merencanakan sebuah balas dendam. Ia akan merebut semua milik ibunya, rumah dan perusahaan. Selain itu, ia juga akan menghancurkan wanita yang sudah membuat keluarganya hancur, dengan memanfaatkan anaknya. Andrea Willona, gadis itu akan Bara hancurkan, tapi disaat hati mulai ikut campur, benarkah semua akan tetap pada alurnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El khiyori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Bara melirik sekilas dari sudut matanya, menyadari bagaimana sepasang mata berbulu lentik milik Andrea terus mencuri pandang ke arahnya. Detak jantung gadis itu seolah terdengar di tengah keheningan kabin, berpacu cepat seolah menuntut sesuatu yang tidak ia pahami sendiri.
"Dingin?" tanya Bara. Suaranya yang berat memecah keheningan, terdengar begitu se k si dan dominan di ruang sempit itu.
"E-eh? Sedikit, Kak," jawab Andrea gugup, gadis itu buru-buru memalingkan wajahnya yang mendadak terasa panas.
Tanpa melepaskan pandangannya dari jalanan yang diguyur hujan, tangan kiri Bara bergerak. Namun, alih-alih mengecilkan suhu AC, jemari kokohnya justru mendarat di atas paha Andrea yang terbalut gaun sebatas lutut. Ia meremasnya pelan, sebuah sentuhan yang seketika membuat seluruh tubuh Andrea menegang seperti tersengat aliran listrik.
"K-Kak Bara?" napas Andrea tertahan di tenggorokan.
Bara tidak menjawab. Ia justru menggerakkan jemarinya perlahan, mengusap permukaan paha Andrea hingga semakin naik ke atas, menciptakan gesekan yang menimbulkan rasa dingin sekaligus panas menjalar di perut bawah gadis itu. Sentuhan itu terasa begitu menggoda hingga membuat Andrea refleks merapatkan kedua kakinya.
Melihat reaksi menegang dari mangsanya, senyum miring yang berbahaya terukir di bibir Bara. Mobil sport itu mendadak melambat, berbelok masuk ke sebuah jalanan sepi yang gelap. Di area pabrik terbengkalai. Jauh dari sorot lampu jalan utama. Mesin mobil tetap menyala, namun Bara menarik rem tangan.
"Kak, kenapa berhenti di sini?" tanya Andrea panik. Suasana remang di dalam mobil bercampur suara hantaman hujan deras di luar menciptakan suasana yang mencekam.
Bara melepas sabuk pengamannya. Ia memutar tubuhnya menghadap Andrea, mencondongkan badan kekarnya hingga dada bidangnya. Jarak mereka lenyap. Andrea bisa mencium kombinasi mematikan dari aroma maskulin Bara, rokok, dan mint yang menguar dari napas pria itu.
"Kamu bilang kamu merasa aman di dekatku kan?" bisik Bara tepat di depan bibir Andrea. Jemari Bara bergerak naik, menyentuh dagu Andrea dengan tekanan yang tidak menyakitkan, namun mengunci pergerakannya. "Tapi kenapa tubuhmu gemetar seperti ini, Andrea? Hmm?"
"Aku ... aku hanya .... " Andrea kesulitan bernapas. Tatapan mata Bara malam ini berbeda. Tidak lagi sekadar intens, melainkan penuh dengan rasa lapar yang terselubung. Kilat kepuasan dari seorang predator yang siap menguliti mangsanya.
"Kenapa tutup mata? buka matamu! tatap aku!" titah Bara bernada rendah, sebuah perintah yang tidak menerima penolakan.
Begitu Andrea memberanikan diri membuka matanya, Bara sengaja menepis tas ransel yang menghalangi dada mereka, melemparkannya ke kursi belakang. Kini, tidak ada lagi pembatas. Bara menekan telapak tangan kanannya ke tengkuk Andrea, menarik wajah gadis itu hingga ujung bibir mereka nyaris bersentuhan saat berbicara.
"Tahu apa yang dilakukan seorang kakak saat adiknya kedinginan?" bisik Bara dengan suara serak yang begitu sensual. "Dia akan membagikan kehangatannya."
Sebelum Andrea sempat mencerna kalimat itu, Bara memiringkan kepalanya dan menempelkan bibirnya di leher jenjang Andrea.
"Kak ... ngh .... " Andrea melenguh pelan, sebuah suara pasrah yang lolos begitu saja ketika bibir hangat Bara mulai mengecup, lalu menghisap lembut kulit sensitif di lehernya. Rasa geli dan sensasi aneh yang belum pernah ia rasakan seumur hidup membuat akal sehat Andrea perlahan menguap. Kedua tangannya yang bebas kini tanpa sadar meremas bahu kokoh Bara untuk mencari pegangan.
Bara memanfaatkan kepasrahan itu dengan sempurna. Tangannya yang lain turun ke pinggang Andrea. Sentuhan itu membuat Andrea melengkungkan punggungnya, menempel erat pada tubuh kekar Bara yang berotot keras.
Bara tersenyum di sela kecupannya. "Gadis ini benar-benar candu yang mudah dihancurkan," bisiknya dalam hati. Rasa dendamnya bergejolak, namun sensasi menaklukkan Andrea memberinya kepuasan tersendiri.
Tepat ketika tangan Bara merayap naik, bersiap menyentuh area yang lebih sensitif di balik pakaiannya, dan ketika Andrea sudah sepenuhnya terbuai hingga memejamkan mata menanti sentuhan selanjutnya, Bara tiba-tiba menghentikan gerakannya.
Ia menarik diri secara mendadak, membuat Andrea membuka matanya dengan sayu. Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat. Memperlihatkan rona merah yang menjalar dari leher hingga wajahnya.
Ia menatap Bara dengan pandangan bingung sekaligus kecewa karena kehangatan yang baru saja membakarnya tiba-tiba lenyap.
Bara kembali duduk tegak di kursi kemudi, merapikan jaket hitamnya seolah tidak terjadi apa-apa. Sisa-sisa ga i rah di wajahnya lenyap dalam sekejap, digantikan oleh ekspresi dingin yang tak tersentuh.
"Kita harus pulang, sudah malam. Rapikan pakaianmu!" ucap Bara datar sambil kembali menginjak pedal gas dan membawa mobil membelah jalanan malam.
Andrea terpaku. Jantungnya masih berdegup kencang, tubuhnya masih meremang akibat sentuhan yang tadi Bara lakukan, namun pria itu sudah kembali bersikap dingin. Membuatnya tak bisa memahami apa yang terjadi.
Perasaan campur aduk antara malu, bingung, dan ga i rah yang menggantung membuat Andrea merasa tersiksa. Ia tidak tahu kalau ini adalah bagian dari strategi Bara. Membuatnya terbang ke langit, lalu menjatuhkannya tanpa peringatan, hingga Andrea akan memohon untuk disentuh kembali, namun saat Bara fokus menatap jalanan yang ada di depan, sebuah memori masa lalu yang sengaja dikubur oleh Selina dan Danu terlintas di benaknya.
Bagaimana ia melihat dua orang itu berselingkuh dan merencanakan perebutan aset-aset berharga yang sebenarnya adalah warisan milik ibunya. Termasuk perusahaan yang sebenarnya didirikan oleh kakek dari ibunya. Saat itu Bara masih belum cukup umur untuk memahami apa maksudnya, tapi bukan berarti ia lupa.
Semakin dewasa ia semakin mengerti. Kalimat yang tak pernah hilang dari kepalanya itu akhirnya benar-benar ia pahami. Apalagi setelah ayahnya resmi menikahi Selina. Peraturan demi peraturan yang berdampingan dengan hukuman, selalu Bara jalani, sementara anak kandung Selina begitu dimanjakan hingga dimasukkan ke sekolah paling bergengsi di Jakarta sebelum akhirnya melanjutkan pendidikannya di luar negeri.
Sekarang gadis bernama Andrea itu kembali, padahal kuliahnya belum selesai. Entah apa maksud dan tujuannya, yang pasti Bara tak akan lengah. Ia akan benar-benar membuat perhitungan dengan mereka semua.
Seperti malam ini, Bara bisa tersenyum penuh kemenangan dalam diam karena merasa rencananya meluluhkan hati Andrea semakin berhasil. Tanpa ia sadari, kalau sebenarnya serigala pun bisa terjerat oleh mangsanya sendiri.
***
Mobil sport hitam itu akhirnya memasuki pelataran megah rumah keluarga Adikara. Hujan di luar masih menyisakan rintik-rintik kecil yang memukul kaca, menciptakan ketukan yang monoton. Bara mematikan mesin, namun ia tidak segera turun. Suasana kabin kembali sunyi, menyisakan deru napas Andrea yang masih mencoba untuk menenangkan diri.
Andrea bergerak canggung, merapikan dres atasnya yang sedikit berantakan dengan tangan yang masih gemetar. Rasa panas di wajahnya belum sepenuhnya hilang. Ia melirik Bara yang kini duduk bersandar dan menatap lurus ke depan dengan ekspresi yang tak terbaca.
"Turunlah!" ucap Bara tanpa menoleh. Suaranya kembali dingin, seolah-olah ketegangan yang tadi membakar mereka hanyalah ilusi yang diciptakan oleh kepala Andrea sendiri.
"K-Kak Bara tidak masuk?" tanya Andrea pelan, masih sambil memeluk tasnya di depan dada. Sebuah gestur yang secara naluriah ia lakukan untuk menyembunyikan dadanya yang berdebar naik-turun.
"Aku ada urusan," jawab Bara singkat.
Andrea mengangguk pasrah. Ia lalu membuka pintu mobil, merasakan hembusan angin malam yang dingin menerpa kulit lehernya yang masih terasa hangat dan berdenyut bekas kecupan Bara. Begitu pintu mobil tertutup, Bara langsung menginjak gas, membiarkan mobil sportnya melesat kembali membelah kegelapan malam, meninggalkan Andrea yang berdiri terpaku di bawah temaram lampu halaman.
.