Emily, Ratu Jalanan sekaligus ketua geng Sport Queen, dipaksa memilih antara masuk pesantren atau menikah setelah terus membuat orang tuanya khawatir. Tak disangka, pria yang dijodohkan dengannya adalah Reyze, ketua geng rival Black Lion Riders sekaligus musuh bebuyutannya.
Meski saling membenci, mereka terpaksa menikah diam-diam dan merahasiakan status mereka. Di depan publik mereka tetap rival, tetapi di balik pintu rumah harus belajar hidup sebagai suami istri.
Saat Emily masih terikat dengan pacarnya dan persaingan di dunia balap berubah menjadi ancaman mematikan, Emily dan Rey harus memilih: mempertahankan permusuhan atau memperjuangkan cinta yang perlahan tumbuh di antara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HyMaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Setelah Emily mandi, tak lama Rey juga masuk. Baru saja menutup pintu, suara Rey langsung terdengar.
“Ilyyyyy, jorokkk ihhh!” seru Rey kaget.
“Apaan sih, Rey? Berisik,” ucap Emily heran.
“Ini lho, kenapa nyimpen BH sembarangan,” ucap Rey sambil menjinjing bra Emily. “Mananya gede lagi…”
“Alah, simpan lagi ke tempat pakaian kotor. kenapa sih? Itu kan mau di-laundry. Ih jijian banget lo. Sama Isinya , nggak mungkin jijik kan?” Emily membalas ketus.
“Kan ini kotor, kalau isinya kan bersih-bersih. Dan lagian kenapa sih barang kayak gini lo gantung di sini?” Rey mendengus.
“Lo tinggal sama cewek, Rey. Jadi lo harus terbiasa.”
“Ahh, Emily… sialan!” Rey geleng-geleng.
Saat itu Emily sedang bersiap. Dia berencana sarapan di kampus saja. Tapi ketika melihat lehernya di cermin, matanya langsung membulat. Meski cuma satu, bekas itu jelas sekali—kontras warnanya merah keunguan, bekas semalam.
“Dasar si Rey… emang pandai banget bikin gara-gara,” gerutu Emily kesal. Katanya nggak mau nyentuh, lah ini apa? Malah ninggalin bekas. Dengan cepat, Emily mengambil concealer lalu mengoleskannya di lehernya.
Tak lama kemudian, Rey keluar dari kamar mandi. Tidak menggunakan baju, hanya berbalut handuk.
“Rey, lo nggak punya malu? Telanjang dada kayak gitu…” ucap Emily dengan nada sinis.
“Ngapain malu?” Rey menjawab santai.
“Gila emang lo…” Emily mendengus.
“Mau gue lebih gila lagi? Gue copot nih handuk…” Rey menyeringai.
“Si anjirrrrrr!!!” Emily spontan menjerit.
“Kenapa harus ditutupin sih? Kan bagus itu di leher loh,” Rey menatap ke arah leher Emily.
“Yang ada bisa gempar satu kampus! Bisa-bisanya lo bikin kayak gini di leher gue!” bentak Emily.
“Mau gue bikin di mana kalau bukan di leher? Di puting lo, apa di perut lo?” Rey sengaja memancing.
“Gila lo!!!” Emily menutup wajahnya.
“Coba dulu… nanti lo bakal ketagihan,” Rey menjawab tenang.
“Lo emang mesummm…”
“Nggak apa-apa, sama istri sendiri.”
“Tau ahhh… bisa gila gue kalau lama-lama ngelayanin lo…” Emily menggerutu sambil merapikan tas.
“Gue mau berangkat. Mau naik gojek aja. Pulangnya gue langsung ke rumah ibu buat ngambil motor,” katanya ketus.
“Terserah… lo nggak sarapan dulu?” tanya Rey datar.
“Nanti aja di kantin.”
“Nggak, bareng gue aja,” Rey mencoba menahan.
“Nggak usah, Reyze. Terima kasih,” Emily menatapnya dingin.
“Inget, lo udah punya suami. Harus punya batasan.”
“Apa sih lo, ngatur-ngatur…” Emily mendengus.
“Ya emang gue suami lo. Wajar kalau gue ngatur.” Rey menatapnya tajam.
******
Setelah sampai di kampus, Emily langsung menghampiri Ziva yang juga sepertinya baru datang.
“Woyy, Ily, tumben lo naik gojek?” tanya Ziva heran sambil menatap Emily.
“Motor gue lagi di rumah ibu, belum sempet gue ambil,” jawab Emily singkat.
Lahh emang lo dari mana? tanya Ziva heran.
“Dari rumah saudara,” jawab Emily singkat.
“Ouh gitu. Yaudah, Caca mana ya?” tanya Ziva sambil menoleh ke sekeliling.
“Ya gak tau, orang gue baru aja dateng, egge,” jawab Emily datar.
“Hehe, yoilah, mereka pasti ada di kantin, Ily,” timpal Ziva sambil terkekeh.
Mereka berdua berjalan ke kantin, dan benar saja ternyata Caca, Nara, dan Dion sudah duduk di sana.
Tapi belum juga mereka sampai, tiba-tiba teriakan menggema.
“Bebbbbbb!!!!” Alex berteriak memanggil Emily.
“Apa sih lo mokondo, teriak-teriak mulu!” balas Emily ketus.
“Apa lo, gue manggil cewek gue, bukan elu,” sahut Alex sebal.
“Apa sih lo pada ribet, gue laper mau makan. Kalian kalau masih mau pada ribut, bodo amat!” ucap Emily lalu meninggalkan mereka begitu saja.
“Bebbb!!!” Alex masih berteriak.
“Wooooow, baginda ratu Sport Queen telah datang. Selamat datang paduka ratu!!” ucap Nara sambil menirukan gaya orang kerajaan.
“Apasih lo, Nar,” sahut Emily malas.
“La gue kan nyata. Semalem gue ampe puas ditraktir sama Ziva. Kalau bukan lo yang menang, nggak mungkin kan kita makan kenyang,” jawab Nara cengengesan.
“Emang semalem kalian ngga jadi clubbing?” tanya Emily bingung.
“Clubbing lah, cuma sebentar. Setelah itu langsung mukbang pecel lele,” ucap Dion santai.
“Hahaha tumben masih gede emang duitnya,” sahut Emily sinis.
“Gue yang atur, Ily,” ucap Ziva sambil melirik ke Emily. “Bukan cowok lo yang mokondo itu. Jadi daripada ngabisin duit di klub, lebih baik kita mukbang makanan kan.”
“Beb, aku cuma dikasih jatah 100 sama Ziva, nggak adil kan, Beb?” ucap Alex manyun.
“Gatau. Kan Ziva juga turun, jadi bukan hak gue doang yang atur,” jawab Emily ketus.
“Tapi masa, Beb, gue cuma diberi jatah cepe doang. Gila kan!” Alex protes.
“Lo kalau mau duit banyak, ya lo kerja lah. Paling enggak ikut balapan, turun ke sirkuit. Jangan cuma jadi penonton kalau mau duit,” ucap Nara nyolot.
Tiba-tiba dari arah pintu terlihat Rey datang bersama Ezra. Di sampingnya ada Elea yang senyum-senyum manja.
“Woy, tumben bos bawa gandengan,” ucap Bara sambil terkekeh.
“Wihhh ada kemajuan nih,” timpal Tama heran.
“Sejak kapan, Bos?” tanya Gio penasaran.
Rey tidak menjawab. Dia hanya mengangkat bahu seolah tidak peduli dan duduk menghadap ke arah Emily yang duduk berdekatan dengan Alex.
Tiba-tiba Elea pun ikut duduk di dekat Rey.
“Hai, boleh kan aku ikut gabung di sini?” ucap Elea dengan nada anggun.
“Boleh dong, Leaaa. Monggo,” ucap Bara cepat.
“Lea mau dipesankan makanan juga?” timpal Gio ramah.
“Lea, sejak kapan jadian sama si Bos 12 pintu ini?” ucap Tama menggoda.
“Ah, siapa? Enggak kok,” jawab Elea tersipu.
“Ahhh serius nih, Leaaa?” ledek Bara sambil tertawa kecil.
“Bos, kalau sama ceweknya senyum dong, Bos. Gandeng dong, gandeng,” ucap Bara menggoda.
“Apa sih lo ribet. Siapa cewek gue? Tuh cewek dibawa Ezra, bukan gue,” jawab Rey datar.
“Ouh, jadi PDKT-nya lewat Ezra, Bos,” timpal Gio sambil nyengir.
“Ga jelas lo pada,” ucap Rey cuek, tak menghiraukan ucapan mereka.
Tapi tatapannya masih terus mendelik ke arah Emily di meja seberang.
Emily yang melihat itu langsung menggerutu dalam hati.
Si anjir, semalem aja lo tiba-tiba cipok gue, bilang ga mau nyentuh, nyatanya sangean deket gue. Bilang gue suruh jaga batasan, anjj emang dia juga pacaran. Dih, dipikir gue ga bisa apa. Dasar lo yah Rey!
Emily tersenyum tipis, hingga tiba-tiba—
“Aduhh beeeeb, kok perut aku sakit ya, tiba-tiba. Awww bebbb, sakit banget,” ucap Emily manja pada Alex.
Alex yang sedang minum langsung tersedak. “Astagaa, Beb, kamu kenapa, sayang? Ya ampun, mana yang sakit?” tanya Alex panik.
“Lo kenapa, Ilyy?” tanya Ziva bingung.
“Ga tau, aduhh perut aku sakit, Beb. Aku mau ke ruang kesehatan,” jawab Emily sambil meringis pura-pura kesakitan.
“Ayo, bawa dong, Alex, Ily ga kuat jalan,” timpal Nara cemas.
Dengan cepat Alex langsung membungkuk. “Ayo, Beb, gue gendong.”
Emily tanpa ragu langsung naik ke punggung Alex, dan Alex pun segera menggendongnya keluar.
Sedangkan dari meja Rey, dia menatap Emily dengan tatapan tajam.