NovelToon NovelToon
Sinyal Terakhir

Sinyal Terakhir

Status: tamat
Genre:Sci-Fi / Dunia Masa Depan / Fantasi / Tamat
Popularitas:262
Nilai: 5
Nama Author: Mirage Ink

SINYAL TERAKHIR

Sinopsis

Tahun 2487.

Persemakmuran Persatuan Manusia (PPM) telah berkembang menjadi peradaban antarbintang yang menguasai ratusan sistem bintang. Dengan bantuan jaringan gerbang antarbintang dan kecerdasan buatan AURA, manusia berhasil membangun koloni di berbagai penjuru galaksi. Meski teknologi berkembang pesat, satu pertanyaan besar belum pernah terjawab: apakah manusia benar-benar sendirian di alam semesta?

Semuanya berubah ketika jaringan observatorium PPM menangkap sebuah sinyal misterius dari Galaksi Asterion, sebuah galaksi yang tidak pernah tercatat dalam jalur eksplorasi resmi. Sinyal itu memiliki pola yang tidak mungkin dihasilkan oleh fenomena alam dan terus berubah seolah merespons sesuatu.

Untuk menyelidikinya, Dewan PPM membentuk ekspedisi rahasia menggunakan kapal eksplorasi tercanggih, ESS Horizon. Misi tersebut dipimpin oleh Kapten Idris, didampingi Wakil Kapten Kael, bersama sepuluh anggota lain yang dipilih langsung dari berbagai bidang keahlian

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 – Awak yang Terpilih

Seluruh layar di Pioneer berubah menjadi merah.

AURA mengeluarkan peringatan beruntun.

"Objek anomali bergerak."

"Tujuan telah dipastikan."

"Kapal Navigator."

Kapten Idris langsung menggenggam kunci kristal itu lebih erat.

"Kenapa benda itu mengejar kapal hitam?"

Victor Hale tidak langsung menjawab.

Tatapannya justru tertuju pada layar luar.

"Itu berarti..."

"...ia telah menyadari bahwa Navigator telah bangun."

---

Di bawah Pos Observasi Tujuh...

kapal hitam yang selama lebih dari satu abad tertidur mulai berubah.

Garis-garis biru di seluruh badan kapal menyala perlahan.

Debu yang menutupinya selama puluhan tahun berjatuhan.

Untuk pertama kalinya...

mesin kapal itu mengeluarkan suara.

Bukan suara ledakan.

Melainkan dengungan rendah yang memenuhi seluruh ruang bawah tanah.

Adrian yang masih berada di ruang inti menatap monitor dengan wajah tegang.

"Energi kapal meningkat."

Sofia segera melihat angkanya.

"Sepuluh persen."

"Dua belas persen."

"Lima belas persen."

"Ini berlangsung terlalu cepat."

---

Di ESS Horizon...

Leo kembali memegang kepalanya.

Suara itu muncul lagi.

"Kembalikan kuncinya..."

Leo memejamkan mata.

Kali ini suara tersebut terdengar lebih jelas.

Bahkan memiliki emosi.

Seperti seseorang yang sedang memohon.

Mira segera memeriksa kondisi Leo.

"Denyut jantung meningkat lagi."

"Kesadarannya masih stabil."

Namun beberapa detik kemudian...

Niko juga memegang kepalanya.

"Aku..."

"Kalian dengar lagi?"

Rina mengangguk pelan.

"Iya."

Kini bukan hanya Leo.

Hampir seluruh kru Horizon mulai mendengar bisikan yang sama.

---

Kapten Idris segera menghubungi Horizon.

"Darius."

"Ya, Kapten."

"Bagaimana kondisi kru?"

Darius memandang satu per satu anggota timnya.

"Masih sadar."

"Tapi mereka mulai sulit berkonsentrasi."

Victor langsung berkata,

"Jangan biarkan mereka sendirian."

"Kenapa?"

"Bisikan itu semakin kuat jika seseorang sendirian."

---

Kael memperhatikan Victor.

"Kalian pernah mengalaminya?"

Victor mengangguk.

"Dulu kami membagi seluruh awak menjadi kelompok."

"Tidak ada yang boleh berjaga sendirian."

"Kalau ada yang mulai berbicara sendiri..."

"...kami langsung mengisolasinya."

Ruangan menjadi sunyi.

Tidak ada seorang pun yang menyukai kata terakhir itu.

"Mengisolasi?" tanya Lyra.

Victor mengangguk pelan.

"Itu satu-satunya cara."

---

Tiba-tiba...

AURA kembali berbicara.

"Sinkronisasi Navigator mencapai tiga puluh lima persen."

Kapten Idris melihat cahaya biru pada kunci kristal.

Cahayanya kini lebih terang.

"Analisis baru tersedia."

"Tampilkan."

Sebuah hologram muncul di tengah ruangan.

Kali ini bukan peta galaksi.

Melainkan gambar kapal hitam.

Lalu satu per satu bagian kapal mulai menyala.

Ruang kendali.

Reaktor.

Mesin utama.

Hanggar.

Dan akhirnya...

delapan titik cahaya muncul di dalam kapal.

Kael mengernyit.

"Delapan?"

AURA menjawab.

"Kapasitas awak optimal."

Victor mengangguk pelan.

"Itulah yang tadi kukatakan."

"Kapal ini memang dirancang untuk delapan orang."

---

Reza melipat kedua tangannya.

"Kalau begitu..."

"...siapa saja yang ikut?"

Tidak ada yang menjawab.

Pertanyaan itu terlalu berat.

Karena siapa pun yang berangkat...

mungkin tidak akan pernah kembali.

---

Kapten Idris berjalan beberapa langkah.

Ia memandang seluruh anggota tim melalui hologram.

Kael.

Lyra.

Reza.

Darius.

Leo.

Rina.

Hana.

Mira.

Niko.

Owen.

Sofia.

Adrian.

Semuanya telah berjuang sejak awal misi.

Tidak ada yang pantas ditinggalkan.

Namun kapal hanya mampu membawa delapan orang.

---

Sofia memecah keheningan.

"Kalau boleh memberi saran..."

Semua menoleh kepadanya.

"Yang berangkat harus memiliki peran yang jelas."

"Bukan berdasarkan keberanian."

"Tapi berdasarkan kebutuhan misi."

Adrian mengangguk.

"Benar."

"Kapal itu bukan kapal penumpang."

---

Hana mulai menyusun daftar.

"Kita membutuhkan..."

"Seorang kapten."

"Seorang ilmuwan."

"Seorang insinyur."

"Seorang ahli keamanan."

"Seorang navigator."

"Seorang dokter."

"Seorang analis data."

"Dan seorang ahli komunikasi."

Kael tersenyum kecil.

"Berarti hampir semua profesi sudah terwakili."

---

Belum sempat mereka membahas lebih jauh...

seluruh Pos Observasi berguncang hebat.

Lampu-lampu padam.

Dinding logam bergetar.

Adrian hampir terjatuh.

"Apa lagi sekarang?"

AURA segera menjawab.

"Objek anomali telah mencapai permukaan Pos Observasi."

Semua kamera luar otomatis aktif.

Bola hitam raksasa kini melayang tepat di atas Pos Observasi Tujuh.

Jaraknya hanya beberapa ratus meter.

Namun benda itu tetap tidak menyerang.

Ia hanya diam.

Seolah sedang menunggu.

Lalu...

permukaan bola hitam itu perlahan terbuka.

Bukan seperti pintu.

Melainkan seperti kelopak bunga yang sedang mekar.

Di bagian tengahnya...

muncul sebuah cahaya putih yang sangat terang.

Dan untuk pertama kalinya...

terdengar suara yang berbeda.

Bukan bisikan.

Bukan perintah.

Melainkan sapaan yang tenang.

"Navigator..."

"Kami akhirnya menemukanmu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!