Di Kerajaan Awan, Kaisar muda bernama Jing Yan difitnah dan dibunuh secara keji oleh Tang Long, seorang Kultivator Pedang dari Sekte Pedang Roh Biru, dan Fang Zhelan, putri Perdana Menteri yang berkhianat demi merebut takhta. Keluarga Fang lalu mengambil alih kerajaan, mencoreng nama baik Jing Yan selamanya.
Namun, kematian bukanlah akhir bagi Jing Yan. Jiwanya ditarik ke dalam Peti Mati Perunggu Kuno milik seorang Pencipta Immortal yang telah mati. Dengan menggunakan sisa kulit sang Immortal, Jing Yan bereinkarnasi ke dalam tubuh baru yang sempurna. Ia ditemani oleh dua kesadaran dalam satu makhluk kecil bernama Bintang Biru dan Bulan Merah—yang merupakan jelmaan dari peti mati tersebut.
Jing Yan mengetahui bahwa ia mewarisi kekuatan Pencipta Immortal. Untuk menjadi kuat, ia harus mengumpulkan Benih Ciptaan, yaitu fragmen kekuatan sang Immortal yang tersebar di seluruh dunia. Tujuan utamanya: membalas dendam kepada Tang Long dan Fang Zhelan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 - Nyalimu Benar-benar Besar!!
"Apakah ada yang mengenali pemuda itu?" tanya seorang Tetua bertubuh kekar dan berbahu lebar yang duduk di kursi batu Puncak Pedang Ketujuh di Platform Warisan Pedang. Namanya adalah Tetua Ran, yang dikenal sebagai Ran Hao.
"Aku tidak mengenalnya, tapi wajahnya memang tampan," ujar Ning Ziyi sambil tersenyum santai, seolah tidak terlalu terkesan.
"Cuma wajah biasa saja," Tetua Ran terkekeh.
Para tetua lainnya langsung terdiam.
‘Apa dia buta!? Di dunia mana wajah seperti itu bisa disebut biasa saja?’ pikir mereka semua.
Ting!
Kembali di Arena Pedang, untuk pertama kalinya Jing Yan mewujudkan Jiwa Pedangnya menjadi pedang sepanjang tiga kaki.
"Jiwa Pedangmu itu..." Fang Zhelan meliriknya sekilas lalu menggelengkan kepala.
"Memangnya kenapa?" tanya Jing Yan.
"Bahkan tidak layak dibandingkan dengan setengah pedangku," jawab Fang Zhelan sambil mencibir.
"Setengah pedangmu?" Jing Yan berdiri menghadapi gadis yang memancarkan cahaya dingin itu, kilatan biru tajam memenuhi matanya.
Wus!
Dalam sekejap, dia menebaskan pedangnya!
‘Saat aku sudah turun ke medan perang dan menebas musuh pada usia dua belas tahun, kau mungkin masih sibuk bermain bunga di Kediaman Perdana Menteri. Jadi, apa sebenarnya yang bisa kau gunakan untuk melawanku?’ pikir Jing Yan.
Wus!
Bagaikan kilat putih, pedangnya melesat lurus mengarah ke wajah cantik Fang Zhelan.
Saat Fang Zhelan masih hendak menggunakan teknik pedang yang dipelajarinya dari Tang Long, pedang Jing Yan sudah lebih dulu menggores pipinya.
Kini, ujung pedangnya telah mengarah tepat ke tenggorokan Fang Zhelan.
"Cepat sekali!" Mata Fang Zhelan membelalak, jantungnya berdegup kencang.
Karena terkejut, dia secara naluriah memilih menghindari benturan langsung. Fang Zhelan segera mengangkat Jiwa Pedang Bulan Es untuk menangkis.
Clang! Clang! Clang!
Suara benturan yang melengking membuat Fang Zhelan meringis kesakitan.
"Kau benar-benar mencari mati!" Mata Fang Zhelan membelalak saat dia nyaris menghindari serangan itu.
Namun, tepat ketika kata-kata itu keluar dari mulutnya, sebuah bayangan hitam telah menerjang ke arahnya.
Plak!
Terdengar suara yang nyaring, disusul jeritan Fang Zhelan saat tubuhnya terlempar ke belakang dan menghantam anak tangga batu di belakangnya. Dia terguling setidaknya delapan kali, rambutnya acak-acakan, pakaiannya berlumuran tanah.
Ketika akhirnya berhasil berdiri, wajahnya dipenuhi amarah dan keterkejutan. Sebuah bekas telapak tangan merah tercetak jelas di pipi kirinya.
Itu adalah ulah Jing Yan. Tamparan itu membuat wajah cantiknya menjadi miring, bahkan kemungkinan tulang pipinya retak, sementara darah terus mengalir dari luka di wajahnya.
Setelah tebasan pedangnya meleset, Jing Yan langsung menyusul dengan sebuah tamparan keras, berniat menghancurkan topeng angkuh dan dingin yang selama ini dikenakan Fang Zhelan.
"Mana serangan balasanmu?" ejek Jing Yan.
Dengan satu lompatan, ia menuruni anak tangga batu, menggenggam Jiwa Pedang Pengubur Langit yang memancarkan aura mematikan. Kilatan di matanya setajam bilah pedangnya saat ia kembali menerjang Fang Zhelan.
Fang Zhelan yang masih belum pulih sepenuhnya merasakan rasa perih membakar di wajahnya. "Kau—"
Sebelum sempat menyelesaikan ucapannya, tatapannya bertemu dengan mata Jing Yan.
"Hunus pedangmu!" Namun sebelum Fang Zhelan sempat bereaksi, sebuah tendangan menghantam dadanya hingga tubuhnya terlempar ke belakang.
Kepalanya membentur batu dengan keras. Pandangannya dipenuhi bintang-bintang, dunia berputar. Darah membasahi rambutnya, sementara rasa sakit menusuk dari seluruh tubuhnya. Jangankan menghunus pedang, berdiri pun terasa mustahil.
"Hanya segini kemampuan jenius yang katanya luar biasa itu?" Balas Jing Yan dengan sedikit ejekan.
Harga diri Fang Zhelan hancur berkeping-keping saat itu juga. Ia bahkan tak mampu mengeluarkan suara. Setiap kali mencoba berteriak, tenggorokannya terasa tercekat. Ia terus mundur dengan langkah sempoyongan, rasa takut terpancar jelas dari matanya.
"Tolong... tolong..." suaranya hampir tak terdengar. Tatapan putus asanya tertuju pada platform yang berada di kejauhan.
Pemandangan itu telah menimbulkan kegemparan di antara para penonton.
"Sial, anak itu benar-benar berbakat!" seru Tetua Ran.
Wajah Tetua Xie berubah pucat. Ia segera menoleh kepada Ning Ziyi. "Niat membunuhnya... sangat berbahaya bagi orang seperti Fang Zhelan yang memang berbakat, tetapi belum punya banyak pengalaman bertarung."
"Jangan katakan lagi!" amarah Ning Ziyi mendidih di balik wajahnya.
Ia baru saja berhasil mendapatkan perhatian Raja Pedang Tang dengan susah payah, dan sekarang bocah tak dikenal ini justru mengancam seluruh rencana yang telah ia susun.
"Kalau Fang Zhelan dan Tang Chen gagal merebut dua posisi teratas, bagaimana aku bisa mempertanggungjawabkannya di hadapannya?"
Suara tamparan tadi masih terus terngiang di telinganya. Saat melihat pipi Fang Zhelan yang bengkak dan memerah, wajahnya sendiri ikut terasa nyeri.
Bang!
Karena murka, Ning Ziyi menghantam kursi batu tempat duduknya dengan telapak tangan. Seluruh arena bergetar akibat kekuatannya.
Para tetua yang lain serentak menoleh ke arahnya.
"Apa yang kalian lihat?" bentak Ning Ziyi.
Para tetua hanya saling berpandangan dengan bingung, tetapi Tetua Xie memahami sumber kemarahannya.
Suasana pun berubah menjadi suram.
Jing Yan yang merasakan perubahan itu mengangkat kepalanya dan menatap para tetua Sekte Pedang Roh Biru yang sedang mengawasinya dari ujung Jalan Surgawi. Di antara mereka, tatapan Ning Ziyi sedingin gua es, jelas sedang melontarkan ancaman tanpa suara.
"Kau mencoba mengintimidasiku?" Jing Yan sama sekali mengabaikan peringatan itu.
Ia kembali menerjang Fang Zhelan dengan tangan terangkat, siap melancarkan pukulan berikutnya.
Namun, tiba-tiba sebuah aura dingin dan menyeramkan menyelimutinya dari belakang.
"Apa ini...?"
Saat berbalik, Jing Yan melihat kabut darah yang pekat. Lalu kabut itu mengembun menjadi sesosok makhluk mengerikan yang seluruh tubuhnya tersusun dari darah kotor. Makhluk itu memiliki banyak lengan, cakar tajam, dan kepala menyerupai kelelawar, dengan sepasang mata haus darah.
"Iblis Darah?!"
"Sekte Pedang Roh Biru menggunakan makhluk tak berperikemanusiaan seperti ini untuk menguji para murid, bukannya memusnahkan tubuh dan memurnikan jiwanya?" Ucap Jing Yan.
Iblis Darah yang mencium aroma darah Jing Yan langsung mengangkat badai iblis dan menerjang sambil menjerit nyaring.
"Iblis Darah!" Seruan kaget bergema dari panggung.
"Ini ulah Tetua Ning," Fang Zhelan langsung menyadarinya saat melihat wanita itu. Dengan cepat ia menenangkan dirinya lalu berpikir, "Lupakan dulu semua itu. Yang terpenting sekarang adalah merebut posisi pertama."
Demi memperoleh tulang iblis berusia lima ratus tahun, Fang Zhelan tak lagi memedulikan harga dirinya. Ia segera berlari menaiki anak tangga batu, melesat menuju ujung Jalan Surgawi.
"Setidaknya itu Iblis Darah berusia dua ratus tahun. Keahlian Tetua Ning benar-benar luar biasa," tatapan Fang Zhelan berubah dingin. Di belakangnya, badai angin iblis dan lautan darah mengamuk. "Dia sudah tamat. Dalam tiga tarikan napas, yang tersisa darinya hanyalah kulit kering."
Saat Fang Zhelan mempercepat langkahnya, pintu keluar Jalur Surgawi terasa semakin dekat.
"Satu!"
Tiba-tiba, ia mendengar suara dingin pemuda itu. ‘Apa yang sedang dia hitung? Detik-detik terakhir hidupnya?’
Raungan dan benturan terus bergema dari belakang, sementara darah iblis hampir menyentuh tubuhnya, membuat bulu kuduknya meremang.
"Dua!"
Tepat ketika Fang Zhelan yakin pemuda itu sudah mati, suara itu kembali terdengar.
"Apa yang sebenarnya sedang kau hitung?!" Fang Zhelan berbalik dengan marah. Namun, matanya langsung membelalak karena terkejut.
Di hadapannya berdiri pemuda berpakaian putih itu, menggenggam pedang berwarna biru.
Terdengar suara retakan ketika Iblis Darah menjerit ketakutan di bawah bilah pedangnya. Satu ayunan menebas putus beberapa lengannya, darah muncrat ke segala arah. Ayunan berikutnya membelah tubuh iblis itu menjadi dua, hujan darah pun berjatuhan.
Dan tepat pada saat itu, Jing Yan baru saja selesai menghitung sampai dua. Hanya dua tarikan napas telah berlalu. Iblis itu telah binasa. Bermandikan darah, pemuda berjubah putih yang menggenggam Pengubur Langit mengangkat pandangannya ke arah Fang Zhelan.
"Kekuatan macam apa itu...?" Fang Zhelan benar-benar terguncang. Lututnya lemas dan suaranya tercekat.
Dengan jeritan penuh ketakutan, satu-satunya naluri yang tersisa hanyalah melarikan diri. Ia tinggal lima anak tangga lagi dari ujung Jalur Surgawi. Namun, lima langkah itu terasa sepanjang keabadian.
"Tiga!"
Pada saat itu, suara bak mimpi buruk terdengar dari belakangnya.
Seluruh tenaga Fang Zhelan lenyap.
Dengan bunyi gedebuk keras, sebuah tendangan menghantam punggungnya. Tubuhnya terjungkal, wajahnya menghantam tanah dalam keadaan yang sangat memalukan. Dari lima anak tangga terakhir, empat di antaranya ia lewati dengan terseret di atas tanah. Wajah, lengan, dan kakinya bergesekan dengan batu hingga meninggalkan luka-luka berdarah yang mengerikan. Darah mengalir dari setiap lubang di wajahnya.
"Sial!" Benturan itu membuat Fang Zhelan pusing. Rambutnya kusut seperti orang gila, dadanya naik turun dengan berat. Darah menyembur dari mulutnya dan memercik ke anak tangga terakhir Jalur Surgawi.
Setelah meneriakkan hitungan ketiga, Jing Yan melesat maju, menginjak punggung Fang Zhelan, bagian belakang kepalanya, bahkan jari-jarinya untuk menaiki Jalur Surgawi. Dialah orang pertama yang mencapai Platform Warisan Pedang.
"Relik tulang iblis milikku... hilang..." gumam Fang Zhelan dengan tubuh penuh darah dan luka, wajahnya menempel di tanah. Air mata mengalir tanpa henti.
‘Fang Zhelan,’ pikir Jing Yan dengan dingin tanpa menoleh. ‘Pada hari Tang Long mati, aku akan membawa kepala kalian berdua yang telah berkhianat kembali ke Negeri Awan dan menggantungnya di ibu kota sebagai penghormatan bagi rakyatku.’
Jing Yan terus melangkah maju. ‘Mengira aku akan memberimu kematian yang mudah? Bermimpilah!’
Ia berutang keadilan kepada rakyatnya. Membunuh Fang Zhelan memang mudah, tetapi Tang Long... adalah tantangan yang sesungguhnya. Di dalam hatinya, ia sama sekali tidak pernah menganggap wanita berhati dingin itu sebagai lawan yang layak di Jalan Surgawinya. Ia sama sekali tidak pantas.
"Jing Yan, nyalimu benar-benar besar!" terdengar sebuah teriakan.
Dari Platform Warisan Pedang, tujuh pasang mata tajam kini menatap lurus ke arahnya, terutama tatapan Ning Ziyi.