Pernikahan mewah Rowan Vale-Knight dan Cathez hampa tanpa kehadiran buah hati.
Terobsesi pada kebebasan, Cathez terus menolak hamil hingga melontarkan tantangan gila: mengizinkan Rowan mencari wanita lain untuk melahirkan keturunannya.
Dikuasai rasa dikhianati, Rowan menerima tantangan tersebut.
Di malam yang sama, takdir mempertemukannya dengan Rossi Widmer—gadis terbuang yang nekat melompati mobil Rowan demi melarikan diri dari jebakan penjualan diri oleh ayahnya sendiri.
Terdesak ancaman bahaya dan pengaruh obat perangsang, penyatuan tak terduga terjadi di antara mereka.
Rowan yang terkesan oleh kemurnian Rossi memboyong gadis itu dalam pernikahan sah demi mendapatkan anak, tanpa menyadari rahasia besar bahwa Rossi sebenarnya adalah adik kandung Istrinya yang diasingkan sejak kecil.
Di antara keputusasaan, perlindungan tulus, dan intrik masa lalu yang membayangi, akankah benih cinta sejati tumbuh di tengah hubungan transaksi mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#28
Hening yang ditinggalkan Rossi di dalam kamar terasa begitu pekat, bertransformasi menjadi udara beracun yang mencekik paru-paru Rowan.
Pria bertubuh jangkung itu masih berdiri kaku di samping tempat tidur, menatap daun pintu kayu mahoni yang terbuka lebar.
Keheningan itu tidak lagi membawa kedamaian, melainkan rasa bersalah yang teramat dingin dan menghantam dadanya tanpa ampun.
“Tapi aku tidak akan pernah mengemis kepercayaan dari pria yang memandangku sebagai seorang penipu.”
Gema suara Rossi yang hampa dan bergetar terus berputar di kepala Rowan, merobek dinding pertahanan dan prasangka picik yang sempat membuncah dalam dirinya.
Trauma masa lalunya atas kebohongan Cathez telah membutakan matanya secara brutal. Ia telah melukai satu-satunya wanita yang berdiri mempertaruhkan segalanya demi membela namanya di hadapan Abner Widmer.
"Sialan... Kau benar-benar gila, Rowan!" umpat pria itu pada dirinya sendiri, suaranya pecah oleh kepanikan yang mendadak meluap.
Tanpa memedulikan penampilannya yang hanya mengenakan kaus polos dan tanpa alas kaki, Rowan berlari keluar dari kamar. Langkah-langkah kakinya yang panjang dan tergesa-gesa menggelegar menembus sunyinya koridor luas Mansion Utama Vale-Knight.
Matanya yang tajam menyapu setiap sudut lorong bernuansa klasik modern tersebut.
Hatinya mencelos membayangkan Rossi melangkah keluar dari pintu depan mansion di tengah kegelapan malam yang dingin.
"Rossi!" panggil Rowan dengan suara baritonnya yang sarat akan rasa takut—sebuah ketakutan terbesar yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Ketakutan akan kehilangan wanita yang telah menjadi belahan jiwanya.
...°°°...
Di ujung koridor lantai dua, tepat di dekat jendela melengkung yang menghadap ke arah taman belakang, sosok mungil Rossi terlihat berjalan perlahan.
Langkah gadis itu tampak gontai, jemari halus meremas gaun piyama sutranya yang melambai ditiup angin malam dari celah ventilasi.
"Rossi! Berhenti, aku mohon!" seru Rowan lagi, mempercepat lariannya hingga jarak di antara mereka terkikis sepenuhnya.
Sebelum Rossi sempat berbalik, Rowan sudah lebih dulu menjangkau pergelangan tangan halus gadis itu, menariknya secara perlahan namun pasti ke dalam dekapan hangatnya.
Rowan memeluk Rossi dari belakang, menyembunyikan wajah tegapnya di perpotongan leher istrinya, menghirup aroma vanila yang sangat ia rindukan.
Tubuh Rossi membeku dalam cengkeraman lengan tegap suaminya. Namun, tidak ada rontaan atau jeritan histeris. Hanya ada keheningan yang dingin dan hembusan napas Rossi yang berat.
"Lepaskan aku, Rowan..." bisik Rossi dengan nada datar, tanpa emosi. "Bukankah aku seorang penipu yang licik? Nanti kau tertular kebohongan dari darah Widmer-ku."
Kata-kata sinis itu terasa bagaikan belati yang menancap makin dalam di dada Rowan. Pria itu mempererat pelukannya, menggelengkan kepalanya dengan kuat di ceruk leher Rossi.
"Tidak... Demi Tuhan, tidak, Rossi," bisik Rowan dengan suara serak yang sangat pelan, bergetar oleh penyesalan yang tak tertahankan. "Maafkan aku... Aku mohon, maafkan aku, Sayang..."
Rowan membalikkan tubuh Rossi perlahan hingga mereka saling berhadapan. Telapak tangan tegap Rowan yang hangat merengkuh kedua pipi mulus Rossi.
Di bawah pendar lampu dinding yang temaram, mata hitam Rowan yang biasanya selalu memancarkan keangkuhan kini basah dan redup oleh keputusasaan.
"Aku yang gila, Rossi. Aku yang terobsesi dengan ketakutan masa laluku hingga aku bertindak bagaikan pria paling bodoh di dunia," akui Rowan jujur, matanya menatap dalam ke iris mata Rossi yang sembap. "Ketakutanku dilukai lagi membuat otakku kotor dan menuduhmu hal yang tidak-tidak. Kau bukan Cathez, kau bukan Ayahmu, Abner... Kau adalah Rossi-ku. Istriku yang begitu tulus."
Rossi menatap wajah tegap di depannya. Ada rasa sakit yang masih berdenyut di dadanya, namun melihat keputusasaan yang begitu nyata di mata pria dingin ini, dinding amarah di hati Rossi perlahan-lahan mengikis.
Rowan Vale-Knight—pria yang tak pernah tunduk pada siapa pun—kini berdiri gemetar di hadapannya hanya untuk meminta keampunan.
"Kau jahat sekali, Rowan..." cicit Rossi, air matanya kembali menetes pelan meniti pipinya. "Aku memberikan seluruh hatiku padamu, menolak ayah kandungku sendiri demi bersamamu... Tapi kau dengan sangat mudah menyebutku pemanfaat."
"Aku tahu, aku sangat jahat... Hukum aku, Rossi. Pukul aku, benci aku, tapi tolong... jangan pernah tinggalkan aku," mohon Rowan, menyatukan kening mereka. Ibu jarinya dengan lembut menghapus jejak air mata di pipi Rossi.
"Tolong berikan aku kesempatan untuk membayar kebodohanku malam ini."
Rossi menghela napas panjang yang terasa teramat berat. Ia mengulurkan tangannya yang halus, memukul dada tegap Rowan dengan pukulan pelan yang sama sekali tidak bertenaga—sebuah pelampiasan kekesalan kecilnya.
"Aku memaafkanmu..." gumam Rossi pelan.
Mata Rowan seketika berbinar hebat, rasa lega yang luar biasa membanjiri dadanya. "Rossi, terima kasih—"
"Tapi," potong Rossi cepat, memicingkan matanya dengan tatapan jengkel yang sangat jelas, "aku masih sangat, sangat kesal padamu! Jangan harap kau bisa tersenyum lebar malam ini!"
Rowan terkekeh pelan—sebuah kekehan sarat rasa syukur—lalu mengangguk pasrah. "Apapun yang kau katakan, Sayang. Kau boleh jengkel padaku sepuas yang kau mau."
Rowan kemudian mengangkat tubuh mungil Rossi ke dalam gendongannya Ala bridal style, membawa istrinya kembali menyusuri koridor menuju kamar utama sayap timur.
Rossi tidak menolak, ia hanya menyandarkan kepalanya di dada tegap Rowan, mendengarkan detak jantung pria itu yang berdegup kencang secara tidak teratur.
Setibanya di dalam kamar, Rowan membaringkan Rossi secara perlahan di atas ranjang king-size yang empuk. Pria itu menyelimuti tubuh Rossi hingga ke dada dengan sangat hati-hati, seolah-olah Rossi adalah barang pecah belah yang sangat berharga.
Rowan lalu ikut merebahkan tubuhnya di samping Rossi. Pria tegap itu melingkarkan lengan berototnya di pinggang Rossi, menarik tubuh hangat istrinya mendekat hingga tak ada jarak di antara mereka.
Namun, saat bibir hangat Rowan berniat mendaratkan ciuman lembut di bibir Rossi sebagai tanda perdamaian...
Puk!
Rossi menahan dada tegap Rowan dengan kedua telapak tangannya, menolak ciuman itu dengan wajah yang dilipat cemberut.
"Tidak ada agenda ciuman atau apapun malam ini," tegur Rossi dengan nada sok dingin, meski matanya memancarkan pendar kejahilan kecil. "Tuan Besar yang berprasangka buruk dilarang mendapatkan bonus!"
Rowan tertegun sejenak, lalu menyunggingkan senyuman tipis penuh pengertian.
Pria itu tidak merasa kecewa sedikit pun; baginya, berada di samping Rossi dan memeluknya seperti ini sudah merupakan sebuah anugerah yang tak ternilai.
"Baiklah, Nyonya Vale-Knight..." bisik Rowan lembut. Ia mengalah, lalu mengalihkan bibirnya untuk mengecup kening Rossi dengan durasi yang lama dan penuh rasa hormat. "Tidak ada ciuman. Hanya pelukan."
Rossi akhirnya menyunggingkan senyum tipis di balik keremangan kamar, membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan pelukan suaminya. Pria tegap itu melingkarkan kakinya di antara kaki Rossi, mengunci tubuh mungil itu dalam sebuah proteksi yang sempurna.
"Tidurlah, Sayang... Aku tidak akan pergi ke mana-mana. Aku akan menjaga tidurmu sepanjang malam," bisik Rowan tepat di telinga Rossi, jemari tegapnya mengelus rambut panjang istrinya dengan ritme yang menenangkan.
Di dalam kamar yang hening itu, rasa hangat dan kedamaian sejati kembali merayap masuk. Tidak ada lagi gairah membara atau percintaan yang tergesa-gesa; yang tersisa hanyalah dua jiwa yang saling menyembuhkan luka melalui dekapan yang tulus.
Rossi memejamkan matanya, menyandarkan dagunya di dada tegap Rowan yang naik-turun secara teratur. Rasa jengkelnya perlahan-lahan menguap, digantikan oleh rasa aman yang melimpah.
Di pelukan pria inilah—pria yang dengan segala kekurangannya tetap bersedia bertekuk lutut memohon maaf padanya—Rossi akhirnya menemukan rumah sejati tempat hatinya berlabuh.
bikin semua kejahatan catzhes terbongkar
aku pasti baca thor mpe abis🥰🥰🥰