Di dalam sebuah kamar sewaan yang sempit dan berbau lembap, seorang pemuda tiba-tiba tersentak bangun. Napasnya memburu, matanya yang tajam memancarkan kilatan cahaya keemasan sebelum akhirnya meredup dan berubah menjadi hitam pekat.
"Ini... di mana?"
Fang Yuan melihat kedua telapak tangannya. Halus, kurus, dan tidak ada bekas luka. Ini bukan tubuh kedagingan seorang Sovereign yang bisa menghancurkan galaksi dengan satu pukulan.
Dia menoleh ke meja belajar. Sebuah ponsel jadul menunjukkan tanggal: 20 Juni 2016.
Fang Yuan tertegun, lalu tawa pelan keluar dari tenggorokannya. Tawa itu semakin lama semakin keras, menggema di dalam kamar sempit tersebut.
"Hahaha! Kesengsaraan Surgawi sembilan warna ternyata tidak menghancurkanku! Aku, Fang Yuan, Sang Penguasa Surgawi Cangqiong, justru kembali ke masa usiaku delapan belas tahun?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kebangkitan sang penguasa
Langit di atas Kota Jiangnan malam itu tertutup awan hitam pekat. Hujan deras turun bagai ditumpahkan dari langit, disertai suara petir yang menggelegar, membelah keheningan malam.
Di dalam sebuah kamar sewaan yang sempit, pengap, dan berbau lembap di sudut kota, seorang pemuda tiba-tiba tersentak bangun.
"Hah... Hah..."
Napasnya memburu hebat. Jantungnya berdegup kencang seolah habis berlari ribuan kilometer. Sepasang matanya yang tajam sempat memancarkan kilatan cahaya keemasan yang menerangi kegelapan kamar, sebelum akhirnya meredup dan kembali menjadi hitam pekat.
Pemuda itu melihat ke bawah, menatap kedua telapak tangannya. Kulitnya halus, lengannya kurus, dan tidak ada bekas luka pertempuran sama sekali. Ini jelas bukan tubuh kedagingan seorang *Sovereign* yang mampu menghancurkan jajaran galaksi hanya dengan satu jentikan jari.
Dia menoleh ke samping, menatap sebuah ponsel layar sentuh jadul yang tergeletak di atas meja belajar yang reyot. Layarnya menyala, menampilkan sebuah tanggal: **20 Juni 2016**.
Pemuda itu tertegun untuk beberapa saat, lalu senyum tipis mulai mengembang di sudut bibirnya. Senyuman itu berubah menjadi tawa pelan, yang lama-kelamaan semakin keras hingga menggema di dalam kamar sempit tersebut.
"Hahaha! Kesengsaraan Surgawi Sembilan Warna ternyata gagal menghancurkanku! Aku, Fang Yuan, Sang Penguasa Surgawi Cangqiong, justru terlahir kembali ke masa usiaku delapan belas tahun?!"
Suaranya terdengar bergetar, bukan karena takut, melainkan karena kegembiraan yang luar biasa.
Di kehidupan sebelumnya, Fang Yuan adalah definisi nyata dari seorang pecundang di Kota Jiangnan. Keluarganya hancur dan bangkrut karena dijebak oleh aliansi keluarga konglomerat setempat. Ibunya meninggal dalam kemiskinan karena sakit-sakitan, dan gadis yang diam-diam dia cintai, Lin Xinyue, dipaksa menikah dengan pria dari keluarga kaya raya demi bisnis hingga akhirnya memilih mengakhiri hidupnya dengan tragis.
Di titik paling hancur dalam hidupnya, Fang Yuan yang nyaris gila tidak sengaja tersapu oleh celah ruang dan waktu saat seorang kultivator tingkat tinggi melintasi bumi. Dia dibawa pergi meninggalkan bumi dan masuk ke Alam Semesta Abadi.
Di sana, dengan bakatnya yang biasa saja namun didorong oleh dendam dan rasa sakit yang mendalam, Fang Yuan merangkak dari bawah. Dalam waktu lima ratus tahun, dia berhasil mendominasi Alam Abadi, membantai jutaan iblis, dan naik takhta sebagai salah satu dari sedikit *Sovereign* yang paling ditakuti.
Namun, saat mencoba menembus batas tertinggi untuk menjadi Dewa Sejati, dia gagal melewati Kesengsaraan Surgawi. Fondasi kultivasinya di masa muda terlalu rapuh. Hatinya dipenuhi trauma, penyesalan, dan dendam masa lalu yang belum usai. Hal itu menjadi iblis dalam hatinya (*Inner Demon*) yang menghancurkan jiwanya saat petir kesengsaraan menyambar.
Tapi siapa sangka, bukannya musnah, jiwanya justru terlempar kembali ke masa lalu. Masa di mana semua tragedi itu belum dimulai!
"Penyesalan masa lalu... musuh-musuh yang pernah menginjak-injak keluargaku... di kehidupan kali ini, aku bersumpah akan meratakan kalian semua hingga menjadi debu!" gumam Fang Yuan, matanya berubah menjadi sedingin es kutub. Aura membunuh yang tipis namun mengerikan sempat membuat suhu di dalam kamar drop beberapa derajat.
Fang Yuan menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan pikirannya. Dia tahu, dendam hanya bisa dibalas jika dia memiliki kekuatan. Tanpa menunda waktu, dia langsung mengambil posisi duduk bersila di atas kasur tipisnya.
Dia mencoba memejamkan mata dan merasakan energi spiritual (*Qi*) yang ada di sekitarnya.
"Cih, tipis sekali. Polusi di bumi benar-benar parah," keluh Fang Yuan sambil mengerutkan dahi. Energi spiritual di bumi modern ternyata seratus kali lebih tipis dibandingkan dengan Alam Abadi.
Namun, hal itu tidak membuat Fang Yuan putus asa. Sebagai mantan Penguasa Surgawi, dia menguasai ribuan teknik legendaris. Dia segera mengaktifkan *Sutra Pembalik Langit Sembilan Jiwa*, sebuah teknik kultivasi tingkat tinggi yang dia rebut dari situs kuno di Alam Abadi.
*Wusss...*
Perlahan, pusaran energi kecil yang kasat mata mulai terbentuk di sekitar tubuh Fang Yuan. Udara di dalam kamar seolah-olah berputar, tertarik masuk ke dalam pori-pori kulitnya. Pori-pori tubuh Fang Yuan mulai terbuka lebar, menyerap energi alam dan mulai mengeluarkan cairan hitam yang berbau pekat dan anyir. Itu adalah kotoran dan racun tubuh yang menumpuk selama delapan belas tahun dia hidup sebagai manusia biasa.
Proses pembersihan sumsum tulang dan urat nadi ini biasanya sangat menyakitkan bagi manusia biasa, namun Fang Yuan bahkan tidak mengedipkan mata. Fokusnya sekeras baja.
Dua jam berlalu. Tepat saat fajar menyingsing di ufuk timur, Fang Yuan membuka matanya. Sebuah ledakan energi tak kasat mata keluar dari tubuhnya, membuat debu-debu di kamar beterbangan.
*Kultivasi Tahap Pengumpulan Qi: Tingkat Satu!*
Meskipun baru tingkat satu, namun dengan pondasi dari teknik *Sutra Pembalik Langit Sembilan Jiwa*, tubuh fisik Fang Yuan saat ini sudah setara dengan atlet profesional top dunia, dan panca inderanya menjadi berkali-kali lipat lebih tajam.
"Kekuatan ini masih terlalu lemah, bahkan peluru pistol pun masih bisa melukaiku," ujar Fang Yuan sambil melihat tubuhnya yang kini dipenuhi cairan hitam pekat. "Aku harus segera mandi dan mencari tempat dengan energi spiritual yang lebih padat untuk menembus tingkat berikutnya."
Fang Yuan berdiri, berjalan menuju kamar mandi dengan langkah yang mantap. Hari ini, roda takdir Kota Jiangnan telah resmi berubah. Sang Penguasa Surgawi telah kembali, dan dunia modern ini belum siap menghadapi amarahnya.