Tiga siswa SMA biasa tidak pernah membayangkan hidup mereka akan berubah hanya karena sebuah buku fiksi misterius di perpustakaan sekolah.
Buku itu terbang ke atas air dan membentuk sebuah portal bercahaya tiba-tiba muncul dan menyeret mereka ke masa lalu, tepatnya ke sebuah dinasti Jepang kuno yang sedang berada di ambang kehancuran.
Negeri itu tidak hanya diguncang oleh perebutan kekuasaan di istana, tetapi juga diteror oleh Makhluk Kutukan, entitas mengerikan yang lahir dari kebencian, dendam, dan ambisi manusia. Kehadiran mereka membuat rakyat hidup dalam ketakutan, sementara para bangsawan sibuk saling menjatuhkan demi takhta.
Namun semakin dalam mereka terlibat, semakin mereka menyadari bahwa musuh terbesar bukanlah para monster yang berkeliaran di luar tembok istana, melainkan kegelapan yang bersemayam di hati manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kyc_ibell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32
Malam semakin larut. Cahaya bulan memantul di permukaan danau istana yang tenang seperti cermin perak. Di sepanjang tepian danau, bunga porana sedang bermekaran. Kelopaknya yang putih kekuningan bergoyang pelan diterpa angin malam, menyebarkan aroma manis yang menenangkan.
Beberapa kelopak bunga jatuh perlahan dari atas, menghiasi jalan setapak yang mereka lalui.
Jinsei berjalan di samping Yua dengan langkah tenang. Untuk beberapa saat, tak satu pun dari mereka berbicara. Hanya suara air dan desir angin yang menemani.
Jinsei melirik sekilas ke arah Yua. Matanya sedikit membesar. Yua malam itu terlihat sangat cantik. Rambutnya yang tertata rapi dihiasi jepit rambut berbentuk bunga yang pernah ia berikan beberapa waktu lalu.
Dan yang membuat hatinya berdebar adalah, Yua benar-benar memakainya. Senyum kecil muncul di wajah Jinsei.
"Aku baru sadar..." ucapnya.
Yua menoleh.
"Hm?"
"Kau terlihat sangat cantik malam ini."
Yua berkedip pelan. Jinsei melanjutkan sambil tersenyum tipis.
"Dan kau memakai jepit rambut itu."
Tanpa sadar tangan Yua menyentuh jepit rambut di kepalanya.
"Aku menyukainya."
Jawabannya sederhana. Namun entah mengapa, itu cukup membuat hati Jinsei menghangat. Mereka kembali berjalan beberapa langkah. Lalu ekspresi Jinsei berubah sedikit serius.
"Yua."
"Ya?"
"Aku ingin meminta maaf."
Yua tampak bingung.
"Meminta maaf?"
Jinsei mengangguk.
"Soal pesta dansa tadi."
Yua memperhatikannya dengan tenang.
"Aku tidak bisa mengajakmu berdansa pertama kali."
Jinsei menghela napas pelan.
"Seharusnya aku yang mengajakmu lebih dulu. Tapi keadaan jadi rumit. Aku tahu mungkin itu mengecewakan."
Yua terdiam sesaat. Lalu dia tersenyum lembut. Senyuman yang selalu membuat suasana menjadi tenang.
"Aku tidak marah."
Jinsei menatapnya. Yua memandang permukaan danau yang berkilauan.
"Aku tahu kau tidak melakukannya dengan sengaja."
Suaranya lembut namun penuh keyakinan.
"Dan aku tahu kau sudah berusaha."
Dia lalu menoleh kembali kepada Jinsei.
"Karena itu tidak ada alasan bagiku untuk marah."
Mata Jinsei sedikit melembut. Jawaban itu benar-benar terdengar seperti Yua. Bijaksana, tenang dan selalu berusaha memahami orang lain.
"Kau memang luar biasa."
Yua tertawa kecil.
"Itu pujian yang aneh."
"Tapi benar."
Angin malam kembali berhembus. Kelopak-kelopak bunga porana berjatuhan dari atas pohon. Salah satunya tersangkut di rambut Jinsei. Jinsei tidak menyadarinya.
Namun Yua melihatnya. Dia berhenti berjalan. Jinsei ikut berhenti.
"Kenapa?"
Tanpa menjawab, Yua melangkah sedikit lebih dekat. Lalu tangan Yua perlahan terangkat. Jinsei membeku. Yua menyentuh rambut bagian atas kepalanya.
Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Sementara Yua tampak sama sekali tidak menyadarinya. Dengan gerakan lembut, Yua mengambil kelopak bunga porana yang tersangkut di rambut Jinsei.
Yua memperlihatkan kelopak bunga itu di telapak tangannya.
"Ada bunga yang jatuh."
Jinsei berkedip beberapa kali.
"Oh..."
Hanya itu yang berhasil keluar dari mulutnya. Yua memiringkan kepala.
"Jinsei? wajahmu merah."
Jinsei langsung menoleh ke arah lain.
"T.. tidak.."
"Tapi memang merah."
"Itu mungkin hanya karena angin."
Yua menatap langit malam.
"Angin bisa membuat wajah memerah?"
"Bisa... apa yang mustahil didunia ini.."
"Itu pertama kalinya aku mendengar hal seperti itu."
Yua tertawa kecil. Sementara Jinsei semakin salah tingkah. Dan melihat reaksi itu, tanpa sadar senyum Yua menjadi sedikit lebih hangat dari biasanya.
Untuk beberapa saat, mereka hanya berdiri di bawah hujan kelopak bunga porana yang terus berjatuhan, menikmati malam yang terasa begitu damai.
---
Putri Hikari telah meninggalkan aula dan berjalan menyusuri koridor istana yang tenang. Cahaya lentera keemasan memantulkan bayangan lembut di lantai. Para dayang berjalan beberapa langkah di belakangnya sambil membawa ujung gaun sang putri.
Saat berbelok di sebuah lorong taman dalam istana, langkah Putri Hikari terhenti. Di hadapannya berdiri seorang pemuda berambut gelap yang baru saja hendak meninggalkan area utama istana.
Fumiro.
Fumiro segera membungkukkan badan dengan sopan.
"Salam hormat untuk Tuan Putri."
Putri Hikari langsung mengenalinya. Tatapannya melembut. Dia memberi isyarat kecil dengan jemarinya kepada para dayang. Para dayang yang mengerti maksud sang putri segera melangkah menjauh, memberikan ruang bagi percakapan pribadi itu.
Fumiro mengangkat kepalanya perlahan.
"Aku belum sempat mengucapkan terima kasih secara langsung," ucap Putri Hikari dengan senyum tipis. "Atas bantuanmu waktu itu."
"Yang Mulia tidak perlu berterima kasih. Itu sudah menjadi tugas saya."
Mata Putri Hikari menatapnya dengan tulus.
"Jika bukan karena dirimu yang datang tepat waktu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi saat itu."
Fumiro tersenyum kecil.
"Saya hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan."
Hening sesaat menyelimuti mereka. Kemudian Putri Hikari tiba-tiba berkata,
"Ngomong-ngomong... bagaimana keadaan lenganmu?"
Fumiro terdiam. Wajahnya menunjukkan sedikit keterkejutan.
"Lenganku?"
Putri Hikari mengangguk.
"Saat kau menolongku di dekat kolam waktu itu... tanpa sengaja aku menyentuh bekas lukamu."
Dia menunduk sebentar seolah mengingat kejadian tersebut.
"Ada sedikit darah yang menempel di telapak tanganku saat itu."
Fumiro membelalakkan mata sedikit. Putri Hikari lalu tersenyum meminta maaf.
"Aku tidak sempat mengatakannya waktu itu. Maaf jika tanpa sengaja menyentuh bagian yang terluka."
"Tidak perlu meminta maaf, Yang Mulia."
"Lukanya tidak apa-apa?"
"Sudah sembuh sebagian."
Putri Hikari tampak lega.
"Boleh aku tahu dari mana luka itu berasal?"
Fumiro sempat terdiam sepersekian detik. Lalu dia menjawab dengan nada santai.
"Hanya luka biasa dari latihan bersama para pemburu."
Putri Hikari mengangguk pelan.
"Oh begitu."
Penjelasan itu terdengar masuk akal baginya. Para pemburu memang sering menjalani latihan berat dan tidak jarang pulang dengan luka-luka kecil.
Senyum hangat kembali menghiasi wajah sang putri. Tak lama kemudian Fumiro seperti mengingat sesuatu. Dia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari balik pakaiannya.
Kotak itu sederhana. Tidak dihiasi emas, tidak pula bertatahkan batu permata seperti hadiah-hadiah para bangsawan yang memenuhi aula sebelumnya.
Fumiro menundukkan kepala.
"Saya hampir lupa."
Dia mengulurkan kotak tersebut.
"Ini hadiah untuk Yang Mulia."
Putri Hikari terlihat sedikit terkejut.
"Untukku?"
Fumiro mengangguk.
"Saya tidak memiliki sesuatu yang semewah para bangsawan lainnya. Namun saya berharap Yang Mulia berkenan menerimanya."
Putri Hikari menerima kotak itu dengan kedua tangannya. Tatapannya lembut.
"Nilai sebuah hadiah tidak ditentukan oleh kemewahannya."
Fumiro terdiam mendengarkan. Putri Hikari tersenyum tulus.
"Melainkan oleh ketulusan orang yang memberikannya."
Putri Hikari menatap kotak kecil itu dengan hati-hati.
"Aku senang menerimanya."
Kalimat sederhana itu membuat Fumiro sedikit mengendurkan ketegangannya. Senyum tipis muncul di wajahnya.
"Ini sudah lebih dari cukup bagi saya."
Angin malam berhembus pelan melewati koridor. Fumiro kemudian membungkuk memberi hormat sekali lagi.
"Kalau begitu saya mohon pamit, Yang Mulia."
Putri Hikari mengangguk anggun.
"Silakan. Dan terima kasih atas hadiahnya."
Fumiro menegakkan tubuhnya, lalu berbalik meninggalkan koridor istana dengan langkah tenang. Putri Hikari memperhatikannya hingga Fumiro menghilang di balik lengkungan lorong.
Sesaat kemudian Putri Hikari menunduk menatap kotak kecil di tangannya. Entah mengapa, hadiah sederhana itu terasa jauh lebih hangat daripada banyak hadiah mewah yang diterimanya malam itu.
Perlahan senyum tipis terukir di bibir sang putri sebelum dia melanjutkan perjalanan menuju kediamannya.