Bara Adikara, tumbuh dengan kebencian setelah perselingkuhan ayahnya. Ibunya meninggal dan hidupnya hancur. Ia akan terus disiksa jika tak mau menurut pada peraturan sang ayah. Begitu dewasa, Bara pun menjelma menjadi sosok yang keras dan dingin. Ia berpura-pura menjadi pecundang bodoh yang tak peduli pada semuanya. Tanpa seorangpun tahu kalau sebenarnya Bara sedang merencanakan sebuah balas dendam. Ia akan merebut semua milik ibunya, rumah dan perusahaan. Selain itu, ia juga akan menghancurkan wanita yang sudah membuat keluarganya hancur, dengan memanfaatkan anaknya. Andrea Willona, gadis itu akan Bara hancurkan, tapi disaat hati mulai ikut campur, benarkah semua akan tetap pada alurnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El khiyori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Hari-hari berikutnya berjalan sesuai dengan skenario yang telah disusun rapi di kepala Bara. Andrea, dengan segala kepolosan dan rasa terima kasihnya, menjadi bayangan yang setia mengikuti ke mana pun Bara pergi. Baik di rumah maupun di area kampus.
Bara semakin memanfaatkan momen itu dengan sangat cerdik. Ia tidak langsung melancarkan serangan secara agresif, tapi justru sebaliknya. Barra bermain sangat halus. Menarik ulur benang perangkapnya untuk Andrea, dan menciptakan situasi-situasi yang membuat jantung Andrea berdegup kencang akibat kedekatan mereka yang tak terduga.
Sore itu, hujan deras mengguyur kota, termasuk area kampus tempat Andrea dan Bara berada. Menjebak mereka di dalam perpustakaan tua fakultas yang sore itu sudah mulai sepi. Andrea sedang berdiri di depan rak buku yang tinggi, mendongak berusaha meraih sebuah buku referensi seni tebal di rak paling atas. Kedua ujung kakinya berjinjit, namun jemarinya tetap tidak mampu menggapai buku tersebut.
Tanpa suara, Bara melangkah mendekat dari arah belakang. Sebelum Andrea menyadari kehadirannya, Bara sudah berdiri tepat di belakang punggung gadis itu. Ia mengulurkan tangan kekarnya ke atas, melewati samping kepala Andrea, dan dengan mudah mengambil buku yang diincar gadis itu.
Sampai akhirnya tindakan tersebut membuat tubuh mereka nyaris tanpa jarak. Andrea bisa merasakan dada bidang Bara yang hangat menyentuh punggungnya secara samar, serta aroma parfum bercampur aroma maskulin khas tubuh Bara yang langsung mengepung indra penciumannya.
Andrea tersentak, tubuhnya membeku. Jantungnya tiba-tiba berdebar-debar dengan sangat kencang, dan saat ia membalikkan badan dengan gugup, ia justru mendapati wajah Bara hanya berjarak beberapa sentimeter saja dari wajahnya. Mata gelap Bara yang dalam menatap langsung ke manik matanya.
"Ini buku yang kamu cari kan?" bisik Bara. Suaranya yang rendah dan serak bergema di antara keheningan rak buku, terdengar begitu hangat dan mendebarkan.
Andrea menelan ludah, mendadak merasa pasokan oksigen di sekitarnya menipis. "I-iya, Kak. Terima kasih .... " jawabnya dengan suara yang hampir habis.
Bara tidak langsung mundur. Ia sengaja tetap bertahan di posisi itu, mengurung tubuh Andrea di antara kedua lengannya yang bertumpu pada rak buku di kiri dan kanan gadis itu. Tatapan dingin yang biasa ia perlihatkan kini sengaja ia ubah menjadi tatapan yang intens, seolah-olah ia sedang mengagumi setiap jengkal wajah di hadapannya.
"Kamu selalu ceroboh, Andrea," ucap Bara pelan, jemarinya bergerak maju, menyelipkan beberapa helai rambut Andrea yang terlepas ke belakang telinganya. Sentuhan kulit tangan Bara yang hangat di pipinya membuat wajah Andrea seketika merona merah. Debaran jantungnya juga sudah tak bisa lagi diajak kompromi. "Bagaimana kalau tadi aku tidak ada di dekatmu? Jangan bertindak asal begitu, bisa-bisa kepalamu kejatuhan buku."
Sesaat Andrea memejamkan mata rapat-rapat.
"A-aku tadi cuma mau .... "
Andrea benar-benar kehilangan kata-kata. Sentuhan dan tatapan Bara membuatnya terhipnotis. Hatinya yang lembut membuat ia mengira bahwa ini adalah bentuk perhatian seorang kakak tiri yang mulai menerimanya, tanpa menyadari ada jerat yang siap mencekik lehernya.
Bara yang melihat reaksi itu tersenyum tipis di dalam hati. "Sangat mudah," pikirnya. Ia lalu menarik diri perlahan, memberikan kembali ruang bernapas bagi Andrea yang langsung menghembuskan napas lega namun sekaligus merasa kehilangan kehangatan yang tiba-tiba pergi.
***
Beberapa hari kemudian, Bara membawa permainan ini ke tingkat yang lebih berani. Ia mengajak Andrea pergi ke sebuah pameran seni di malam hari. Sebuah tempat yang ia tahu akan sangat disukai Andrea, namun juga tempat yang sempurna untuk memojokkan perasaan gadis itu.
Andrea tampil cantik dengan gaun kasual sederhana, matanya berbinar-binar melihat deretan lukisan indah. Bara berjalan di sampingnya, sesekali memberikan komentar cerdas yang membuat Andrea semakin kagum pada sosoknya.
Saat mereka berada di sebuah lorong remang-remang yang menampilkan instalasi seni kontemporer, Bara tiba-tiba menarik pergelangan tangan Andrea, membawanya masuk ke celah sepi di antara dua sekat pameran yang gelap.
"Kak Bara? Ada apa?" tanya Andrea bingung sekaligus gugup saat punggungnya membentur dinding pembatas.
Bara maju satu langkah, mengikis jarak hingga ujung sepatu mereka saling bersentuhan. Di bawah remang lampu galeri, wajah Bara terlihat begitu tampan namun misterius.
"Aku hanya ingin tahu satu hal," kata Bara sambil menundukkan kepalanya, mendekatkan bibirnya ke telinga Andrea. Napas hangatnya menggelitik leher gadis itu, membuat bulu kuduk Andrea meremang. "Kenapa kamu begitu penurut padaku? Kamu tidak takut aku punya niat buruk padamu?"
Andrea meremas ujung gaunnya, jantungnya berpacu begitu cepat hingga ia takut Bara bisa mendengarnya. Tanpa berpikir buruk sedikit pun, Andrea mendongak dan menatap mata Bara dengan binar ketulusan.
"Karena Kak Bara orang baik. Kakak sudah menolongku, dan ... aku merasa aman kalau ada di dekat Kakak," jawab Andrea jujur.
Mendengar jawaban itu, kilat berbahaya sempat melintas di mata Bara. "Aman?" batin Bara. Sungguh sebuah ironi yang menggelikan. Andrea menyerahkan hatinya begitu saja di atas nampan perak kepada sang serigala.
Bara menurunkan pandangannya ke arah bibir Andrea yang sedikit terbuka. Ia maju selangkah lagi, menekan tubuhnya lebih dekat hingga Andrea bisa merasakan detak jantung mereka seolah berkejaran. Bara mengangkat dagu Andrea dengan telunjuknya, memaksa gadis itu menatapnya lebih dalam.
"Jangan terlalu percaya pada laki-laki Andrea ... termasuk aku," bisik Bara, suaranya terdengar seperti sebuah rayuan yang mematikan. Ia mendekatkan wajahnya, membiarkan ujung hidung mereka saling bersentuhan selama beberapa detik.
Menciptakan ketegangan hingga Andrea refleks memejamkan matanya karena mengira Bara akan menciumnya, namun tepat ketika Andrea sudah sepenuhnya terperangkap dalam pesonanya, Bara justru menarik wajahnya kembali dan melepaskan dagunya sambil terkekeh pelan. Sebuah tawa yang terdengar hangat di telinga Andrea, namun sebenarnya tawa itu dingin di dalam jiwa Bara.
"Ayo pulang, sudah malam," ajak Bara santai sambil berbalik arah seolah tidak baru saja menjungkirbalikkan suasana hati Andrea, sementara Andrea membuka matanya perlahan. Napasnya masih terengah-engah.
Ia memegangi dadanya yang bergemuruh hebat dan menatap punggung Bara yang berjalan mendahuluinya. Di dalam hatinya, sebuah benih perasaan baru saja tumbuh. Andrea mulai menyukai sosok kakak tirinya.
Sedangkan di waktu yang sama, Bara berjalan di depan dengan senyum kemenangan yang mengembang sempurna. Setiap sentuhan, setiap bisikan, dan setiap adegan mendebarkan yang ia ciptakan adalah racun berbalut madu.
Andrea sudah masuk terlalu dalam ke dalam perangkapnya, dan kini, Bara hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menjatuhkan bidak terakhirnya dan menghancurkan seluruh hidup gadis itu.
***
Malam pun semakin larut ketika mobil sport hitam milik Bara membelah jalanan pinggiran kota yang sepi. Hujan yang semula hanya rintik-rintik, tiba-tiba tumpah dengan sangat deras. Jarak pandang di dalam mobil memendek drastis, menyisakan sorot lampu mobil yang memantul pada aspal basah dan pepohonan di kanan dan kiri jalan.
Di dalam kabin mobil, suasana terasa begitu kontras. Alunan musik jazz instrumental mengalun lembut, bercampur dengan aroma mint segar yang menguar dari dasbor.
Andrea duduk di samping Bara, memeluk tasnya erat-erat. Matanya sesekali melirik ke arah luar jendela yang tertutup embun, lalu beralih pada wajah Bara.
Pria itu tampak fokus mengemudi, satu tangannya berada di kemudi, sementara tangan lainnya bertumpu santai di atas tuas transmisi. Garis rahangnya yang tegas, hidungnya yang mancung, dan pembawaannya yang selalu tenang membuat Andrea tak bisa memungkiri satu hal, Bara adalah definisi kesempurnaan fisik tanpa cela, dan ia menyukainya.