SINYAL TERAKHIR
Sinopsis
Tahun 2487.
Persemakmuran Persatuan Manusia (PPM) telah berkembang menjadi peradaban antarbintang yang menguasai ratusan sistem bintang. Dengan bantuan jaringan gerbang antarbintang dan kecerdasan buatan AURA, manusia berhasil membangun koloni di berbagai penjuru galaksi. Meski teknologi berkembang pesat, satu pertanyaan besar belum pernah terjawab: apakah manusia benar-benar sendirian di alam semesta?
Semuanya berubah ketika jaringan observatorium PPM menangkap sebuah sinyal misterius dari Galaksi Asterion, sebuah galaksi yang tidak pernah tercatat dalam jalur eksplorasi resmi. Sinyal itu memiliki pola yang tidak mungkin dihasilkan oleh fenomena alam dan terus berubah seolah merespons sesuatu.
Untuk menyelidikinya, Dewan PPM membentuk ekspedisi rahasia menggunakan kapal eksplorasi tercanggih, ESS Horizon. Misi tersebut dipimpin oleh Kapten Idris, didampingi Wakil Kapten Kael, bersama sepuluh anggota lain yang dipilih langsung dari berbagai bidang keahlian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 – Sumber Sinyal
Seluruh perhatian kru tertuju pada layar utama.
Grafik kekuatan sinyal terus bergerak naik.
Leo berdiri di depan konsol komunikasi.
"AURA, lakukan pemindaian penuh."
"Pemindaian dimulai."
Gelombang elektromagnetik dipancarkan ke segala arah.
Beberapa detik kemudian hasilnya muncul.
"Tidak ditemukan kapal."
"Tidak ditemukan asteroid."
"Tidak ditemukan objek bermassa besar."
Darius menghela napas.
"Jadi sinyalnya datang dari ruang kosong?"
"Belum dapat dipastikan," jawab AURA.
Kapten Idris melihat Kael.
"Pendapatmu?"
Kael berpikir beberapa saat.
"Kalau tidak ada objek yang mendekat..."
"...berarti alat kita yang belum mampu mendeteksinya."
Reza langsung menyahut.
"Atau seseorang sengaja menyembunyikannya."
Semua terdiam.
Kemungkinan itu memang ada.
Leo kembali memeriksa frekuensi sinyal.
"Tunggu."
"Ada pola baru."
Rina segera menghampiri.
"Kita lihat."
Gelombang yang sebelumnya tampak acak kini mulai membentuk interval yang teratur.
Lyra memperhatikannya.
"Ini bukan bahasa."
"Bukan?"
"Bukan juga kode militer."
"Lalu?"
Lyra menunjuk layar.
"Ini lebih mirip..."
Ia berhenti sejenak.
"...denyut."
"Denyut?" tanya Mira.
"Seperti detak jantung?"
Lyra mengangguk pelan.
"Bukan berarti berasal dari makhluk hidup."
"Tapi ritmenya menyerupai denyut biologis."
Leo menyimpan hasil analisis itu.
"Aku belum pernah melihat sinyal seperti ini."
Di ruang mesin.
Darius sedang memeriksa reaktor bersama Owen.
"Semuanya normal."
"Tekanan stabil."
"Pendingin juga normal."
Owen menutup panel pemeriksaan.
"Tapi aku tidak suka suasana kapal."
Darius tersenyum.
"Baru seminggu meninggalkan PPM, sudah rindu rumah?"
"Bukan."
Owen melihat ke arah lorong.
"Rasanya..."
"...terlalu sunyi."
Darius tertawa kecil.
"Di luar sana tidak ada siapa-siapa."
"Itu justru yang membuatku tidak tenang."
Di dek komando.
Niko mengubah arah kapal beberapa derajat.
"Kapten."
"Apa?"
"Ada jalur yang bisa mempersingkat perjalanan sekitar delapan jam."
Kapten Idris melihat simulasi rute.
"Apa risikonya?"
"Wilayah itu belum dipetakan."
"Kalau tetap di jalur sekarang?"
"Lebih aman."
Kael ikut melihat.
"Kita tidak sedang berlomba."
Kapten Idris mengangguk.
"Kita tetap di jalur awal."
Niko langsung menjalankan perintah.
Beberapa saat kemudian...
Alarm sensor berbunyi.
"Bip."
Hanya sekali.
Rina mengangkat kepala.
"AURA?"
"Saya mendeteksi pancaran energi singkat."
"Asalnya?"
"Tiga ratus ribu kilometer di depan."
"Tampilkan."
Layar utama memperbesar wilayah tersebut.
Tetap kosong.
Tidak ada apa pun.
"Tingkatkan resolusi."
Resolusi dinaikkan dua kali lipat.
Masih kosong.
Empat kali lipat.
Masih tidak ada.
Reza mengernyit.
"Apa sensornya rusak?"
"Sistem bekerja normal," jawab AURA.
Hana tiba-tiba menunjuk layar.
"Berhenti."
Semua menoleh.
"Apa?"
"Itu."
Ia menunjuk titik kecil yang hampir tidak terlihat.
Rina memperbesar gambar.
Titik itu hanya muncul sesaat.
Kemudian menghilang.
"Ulangi."
Rekaman diputar kembali.
Titik itu muncul lagi.
Berkedip.
Lalu lenyap.
Leo berkata pelan,
"Itu bukan gangguan."
"Kenapa?"
"Karena posisinya berubah."
Kapten Idris berdiri.
"Evan."
"Siap, Kapten."
"Kurangi kecepatan."
"Baik."
ESS Horizon perlahan keluar dari mode warp.
Begitu kecepatan turun...
seluruh bintang kembali tampak normal.
AURA kembali melakukan pemindaian.
Hasilnya tetap sama.
Tidak ada objek.
Namun...
sinyal kini semakin kuat.
Lyra menatap grafik itu.
"AURA."
"Ya."
"Kalau sinyal terus meningkat dengan kecepatan seperti ini..."
"...berapa lama sampai mencapai puncaknya?"
AI menghitung selama beberapa detik.
"Estimasi..."
"...dua jam empat belas menit."
"Setelah itu?"
"Tidak dapat diprediksi."
Kapten Idris memandang seluruh kru.
"Mulai sekarang seluruh personel berada dalam status siaga."
Reza berdiri.
"Tim keamanan siap."
"Mira."
"Ruang medis siap."
"Darius."
"Mesin siap."
"Leo."
"Pantau terus sinyal."
"Baik."
Kael melihat ke arah jendela depan.
Ruang antarbintang masih gelap.
Tenang.
Terlalu tenang.
Beberapa menit kemudian...
AURA kembali berbicara.
"Perhatian."
"Ada objek yang baru terdeteksi."
Semua menoleh serempak.
"Jarak?"
"Dua ratus sembilan puluh delapan ribu kilometer."
"Identifikasi."
AURA terdiam selama beberapa detik.
Lalu menjawab.
"Objek tersebut..."
"...baru muncul."
"Apa maksudmu?" tanya Kael.
"Empat puluh tiga detik yang lalu wilayah itu kosong."
"Saat ini terdapat sebuah benda berdiameter sekitar tiga kilometer."
Ruangan mendadak hening.
Tidak ada kilatan cahaya.
Tidak ada ledakan.
Tidak ada jejak warp.
Sesuatu...
baru saja muncul di depan ESS Horizon seolah-olah sebelumnya memang tidak pernah ada.