NovelToon NovelToon
BOSKU MENGINGINKAN TUBUHKU

BOSKU MENGINGINKAN TUBUHKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nesakoto

Demi melunasi utang orang tuanya, Kinara rela mengorbankan dirinya daripada dipaksa menikah dengan pria tua. Dikhianati oleh pria yang dicintainya dan adik tirinya sendiri, ia memilih meninggalkan rumah untuk memulai hidup baru. Namun satu keputusan nekat mengubah segalanya, menyeretnya ke dalam takdir yang mengikatnya dengan pria paling berkuasa yang tak pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dipaksa Menikah

"Aku nggak mau Pa! Udah cukup selama ini aku turuti kemauan Papa. Udah cukup selama ini aku mengalah sama Diana. Sekarang aku nggak mau lagi berkorban apapun untuk siapapun!" Seru Kinara dengan suara bergetar menahan amarah dan air mata.

"Ayolah, Kinara..." suara Papanya, Arbian Bramasta, terdengar setengah memohon, setengah memaksa. "Bantulah Papamu ini. Kalau kamu mau menikah dengannya, kami akan selalu mengingat jasamu kepada keluarga kita nak. Demi Papa, demi perusahaan kita kedepannya."

Kinara tertawa miris. "Hehh, Papa pikir aku bodoh? Kalau aku yang menyelamatkan perusahaan itu, yang akan menikmatinya jelas kalian, bukan aku Pa! Pastinya hidup aku akan sengsara dengan menikahi pria yang seharusnya lebih pantas menjadi Papaku, bukan suamiku!" Teriaknya lantang.

"Kinara!!!" Bentak Arbian.

Bentakan itu membuat tubuh Kinara bergetar. Seumur hidupnya, baru kali ini sang Papa membentaknya seperti itu. Air matanya jatuh, menetes di pipinya tanpa bisa dibendung.

Dengan hati yang remuk, Kinara memilih berlari meninggalkan ruang tamu dan orang-orang yang selalu memperlakukannya tak adil.

Di ruang tamu, Diana memandang mamanya dengan wajah pucat. "Gimana ini, Ma? Aku nggak mau ya, kalau sampai aku yang harus menikah dengan si tua bangka itu." Bisiknya panik.

Rani sang mama, menepuk tangan Diana lembut. "Sstt... sabar sayang. Mama akan paksa Papamu supaya tetap menikahkan si tolol itu dengan Pak Arman. Tenang aja ya." Matanya berkedip berusaha untuk menenangkan.

Arbian menghela napas berat. "Anak itu sekarang sudah berani menentangku. Kalau bukan dia, siapa lagi yang bisa kuandalkan untuk menyelamatkan perusahaan ini?"

Wajahnya tegang, sorot matanya penuh putus asa. Perusahaan yang ia bangun dengan darah dan keringat sejak muda kini di ambang kehancuran.

Proyek besar yang semula digadang-gadang akan melambungkan namanya justru hancur berantakan. Beberapa kecelakaan kerja merenggut nyawa karyawan, membuat reputasi perusahaannya jatuh.

Investor kabur satu per satu, meninggalkan tumpukan hutang yang semakin menjerat lehernya.

Arbian mencoba menghubungi rekan-rekan lamanya, berharap ada yang sudi menolong. Namun, semua menutup pintu. Tak ada yang mau menyelamatkan perusahaan yang sudah nyaris karam.

Akhirnya, dengan terpaksa ia menghubungi satu-satunya orang yang paling ia benci: Arman Nasution, musuh bebuyutannya sejak kuliah.

Arman tertawa puas saat mendengar kabar buruk itu. "Jadi, sekarang kau butuh aku, Bramasta?"  Katanya dingin.

"Aku... aku butuh bantuanmu, Man." Suara Arbian bergetar.

"Tentu, aku bisa bantu." jawab Arman sambil menyesap minumannya. "Tapi kau tahu, di dunia ini tak ada yang gratis. Apalagi menolong musuh lamaku. Aku harus dapat imbalan yang setimpal, tentunya."

Arman mencondongkan tubuhnya. "Kuberikan syarat. Nikahkan salah satu putrimu denganku. Kalau kau setuju, perusahaanmu akan kuselamatkan."

Sejak zaman kuliah, Arbian tahu betul bahwa Arman tak pernah cukup dengan satu wanita atau bisa dikatakan ia sudah menjadi playboy sejak dulu.

Pertengkaran besar mereka di masa lalu pun dipicu oleh hal yang sama—perebutan seorang wanita. Wanita itu tak lain adalah istri pertama Arbian, mama kandung Kinara.

Namun pada akhirnya, yang berhasil mendapatkan hati wanita itu adalah Arbian. Sejak saat itu, kebencian Arman pada Arbian kian membara dan tak pernah benar-benar padam.

Kini, syarat yang diajukannya tentu bukan tanpa alasan. Arman tahu Arbian memiliki dua anak perempuan yang cantik.

Ia juga tahu, kecantikan mendiang istri Arbian pasti menurun pada anak perempuannya. Itulah sebabnya, permintaan itu sekaligus menjadi balas dendam lama yang ingin ia tuntaskan.

Tanpa pikir panjang, Arbian menyetujui syarat itu. Demi perusahaan, demi menyelamatkan harga dirinya, ia rela mengorbankan anaknya.

"Diana..." Ucapnya saat pelan, menatap putrinya yang manja. "Kalau begitu, kamu saja yang bantu Papa ya, Nak. Cuma kamu harapan Papa satu-satunya saat ini."

"Pa..." Diana menunduk, lalu mulai menangis. Tangisan yang ia buat-buat.

"Diana kan masih kuliah, Pa. Masa depan Diana masih panjang. Diana belum sempat menikmati hidup, belum kerja, belum apa-apa. Kalau Diana nikah sekarang, gimana kuliah Diana? Masa depan Diana hancur. Kak Kinara kan sudah lulus kuliah, sudah kerja, sudah menikmati hidupnya. Biar Kak Kinara saja, Pa..."

Air mata mengalir di pipinya. Tangisan itu berhasil meluluhkan hati Arbian.

Rani pun menimpali dengan senyum liciknya. "Bener, Pa. Nggak baik juga kalau Diana harus melangkahi Kakaknya. Untuk kali ini, biarlah Kinara berkorban demi keluarga. Bukankah sudah seharusnya seorang anak membalas jasa orang tuanya? Mungkin ini salah satu cara Kinara untuk membalas budi karena kita sudah merawatnya sejak kecil."

Arbian terdiam sejenak, lalu mengangguk. "Kamu benar, Rani. Anak itu memang harus balas jasa. Dia harus ikut keinginanku, mau tidak mau."

Malam itu, setelah puas berdiskusi, Rani merayu suaminya dengan lembut. "Sudahlah, Pa. Besok kita pikirkan lagi bagaimana cara membujuk Kinara. Sekarang istirahat dulu." Dengan senyum nakal, ia berhasil meluluhkan emosi suaminya dan menggiringnya ke kamar.

Tinggallah Diana seorang diri di ruang tamu. Bibirnya melengkung ke atas. "Semoga Mama berhasil. Aku nggak mau hidup sengsara dengan si tua itu. Biar si Kinara aja yang menanggungnya." Gumamnya puas.

Di lantai atas, Kinara duduk di tepi ranjang kamarnya. Tangannya menggenggam erat sebuah foto lama—foto dirinya bersama Mama yang sudah tiada. Air matanya mengalir deras.

"Mama... kenapa ninggalin aku, Ma? Mama lihat nggak, semua perlakuan mereka ke aku? Aku capek, Ma... Kalau boleh, aku pengen Mama bawa aku aja. Aku nggak sanggup hidup kayak gini. Kenapa harus selalu aku yang ngalah?" Suaranya pecah dalam tangisan.

Malam itu, untuk kesekian kalinya, Kinara menangis hingga tertidur dengan tubuh gemetar.

Rumah yang seharusnya jadi tempat paling nyaman, justru terasa asing. Kenyamanan itu hilang sejak Mamanya pergi untuk selamanya saat ia berusia tiga tahun.

Papa yang seharusnya menjadi pelindung justru menjauh. Wajah Kinara yang mirip almarhumah istrinya membuat Arbian tak sanggup menatapnya lama-lama.

Takut terperangkap dalam kesedihan, Arbian memilih melarikan diri pada wanita lain. Belum genap setahun setelah kematian istrinya, ia menikah dengan Rani. Dari pernikahan itu lahirlah Diana, yang kemudian menjadi pusat dunia Arbian.

Sejak saat itu, kasih sayang untuk Kinara hilang sepenuhnya. Semua yang dimiliki Kinara—pakaian, perhiasan pemberian Mama—perlahan diambil untuk Diana.

Yang tersisa hanya dua benda berharga: foto dirinya bersama Mama di taman bermain, dan liontin kecil hadiah ulang tahun dari Mama.

Dua benda itulah yang menjadi penghibur dalam sepinya hari-hari Kinara.

Tengah malam, ia terbangun dengan mata yang sudah membengkak. Karena merasa tenggorokannya kering, ia pun bangkit dan berjalan pelan ke dapur, mengambil segelas air. Setelah melepas dahaganya, ia kembali ke kamar, merebahkan tubuhnya di ranjang.

Namun pikirannya tak bisa berhenti memutar ucapan Papanya. Menikah dengan Arman Nasution... demi perusahaan... demi balas jasa...

Kinara memejamkan mata erat-erat. Air mata baru kembali jatuh, membasahi bantal. Dalam hati, ia bertanya-tanya: Apakah ia hidup  hanya untuk berkorban dan membalas jasanya karena sudah membesarkannya?

Sakit?

Sudah pasti ia sakit saat mendengar kalimat ini.

Di luar sana, fajar mulai menyingsing, membawa hari baru. Tapi bagi Kinara, hari-hari berikutnya hanya terasa semakin gelap.

1
sandi sanda
/Drool/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!