NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Jenius Di Rahim Ibu Angkat

Reinkarnasi Jenius Di Rahim Ibu Angkat

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Anak Genius
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rina ylna

**Alya** adalah gadis yatim piatu yang bekerja keras demi bertahan hidup. Namun, sebuah kesalahan fatal di satu malam—akibat salah memasuki kamar hotel—mengubah takdirnya. Ia terbangun di samping **Devan Dirgantara**, CEO dingin nan kejam dari Dirgantara Group yang sangat membenci skandal.

Alya memilih melarikan diri dan merahasiakan malam itu. Namun takdir berkata lain, beberapa minggu kemudian ia dinyatakan hamil. Di sinilah keajaiban dimulai. Janin di dalam kandungan Alya ternyata bukanlah janin biasa. Sejak usia beberapa minggu, janin tersebut bisa berkomunikasi secara telepatis hanya dengan Alya!

Si "janin ajaib" ini memiliki kecerdasan luar biasa, indra keenam, dan bahkan bisa mendeteksi niat buruk orang-orang di sekitar ibunya.

Saat ibu tiri Alya mencoba meracuninya, si janin memberi peringatan. Saat Devan akhirnya mengetahui kehamilan Alya dan berniat merebut bayinya dengan kontrak dingin, si janin justru mendiktekan syarat-syarat kontrak tandingan yang membuat sang CEO jeni

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina ylna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 10 disuapin devan

Suasana di dalam kamar utama Penthouse Lavender perlahan mulai mendingin setelah kepergian Dr. Kurniawan. Kamar yang awalnya terasa tegang kini diselimuti keheningan yang jauh lebih nyaman. Aroma parfum maskulin Devan yang tajam telah sepenuhnya hilang, digantikan oleh wangi segar alami dari kaos katun hitam polos yang kini dikenakannya.

Alya masih berbaring di bawah selimut sutra tebalnya. Meski rasa mual di perutnya sudah jauh berkurang berkat teh jahe hangat yang diminumnya tadi, tubuhnya masih terasa seperti kehilangan seluruh tulang penyangganya. Ia benar-benar lemas.

Di samping ranjang, nampan kayu yang dibawa Bibi Nunung masih bertengger di atas meja nakas. Manguk keramik putih berisi bubur ayam halus itu masih mengepulkan uap tipis, menyebarkan aroma kaldu ayam yang lembut dan gurih samar-samar.

Alya melirik mangkuk itu dengan tatapan bimbang. Perutnya lapar—sangat lapar—tetapi tangannya bahkan terasa terlalu berat hanya untuk sekadar meraih sendok bebek di atas nampan.

"Kenapa diam saja?" suara bariton Devan yang berat memecah keheningan.

Pria itu berdiri di dekat jendela besar, membelakangi Alya dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Begitu mendengar helaan napas Alya, ia berbalik dan melangkah mendekati ranjang.

"Aku... aku tidak punya tenaga untuk memegang sendok, Tuan Devan," cicit Alya jujur, menyembunyikan sebagian wajahnya di balik selimut karena malu mengakui kelemahannya.

Devan menatap Alya datar. Ia kemudian beralih menatap mangkuk bubur yang mulai mendingin. Dahinya berkerut dalam, seolah-olah ia sedang dihadapkan pada keputusan bisnis paling rumit yang pernah ada dalam kariernya.

Pria sekelas Devan Dirgantara, yang biasanya hanya perlu menjentikkan jari untuk membuat ratusan pelayan bergerak melayaninya, kini harus berhadapan dengan seorang gadis lemas yang tidak sanggup menyuap makanannya sendiri.

*Sret.*

Alya membelalakkan matanya saat melihat Devan menarik kursi kayu berukir di dekat meja rias dan meletakkannya tepat di samping ranjang tempatnya berbaring. Pria itu kemudian duduk dengan gerakan yang sangat anggun dan tenang.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, tangan Devan yang besar dan kokoh meraih mangkuk bubur ayam dari atas nampan. Ia memegang sendok bebek itu, menyendok sedikit bubur halus yang masih hangat, lalu dengan sangat telaten meniupnya beberapa kali agar suhunya pas di lidah Alya.

"Buka mulutmu," perintah Devan pelan, namun tidak sedingin biasanya. Nada suaranya kali ini terdengar seperti sebuah instruksi yang tidak menerima bantahan, namun dibalut dengan kelembutan tersembunyi.

Alya tertegun sejenak. Ia menatap sendok yang menyodorkan bubur hangat di depan wajahnya, lalu menatap mata abu-abu Devan yang jernih dan fokus. Jantung Alya mendadak berdegup kencang secara tidak terkontrol.

"T-Tuan Devan... Anda serius mau menyuapiku?" tanya Alya gugup, setengah tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi.

Devan menaikkan sebelah alisnya. "Apakah aku terlihat seperti sedang bercanda? Jika kamu tidak makan sekarang, ibuku akan mengira aku sedang menyiksamu di sini. Dan yang lebih penting..." Devan menjeda kalimatnya, tatapannya turun sejenak ke arah perut Alya yang ditutupi selimut, "...anak nakal di dalam sana akan mulai mengancamku lagi dengan protes spiritualnya yang konyol itu."

> *[Hmph! Aku mendengar itu, Ayah! Tapi karena tindakanmu kali ini sangat mencerminkan sosok suami dan ayah idaman yang bertanggung jawab, aku akan mengabaikan ejekanmu. Ibu, cepat buka mulutmu! Suapan dari seorang CEO tampan yang bernilai triliunan rupiah adalah kesempatan langka yang tidak boleh dilewatkan!]*

Mendengar bisikan genit Baby El yang kembali bersemangat di kepalanya, Alya tidak bisa menahan senyum tipisnya. Rasa hangat mendadak menjalar di dadanya.

Dengan perlahan, Alya membuka mulutnya. Devan menyuapkan sesendok bubur halus itu dengan sangat hati-hati, memastikan tidak ada setetes pun yang tumpah atau mengotori sudut bibir Alya.

Rasa gurih kaldu ayam yang lembut dan kehangatan bubur itu seketika memanjakan kerongkongan Alya, menyebarkan rasa nyaman yang luar biasa ke dalam lambungnya yang sempat perih karena kosong.

"Bagaimana? Mual?" tanya Devan, matanya menatap lekat-lekat ekspresi wajah Alya untuk memastikan tidak ada tanda-tanda penolakan dari tubuh gadis itu.

Alya menggeleng pelan setelah menelan buburnya. "Tidak. Ini... ini sangat enak. Rasanya pas sekali di perutku."

"Bagus," jawab Devan pendek.

Ia kembali menyendok bubur, meniupnya dengan sabar, lalu menyuapkannya lagi kepada Alya. Adegan intim itu berulang selama beberapa menit berikutnya dalam keheningan yang damai. Tidak ada perdebatan konyol, tidak ada sindiran dingin yang biasanya mereka lontarkan satu sama lain. Yang ada hanya perhatian tulus yang terjalin secara alami di antara keduanya.

Alya memandangi wajah Devan dari dekat saat pria itu sedang meniup buburnya. Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat betapa panjang dan lentiknya bulu mata pria itu, serta rahang tegasnya yang selalu terlihat kokoh namun kini tampak sedikit lebih rileks.

Ada getaran aneh yang mulai tumbuh di sudut hati Alya. Gadis yatim piatu yang terbiasa mandiri dan menanggung segalanya sendirian ini, kini merasa sangat dilindungi dan disayangi. Kehadiran Devan di sampingnya seolah menjadi pelindung kokoh yang siap menghalau segala badai di dunia luar untuknya.

> *[Ibu... detak jantungmu sangat cepat lagi. Wajahmu juga mulai memerah. Apakah pesona visual Ayah terlalu kuat untuk pertahanan hatimu? Tenang, Ibu, aku mendukungmu seratus persen untuk menjadikannya ayah kandungku yang seutuhnya, bukan hanya sekadar suami kontrak.]*

Alya tersedak pelan mendengar godaan Baby El yang sangat tepat sasaran itu. "El! Diamlah!" batin Alya berteriak malu.

"Ada apa? Terlalu panas?" tanya Devan cemas saat melihat Alya sedikit terbatuk kecil. Ia buru-buru meletakkan mangkuk buburnya dan mengambil gelas air putih hangat di atas nampan, menyodorkannya ke bibir Alya.

"Tidak... tidak apa-apa, Tuan Devan. Aku hanya... hanya melamun tadi," jawab Alya gugup setelah meminum beberapa teguk air putih hangat untuk menenangkan dirinya.

Devan menatap Alya dengan tatapan menyelidik, namun ia tidak memperpanjang masalah itu. Ia mengambil kembali mangkuk buburnya yang kini sudah tersisa setengah.

"Habiskan bubur ini, setelah itu kamu harus meminum vitamin yang diberikan Dr. Kurniawan tadi," ucap Devan, menyodorkan suapan berikutnya.

"Iya," jawab Alya patuh, menerima suapan demi suapan dari tangan Devan hingga mangkuk bubur itu benar-benar bersih tanpa sisa.

Setelah merapikan nampan dan meletakkannya kembali di atas meja nakas, Devan mengambil selembar tisu bersih dan mengusap sela bibir Alya yang sedikit basah dengan gerakan yang sangat lembut, hampir seperti sebuah belaian hangat.

Sentuhan fisik yang begitu intim itu membuat napas Alya sempat tercekat sesaat. Matanya dan mata abu-abu Devan saling bertatapan dalam jarak yang sangat dekat, seolah-olah ada percikan api tak kasatmata yang sedang menari-nari di antara mereka, mencairkan sisa-sisa es kecanggungan di antara keduanya.

Devan berdeham pelan, menyadari suasana yang mendadak berubah menjadi sangat intim. Ia berdiri dari kursinya, merapikan kembali kaos hitamnya yang tidak berkerut sama sekali.

"Istirahatlah lagi," ucap Devan dingin, meski telinganya diam-diam sedikit memerah. "Aku harus pergi ke kantor sekarang. Ada rapat pemegang saham yang tidak bisa kutunda lagi. Yudha dan Bibi Nunung akan menjagamu di sini. Jika ada apa-apa, segera hubungi aku."

"Baik, Tuan Devan. Hati-hati di jalan," jawab Alya lembut, menyunggingkan senyum manis yang tulus dari lubuk hatinya yang terdalam.

Devan tertegun sesaat melihat senyuman manis Alya yang tampak begitu hangat di bawah pencahayaan kamar pagi itu. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, sang CEO dingin itu langsung berbalik dan melangkah keluar dari kamar utama dengan langkah yang sedikit terburu-buru, menyembunyikan getaran aneh yang mendadak mengacaukan konsentrasi bisnisnya hari itu.

Begitu pintu kamar tertutup rapat, Alya langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuk, memeluk bantalnya dengan erat sembari menyembunyikan wajahnya yang merah padam karena malu sekaligus bahagia.

"Aduh... El, jantung Ibu benar-benar mau copot rasanya," gumam Alya pelan.

> *[Hahaha! Sukses besar, Ibu! Ayah Dingin itu bahkan berjalan terburu-buru seperti orang yang sedang melarikan diri dari medan perang. Dia jelas-jelas sangat terpengaruh oleh senyumanmu tadi!]*

> *[Langkah demi langkah, Misi Terlahir Kembali kita berjalan tanpa cela. Dalam waktu singkat, aku yakin kita akan melihat CEO kejam dari Dirgantara Group itu bertekuk lutut sepenuhnya di bawah pesona Ibuku yang hebat ini!]*

Di dalam kamar yang kini dipenuhi oleh sisa kehangatan perhatian Devan, Alya perlahan-lahan memejamkan matanya kembali dengan perasaan yang jauh lebih tenang dan bahagia. Ia tahu, masa depan yang menantinya di luar sana mungkin tidak akan mudah, namun selama ada buah hati ajaib di dalam kandungannya dan sosok pelindung hangat di sampingnya, ia siap menghadapi apa pun yang akan terjadi di babak baru kehidupannya.

1
beybi T.Halim
keren ceritanya,gak menye menya,gas poll👍
Ariany Sudjana
haha dasar pelacur murahan kamu itu Mita, suami yang kamu banggakan, ternyata kalah jauh dibanding Devan Dirgantara 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
bagus Devan, orang sombong dari masa lalu Alya, memang harus dibungkam
Miu Miu 🍄🐰
seru ceritanya 😍
Ariany Sudjana
hahaha bangkrut keluarga Alexander, kalian salah cari lawan 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
harusnya dua tikus itu dibunuh saja
Ariany Sudjana
Alya gitu lho 😂😂
Ariany Sudjana
hahaha mampus kamu Tiffany 🤣🤣😂😂
Rina ylna
buat kalian yang emang bener² suka sama ceritanya, pliss kasih like, vote dan komen lanjut Thor biar aku makin semangat nulisnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!