Demi menguji ketulusan, Aldi Pratama menyamar sebagai pria biasa selama dua tahun pernikahan. Namun, Kirana beserta keluarganya yang gila gengsi terus menghina dan merendahkannya. Batas sabar Aldi habis; ia mengungkap identitas aslinya sebagai pewaris tunggal konglomerat raksasa Pratama Group, menceraikan Kirana, dan memiskinkan keluarganya.
Kejatuhan itu seketika menghancurkan hidup Kirana—ibunya meninggal karena syok, adiknya dipenjara, dan ia harus bertahan hidup sebagai pedagang sembako miskin. Di titik nadir inilah Kirana bertobat total dan belajar bersyukur. Takdir kemudian mempertemukan mereka kembali lewat program sosial. Meski dipisahkan jurang kasta yang permanen, Aldi diam-diam memberi perlindungan rahasia karena belum bisa melupakan Kirana sebagai cinta pertamanya, sementara Kirana menjalani takdirnya dengan keikhlasan dan penyesalan abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 23: Batas Akhir Sebuah Tempat Tinggal
Empat puluh delapan jam berlalu seperti kedipan mata yang menyiksa bagi keluarga Sitorus. Siang itu, langit di atas kompleks perumahan elite peninggalan almarhum ayah Kirana tampak mendung, seolah ikut merasakan atmosfer suram yang sedang menyelimuti rumah besar tersebut.
Sebuah truk engkel besar berwarna kuning terparkir tepat di depan pagar rumah. Beberapa orang pekerja berkaus oblong tampak sibuk menggotong sofa-sofa kulit, meja kayu jati, hingga televisi layar besar keluar dari dalam rumah menuju bak truk.
Di teras rumah, Riko sedang beradu argumen dengan seorang pria paruh baya berpakaian dinas dari pihak bank eksekutor, didampingi oleh dua orang petugas kepolisian pamong praja.
"Pak! Tolong kasih kami waktu seminggu lagi! Kami belum menemukan rumah kontrakan yang cocok untuk memindahkan barang-barang ini! Ibu saya sedang sakit di dalam, Pak!" teriak Riko dengan suara yang serak, wajahnya dipenuhi keringat dan guratan frustrasi yang mendalam.
"Mohon maaf, Dek Riko," jawab petugas bank tersebut sambil memeriksa papan jalan di tangannya tanpa beban emosi.
"Kami sudah memberikan kelonggaran waktu sesuai prosedur hukum. Surat peringatan pertama hingga ketiga sudah diabaikan, dan talangan dana darurat yang biasanya masuk dari akun rekening utama Tuan Aldi Pratama sudah resmi dihentikan sejak tiga hari lalu. Hari ini adalah batas akhir eksekusi penyegelan aset. Semua barang harus dikosongkan sekarang juga."
Ibu Ratna keluar dari dalam pintu dengan langkah gontai, penampilannya benar-benar berantakan. Dia memeluk sebuah kotak perhiasan kosong yang isinya sudah habis dijual untuk membayar pengacara di sidang kemarin.
"Riko... bagaimana ini, Nak? Ke mana kita harus pergi?" ratap Ibu Ratna dengan suara lemas, air matanya menyapu sisa-sisa bedak di pipinya. "Teman-teman arisan Mama... tidak ada satu pun yang mau mengangkat telepon Mama.
Mereka semua menjauh setelah tahu berita di koran kalau keluarga kita diusir oleh Pratama Group. Mereka menganggap kita ini penipu..."
Kirana berjalan keluar dari kamar tidurnya, membawa satu koper kecil berisi pakaian sehari-harinya. Dia melihat ke sekeliling ruang tamu yang kini kosong melompong, menyisakan debu-debu yang beterbangan di udara. Di sudut dinding, masih ada bekas noda bersih berbentuk persegi—tempat di mana foto pernikahannya dengan Aldi dulu digantung dengan indah, sebelum ibunya sendiri yang menurunkan dan membantingnya ke lantai tempo hari.
"Ma, Riko, sudah... tidak usah memohon lagi," ucap Kirana dengan suara yang sangat datar, seolah jiwanya telah mati. Dia melangkah melewati petugas bank tanpa melihat mereka.
"Ayo kita pergi dari sini. Tempat ini sudah bukan milik kita lagi sejak kita memutuskan untuk menginjak-injak pria yang membangunnya."
"Tapi Kak! Kita mau tinggal di mana?! Sisa uang kita cuma cukup buat makan satu minggu!" protes Riko dengan mata merah penuh keputusasaan.
"Kita sewa kamar kos kecil di pinggiran kota," jawab Kirana pelan sambil menyeret kopernya keluar pagar. "Tempat yang sesuai dengan kemampuan kita yang sebenarnya. Tempat di mana seharusnya kita berada sejak awal kalau kita punya urat malu."
Saat Kirana melangkah keluar dari gerbang pagar, beberapa tetangga kompleks yang sedang menyiram tanaman atau berjalan sore tampak berbisik-bisik sambil menunjuk-nunjuk ke arah mereka dengan pandangan mencemooh. Wanita-wanita sosialita yang dulunya selalu memuji-muji Ibu Ratna kini memalingkan muka dengan senyum sinis yang kentara.
Ibu Ratna menutup wajahnya dengan selendang kusam, berjalan tergesa-gesa di belakang Kirana demi menghindari tatapan menghina dari lingkungan yang dulunya sangat dia banggakan. Kehancuran finansial dan sosial itu datang begitu cepat, meremukkan seluruh keangkuhan mereka hingga menjadi remah-remah tak berharga di atas aspal jalanan.