Aroma bedak tabur, semprotan setting spray, dan tumpukan palet warna-warni sudah menjadi dunia Yeza selama lima tahun terakhir. Sejak melepas seragam putih-abu-abunya, gadis berusia 23 tahun itu memilih jalan yang berbeda dari teman-temannya. Di saat yang lain sibuk memburu bangku perkuliahan, Yeza justru mengurung diri di kamar, menatap cermin, dan membiarkan jemarinya menari dengan kuas-kuas murah yang dibelinya dari uang jajan yang disisihkan.
Tanpa kursus formal, tanpa sertifikat mentereng. Modal utamanya hanyalah ketekunan dan ribuan jam menonton tutorial di YouTube. Dua belas bulan pertama adalah masa-masa penuh cemoohan. "Mau jadi apa cuma coret-coret muka?" begitu bisik-bisik tetangga yang sempat mampir di telinganya. Namun, Yeza tidak berhenti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Sebelah Kamar
Setelah menghabiskan menu makan malam sederhananya, Yeza merasa matanya masih enggan terpejam. Mungkin karena ia belum terbiasa dengan keheningan tempat baru ini, atau mungkin karena pikirannya masih dipenuhi oleh sisa-sisa kejadian siang tadi.
Untuk membuat tubuhnya sedikit lebih relaks, Yeza melangkah ke dapur dan menyeduh secangkir kopi hitam dengan sedikit krimer. Aroma pekat kopi yang menguar hangat sesaat memberikan rasa nyaman di dadanya.
Sambil memegang cangkir keramik yang hangat, Yeza berjalan mendekati pintu kaca besar yang menghubungkan ruang tengah dengan balkon luar. Ia menggeser pintu kaca itu perlahan, membiarkan embusan angin malam yang sepoi-sepoi langsung menerpa wajah dan menerbangkan beberapa helai rambut panjangnya.
Yeza melangkah keluar, menghirup udara malam Jakarta yang sejuk dari lantai sepuluh. Ia berjalan mendekati pembatas balkon, menumpukan kedua tangannya di sana sembari menyesap kopinya perlahan. Dari sudut ini, pemandangan lampu-lampu kota terlihat berkilauan seperti hamparan bintang di atas tanah. Udara malam yang dingin terasa sangat pas berpadu dengan kehangatan kopi di genggamannya.
Baru saja Yeza ingin mengembuskan napas lega menikmati kesunyian itu, pandangannya tanpa sengaja melirik ke arah sisi kanan.
Hanya berjarak sekitar dua meter, terpisahkan oleh dinding pembatas dan jeruji besi balkon yang elegan, berdiri sesosok pria tegap yang sangat ia kenal.
Maxemilian.
Pria itu sedang berdiri menyandarkan punggungnya di pembatas balkon unit 10A. Ia mengenakan kaus hitam longgar dan celana santai, dengan satu tangan memegang sebuah gelas kaca berisi air putih. Rambutnya yang biasa ditata rapi kini dibiarkan jatuh acak-acakan di dahinya, memberi kesan kasual namun tetap terlihat luar biasa tampan.
Max tampaknya menyadari kehadiran seseorang di sebelah. Ia menorehkan wajahnya ke samping, dan detik itu juga, manik mata elangnya langsung beradu dengan mata bulat milik Yeza.
Yeza tersentak kecil, hampir saja menumpahkan sedikit kopi di cangkirnya. Rasa gugup dan malu akibat insiden pelukan siang tadi seketika menyengat kembali ke permukaan, membuat pipinya mendadak terasa hangat di tengah terpaan angin malam.
"M-Max?" sapa Yeza terbata-bata, memecah keheningan di antara dua balkon tersebut.
Max tidak langsung menjawab. Ia menatap Yeza selama beberapa saat, memperhatikan bagaimana gadis itu terlihat begitu mungil dibalut pakaian santai malamnya. Perlahan, gurat ketegangan di wajah Max mencair, digantikan oleh sebuah senyuman tipis yang sangat menawan.
"Belum tidur?" tanya Max dengan suara baritonnya yang berat, terdengar begitu seksi berbaur dengan suara desau angin malam.
Mendengar pertanyaan Max, Yeza hanya bisa tersenyum tipis sambil mengeratkan genggamannya pada cangkir kopi yang mulai menghangat.
"Aku belum mengantuk, Max. Lagipula, suasananya di sini sangat berbeda dengan rumah ibuku, jadi aku masih mencoba membiasakan diri," jawab Yeza jujur, suaranya agak tersamarkan oleh embusan angin malam.
Max merubah posisinya, menatap Yeza lekat-lekat dari balik pembatas besi balkon. "Aku juga tidak terbiasa tidur cepat di tempat baru. Maksudku... kalau suasananya sedang berubah," ucap Max, agak sedikit terbata di akhir kalimat, menyembunyikan fakta bahwa sebenarnya ia tidak bisa tidur karena pikirannya terus berputar pada kejadian siang tadi.
Max terdiam sejenak, menatap pintu kaca unit Yeza yang terbuka lebar, menampilkan kehangatan ruang tengah di dalamnya. "Bolehkah aku menemanimu?" tanya Max kemudian, nadanya terdengar sangat lembut, tanpa ada kesan menuntut.
Yeza sempat terpaku. Jantungnya kembali berdesir aneh. Seorang aktor besar, bosnya sendiri, meminta izin untuk menemaninya di dalam apartemen pribadinya tengah malam seperti ini? Namun, melihat sorot mata Max yang tampak tulus dan lelah, rasa canggung Yeza perlahan luruh.
"Silakan, Max. Pintu depannya tidak kukuci kunci ganda kok," ucap Yeza ramah, memberikan senyum terbaiknya.
Max mengangguk sekali. "Tunggu sebentar."
Pria itu berbalik masuk ke dalam unitnya. Kurang dari dua menit kemudian, suara bel unit 10B berbunyi pelan sekali. Yeza segera berjalan ke dalam, meletakkan cangkir kopinya di meja, dan membuka pintu depan.
Di sana Max sudah berdiri, masih membawa gelas kaca berisi air putihnya. Ketika melangkah masuk ke dalam apartemen Yeza, aroma parfum maskulin Max yang khas langsung berbaur dengan keharuman melati yang memenuhi ruangan. Suasana yang tadinya terasa sepi bagi Yeza, mendadak terasa begitu penuh dan hangat hanya karena kehadiran pria itu.
Max berjalan mengekor di belakang Yeza menuju ruang tengah yang terhubung langsung dengan balkon. Ia meletakkan gelasnya di meja marmer, lalu duduk di atas sofa panjang berwarna krem, sementara Yeza kembali mengambil cangkir kopinya.
"Maaf kalau aku mengganggumu," kata Max sambil menyandarkan punggungnya di sofa, melirik ke arah Yeza yang kini duduk di sofa tunggal di sebelahnya.
"Sama sekali tidak, Max. Justru aku senang ada teman mengobrol. Tempat ini terlalu sunyi untukku yang terbiasa tinggal di lingkungan padat," balas Yeza, mencoba mencairkan sisa rasa gugupnya.
Max menatap Yeza yang sedang menyesap kopinya. Di bawah temaram lampu ruang tengah, wajah gadis itu terlihat begitu tenang dan menawan. Gejolak di dada Max yang sejak siang tadi sulit diredam, perlahan-lahan berubah menjadi sebuah ketenangan yang menyejukkan. Berada di dekat Yeza ternyata adalah penawar paling ampuh untuk malamnya yang gelisah.